
Malam itu, Sandra bersiap akan ke rumah sakit ke dokter kandungan di temani oleh Mirna dan di antar oleh Roy.
Nando juga sudah bersiap untuk menemani mereka, namun tiba-tiba Tante Rina datang baru pulang dari butiknya.
"Lho, ada apa ini rame-rame?" tanya Tante Rina heran.
"Ini lho Ma, Sandra mau kontrol kehamilan, aku minta Nando untuk menemani mereka, Nando kan juga harus melihat calon anaknya kelak, walaupun anak angkat, supaya ada ikatan antara Papa dan anaknya nanti Ma!" jelas Sandra yang kini duduk di kursi roda.
Tante Rina nampak terkejut.
"Apa? Tidak! Nando tidak boleh ikut, dia harus di sini menjagamu Vania!" sergah Tante Rina.
"Mama apaan sih, aku tidak perlu selalu di jaga juga kali, kan sudah ada Mama yang menemaniku, lagi pula apa salahnya kalau Nando menemani mereka, toh mereka berempat kan bukan berdua!" tukas Vania.
"Bukan begitu Vania, maksud Mama kan ..."
"Pokoknya kalian cepat berangkat sekarang, nanti kemalaman, Mama temani aku saja mengobrol, sudah lama aku tidak mengobrol dengan Mama, bahkan sejak aku menikah!" potong Vania.
Akhirnya Tante Rina tidak bisa mencegah lagi, mau tidak mau dia membiarkan Nando ikut menemani Sandra memeriksakan kehamilannya.
"Mobil sudah siap di depan Tuan!" kata Roy yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
Sandra dan Mirna nampak jalan terlebih dahulu untuk naik ke mobil.
Nando kemudian pamit pada Vania dan Tante Rina.
"Vania, aku jalan dulu ya, kau jaga dirimu, jangan lupa minum obatnya!" pamit Nando.
"Iya sayang, kau juga ya, kasihan Sandra, kau dampingi dia ya Do, kasihan dia tidak ada suami di sampingnya, pasti ini sangat berat baginya!" ucap Vania.
"Iya Vania!" sahut Nando.
"Nando, kau harus cepat pulang, ingat istrimu di rumah menunggumu!" ujar Tante Rina.
"Iya Ma!" jawab Nando yang langsung bergegas jalan menuju ke mobil yang sudah menunggunya itu.
Kemudian mereka segera berangkat menuju ke rumah sakit, rumah sakit yang berbeda saat mereka bertemu dulu.
"Tuan lama sekali! Pamit ke rumah sakit saja sudah seperti pamit berperang, banyak dramanya!" celoteh Roy.
"Sudah jangan berisik! Konsentrasi menyetir saja!" sahut Nando.
"Nanti di rumah sakit, saya minta ijin ngobrol sama pacar saya ya Tuan? Jadi Tuan saja yang masuk mengantri!" ujar Roy.
"Pacar? Siapa pacarmu?" tanya Nando.
"Ah Tuan pura-pura lupa, itu lho yang duduk di belakang, neng Mirna hehehe!" sahut Roy terkekeh.
__ADS_1
Nando hanya tersenyum kecut menanggapi celotehan Roy.
Tapi dalam hati Nando mengakui bahwa Roy lebih beruntung darinya, bisa dengan terang-terangan mengakui orang yang di cintai. Tidak seperti dirinya.
Sekitar 30 menitan akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Roy nampak senang akhirnya bisa dengan bebas mengobrol dengan Mirna, sementara Nando dan Sandra berjalan ke poli kandungan.
Mereka mendaftar di poli kandungan itu, kemudian duduk menunggu antrian yang terlihat agak padat.
Sandra dan Nando saling diam, dengan pikiran mereka masing-masing.
Namun dalam dada mereka saling bergemuruh dan berdebar satu sama lain.
"Sandra ..."
"Ya?"
"Maafkan aku ya, mengantarmu dalam situasi dan kondisi seperti ini!" ucap Nando.
"Tidak apa-apa! Paling tidak kau bisa melihat anakmu nanti!" sahut Sandra.
"Aku ... aku bahagia bisa melihatnya, tidak sabar rasanya!" lirih Nando.
