
Pak Jono, security di keluarga Ricky mulai membuka layar monitor yang ada di pos security.
Dia mulai mengamati gambar yang ada dalam monitor itu.
Sementara Nando dan Roy menunggu dengan jantung yang berdebar keras.
"Maaf Pak Ricky, sepertinya monitornya rusak, jadi gambarnya tidak jelas!" kata Pak Jono.
"Kau ini bagaimana sih? Kenapa kau tidak melapor padaku kalau rusak? Kan bisa di perbaiki!" sungut Ricky.
"Maaf Pak, soalnya selama ini rumah kan aman-aman saja!" sahut Pak Jono.
Nando dan Roy menarik nafas lega sambil mengelus dada mereka.
"Sudah! Kau cari orang yang bisa memperbaiki ini, apa kerjamu selama ini, komputer saja kok bisa rusak, menyebalkan!" sungut Ricky sambil bergegas kembali masuk ke dalam rumahnya.
"sekarang kau istirahat Nando, ini ini sudah mau subuh, nanti kau kurang tidur!" kata Lika yang kemudian menyusul suaminya masuk ke dalam rumah.
Nando dan Roy kemudian bergegas meninggalkan pos itu.
"Untung saja komputernya rusak ya Tuan, kalau tidak, siap-siap saja, Tuan besar akan sangat marah!" ujar Roy.
"Kali ini aku selamat! Untung saja Sandra sudah tidak ada di kamarku, Roy, besok antarkan aku ke rumah itu, aku rencana mau menebus Sandra!" kata Nando.
"Apa? Tuan mau menebus Sandra? Saya rasa Tuan mulai jatuh cinta pada si kuku-kupu malam itu!" ujar Roy.
"Tutup mulutmu Roy! Jangan sekali-kali lagi kau menyebut dia kupu-kupu malam! Aku akan robek mulutmu!" sengit Nando.
"Ampun Tuan! Takuuut, jangan robek mulut saya dong, nanti saya tidak bisa ngomong Tuan bingung lagi!" sahut Roy.
Nando kemudian masuk ke dalam rumah dengan wajah kesal, sementara Roy juga masuk ke samping rumah, di situ ada beberapa kamar untuk para pekerja di rumah itu.
Suasana rumah itu sudah kembali sepi dan lengang, hanya terdengar sayup-sayup suara burung hantu.
Nando langsung masuk ke dalam kamarnya, kemudian dia menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.
Tak lama kemudian, Nando pun mulai memejamkan matanya dan langsung terlelap dalam tidurnya.
****
Setelah pagi datang menjelang, Sandra dan Vania yang sudah terbangun dari tidurnya, kini nampak sedang sarapan di meja makan bundar, bersama dengan Tante Rina, Mama Vania.
__ADS_1
"Ayo Sandra, makanlah yang banyak, di sini hanya ada Tante dan Vania, tidak ada orang lagi, sayang makanannya kalau tidak di habiskan!" ujar Tante Rina.
"Iya Tante, Trimakasih!" ucap Sandra.
"Di sini jangan sungkan ya, anggap rumah sendiri, Vania senang sekali akhirnya punya teman, punya saudara, selama ini dia selalu kesepian!" tutur Tante Rina.
"Iya San, aku berharap kau akan lama tinggal di sini bersamaku, dari pada kau tinggal di tempat kos!" tambah Vania.
"Ehm, ya, coba nanti aku pikirkan lagi!" ucap Sandra.
"Aku kan jadi ada teman curhat!" timpal Vania.
"Mau curhat apa sih anak Mama? Pasti curhat tentang Nando lagi deh, Sandra, jangan bosan ya kalau Vania selalu bercerita tentang Nando, maklum, sejak lama Vania menaruh hati sama Nando, tapi tak berani mengungkapkan!" kata Tante Rina.
"Ish Mama! Kok buka rahasia segala!" sungut Vania dengan wajahnya yang memerah.
"Jadi, Vania suka sama Nando?" tanya Sandra.
"Hmm, ya begitu deh, tapi Nando tidak pernah peka, sudah ah, kenapa jadi membicarakan dia? San, kita olah raga pagi yuk! Jalan kaki keliling komplek!" ajak Vania.
"Boleh San, sudah lama juga aku tidak oleh raga!" sahut Sandra.
Setelah selesai sarapan, mereka lalu berganti pakaian dan bergegas keluar rumah untuk jalan kaki olah raga.
