Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Setelah hampir dua Minggu lamanya Sandra di rawat di rumah sakit, Sandra akhirnya di perbolehkan pulang walaupun dia masih duduk di kursi roda. Sandra akhirnya di anjurkan untuk rawat jalan.


Proses perceraian Nando dan Vania kini sudah memasuki tahap mediasi, semua berlangsung secara lancar sesuai prosedur.


Nando nampak membereskan barang-barang yang akan di bawanya pulang, sementara seorang perawat membantu Vania untuk naik ke kursi rodanya.


"Pak, nanti setiap tiga jam sekali jangan lupa, istrinya di terapi jalan ya Pak, caranya yang seperti pernah kami ajarkan waktu itu!" kata Suster.


"Siap Suster!" sahut Nando semangat.


"Baik, jangan lupa obatnya di minum, dan selalu kontrol sesuai jadwal!" ucap Suster itu sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu.


Nando kemudian mulai memanggul tas dan mendorong kursi roda Sandra juga keluar dari ruangan itu, mereka menyusuri koridor rumah sakit yang terlihat cukup panjang itu.


"Akhirnya kita kembali pulang ke rumah sayang, kata Ibu, makanan sudah siap tersaji di rumah, keluarga kak Kezia juga sudah datang untuk menyambut kepulangan mu!" ujar Nando antusias.


"Terimakasih ya Do, aku salut pada keluargamu, mereka sangat baik, tidak pernah memandang orang dari statusnya, aku sangat kagum!" ucap Sandra.


"Yah, aku juga sangat menyayangi keluargaku itu, asal kau tau San, aku ini bukan putra kandung mereka, tapi mereka sangat sayang padaku, bahkan melebihi anak kandung!" jawab Nando.


"Oya? Aku baru tau kalau kau ini, bukan keluarga kandung mereka, lalu kemana orang tua kandung mu?" tanya Sandra.


Nando terduduk di bangku lobby sambil menunggu Roy datang, wajahnya berubah sendu saat dia kembali terkenang akan keluarganya, masa lalunya.


"Aku ini adalah anak hasil selingkuhan, dulu sebelum Papa Ricky menikahi Ibu Lika, Papa punya istri yaitu Mamaku, Mamaku selingkuh dengan pria lain dan menghasilkan aku, jadi aku dan kak Kezia itu satu kandung tapi beda ayah! Ibu kandungku meninggal sakit kanker rahim, Ayahku juga belum lama meninggal!" jelas Nando.


"Wah, ternyata hidup mu rumit juga ya Do, berati Ibu Lika itu Ibu tirimu dong, tapi kelihatannya kau begitu sayang dan menghormatinya!" tanya Sandra.


"Ya, Ibu Lika itu guru kelasku saat SD, dia guru terbaik yang pernah ku kenal, mengajariku banyak hal tentang hidup, dari dia aku jadi mengerti tentang kasih sayang!" ucap Nando.


"Hmm, pantas saja, Papa Ricky dan Ibu Lika benar-benar berjiwa besar!" gumam Sandra.


"Hei! Tuan di sini rupanya! pantas kucari ke ruangan tidak ada!" Roy tiba-tiba muncul mengejutkan Nando dan Sandra.


"Kau ini Roy! Mengagetkan aku saja!" sungut Nando.


"Nih lihat! Siapa yang datang!" seru Roy sambil menunjuk wanita yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Mirna!" pekik Sandra terkesiap.


"Sandra! Aku kangen San!" Mirna langsung memeluk erat Sandra yang duduk di kursi roda.


Tangis haru mewarnai mereka sore itu.


"Kau apa kabar Mir? Mana Tante Tatik?" tanya Sandra.

__ADS_1


"Tante Tatik tidak bisa ikut ke Jakarta, kebetulan sakit maag nya kambuh kemarin, tapi dia titip salam untukmu juga Kia!" jawab Mirna.


"Padahal aku juga kangen sama Tante Tatik, Mir, kau benar akan menikah dengan si Roy?" tanya Sandra to the point.


Mirna menunduk malu mendengar pertanyaan Sandra.


"Tentu saja benar! Kalau soal itu mah jangan di tanya lagi!" celetuk Roy.