"Jangan baper Nando, ingat Vania di rumah menunggumu, ingat juga kalau aku bukan siapa-siapa mu, aku hanya mengandung benihmu saja, tapi kita tidak ada hubungan apapun!" ucap Sandra.
"Ibu Sandra!!" panggil seorang suster.
Sandra segera berdiri di susul oleh Nando, mereka langsung masuk ke dalam ruang praktek Dokter.
Mereka kemudian duduk di hadapan seorang Dokter.
Dia adalah Dokter Mia, seorang Dokter wanita ahli kandungan.
"Sudah pernah sebelumnya memeriksakan kandungan di sini?" tanya Dokter Mia.
"Belum Dokter!" jawab Sandra.
"Sebelumnya periksa di mana?" tanya Dokter Mia.
"Periksa di Bidan Dokter!" sahut Sandra.
"Jadi, belum pernah di USG dong!"
"Iya Dokter!"
Dokter Mia nampak geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Bapak bagaimana sih? Istri sudah hamil sebesar ini masa belum pernah di bawa USG, memangnya tidak penasaran dengan bayinya?" tanya Dokter Mia sambil melirik ke arah Nando.
"Maaf Dokter, saya ..."
"Sudahlah, sekarang Bu Sandra berbaring dulu, kita lihat kondisi bayi kalian!" potong Dokter mia.
Sandra kemudian mulai berbaring di ranjang pasien. Nando duduk di samping ranjang itu, sementara Dokter Mia mulai mengoleskan gel di perut Sandra.
Terlihat ada gerakan-gerakan di layar monitor yang ada di depan ranjang itu.
Nando begitu takjub melihatnya. Hatinya menghangat seketika melihat buah hatinya dalam 4 dimensi.
"Usia kandungan Bu Sandra sudah berjalan 20 Minggu, sekitar lima bulanan lah ya, baik-baik di jaga kandungannya, ini bayinya sehat, berat badannya sesuai usianya!" jelas Dokter Mia.
Sandra begitu terkesima melihat bayinya yang bergerak lincah di layar USG. Begitu juga Nando.
Tanpa terasa ada butiran bening yang menetes di pipi Sandra.
"Menurut penglihatan saya, bayi kalian berjenis kelamin perempuan, kata orang, bayi perempuan akan mewarisi wajah Ayahnya, selamat ya saya ucapkan buat kalian!" ucap Dokter Mia.
"Terimakasih Dokter!" kata Sandra dan Nando bersamaan.
"Peran ayah juga mempengaruhi perkembangan bayi, sering-seringlah menyentuhnya, membelainya, dan berbicara pada bayi ini, dia akan mengenali suara Ayahnya walau masih di dalam kandungan!" lanjut dokter Mia.
Sandra dan Nando saling berpandangan.
Mereka lalu kembali duduk di hadapan dokter Mia.
"Saya akan resepkan vitamin, alangkah baiknya jika Ibu Sandra mengkonsumsi susu ibu hamil, karena banyak terdapat kandungan asam folat pada susu, yang akan mempengaruhi kesehatan bayi kalian, itu penting untuk nutrisinya!" jelas Dokter Mia.
"Baik Dokter, saya akan belikan banyak susu hamil untuknya!" sahut Nando.
"Oya, karena kandungan Bu Sandra sudah mulai besar, sudah boleh dengan bebas berhubungan suami istri, asal dengan batas-batas wajar, itu juga baik untuk memperlancar persalinan nanti, karena cairan Ayah banyak manfaat unyuk merangsang bayi juga!" tambah Dokter Mia.
Lagi-lagi Sandra dan Nando saling berpandangan.
Setelah mereka selesai berkonsultasi, mereka kemudian keluar dari ruangan itu, berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit itu menuju ke parkiran.
"Sandra maafkan aku ... maafkan aku ... aku bukan Papa yang baik, anakku sangat kurang sentuhan dariku!" ucap Nando menyesal.
"Jangan ucapkan itu lagi, kita memang tidak bisa saling bersentuhan!" sahut Sandra.
Mereka berdua sangat ingin sekali bersentuhan satu dengan yang lain, namun takdir membatasi mereka.
****
Ini visual si Bubu, kucing kesayangan Nando ... 😁
__ADS_1