Sementara Tante Rina langsung berangkat ke butiknya. Senyum cerah menghiasi wajahnya, saat dia melihat Vania, putri satu-satunya begitu gembira saat Sandra ada bersamanya.
****
Sementara itu, Nando dan Roy juga langsung keluar setelah mereka sarapan.
Nando pergi ke kantornya, mengontrol perusahaannya dan memeriksa berkas-berkas yang ada di ruangannya.
Saat di kantor Nando terlihat sangat dewasa dan berwibawa jauh di atas umurnya yang sebenarnya, dengan pakaian formal dengan balutan jas dan dasi.
Namun saat di kampus atau di rumah, Nando menjadi pemuda tampan yang gayanya terlihat seperti anak-anak muda pada umumnya, dengan memakai Hoodie dan celana jeans.
"Belakangan ini Pak Nando kelihatan sibuk, sampai lupa memeriksa dokumen penting, padahal yang di lewatkan itu proyek besar lho Pak!" jelas Dea, sekertaris Nando.
"Iya aku tau, ini sekarang aku sedang memeriksanya, kalau oke aku jalankan proyeknya!" sahut Nando.
"Hati ini para staff dan dewan direksi ada meeting Pak, soal produk baru kita itu!" tambah Dea.
__ADS_1
"Hari ini aku ada urusan Dea! Besok lagi aku baru bisa bergabung dengan kalian, biar nanti semua keputusan di ambil alih oleh Pak Irwan, jadi aku tinggal menyetujuinya saja!" ujar Nando.
"Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi keluar dulu!" Dea kemudian segera keluar dari ruangan Nando.
Setelah di rasa beres, dan semua berkas dokumen sudah di periksa dan di tandatangani, Nando kemudian bersama Roy kembali pergi ke rumah prostitusi itu.
Rumah yang terlihat besar namun di dalamnya banyak skandal itu terlihat sepi, kalau pagi dan siang hari memang rumah ini sepi, tapi jika menjalang sore dan malam hari rumah ini sangat ramai, di kunjungi oleh para laki-laki hidung belang.
Perlahan Nando turun dari mobilnya dan melangkah memasuki gerbang rumah itu, sementara Roy menunggu di mobil.
Setelah berbicara dengan penjaga gerbang, Nando kemudian masuk dan duduk di sebuah teras besar yang ada di depan rumah itu.
Tak lama kemudian, Mami Vero muncul dari dalam rumah dengan dua orang pengawal di belakangnya.
"Nah, pucuk di cinta ulam tiba, kebetulan kau datang kemari, katakan padaku, di mana Sandra?" tanya Mami Vero sambil terus mengipasi tubuhnya dengan sebuah kipas besar di tangannya.
"Maaf Tante, saya datang bukan untuk menyerahkan Sandra, tapi saya mau memberikan penawaran dengan Tante!" jawab Nando.
"Penawaran? Penawaran apa maksudmu?" tanya Mami Vero lagi.
"Saya akan memberikan Tante sejumlah uang untuk menebus Sandra, jadi Tante jangan lagi mencari dia!" sahut Nando.
Mami Vero tertawa terbahak-bahak.
"Banyak juga uangmu anak muda! Kau pikir bisa semudah itu menebus Sandra? Dia itu aset terbesarku tau! Tapi sekarang aku rugi karena kau sudah mengambil dia dariku!" cetus Mami Vero.
"Tante, saya serius! Bagaimana kalau saya berikan Tante 1 milyar sebagai uang tebusan buat Sandra?" tawar Nando.
"Satu miliar? Walau kau memberikan dua miliar juga aku tidak tertarik! Ayo, kembalikan Sandra padaku, atau aku pakai jalur kekerasan!" tukas Mami Vero.
"Sombong sekali!! Tante pikir itu uang kecil! Ingat Tante, dunia ini berputar, dari pada Tante kena karma, lebih baik bertobat dari sekarang!!" cetus Nando.
"Hei anak kemarin sore!! Hentikan ceramah mu yang murahan itu! Enak saja kau menggurui aku, Ical! Bono! Seret dia keluar dari sini, sekarang!!" titah Mami Vero.
Kedua algojo itu lalu mulai memegang tangan Nando, namun Nando menepiskannya.
"Aku bisa jalan sendiri!!" sengit Nando.
"Ingat anak muda! Anak buahku akan tetap mencari Sandra dan menyeretnya ke hadapanku!!" teriak Mami Vero.
****
__ADS_1