Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Vania Mengunjungi ibunya


__ADS_3

Di lorong yang gelap dan dingin itu, Vania melangkahkan kakinya menuju ke salah satu sel tahanan khusus wanita.


Nando memberitahu nya bahwa Tante Rina Ibunya kini tengah mendekam di penjara.


Vania menghentikan langkahnya di salah satu sel tahanan yang paling ujung, berukuran 4 x 4 meter, di mana dia melihat Tante Rina yang sedang meringkuk sendirian.


Perlahan Vania mendekati Mamanya itu.


"Mama!" panggil Vania.


Tante Rina menoleh, wajahnya kini semakin tirus, tubuhnya juga terlihat semakin kurus, dengan rambut yang terurai agak berantakan.


Berbanding terbalik dengan Tante Rina yang dulu terlihat sangat anggun dan elegan, Tante Rina yang di kenal baik dan murah hati.


Kini semuanya harus berakhir di penjara.


Tante Tina bangkit dari posisinya, dia berjalan mendekat ke arah Vania dengan kedua tangannya yang memegang jeruji besi.


"Vania ... Maafkan Mama Nak! Maafkan Mama!" ucap Tante Rina sambil kembali meneteskan air matanya.


"Sudah terlambat jika Mama minta maaf sekarang!" sahut Vania.


"Maafkan Mama Van, Mama menyesal, tapi asal kau tau saja, semua yang Mama lakukan adalah demi kebahagiaanmu Van!" ujar Tante Rina.


"Kebahagiaan yang seperti apa Ma? Apa Mama sadar?? Perbuatan Mama membuat aku tak ada lagi harga dirinya di depan keluarga Nando, aku malu Ma!" seru Vania. Matanya mulai memerah.


"Mama tidak tahan melihatmu selalu menangis, melihatmu selalu jadi yang nomor dua, Mama tidak ikhlas melihat Nando bahagia dengan Sandra dan amat menyayangi anaknya sementara kau di abaikan!" sahut Tante Rina.


"Tapi semuanya itu bukan salah Nando dan Sandra Ma! Sebenarnya aku yang adalah orang ketiga diantara mereka, hanya saja aku selalu menutup mataku!" cetus Vania.


"Mama menyesal Vania, sangat menyesal, Maafkan Mama, Mama hanya ingin kau sedikit saja merasakan bagaimana di cintai, di perhatikan, Mama tidak ingin kau bernasib sama dengan Mama, kehilangan suami yang sangat Mama cintai, sakit dan sedih rasanya!" isak Tante Rina.


"Tapi aku telah kehilangan semuanya Ma, aku kehilangan suami, kehilangan sahabat, juga kehilangan Mama!" Vania mulai menangis sambil bersimpuh di depan Mamanya.


Sesaat lamanya mereka saling bertangis-tangisan, tanpa mampu lagi untuk mengungkapkan kata.


Kemudian Vania berdiri dan menggenggam tangan Mamanya yang masih menempel pada jeruji besi.


"Semuanya ini ada hikmahnya Ma, semoga Mama selalu sehat, selamat tinggal Ma!" ucap Vania yang bersiap akan beranjak pergi.


"Jangan tinggalkan Mama Van! Kau mau kemana?? Mama kesepian di sini! Vania!!" seru Tante Rina saat Vania mundur dan melangkah meninggalkannya.


"Vania!! Jangan tinggalkan Mama Nak!! Vania!!" teriak Tante Rina.

__ADS_1


Vania terus berjalan tanpa menoleh lagi, walaupun hatinya saat itu sangat hancur berkeping-keping, melihat wanita yang telah melahirkannya di penjara.


Setelah sampai ke depan barulah Vania menghentikan langkahnya.


Adi tengah duduk menunggunya di bangku itu.


"Kalau kau mau, aku bisa membebaskan Mamamu dari penjara, aku ini seorang pengacara yang akan terus membela klienku!" ujar Adi.


"Tidak Adi, untuk sementara biarkan Mama di sana, itu setimpal dengan perbuatannya!"sahut Vania.


"Baiklah, kalau begitu, ayo kita pulang!" ajak Adi.


"Tidak, masih ada satu proyekku yang belum selesai!" sahut Vania.


"Proyek? Apa itu?" tanya Adi.


Vania lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Ini skripsinya Nando, baru saja selesai aku buat!" kata Vania.


