Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Sebuah Kejujuran


__ADS_3

Hari ini Vania sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik.


Nando membantu mendorong kursi roda Vania menuju ke lobby, karena Roy sudah menunggu di mobil di depan pintu lobby rumah sakit itu.


"Kita langsung pulang Roy!" titah Nando ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Siap komandan!" sahut Roy.


Mobil itu pun segera meluncur menuju rumah besar Nando.


Sesampainya di rumah, Tante Rina nampak tersenyum senang saat melihat Vania sudah pulang bersama Nando.


"Wah, Vania kelihatan sehat hari ini, Nando memang obat yang paling mujarab!" puji Tante Rina.


"Vania, aku antar ke kamar ya!" kata Nando. Vania menganggukan kepalanya.


Nando kemudian langsung mengangkat Vania dari kursi tida dan membawanya ke kamar, kemudian dia membaringkan Vania di tempat tidur besarnya. .


"Nando, kau juga di sini berbaring bersamaku!" kata Vania sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Van, aku ijin mau ke tempat Ibu!" ujar Nando yang masih berdiri di tempatnya.


"Mau apa kau kesana, aku baru juga pulang, aku kangen padamu Do!" ujar Vania.


"Aku hanya sebentar Van, nanti sore aku kembali lagi!' sahut Nando.


Wajah Vania kembali mendung.


"Do, katakan padaku, apakah jadi membawa Sandra dan anaknya?" tanya Vania.


"Anakku Van!"


"Yah, itu maksudku!" cetus Vania.


Nando diam saja tanpa menjawab pertanyaan Vania.


"Kenapa kau diam Do? Jangan sampai aku yang menebaknya!" ujar Vania.


"Ya, Sandra dan anakku ada di rumah Ibu, mulai sekarang mereka akan tinggal di rumah orang tuaku!" jawab Nando jujur.


Wajah Vania nampak pias, hal yang di duganya selama ini kini menjadi kenyataan.


Tak dapat lagi dia mengucapkan sepatah katapun, hanya air matanya yang jatuh mewakili perasaannya.


"Kau tega Nando! Apakah kau akan menikahi Sandra?" tanya Vania dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Van, sebelum aku menjawab pertanyaan mu, jawab dulu pertanyaanku, apakah kau akan mengijinkan jika aku menikahi Sandra??" tanya Nando balik.


Bagaikan petir di siang bolong, Vania terperangah mendengar pertanyaan Nando.


"Jadi ... kau akan membuang aku? Kau akan menceraikan aku Nando??" tanya Vania sambil mulai terisak.


"Tidak, aku tidak mungkin menceraikanmu Van, kau tidak ada salah sama sekali, kau wanita yang baik!" jawab Nando.


"Lalu??"


"Bisakah kau menerima Sandra sebagai madu mu??" tanya Nando lagi.


Vania semakin terkejut mendengar ucapan Nando, dadanya bergemuruh dengan sangat cepat, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Hanya karena Sandra punya anak darimu, kau tega mencampakkan aku begitu saja Nando!" pekik Vania.


"Aku tidak pernah mencampakkan mu Van, selama ini, apa pernah aku berlaku kasar terhadapmu? Apa pernah aku tidak memberikanmu nafkah lahir dan batin? Semua kewajiban ku sebagai suami telah aku penuhi!" ungkap Nando.


"Tapi ..."


"Aku minta ijin baik-baik, aku sudah janji pada Ibu dan semua keluargaku untuk berkumpul hari ini, entah apa yang mau mereka bicarakan!" ucap Nando sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


Vania hanya bisa menangis pilu dan tersedu-sedu, tidak bisa lagi dia mencegah suaminya itu.


Nando terus menuruni tangga menuju keluar rumahnya.


"Iya Mbok, aku mau ke rumah Ibu, Mama Rina kemana?" tanya Nando balik.


"Oh, tadi sih barusan pergi ke butik katanya!" jawab Mbok Karsih.


"Aku titip Vania ya Mbok, tolong sering-sering di lihat di kamarnya, jangan sampai dia depresi lagi!" ujar Nando.


"Baik Tuan!" jawab Mbok Karsih.


"Tolong di bantu ingatkan juga untuk jadwal minum obat dan makanannya, aku tidak mau kejadian kemarin itu terulang lagi!" lanjut Nando.