"Sudah! Sudah! kita cepat pulang saja! Perutku sudah lapar!" cetus Nando yang langsung mendorong kursi roda Sandra ke arah parkiran.


Roy dan Mirna lalu berjalan mengikuti di belakangnya.


****


Sementara itu, Vania yang baru pulang dari kampus menjelang matahari terbenam menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.


Beberapa lama tidak ada Nando di sisinya membuat hidupnya hampa, seolah tidak ada lagi harapan.


Berkali-kali Vania berusaha melupakan Nando, menepiskan setiap bayangannya, namun bayangan Nando seolah melekat di otaknya, sangat sulit untuk di singkirkan.


Tok ... Tok ... Tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar itu.


Vania bangkit dari tempat tidurnya lalu bergegas membukakan pintu kamarnya itu.


"Selamat malam Vania, kau sudah pulang? Ini aku bawakan makanan untuk makan malam, kita makan di meja makan ya!" ajak Adi.


Vania tersenyum. Sebenarnya dia tidak lapar, tapi Vania juga tidak bisa menolak ketulusan Adi, walau bagaimana Adi telah banyak membantunya selama ini.


Adi juga telah membantu Vania untuk membuat surat gugatan cerai terhadap Nando dan mempercepat prosesnya.


"Ehm, baiklah, kita ke meja makan sekarang!" jawab Vania sambil kembali menutup pintu kamarnya.


Mereka berjalan ke arah meja makan yang tidak jauh dari kamar itu lalu duduk di hadapan meja itu.


Adi nampak membuka dua bungkusan kotak makanan yang di bawanya.


"Ini ada ayam bakar Kalasan, paling enak di daerah ini, kau pasti suka!" ujar Adi.


"Terimakasih Adi, aku selalu merepotkanmu!" ucap Vania.


"Jangan sungkan, asal kau dengan senang hati menerima pemberianku, aku sudah cukup senang!" jawab Adi.


Mereka kemudian mulai menyantap makan malam mereka.

__ADS_1


"Adi, mulai besok aku pindah ya, aku mau tinggal di rumah Mamaku dulu, sekalian mengurus butiknya, kalau bukan aku, siapa lagi yang akan meneruskan usaha Mama!" ungkap Vania.


"Jadi, kau akan kembali tinggal di rumah lamamu?" tanya Adi.


"Di rumah Mama yang lama, bukan di rumah Nando, kau jangan salah!" sahut Vania.


"Ya ya, aku ikut senang akhirnya kau bisa meneruskan usaha Mamamu itu, aku harap kau cepat melupakan dia!" lirih Adi.


Vania lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.


"Adi, besok antarkan aku untuk mengembalikan ini!" kata Vania sambil menunjuk sebuah kartu ATM.


"Itu kartu ATM siapa?" tanya Adi.


"Ini milik Nando, dia memberikan padaku untuk kebutuhan aku sehari-hari, karena aku telah bercerai darinya, aku berniat akan mengembalikannya!" jawab Vania.


"Apa kau yakin dia mau menerima itu kembali?" tanya Adi.


"Aku sih tidak yakin, tapi ..." Vania menghentikan ucapannya.


"Biar aku saja yang mengembalikan ini pada Nando!" ujar Adi.


Adi lalu mengambil kartu ATM itu lalu di simpan di dalam dompetnya.


"Terimakasih Adi!" ucap Vania.


"Vania, nanti akhir pekan, aku mau mengajakmu ke suatu tempat!" ujar Adi.


"Kemana?" tanya Vania.


"Ke panti asuhan tempat aku di besarkan, aku mau minta restu ibu angkat ku, aku berniat akan melamar mu!" jawab Adi.


"Adi kau terlalu buru-buru, aku belum siap!" tukas Vania.


"Yah, aku akan menunggumu sampai kau siap Vania!" sahut Adi.


"Maafkan aku Adi, saat ini aku masih mau sendiri, aku masih butuh waktu untuk melupakan semuanya, setelah apa yang telah terjadi, aku mau kita menjadi teman saja!" ucap Vania.


Ucapan Vania membuat wajah Adi berubah pias.


Bersambung ...


****


Hai guys ...

__ADS_1


Kisah masa kecil Nando ada di novel Pelabuhan Terakhir ya yuk mampir 😁


__ADS_2