"Wow! Aku sudah menjabat sebagai pengacara, tapi dia belum lulus kuliah juga?? Luar biasa!" ujar Adi.


"Nando walaupun dia tidak lulus kuliah pun dia tetap seorang pengusaha, ijasah hanya formalitas untuknya, aku sudah telanjur berjanji akan membantunya sampai dia lulus!" ungkap Vania.


Mereka kemudian mulai berjalan ke parkiran mobil dan mulai masuk ke dalam mobil.


"Apa kau dulu memang sekelas dengan Nando?" tanya Adi.


"Ya, aku sekelas dengannya, dia pindahan dari Malaysia, aku dulu selalu juara satu dengan IP nyaris sempurna, sedangkan Nando dulu sangat malas belajar, beberapa kali dia harus mengulang mata kuliah!" jawab Vania.


"Lalu kenapa kau dulu bisa sampai jatuh cinta padanya? Padahal bodoh!" tanya Adi.


"Nando tidak bodoh, buktinya dia bisa memimpin dan mengelola perusahaan dengan baik, hanya saja dia kurang pintar di bidang akademik, tapi karena dia begitu polos, aku selalu senang membantunya belajar, apalagi saat belajar dia suka tidur, tapi itu yang membuat aku selalu gemas terhadapnya, dasar bodoh!" kenang Vania.


Tanpa terasa matanya kini mulai berkaca-kaca, saat ingat kenangannya bersama Nando.


"Walaupun aku bukan Nando yang bodoh dan menggemaskan, tapi ijinkan aku untuk sedikit saja berhuni di hatimu Vania!" ucap Adi lirih.


****


Nando mengangkat Sandra ke atas kursi rodanya, sore ini Nando akan mengajak Sandra berjalan-jalan di taman rumah sakit.


Nando mendorong kursi roda itu dengan penuh semangat di sepanjang koridor rumah sakit itu.

__ADS_1


"Pelan-pelan Nando!" seru Sandra.


"Kau tenang saja! Aku jamin kau tidak akan jatuh!" sahut Nando.


"Tapi kau akan membuatku takut!" ujar Sandra.


Nando lalu membawa kursi roda itu di tengah taman, di bawah sebuah air mancur.


"Ini akan membuatmu tenang dan rileks!" ucap Nando dengan senyumnya yang begitu manis.


"Terimakasih ya Do! Sejak dulu kau selalu saja membuat aku bahagia!" ucap Sandra.


"Iya, aku juga bahagia saat bersamamu!" sahut Nando.


"Kau benar-benar pahlawanku Do, membebaskan aku dari cengkraman Mami Vero, berjuang demi membebaskan aku, tanpa memperdulikan dirimu sendiri! Bahkan sampai kau babak belur di pukuli anak buah Mami, terimakasih Nando!" ucap Sandra sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Nando.


"Jangan terimakasih padaku, berterimakasih lah pada takdir yang telah mempertemukan kita!" sahut Nando.


"Ya, kau adalah takdir itu Nando!" cetus Sandra.


Nando kemudian mulai menatap dalam ke arah Sandra, hembusan nafasnya terasa hangat di wajah Sandra.


Nando kemudian mulai maju hendak mengecup bibir Sandra, namun tiba-tiba sebuah tangan menjewer telinganya.


"Dasar mesum!! Kau tidak tau kalau ini di tempat umum hah?!" Kezia sudah berdiri sambil melotot ke arah Nando.


"Dih Kakak! Mengganggu kesenangan orang saja!" sungut Nando.


"Makanya! liat-liat tempat kalau mau romantisan!" sahut Kezia ketus.


"Bilang saja Kakak iri, minta sana sama Bang Jo!" cetus Nando.


"Enak saja! Bang Jo lebih tau aturan dari pada kau Do!" sengit Kezia.


"Sama saja! Kakak saja yang tidak mau mengakuinya!" tukas Nando tak mau kalah.


"Sudah diam! Pusing aku Do! Lihat itu siapa yang datang!" sahut Kezia sambil menunjuk ke arah bangku koridor yang ada di depannya.


"Kiaa??" seru Nando dan Sandra bersamaan.


Lika datang dengan membawa Kia di dalam sebuah stroller, Kia ada di dalam stroller itu.


Hati Sandra langsung menghangat, ingin rasanya dia berlari mengejar buah hatinya yang sudah lama dia tidak bisa untuk memeluknya.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2