Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Kia Kembali


__ADS_3

Nando dengan cepat langsung melajukan mobilnya ke kantor polisi setelah mendapat kabar kalau Kia sudah di temukan.


Ada perasaan senang dan bahagia karena akhirnya Kia kembali ke pelukan mereka.


Rasanya sudah tidak sabar mereka bertemu dengan buah hati mereka, rasanya sangat rindu sekali.


Mereka akhirnya sampai di kantor polisi sekitar 20 menit, seorang polisi wanita nampak sedang menggendong bayi.


Sandra langsung berlari dan memeluk Kia dengan tangisan harunya.


Kia nampak diam saja, tanpa ada suara tangisannya.


"Di mana Kia di temukan?" tanya Dicky.


"Seorang tak di kenal telah meletakan bayi ini di depan kantor polisi, saat kami hendak menangkapnya mereka langsung kabur dengan sepeda motor!" jelas Pak Polisi yang datang mendekati mereka.


"Mereka? Berarti pelakunya lebih dari satu orang?" tanya Nando.


"Benar Pak, saat ini kami sedang menyelidiki motif dan siapa pelaku sebenarnya, karena pada saat mereka menaruh bayi ini, mereka memakai jaket hitam, masker dan kacamata hitam, jadi sangat sulit untuk di kenali!" jelas polisi itu.


"Do! Kia diam saja Do! Badannya juga panas, Kia kenapa Do??!" seru Sandra panik.


Nando lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Kia. Wajahnya langsung berubah pucat.


"Iya San, ayo kita langsung bawa Kia ke rumah sakit!" ajak Nando sambil menggandeng tangan Sandra menuju ke parkiran dan langsung naik ke dalam mobilnya.


Padahal masih ada banyak hal yang ingin Nando tanyakan di kantor polisi, tapi Kia saat ini kondisinya terlihat sangat mengkhawatirkan.


Mereka langsung menuju ke rumah sakit berlian yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari kantor polisi.


Kia langsung di larikan ke UGD. Seorang Dokter jaga langsung memeriksa kondisi Kia.


"Bayi ini mengalami dehidrasi, juga kurangnya nutrisi, ini bahaya, dia harus di rawat untuk penanganan yang lebih intensif!' jelas Dokter jaga itu.


Sandra langsung menangis di pelukan Nando, Kia nampak terbaring lemah di ranjang itu, mereka tidak sanggup untuk melihatnya.


"Lakukan yang terbaik Dokter! Apapun untuk kesembuhan putri kami!" mohon Nando.


"Baik, segera kami pindahkan bayi ini ke ruang NICU!" jar Dokter itu.


Dua orang perawat langsung memasang infus di tangan mungil Kia, Sandra menangis, tak sampai hati di melihat buah hatinya kesakitan karena jarum infus.


Hati Nando juga perih, tapi dia berusaha untuk kuat dan tegar di depan Sandra. Padahal sebenarnya, tubuhnya bergetar melihat putri yang disayanginya itu tak berdaya.


"Dokter, aku mau anakku di rawat dan di tangani oleh Dokter Dicky!" pinta Nando.


"Mohon maaf Pak, Dokter Dicky saat ini sedang tidak praktek, apalagi beliau juga baru memiliki seorang putra yang baru beberapa hari lalu di lahir kan!" jawab Dokter itu.

__ADS_1


"Baiklah, yang penting anak saya segera di tangani dengan baik!" sahut Nando.


Dua orang perawat lalu segera memindahkan Kia ke ruang NiCU, ruangan khusus bayi yang bermasalah.


Sepanjang jalan koridor itu Sandra terus menangis, sebagai seorang Ibu, hatinya begitu sakit melihat anaknya menderita dan kesakitan.


"Dia pasti haus Do, beberapa hari tidak minum ASI, kasihan Kia Do! Dia pasti menahan lapar!" Isak Sandra.


"Iya San, saat ini Kia sedang di tangani oleh tim Dokter, kau tenang saja, Kia akan baik-baik saja, dia anak yang kuat!" bisik Nando menenangkan Sandra.


Kia di baringkan di sebuah box bayi dengan jarum infus yang menancap di tangan nya, tubuhnya kelihatan sangat lemah.


