
Nando yang terbangun dan baru saja membuka matanya, menatap Vania yang kini berbaring di sebelahnya.
"Nando, tadi kau mengigau San ... San ... San siapa Nando?" tanya Vania.
"San? Masa sih aku bicara begitu?" tanya Nando.
"Iya Nando, aku belum tuli, aku mendengar sendiri kalau kau memanggil San ... San ... kau ini mimpi apa sih Do?" tanya Vania.
Nando terdiam sejenak, tidak mungkin kalau dia katakan kalau San adalah Sandra, apalagi ini adalah malam pertama dirinya dan Vania.
"Kenapa diam Do? Kau sedang berpikir apa?" tanya Vania.
"Maksudku San itu adalah Van ... Vania!" jawab Nando.
"Masa sih Do, kau tidak sedang berbohong kan?" tanya Vania lagi.
"Tidak Van, aku memanggilmu Van ... Van, Vania!" ucap Nando yang mulai mengelus pipi Vania.
Hati Nando teriris, Vania tidak boleh sedih di momen malam pertamanya ini, Nando bukan tipe orang yang suka menyakiti hati orang lain.
Perlahan Nando membelai rambut Vania, kemudian mulai mengecup keningnya.
"Apa kau sudah siap Van?" tanya Nando.
Vania tersenyum mendengar ucapan Nando, perlahan dia pun menganggukan kepalanya.
Kemudian Nando mulai memeluk dan mengecup wajah Vania hingga ke setiap inci tubuhnya.
"Aku akan membuatmu bahagia Van!" ucap Nando sambil terus membelai dan menggerayangi tubuh Vania.
Hingga Vania merasa terbuai dan melambung ke awan-awan. Dia memejamkan matanya, membiarkan Nando terus mengeksplor tubuhnya, hingga pada saat tertentu Nando mulai menyatukan tubuh mereka.
Vania menjerit tertahan, rasa sakit mulai dia rasakan di daerah kewanitaannya, milik Nando telah merobek dan menembus dinding pertahanannya, hingga Vania menggigit bibirnya dan meremas sprei yang di pegangnya.
Tanpa Vania sadari Nando menitikkan air matanya, sebenarnya dalam hati dia tidak ingin melukai dan menyentuh Vania, tapi karena sebuah kewajiban dan Nando juga berusaha melupakan bayangan Sandra dalam ingatannya.
Namun setiap kali Nando ingin melupakan Sandra, bayangan Sandra semakin kuat dan terus membayanginya, walau pun yang dia setubuhi adalah Vania, namun Nando merasa Sandra yang ada di hadapannya.
Hingga Nando telah mencapai puncak kenikmatannya, tubuhnya terhempas kesamping dan terkulai lemas.
Vania memeluk Nando dengan erat, seolah tidak ingin kehilangan sosok laki-laki yang sudah merebut seluruh hatinya.
"Aku mencintaimu Nando!" bisik Vania.
__ADS_1
"Terimakasih Vania!" ucap Nando.
Dengan tertatih Vania beranjak turun dari tempat tidurnya, darah menetes dari pangkal pahanya, sprei nya juga terlihat ada bercak darah perawan Vania.
Nando yang melihat Vania berjalan terhuyung-huyung langsung bangun dan menangkapnya.
"Maafkan aku Vania, pasti kau sakit sekali, maafkan aku tidak pandai bercinta!" bisik Nando.
"Iya sayang, aku bahagia, walau kau tak pandai tapi kau sangat perkasa, aku yang belum siap menampung milikmu yang besar itu!" balas Vania, mereka kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka.
Howeeek!!
Nando tiba-tiba langsung memuntahkan isi perutnya, wajahnya terlihat pucat.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Vania khawatir.
"Tidak apa-apa Van, kepalaku agak pusing, mungkin aku hanya butuh tidur saja!" jawab Nando.
Mereka kemudian kembali ke tempat tidur setelah dari kamar mandi.
Vania menyelimuti tubuh Nando, kemudian mengecup pipinya.
