
Tiga Bulan Kemudian
Nando mengajak Sandra ke sebuah tempat, tempat yang sangat tidak asing bagi mereka.
Tempat di mana Sandra pernah tinggal dalam lembah hitam dan bergelut dalam lumpur dosa.
Kini di tempat prostitusi itu, berdiri sebuah bangunan yang telah di pugar menjadi pabrik garmen, di mana para wanita bekerja menjahit pakaian yang akan di suplai ke butik yang kini menjadi milik Sandra.
Para wanita yang bekerja ini kebanyakan adalah mantan wanita malam yang putus asa dalam mencari pekerjaan, Sandra menampung mereka berdasarkan pengalamannya dulu, di mana wanita malam selalu di pandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.
"Cepat sekali tempat ini berubah, dulu ini adalah neraka bagi kaum wanita, kini menjadi surga untuk mendapat penghasilan!" gumam Sandra.
"Ini semua adalah milikmu sayang, angkatlah derajat para wanita melalui pekerjaan halal yang kau ciptakan!" ucap Nando.
"Terimakasih ya Nandoku, aku tidak tau lagi harus berkata apa padamu!" kata Sandra.
"Ya, tidak usah berterima kasih padaku, menjadi istri dan Ibu yang baik untuk Kia, itu sudah cukup membuatku bahagia!" bisik Nando.
Kemudian Nando kembali menuntun Sandra naik ke dalam mobilnya, mereka langsung menuju ke rumah Ricky, karena hari ini semua keluarga besar sedang berkumpul.
Ketika mereka sampai di rumah itu, dan turun dari dalam mobilnya, mereka tertegun melihat taksi yang terparkir di depan rumah.
Roy dan Mirna nampak berdiri sambil membawa sebuah tas besar, di situ juga ada Ricky dan Lika.
"Roy! Kau mau kemana?" tanya Nando.
"Tuan, saya dan neng Mirna ingin tinggal di kampung saja, di sana mungkin saya akan berkebun, sekalian saya pamit ya Tuan!" jawab Roy.
"Roy, apa gaji yang kuberikan padamu kurang?? Aku bisa menambahnya dua kali lipat, atau tiga kali lipat! Asal kau jangan pergi!" sergah Nando.
"Tidak tuan, gaji yang Tuan berikan itu lebih dari cukup, dan Trimakasih juga sudah kasih saya tiket bulan madu ke Bali, tapi memang saya mau menempuh hidup baru di kampung dengan Neng Mirna!" jelas Roy.
Nando terdiam, tiba-tiba ada rasa kehilangan yang menggelayuti nya, betapa selama ini Roy telah bekerja dengan setia padanya.
Kemudian Nando langsung memeluk Roy.
"Roy!!"
Tak dapat lagi Nando membendung air matanya.
"Tuan jangan baper ah! Saya jadi ikutan nangis deh! Bekerja dengan Tuan membuat saya terlaku enak, membuat saya jadi malas, sekarang saya punya tanggung jawab yang baru! " ujar Roy sambil menyeka matanya yang basah.
"Roy! Kalau kau butuh apapun, jangan sungkan bilang padaku!" ucap Nando.
"Tumben, biasanya Tuan pelit sama saya, tapi tenang Tuan, memangnya cuma Tuan yang bisa bahagia, saya tidak akan melupakan Tuan dan keluarga Tuan besar!" kata Roy.
Nando kemudian merogoh saku celananya dan membuka dompetnya, kemudian dia menyerahkan sebuah kartu pada Roy.
"Ini ku berikan padamu Roy, kau pakailah, kalau uangnya habis, jangan sungkan minta padaku, nanti aku akan mentransfernya untukmu!" ucap Nando.
"Tuan buat orang terharu saja, terimakasih ya, di dunia ini, tidak ada persahabatan yang seindah saya dan Tuan, saya tidak akan melupakan Tuan!" ucap Roy berkaca-kaca.
"Mirna, jangan lupa terus mengabari aku ya!" ucap Sandra pada Mirna.
"Iya San, nanti kapan-kapan, aku akan main-main ke sini!" balas Mirna.
__ADS_1
Tin ... Tin ... Tin ...
Mobil taksi tangan sedari tadi menunggu mulai membunyikan klakson.
"Selamat tinggal Tuan, semoga Tuan selalu bahagia!" pamit Roy.
"Kau juga Roy!" sahut Nando.
Mirna dan Sandra juga saling berpelukan.
Kemudian Roy dan Mirna langsung naik ke dalam taksi yang sudah menunggunya itu.
Baru kali ini Nando menangis hanya karena kehilangan seorang asisten pribadinya.
Tapi Nando bahagia, setidaknya Roy sudah menemukan jodohnya dan akan menempuh hidupnya yang baru.
