
Roy memarkirkan mobilnya di garasi mobil depan rumah Nando, Tante Rina sudah duduk di ruang tamu saat Nando masuk ke dalam rumahnya itu.
Matanya menatap tajam ke arah Nando yang baru datang dari rumah orang tuanya itu.
"Kau dari mana saja Nando? Kau tau dari tadi Vania terus menangis di kamarnya?" tanya Tante Rina.
"Aku dari rumah Papa dan Ibu!" sahut Nando.
"Nando, selama ini aku selalu menutup mulut rapat-rapat soal rahasia mu itu, kau bayangkan saja kalau orang tuamu tau kau ada hubungan dengan wanita malam itu, apalagi Vania yang tau, kau bayangkan perasaannya!" ungkap Tante Rina.
Nando terdiam mendengar ucapan Tante Rina, saat ini memang Vania yang harus di jaga perasaannya, mengingat kondisi Vania yang sedang sakit. Nando menjadi bimbang.
"Ibu sudah tau Ma, kalau aku ... pernah ada hubungan dengan Sandra, bahkan sekarang aku sudah punya anak dari dia!" ucap Nando.
"Apa? Jadi Sandra sudah melahirkan? Berarti selama ini diam-diam kau berhubungan dengan Sandra?? Tega kau Nando!" seru Tante Rina.
"Tidak Ma, aku tidak pernah berhubungan dengan Sandra, tapi saat dia akan melahirkan, Mirna menelepon Roy, hanya meminta aku untuk mendampinginya saja!" jelas Nando.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Tante Rina.
"Aku akan mencari Sandra dan anakku Ma, aku berkewajiban untuk menafkahi anakku!" jawab Nando.
"Lalu bagaimana dengan Vania?" tanya Tante Rina lagi.
"Aku akan meminta ijin padanya, mungkin sudah saatnya aku akan berterus terang pada Vania!" sahut Nando.
"Kau akan melukai hatinya Nando!" cetus Tante Rina.
"Luka itu pasti akan tetap datang, cepat atau lambat!" Nando beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Nando!! Apa kau sudah pikirkan masak-masak??" seru Tante Rina.
Nando terus berjalan dan langsung membuka pintu kamarnya yang tidak di kunci itu.
__ADS_1
Vania terlihat duduk di tepi ranjangnya, matanya sembab kemerahan seperti habis menangis.
Perlahan Nando mendekatinya kemudian duduk di sampingnya.
"Vania, maafkan aku!" ucap Nando.
Dia sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi, melihat Vania yang kini nampak begitu rapuh.
Vania juga diam tanpa suara, hanya terdengar nafas beratnya yang sesekali dia tarik panjang, seolah ada beban yang begitu berat dalam hatinya.
"Vania ... ada yang harus aku ungkapkan padamu, mungkin sudah saatnya ..." Nando menghentikan ucapannya saat terlihat ada bulir air mata yang jatuh dari bola mata Vania.
"Nando ... jangan kau teruskan lagi, aku belum siap untuk mendengarnya!" lirih Vania.
"Tapi Vania, bukankah kita harus bisa saling terbuka, sehingga tidak ada lagi dusta di antara kita?" ucap Nando.
"Aku sudah tau Nando ... aku sudah tau apa yang mau kau ungkapkan padaku! Selama ini kau selalu menutupinya dariku, aku juga seolah jadi orang bodoh yang tidak tau apa-apa, padahal aku juga tau ..." Vania menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Apa yang kau tau tentang aku Vania?" tanya Nando.
Nando mencoba untuk merengkuh Vania, namun tangan Vania menepiskannya.
"Jangan sentuh aku! Kau jawab saja pertanyaanku tadi!! Ayo jawab!!" seru Vania.
"Iya Vania, dugaanmu itu benar, maafkan aku, maafkan aku ... aku salah Vania, aku bersalah padamu!" ucap Nando.
Vania terus menangis, tangisannya terdengar pilu dan sedih, dia bahkan tidak tau perasaannya saat ini, entah marah, sedih, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu.
"Aku sudah menduganya sejak awal, tapi aku tidak berani menebak, aku takut kecewa dan sakit hati, sekarang bahkan di hadapanku kau mengakuinya sendiri!" Isak Vania.
Nando lalu beringsut mendekati Vania dan berlutut di hadapannya sambil menggenggam hangat tangannya. Perasaan bersalah terus saja menggelayutinya, Vania yang saat ini sangat membutuhkan dukungan satunya, justru membuatnya kecewa dan terluka.
Nando juga ikut menangis, dia juga merasakan apa yang Vania rasakan.
__ADS_1
"Maafkan aku Vania, saat itu aku benar-benar bingung, tanpa tau harus berbuat apa, Sandra adalah seorang wanita malam yang sering kali di siksa oleh germo di tempatnya, aku beberapa kali menolongnya untuk melepaskan dia dari jeratan lembah hitam itu ..."
"Hingga aku merasa mulai mencintainya, merasakan setiap penderitaannya, dan engkaulah yang menyelamatkan hidupnya dengan menampungnya di rumahmu ... Ibu sangat menyukaimu, semua orang ingin aku segera menikahimu, saat itu aku tidak mungkin menghancurkan harapan mereka, aku juga berhutang pada mu dan Mamamu karena kalian sudah menerima Sandra dan memberikannya pekerjaan yang layak!" ungkap Nando.
"Sekarang, setelah semuanya sudah terungkap, apakah kau akan menceraikan aku Nando??" tanya Vania terisak. Nando menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin, aku tidak ada alasan untuk menceraikanmu, kau wanita yang sangat baik, mana mungkin aku menceraikanmu Vania!" jawab Nando.
"Lalu bagaimana dengan Sandra?"
"Aku ijin padamu Vania, aku ingin menemui Sandra dan anakku, walau bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap mereka!" ujar Nando.
"Nando, aku ada satu saja permintaan!" ucap Vania.
"Katakan Vania, apa yang kau inginkan dariku??" tanya Nando.
"Jangan pernah pergi dariku Nando, kau adalah Suamiku, jangan pernah sekali pun kau pergi meninggalkan aku, dengan alasan apapun!" ujar Vania. Matanya yang basah menatap dalam ke arah Nando.
"Tapi ... "
"Pokoknya aku hanya minta itu darimu, jangan pernah kau pergi dari sisiku, tetaplah di sini bersamaku, aku sangat membutuhkan mu Nando!" mohon Vania.
Dia mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya, tanda permohonan yang sangat dalam.
"Tapi Vania, aku punya anak yang harus aku nafkahi!" tukas Nando.
"Kau bisa mengirimkan sejumlah uang untuk mereka, asal kau selalu ada bersamaku, itu sudah cukup membuatku bahagia, aku mohon, aku sangat mencintaimu Nando, aku sangat takut kehilanganmu!" lanjut Vania.
Nando terdiam tanpa mampu berkata apapun, lagi-lagi kebimbangan kembali menguasai dirinya.
Permintaan itu adalah permintaan dari Vania, istri sah nya yang saat ini sangat membutuhkan kehadirannya.
Bersambung ...
__ADS_1
****