Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Setulus Hati, Sedalam Cinta


__ADS_3

Vania tersenyum senang saat dia datang ke butik Mamanya, Nando ada di sana. Raut cerah menghiasi wajahnya yang cantik.


"Wah, Nando, tumben kau main ke butik, pasti kau mau menunggu aku, kenapa tidak datang ke rumah saja?" tanya Vania sambil duduk di sebelah Nando.


"Ehm, itu, mau lihat-lihat baju, buat ibu!" sahut Nando beralasan.


"Ooh, mau kasih hadiah baju buat Tante Lika? Mau aku pilihkan tidak?" tanya Vania lagi.


"Bo-boleh ..." jawab Nando gugup, sebenarnya bukan itu alasannya datang ke butik Tante Rina.


Vania lalu mulai memilihkan baju yang ada di butik itu, sementara Sandra nampak melayani pelanggan yang lain.


Tak lama Vania lalu menyodorkan sebuah baju pilihannya pada Nando.


"Ini coba lihat deh, bagus lho buat Tante Lika, pasti dia keliahatan lebih cantik!" kata Vania.


"Iya Van, aku pilih yang itu saja, tolong bungkuskan, aku harus bayar berapa nih?" tanya Nando.


"Sandra!" panggil Vania. Sandra langsung datang menghampiri Vania.


"Ada apa Van?" tanya Sandra.


"Ini tolong bungkuskan yang rapi ya, baju calon mertuaku!" bisik Vania.


"Oke Van, siap!" sahut Sandra yang langsung menuju meja kasir.


"Nando, ini total harganya setelah di diskon jadi 450 ribu!" ujar Sandra.


Nando langsung membayar tunai baju yang di belinya itu, kemudian dia mengambil bungkusannya.


Hari sudah semakin malam, sudah hampir jam sembilan, sebentar lagi butik juga akan di tutup.


Tante Rina nampak bersiap akan pulang kembali kerumahnya.


"Sandra, nanti tolong kau tutup semua dan kau pegang kuncinya ya, Tante bawa kunci serep juga, bilang sama Yuna sebelum dia pulang, lantai butik harus di pel dulu!" kata Tante Rina.


"Iya Tante!" sahut Sandra.


"Vania, kamu mau ikut Mama pulang atau bareng Nando?" tanya Tante Rina sambil menoleh ke arah Vania yang sedang mengobrol dengan Nando.


"Bareng sama Nando dong Ma!" sahut Vania.


"Ya sudah, Mama duluan ya!" pamit Tante Rina sambil beranjak keluar dari butiknya.


Yuna, salah satu penjaga butik nampak sedang membersihkan butik sebelum benar-benar di tutup.


Sandra juga nampak membereskan baju-baju yang agak berantakan di gantungan.


"Nando, kau tunggu apa lagi? Ayo kita jalan!" ajak Vania mengagetkan Nando.

__ADS_1


"Eh, iya, tapi Sandra ..."


"Sandra kan tinggal di sini, lagipula kau naik motor kan, motor itu hanya muat untuk dua orang saja Nando, kau tak mungkin mengajak Sandra juga!" tukas Vania.


"Iya, kalian pergilah, aku sudah mengantuk dan lelah, sebentar lagi paling aku tidur!" sahut Sandra.


"Tuh kan Do, sudah deh, kita jalan yuk, aku pengen deh naik motor berdua sama kamu Do!" kata Vania dengan mata berbinar.


Akhirnya Nando dan Vania berjalan keluar dari butik, mereka langsung berboncengan naik motor tanpa tujuan.


Sementara Sandra, setelah menutup butiknya, dia lalu menuju ke lantai atas, sebuah kamar yang cukup nyaman sudah tersedia untuknya, dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang yang ada di kamar itu.


****


Nando terus berjalan tanpa tau kemana arah dan tujuannya, Vania nampak senang di bonceng oleh Nando, ini adalah pertama kalinya dia berboncengan dengan Nando.


Vania memeluk pinggang Nando dengan erat.


"Kita mau kemana lagi Vania?" tanya Nando.


"Kemanapun kau bawa, aku akan ikut Do!" sahut Vania.


"Tapi aku capek Van, ngantuk juga!" ujar Nando.


