
Nando membuka pintu kamarnya, Vania nampak menangis di atas tempat tidurnya punggungnya berguncang halus.
Perlahan Nando menyentuh punggung Vania, Vania menoleh ke arah Nando dengan mata yang basah.
"Maafkan aku Vania!" ucap Nando lirih.
"Nando, kau pergi begitu saja meninggalkan aku, sebenarnya ada hubungan apa antara kau dengan Sandra? Jawab Nando!" Isak Vania.
"Tidak ada hubungan apapun!" sahut Nando.
"Bohong!! Aku lihat ada rasa kekhawatiran yang sangat besar saat kau mendengar kalau Sandra pergi!" seru Vania.
Nando terdiam mendengar ucapan Sandra, wanita rapuh yang kini ada di hadapannya terlihat begitu lemah dan kasihan, tidak mungkin Nando akan menyakiti perasaannya.
Di sisi lain dia begitu kehilangan separuh jiwanya saat Sandra pergi meninggalkannya, Sandra pergi dengan membawa luka dan buah cinta darinya, Nando begitu kehilangan, sangat kehilangan.
"Kenapa kau diam Nando? Ayo jawab aku! Apakah selama ini kau mencintai Sandra? Atau jangan-jangan anak yang di kandung Sandra adalah anakmu??" cecar Vania.
Ceklek!
Terdengar suara pintu kamar yang di buka dari luar, Tante Rina masuk dan langsung berjalan mendekati mereka.
"Vania, kau istirahat saja sayang, tadi itu Nando hanya kaget saja, dia tidak benar-benar mengejar Sandra kok, biarkan saja Sandra pergi, dia memang tidak mau memberikan bayinya padamu, nanti kita cari bayi yang lain ya!" ucap Tante Rina sambil mengelus kepala Vania.
Vania mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.
Nando membantunya menyelimuti tubuhnya.
"Nando, kau belum jawab pertanyaanku, apakah kau diam-diam mencintai Sandra? Aku bisa melihat dengan jelas ekspresi mu tadi pagi, kau begitu cemas dan khawatir padanya!" tanya Vania.
"Vania, mana mungkin Nando mencintai Sandra, dia mencintaimu Van, dia kan suamimu, iya kan Nando??" ujar Tante Rina sambil menatap ke arah Nando.
__ADS_1
"I-iya Ma!" sahut Nando.
"Tuh kan Van, dengar kata Nando, sebaiknya sekarang kau istirahat saja, Nando, Mama ingin bicara sebentar!" kata Tante Rina.
Kemudian mereka segera keluar dari kamar itu, meninggalkan Vania yang masih terbaring di kamarnya.
Mereka menuruni tangga dan berhenti di ruang keluarga.
"Nando! Mulai saat ini kau hanya fokus pada Vania istrimu, ingat Nando, saat ini Vania sedang tidak sehat, jiwanya rapuh, apalagi setelah dia tau bahwa dia tidak mungkin bisa memiliki anak, Mama harap kau jangan menyakiti hatinya!" ujar Tante Rina.
"Iya Ma!" sahut Nando.
"Bagus! Ingat Nando, kau dan Vania sudah tinggal dalam ikatan pernikahan yang suci, lupakan wanita malam itu, biarkan dia pergi dan menemukan hidupnya sendiri, sementara kau bersama Vania!" lanjut Tante Rina.
Setelah berkata demikian, Tante Rina langsung pergi meninggalkan Nando yang masih berdiri termangu di tempatnya.
"Tidak! Aku akan tetap mencari di mana keberadaan Sandra dan anakku!" gumam Nando.
Matanya tertuju pada sebuah dokumen yang ada di atas meja, perlahan Nando mendekati dan meraih dokumen yang ternyata adalah sebuah sertifikat rumah milik Mami Vero.
Nando menatap lekat pada serifikat yang dulu sangat di inginkannya itu.
"Aku tidak lagi butuh ini San, saat ini aku butuh dirimu dan buah hati kita!" bisik hati Nando.
Kemudian Nando segera berjalan ke depan ke arah garasi mobilnya, Roy nampak duduk melamun di bangku garasi itu dengan bertopang dagu.
"Roy, apa kau tau kemana mereka pergi??" tanya Nando.
"Mana saya tau Tuan! Ini saja saya telepon neng Mirna tidak di angkat-angkat, saya jadi korban masalah tuan dengan Sandra deh!" jawab Roy sedih.
"Roy, aku harus bagaimana? Aku sudah tidak tahan dengan situasi ini Roy! Aku benar-benar bingung! Vania sakit, aku tidak mungkin pergi begitu saja meninggalkannya, akan banyak hati yang terluka, jika aku harus mengakui semuanya, aku juga tidak ingin menyakiti hati ibuku!" ungkap Nando.
__ADS_1
Roy menatap majikannya dengan tatapan penuh kasihan dan prihatin.
"Saya juga bingung Tuan, rumit banget deh ah perjalanan cintanya Tuan, kalau saya jadi Tuan saya nikahin keduanya! Beres dan di jamin puas!" sahut Roy.
"Roy, tolong kau cari tau di mana keberadaan Sandra Roy, aku bisa gila jika terpisah dengan dia, juga anakku!" ucap Nando.
"Ini juga sudah berapa kali saya hubungin neng Mirna, nanti saya hubungi dia lagi deh Tuan, biasanya ponselnya selalu aktif!" sahut Roy.
"Seandainya saja Vania tidak sakit, Ibuku tidak minta aku menikahi Vania, mungkin saat ini aku bisa merasakan apa itu bahagia!" gumam Nando.
"Sudahlah Tuan, kalau Tuan memang berjodoh dengan Sandra, nanti juga Tuan pasti akan bertemu dengannya lagi kok, saya saja yakin kok, bakal berjodoh dengan neng Mirna!" ujar Roy
Mbok Karsih datang tergopoh-gopoh dari arah dalam rumah.
"Tuan Nando! Nyonya Vania pingsan Tuan, dia pingsan! Di bangunin tidak bangun-bangun!" seru Mbok Karsih.
Nando segera beranjak dari tempatnya, dan setengah berlari naik ke atas menuju ke kamarnya.
Tante Rina nampak menangis di sisi pembaringan itu sambil mengguncang tubuh Vania.
"Apa yang terjadi dengan Vania?" tanya Nando.
"Nando! Cepat bawa istrimu ke rumah sakit! Dia pingsan Nando!" sahut Tante Rina sambil menangis.
Dengan cepat Nando mengangkat Vania dalam gendongannya, lalu di bawanya lah tubuh Vania itu ke dalam mobil. Tante Rina langsung masuk ke dalam mobil juga.
Roy yang sudah ada di dalam mobil langsung melajukan mobilnya cepat menuju ke rumah sakit.
Bersambung ...
****
__ADS_1