Nando lalu merogoh ponselnya, berniat memberitahu kondisi Kia pada orang tuanya.


"Halo Pa!" .


"Halo Nando, Papa sudah bayar detektif untuk mencari Kia, kau tenang saja!" ucap Ricky.


"Pa, Kia sudah di temukan, tapi kondisinya ... kondisi nya ..."


"Apa yang terjadi dengan cucuku? Katakan Do?" tanya Ricky panik.


"Sekarang Kia ada di rumah sakit Pa, Kia dehidrasi!" sahut Nando.


"Ya Tuhan, siapa yang berani menyakiti cucuku, ada dendam apa dia?" gumam Ricky.


"Baik Do, sekarang katakan Kia di ruang apa? Papa dan Ibu langsung meluncur ke sana!" tanya Ricky.


"Ada di ruang NiCu di lantai tiga Pa!" sahut Nando.


"Oke, Papa jalan sekarang!" kata Ricky sambil menutup teleponnya.


Sandra sejak tadi duduk terpekur di samping Kia, air matanya tidak berhenti mengalir, karena Kia tidak bisa menangis, hanya terdengar suara rintihannya saja.


Nando kemudian mulai merengkuh bahu Sandra, di kecupnya kening wanita yang sangat dia cintai itu.


"Kita akan melewati ini bersama-sama sayang, aku, kamu dan Kia!" bisik Nando.


****


Hari sudah menjelang sore, matahari sudah tenggelam di ufuk barat.


Vania masih duduk di teras depan rumahnya, Tante Rina belum kembali juga sejak pagi-pagi tadi.


Beberapa kali Vania mencoba menghubungi ponsel Mamanya itu, namun ponselnya tidak aktif.


"Masuk ke dalam Nyonya, sudah magrib!" kata Mbok Karsih yang berjalan mendekati Vania di teras itu.

__ADS_1


"Sini duduk Mbok, temani aku, Mama kemana ya? Kenapa dia pergi lama sekali?" tanya Vania.


"Saya juga tidak tau, Ibu pergi tidak bilang mau kemana!" jawab Mbok Karsih.


"Aku khawatir sama Mama Mbok, karena teleponku tidak pernah di angkat!" ujar Vania.


"Tenang saja Nyonya, mungkin baterai nya habis!" sahut Mbok Karsih berusaha menenangkan.


Tiba-tiba sebuah taksi nampak berhenti di depan gerbang rumah itu.


Kemudian turunlah Tante Rina dan dia langsung masuk ke dalam saat Pak Tejo membukakan pintu gerbang.


"Mama!" pekik Vania senang.


Tante Rina nampak berjalan hendak masuk ke dalam rumah, tanpa memperdulikan Vania yang masih duduk di teras itu.


Vania lalu mengejar Mamanya itu.


"Mama! Mama dari mana saja? Kenapa pergi begitu lama? Mengapa ponselku tidak di angkat-angkat?!" tanya Vania beruntun.


Tante Rina menghentikan langkahnya sebentar.


"Mama capek Van, mau istirahat!' sahut Tante Rina sambil kembali berjalan menuju ke kamarnya.


Vania terus berjalan mengikutinya sampai ke dalam kamar Mamanya itu.


"Mama belum jawab pertanyaanku!" seru Vania.


"Vania! Mama sedang capek! Kau jangan mengganggu Mama dulu, sebaiknya kau kembali ke kamarmu!" hardik Tante Rina.


"Mama? Mama membentak ku??" tanya Vania.


Selama ini Vania tidak pernah sedikitpun di bentak oleh Tante Rina. Ada yang menetes dari pelupuk mata Vania.


"Maafkan Mama Vania, tapi Mama memang capek, Mama mau istirahat dulu!" ucap Tante Rina melembut.


"Baiklah Ma, Mama istirahat saja, tapi nanti malam, aku masih mau bicara pada Mama!" kata Vania.


Tante Rina hanya menganggukkan kepalanya.


Kemudian Vania segera beranjak pergi meninggalkan kamar Tante Rina.


Paling tidak dia sudah tenang Mamanya dalam keadaan baik-baik saja.


Bersambung ...


*****

__ADS_1


__ADS_2