"Kau terlalu mengeluarkan tenaga yang besar sayang, sekarang tidurlah, hari sudah sangat malam!" ucap Vania.
"Bubur ayam? Tapi stasiun kota itu jauh dari sini Do!" sergah Vania.
"Tapi aku sangat ingin Van, bisakah kau ambilkan ponselku? Aku ingin menelepon Roy!" pinta Nando.
Vania lalu mengambil ponsel Nando yang ada di meja kamar itu, lalu menyerahkannya pada Nando.
Nando mulai menelepon Roy.
"Halo Tuan, ada apa telepon saya? Apa mau pamer malam pertama?" tanya Roy.
"Diam kau Roy! Besok pagi belikan aku bubur ayam enak yang ada di depan stasiun kota, aku ingin makan bubur!" titah Nando.
"Hahaha ... Tuan lucu, masa pengantin baru makan bubur ayam, di restoran kan banyak sekali makanan enak Tuan!" ujar Roy.
"Jangan membantahku! Pokoknya besok pagi kau harus membelikan aku bubur ayam itu, aku tidak mau yang lain ya!" cetus Nando.
"Siyap Tuan! Besok pagi saya siap meluncur!" sahut Roy.
"Bagus!" ucap Nando sambil mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Kau ini seperti orang ngidam saja Do! Segala bubur ayam di cari yang jauh, padahal di hotel juga ada!" gumam Vania.
"Aku sudah mengantuk Van, aku ingin tidur, kau juga tidur ya!" ucap Nando sambil mengecup sekilas kening Vania.
Nando pun mulai memejamkan matanya.
****
Sementara itu di tempat lain, Sandra juga terlihat memejamkan matanya, namun dia belum bisa tertidur, pikirannya menerawang jauh.
Masih di rasakan nya, aroma tubuh Nando yang membuatnya selalu nyaman berada dalam pelukan laki-laki itu.
"Kau belum tidur San?" tanya Mirna tiba-tiba mengagetkan Sandra.
"Eh, kau sendiri belum tidur?" tanya Sandra.
"Sudah, cuma aku terbangun, melihatmu selalu bolak balik ke kiri dan ke kanan!" sahut Mirna.
"Maafkan aku Mir, gara-gara aku kamu jadi terbangun ya!" ucap Sandra.
"San, kau masih memikirkan Nando ya? Kenapa kau tidak jujur saja padanya, kalau kau mengandung benihnya!" tanya Mirna.
"Jujur? Kau pikir aku tidak punya perasaan? Coba kau pikirkan bagaimana perasaan Vania, keluarga besar mereka semua, kalau tau Nando akan punya anak dari mantan wanita malam seperti aku! Itu akan mencoreng nama baik mereka semua!" ungkap Sandra.
"Tapi San, Nando berhak tau karena itu Darah dagingnya!" sergah Mirna.
"Tidak! Dia akan memiliki banyak anak dari Vania, biar aku saja yang merawat anak ini, ini adalah kenang-kenangan terakhirku dari Nando!" ucap Sandra.
"Baiklah kalau itu memang keputusanmu, tapi paling tidak aku ingin melihat kau bahagia San, Mami Vero sudah tidak ada lagi, Ayah tirimu juga sudah menghilang entah kemana, seharusnya saat ini kau memikirkan kebahagiaanmu sendiri!" kata Mirna.
"Terimakasih Mir ... kalau tidak ada dirimu, entah bagaimana nasibku ini, mulai sekarang kita adalah saudara!" ujar Sandra.
"Kau benar San, aku pun sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, sekarang tidurlah, supaya kau tidak kurang tidur, kasihan bayimu!" ucap Mirna.
"Iya Mir, tiba-tiba aku ingin makan bubur ayam enak, bubur ayam yang ada di depan stasiun kota, yang fenomenal itu, bisakah kau membelikannya untukku Mir?" pinta Sandra.
"Besok pagi ya San, kalau sekarang sudah tutup pastinya!" sahut Mirna.
Sandra menganggukan kepalanya sambil mulai memejamkan matanya.
****
Yuk dukung karya sederhana ini ....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak Guys ...