"Ngantuk? Kamu gimana sih Do, bahkan kita belum makan sesuatu lho!" sergah Vania.


"Kau mau makan apa? Apa kau lapar?" tanya Nando.


"Baiklah, kota cari makan ya, kau mau makan apa?" tanya Nando.


"Makan apa saja, nasi goreng di pinggir jalan juga boleh, enak malah!" sahut Vania.


Mereka kemudian berhenti di pinggir jalan itu.


Nando mulai memesan nasi goreng.


"Bang, pesan nasi goreng tiga porsi, yang dua makan di sini, yang satu di bungkus!" ujar Nando.


"Siap Mas!" sahut si penjual nasi goreng.


"Buat siapa yang satu di bungkus Do?" tanya Vania.


"Buat Roy!" sahut Nando asal.


Setelah nasi goreng pesanan mereka jadi, merekapun segera menikmati santap malam mereka.


Setelah selesai dan berkeliling sebentar, Nando kemudian mengantar Vania pulang ke rumahnya, karena sudah larut malam.


"Terimakasih ya Do, sudah mengajakku jalan malam ini!" ucap Vania.

__ADS_1


"Iya Van, salam buat Tante Rina, maaf aku tidak bisa mampir!" kata Nando.


"Tidak apa-apa Do, sudah malam juga, hati-hati ya!" ucap Vania yang spontan menjinjit dan mencium pipi Nando.


Nando terkejut namun Vania sudah berlari masuk ke dalam gerbang rumahnya.


****


Nando kemudian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi kembali ke butik Tante Rina.


Dia lalu mulai menelepon Sandra.


"Halo ... Nando?"


"San, aku di depan butik, tolong kau keluar sebentar!" ujar Nando.


"Nando, sudahlah, lebih baik kau pulang saja, ini sudah malam!" sergah Sandra.


"Tidak San, dari tadi aku menunggumu, kau keluarlah please ... " mohon Nando.


"Hmm, baiklah, tapi aku tidak bisa lama ya Do!" Sandra lalu mematikan ponselnya dan segera turun ke bawah, kemudian dia keluar dari butik lewat pintu samping, Nando sudah menunggu di atas motornya tepat di depan butik.


"Sandra, ini ada nasi goreng, aku tau kau belum makan, pasti lapar!" kata Nando sambil menyodorkan bungkusan nasi goreng.


Sandra lalu menerimanya sambil tersenyum.


"Terimakasih Nando, kau sangat baik dan perhatian padaku, aku berhutang banyak padamu!" ucap Sandra.


Nando lalu memeluk Sandra dengan erat.


"Aku kangen!" bisik Nando.


Sandra tidak merespon pelukan Nando, meskipun dalam hati dia sangat ingin, Sandra berusaha menahan apa yang di rasakan dalam hatinya, cukup hanya seperti ini, dia sudah merasa bahagia.


"Kata Vania, kalian akan di jodohkan ... orang tua kalian sama-sama mendukung perjodohan kalian, aku juga mendukungmu Nando!" ucap Sandra.


"San, maafkan aku, tapi aku lebih nyaman bila berada dekat denganmu, entah sejak kapan ..." ujar Nando.


"Tidak Nando, kau lupa aku siapa? Kau hanya layak untuk Vania, bukan aku! Aku ini bekas banyak orang, sementara Vania sangat tulus mencintaimu! Sudahlah, aku mau tidur! Aku tidak pernah punya rasa apapun terhadapmu Nando!" Sandra mendorong tubuh Nando yang memeluknya.


Kemudian setengah berlari Sandra kembali masuk kedalam butik dan mengunci pintunya dari dalam.


Nando hanya termangu menatap kepergian Sandra yang menolaknya.


Tak lama kemudian Nando mulai menaiki motornya dan pergi meninggalkan butik itu.


Sementara Sandra yang masih berada di balik pintu mulai meneteskan air matanya.


'Maafkan aku Nando, aku berbohong padamu, padahal hanya ada dirimu seorang dalam hati ini, kau adalah cinta pertamaku, tapi aku tidak pantas untukmu!' batin Sandra.

__ADS_1


****


Sekedar bocoran ... nanti di episode pertengahan dan akhir akan ada banyak mengandung bawang lho ... siap-siap sapu tangan deh ...wkwkwkw


__ADS_2