Nando terus memandang sampai mobil taksi yang di tumpangi Roy dan Mirna menghilang dari balik gerbang.
"Sudahlah Nak, masuk yuk ke dalam!" ajak Lika membuyarkan lamunan Nando.
Mereka kemudian masuk dan duduk di ruang keluarga yang luas itu.
Kia yang kini sudah mulai belajar duduk terlihat menikmati kebersamaan dengan canda tawanya.
Tring ... Tring ... Tring
Terdengar suara ponsel Nando yang berbunyi.
Ada video call dari Adi.
"Halo Adi! Ada di mana kalian! Sombong sekali kalian tidak pulang-pulang!" sapa Nando.
"Kami sedang di Paris, entah mengapa sejak aku jalan berkeliling dunia Vania terlihat begitu sehat dan semangat!" sahut Adi.
"Oya? Benarkah??"
"Ya, memang benar kata temanku, cinta dapat menyembuhkan Luka, dan cintaku juga bisa menyembuhkan luka Vania!" seru Adi.
"Aku senang mendengarnya, tetaplah berbahagia!" ucap Nando.
Sandra lalu mengambil ponsel Nando.
"Adi, tolong panggilkan Vania, aku mau bicara!" kata Sandra.
Tak lama, Vania muncul di layar ponsel Nando.
"Hai Vania, apa kabarmu Van? Kau tambah gemuk sekarang!" tanya Sandra.
"Aku baik, bagaimana tidak gemuk, Adi selalu memberikanku makanan yang enak-enak!" sahut Vania.
"Syukurlah Van, aku yakin kau pasti cepat pulih, kapan kau pulang ke Indonesia??" tanya Sandra.
"Aku tidak tau San, tapi di sini kami sedang mengikuti program bayi tabung, ada sukarelawan yang mau meminjamkan rahimnya untuk kami!" kata Vania antusias.
"Oya?? Akhirnya kau akan punya anak Vania, pasti sebentar lagi kebahagiaan kalian akan sempurna! Selamat ya!" ucap Sandra.
__ADS_1
"Terimakasih San, salam buat Ibu dan Papa, aku sayang kalian semua!" ujar Vania sebelum menutup panggilan videonya.
"Papa senang akhirnya Vania bisa juga menemukan kebahagiaannya!" ujar Ricky tiba-tiba.
"Iya Pa, Ibu juga senang, betapa indahnya masa tua kita di kelilingi oleh cucu-cucu!" tambah Lika.
Mereka menikmati aneka cemilan yang ada di meja ruangan itu.
Tiba-tiba Sandra menutup mulutnya seperti menahan sesuatu.
"Kau kenapa sayang?" tanya Nando cemas.
"Aku tidak apa-apa!" sahut Sandra.
"Eh, wajah Sandra kenapa berubah pucat begitu?" tanya Kezia yang langsung duduk mendekati Sandra.
"Mau aku ambilkan sesuatu Sayang?" tanya Nando sambil mengelus rambut Sandra.
"Kau ini bagaimana sih Papanya Kia! Aku sudah telat dua bulan masa kau belum mengerti juga!" sungut Sandra.
"Apa?? Telat? jadi ... kau ..." Nando melongo.
"Jadi kau hamil lagi San??" tanya Kezia. Sandra menganggukan kepalanya.
Tiba-tiba Kezia langsung memukul Nando dengan bantal sofa.
"Dasar Nando!! Bocah mesum!! Kenapa kau melangkahi aku punya anak lagi!! Kau tidak lihat kalau Kia masih bayi!!" sengit Kezia.
Nando hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya.
"Bang Jo! Kapan kau siap punya anak lagi Bang!! Nanti di balap sama Nando lagi!" kata Kezia.
"Oh, kalau Kezia siap sekarang Abang bisa bikin, mau di mana, di sini atau di rumah?!" tantang Jonathan.
Mereka semua tertawa melihat Kezia yang seperti kebakaran jenggot karena adiknya akan memiliki dua anak.
Nando lalu menarik tangan Sandra menjauh dari ruangan itu.
"Terimakasih ya San, kau memberikan aku anak lagi, padahal Kia masih kecil!" ucap Nando.
"Yah, apa boleh buat, Kalau Papanya Nando, tahun depan juga aku bakalan Hamil lagi!" sahut Sandra sambil mencubit hidung Nando.
\*\*\*\* TAMAT \*\*\*\*
****
Hai guys ...
Terimakasih ya atas kesetiaannya membaca kisah author ...
Ini adalah sekuel terakhir dari novel Pelabuhan Terakhir dan Heart's Owner
Sampai jumpa di cerita Author yang lain.
Terimakasih ... 🙏🙏😘
__ADS_1