
Malam itu Vania sudah nampak tertidur dengan nyenyaknya, setelah beberapa saat lalu dia menangis karena teringat akan vonis dokter terhadapnya.
Nando memandang wajah istrinya itu dengan penuh belas kasihan, walaupun sampai saat ini Nando terus berjuang bagaimana bisa membahagiakan Vania di saat terberat dalam hidupnya.
Nando tau sudah sejak lama Vania mencintainya, sejak dirinya baru pindah dari Malaysia dan masuk kuliah di Jakarta.
perlahan Nando membelai rambut Vania, ada perasaan bersalah yang menggelayutinya.
"Seandainya aku tidak pernah bertemu Sandra malam itu, tentunya aku tidak akan se galau ini sekarang!" gumam Nando.
Karena Nando belum dapat memejamkan matanya, dia beranjak turun dari tempat tidurnya dan melangkah ke bawah menuruni tangga.
Berniat mencari udara segar di luar. Nando berjalan menuju taman samping rumahnya yang luas itu, memandang kolam renang yang airnya sedikit beriak.
Matanya menangkap sosok wanita yang duduk di bangku depan kolam itu, dari belakang Nando tau siapa wanita itu, dia adalah Sandra.
"San!" panggil Nando dari belakang. Sandra menoleh. Dia sedikit terkejut melihat Nando yang sudah berdiri di belakangnya.
"Maaf Nando, aku baru mau kembali ke kamar, tadi hanya cari angin sebentar, permisi!" ujar Sandra sambil bangkit dari duduknya, kemudian mulai melangkah pergi.
"Tunggu San!" sergah Nando. Sandra berhenti lalu menoleh kebelakang.
"Ada apalagi Nando? Kita sudah tidak ada urusan lagi bukan?" tanya Sandra.
"San, katakan padaku, bayi siapa yang ada dalam kandunganmu itu? Apakah itu bayiku?" tanya Nando balik.
Sandra terdiam tidak langsung menjawab, dadanya tiba-tiba bergemuruh.
"San, waktuku tidak banyak, kau tau Vania saat ini tidak dalam kondisi sehat! Tolong jawab pertanyaanku ini San!" ucap Nando.
"Nando, kenapa kau harus perduli ini bayi siapa, siapapun ayah bayi ini tidak akan berpengaruh buatmu kan?" tanya Sandra.
"Apakah itu bayiku San?" lirih Nando.
"Sudahlah Nando, aku harus balik ke kamar sekarang, atau akan ada yang melihatmu mengobrol denganku??!" tukas Sandra.
"Walau kau menyangkalnya, aku yakin kalau bayi itu adalah benihku, aku sangat yakin!" ujar Nando.
"Terserah kau mau yakin atau tidak, kau fokus saja pada Vania, saat ini dia sangat membutuhkanmu!" cetus Sandra.
__ADS_1
"Bayi itu juga membutuhkan Papanya!" balas Nando.
Tanpa membalas lagi, Sandra langsung berlalu meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
Nando menjambak rambutnya frustasi.
"Aaarggh!!" serunya lantang.
Sementara Sandra yang kini sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar, hanya bisa menangis sambil mengelus perutnya.
"Kau senang kan Nak, bisa bertemu dan melihat Papamu, maafkan Mama ya sayang, kita harus bersyukur hanya dengan seperti ini, mereka orang-orang baik!" bisik Sandra sambil mengusap matanya yang basah.
Tiba-tiba Mirna terbangun dari tidurnya, dia tertegun melihat Sandra yang masih duduk sambil menangis.
"Sandra! Kau belum tidur sejak tadi?" tanya Mirna sambil mulai bangun dari tidurnya.
Sekilas dia melirik ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul 2 dinihari.
"Mirna, bagaimana menurutmu? Mau sampai kapan kita akan tinggal di rumah ini?" tanya Sandra sambil menatap Mirna.
"Entahlah San, aku tau posisimu sulit, aku sendiri juga bingung, secara psikologis, pasti kau dan calon bayimu sangat nyaman tinggal di sini, tapi ... bagaimana kalau Vania tau kalau, kau mengandung anak Nando?" ungkap Mirna.
"San ... kemana lagi kita akan pergi?" tanya Mirna.
"Entahlah, mungkin ... ke luar negri!" sahut Sandra.
****
Pagi datang menjelang, Vania mengerjapkan matanya, kepalanya merasa pusing, bagian perut bawahnya juga terasa nyeri.
Matahari sudah masuk ke dalam kamarnya melalui ke celah jendela kamarnya.
Nando masih nampak tertidur pulas karena dia baru bisa tidur menjelang subuh.
Vania mulai turun dari tempat tidurnya berniat akan membuka jendela kamarnya.
"Aaaarrrghh!!"
Vania menjerit saat melihat darah yang membasahi tempat tidurnya.
__ADS_1
Nando melonjak kaget mendengar suara teriakan Vania.
"Ada apa Vania?" tanya Nando panik.
"Itu ... itu darah Nando, darah banyak sekali!" jawab Vania sambil menangis.
Terlihat ada tetesan darah yang mengalir dari kaki Vania. Juga darah yang membasahi sprei tempat tidur itu. Mata Nando melotot.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Nando sambil menyambar mantelnya.
Tanpa banyak bertanya Nando segera menggendong tubuh Vania keluar dari kamar itu, lalu menuruni tangga.
Tante Rina terkejut saat melihat Nando mengendong Vania turun dengan daster yang berdarah.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Vania??" tanya Tante Rina panik.
"Kita mau ke rumah sakit sekarang Ma, Roy!! Cepat siapkan mobil!!" teriak Nando.
Roy yang sedang mencuci mobil langsung datang tergopoh-gopoh.
"Ya ampun Tuan!! Pagi-pagi sudah rempong!" sahut Roy. Namun matanya melotot saat dia melihat Vania dalam.gendongan Nando.
Dengan cepat Roy menyiapkan mobil.
"Mama ikut!" ujar Tante Rina. Dia langsung menelepon Yuna untuk menutup butiknya.
Sandra dan Mirna yang baru selesai mandi dan keluar kamar kaget melihat kehebohan pagi itu.
"Sandra, Mirna, kalian tolong jaga rumah saja, doakan kondisi Vania baik-baik saja!" ujar Tante Rina.
"Baik Tante!" sahut Sandra dan Mirna bersamaan.
Tante Rina kemudian ikut naik ke mobil untuk ke rumah sakit.
Sementara Sandra dan Mirna hanya bisa saling berpandangan.
"Kasihan sekali keluarga ini, ujian apalagi yang akan Nando dan Vania alami!" gumam Sandra.
****
__ADS_1