"Baik Tuan!"


Nando kemudian bejalan ke garasi dan mulai naik kedalam mobilnya, Roy mengejarnya dari arah belakang.


"Tuan mau kemana? Tuan lupa kalau saya supirnya?? Kok main nyelonong saja!" sungut Roy.


"Untuk hari ini kau di sini dulu Roy, jaga kondisi situasi aman, kalau ada apa-apa tolong hubungi aku!" sahut Nando yang mulai menyalakan mobilnya.


"Diiih Tuan kok tidak ajak-ajak saya sih?? Saya juga bosan di rumah butuh refreshing!!" cetus Roy.

__ADS_1


"Sudahlah Roy! Waktuku tidak banyak! Lebih baik kau bantu Pak Tejo sana cabutin rumput!" ujar Nando yang langsung melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumahnya.


****


Di kediaman keluarga Ricky, Kezia dan Jonathan nampak baru turun dari mobilnya, kemudian dari bagasi mobil, mereka menurunkan beberapa barang perlengkapan dan kebutuhan bayi.


Ada box bayi, stroller, bak mandi bayi, mainan bayi, aneka pakaian dan semua kebutuhan yang lain.


Lika sengaja menyuruh Kezia untuk membeli itu semua untuk Kia, bayinya Nando.


Sandra merasa sungkan dan tidak enak, keluarga Nando begitu memperlakukannya dengan sangat baik, tanpa menyinggung sama sekali mengenai masa lalunya yang kelam, padahal mereka semuanya tau kalau Sandra adalah mantan wanita malam.


"San, ini boxnya kau mau taruh di mana? Di kamarmu atau di ruang keluarga? Siapa tau Ibu atau siapa ingin menggendongnya atau mengajaknya bermain!" tanya Kezia mengagetkan Sandra.


"Eh, terserah Kak Kezia saja, dan Trimakasih atas semua yang sudah kalian berikan untuk Kia!" ucap Sandra terharu.


"Jangan sungkan! Kia itu kan juga anggota keluarga ini, tuh lihat saja Ibu, sejak tadi terus menggendong dan bermain dengan Kia! Aku saja belum dapat giliran!" cetus Kezia.


Lika nampak sedang duduk sambil memangku Kia, sesekali wanita itu mengajak Kia bicara.


"Zia sayang, ini di taruh di mana?" tanya Jonathan yang terlihat memanggul beberapa barang di pundaknya.


"Aduh Bang Jo! Taruh saja di situ, nanti biar si Nando yang atur barang bayinya!" sahut Kezia. Jonathan kemudian meletakan semua perlengkapan bayi itu di ruangan itu.


Kemudian nampak mobil Nando yang mulai memasuki halaman rumah itu, dia langsung turun dan bergegas masuk ke dalam.


Melihat Ibunya menggendong Kia, Nando langsung beringsut mendekatinya.


"Mana Kia Bu? Sini, aku mau menggendongnya! Sudah kangen sejak semalam tidak melihat Kia!" ujar Nando sambil menjulurkan tangannya.


"Hei, biasakan kalau dari luar cuci tangan dulu sebelum menyentuh bayi! Di luar banyak virus tau!" hardik Lika.


"Iya deh Bu!" Nando segera ke belakang dan mulai mencuci kemudian dia segera kembali lagi.


"Nih, hati-hati menggendongnya!" ujar Lika sambil menyerahkan Kia ke dalam gendongan Nando.


Dengan wajah berbinar Nando mulai menimang bayi mungilnya.


"Anak cantik Papa, sudah kangen ya sama Papa, Papa juga kangen banget sama Kia, juga Mama Kia!" bisik Nando sambil melirik ke arah Sandra yang duduk tidak jauh dari situ.


Tak lama kemudian Kia mulai menangis, ternyata dia haus ingin menyusu pada Mamanya.


"Berikan padaku Nando, Kia haus, sejak tadi dia banyak bermain dengan Ibu dan adik-adikmu!" kata Sandra.


"Hmm, baru saja berapa menit aku gendong, sudah, kau susui lah Kia di sini, aku mau dekat-dekat dengan Kia, kau tau semalam aku tidak bisa tidur memikirkan Kia!" cetus Nando cemberut sambil menyerahkan Kia pada Sandra.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2