
Sandra dan Mirna sudah siap-siap dan mengemasi barang-barang mereka, waktu sudah menunjukan pukul 4 dinihari.
Sandra sudah memesan sebuah taksi online.
"Kau sudah siap Mirna?" tanya Sandra yang tengah membungkus semua susu bayi yang di belikan Nando kemarin.
"Sudah San, bolehkah aku pamit dulu pada Roy?" tanya Mirna balik.
"Kalau kau pamit sekarang, nanti dia akan bilang sama Nando, nanti setelah kita di kereta baru kau bisa menghubungi dia, kau tau nomor ponselnya kan?" tukas Sandra.
"Iya San, baiklah, ayo kita berangkat sekarang, sebelum mereka semua bangun!" ujar Mirna.
"Tunggu Mir, aku mau meninggalkan ini untuk Nando!" sergah Sandra sambil menunjukan sebuah dokumen.
"Apa itu San?"
"Sertifikat rumah Mami Vero, dulu Nando sangat ingin sekali membeli lahan itu, aku ingin memberikan ini sebagai balas budiku pada Nando, karena dulu dia sudah banyak berkorban untukku!" ungkap Sandra.
Sandra kemudian meletakan sertifikat rumah itu di atas sebuah meja di sudut kamar itu, dengan pesan, untuk Nando.
Mereka kemudian mulai keluar dari kamar itu, lalu berjalan ke arah depan.
Dari notifikasi ponsel Sandra, taksi yang mereka pesan sudah menunggu di depan pintu gerbang.
Pak Tejo yang membukakan pintu gerbang nampak heran melihat mereka berdua yang berjalan dengan membawa barang dan tas yang besar.
"Mbak Sandra sama Mbak Mirna mau kemana?" tanya Pak Tejo.
"Mau pulang kampung Pak! Ke Stasiun!" jawab Sandra.
"Sudah pamit sama Tuan Nando kan?" tanya Pak Tejo lagi.
"Sudah Pak, kalau begitu kami pamit ya Pak, taksinya sudah menunggu, terimakasih!" ucap Sandra seraya menaruh barang-barangnya di dalam bagasi mobil taksi itu.
"Hati-hati Mbak!" seru Pak Tejo.
Taksi yang di tumpangi Sandra dan Mirna pun mulai melaju meninggalkan rumah besar Nando.
"Selamat tinggal Nando, semoga kau selalu bahagia!" gumam Sandra sambil menitikkan air matanya.
Wajah Mirna juga nampak sedih, karena dia meninggalkan Roy, pria yang baru mengisi kekosongan hatinya.
Sekitar 45 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di stasiun kota, yang terbesar di Jakarta.
Suasana stasiun masih terlihat sepi dan lengang.
Sandra mulai memesan tiket, sementara Mirna duduk sambil menjaga barang-barang di bangku peron stasiun itu.
"Aku sudah pesan dua tiket untuk kita!" ujar Sandra yang berjalan menghampiri Mirna yang masih duduk.
"Kemana kita akan pergi San?" tanya Mirna.
"Ke ujung pulau Jawa, ke Surabaya!" jawab Sandra.
"Lalu, di mana kita akan tinggal?" tanya Mirna lagi.
"Kita ke tempat Tante ku, Tante Tatik namanya, dia adik ibuku, sebelum ibuku meninggal, kami pernah berkunjung ke sana!" jawab Sandra.
__ADS_1
"Oh, syukurlah kalau kau masih ada kerabat di sana!" ujar Mirna.
"Tepat pukul tujuh pagi kereta akan berangkat, kita masih ada waktu di sini!" kata Sandra.
"Kalau begitu kau tunggu di sini ya San, aku mau beli sarapan dulu dan cemilan, untuk kita makan di kereta nanti!" ujar Mirna.
Sandra kemudian menganggukan kepalanya.
****
Seperti rutinitas biasanya di pagi hari, Roy mulai mencuci mobil-mobil yang ada di parkiran rumah Nando, sambil bersiul mengharapkan Mirna akan datang menghampirinya seperti biasanya.
"Senang amat hari ini Mas Roy! Nyuci mobil sambil nyanyi-nyanyi!" ujar Pak Tejo sambil menyeruput kopi panasnya.
"Senang lah mau ketemu pacar!' sahut Roy.
"Pacar? Si Mbak Mirna? Orang tadi pagi mereka baru pergi pulang kampung, berdua tuh sama Mbak Sandra!" ujar Pak Tejo.
"Apa? Yang bener Pak??" tanya Roy.
"Orang aku sendiri yang membukakan gerbang buat mereka kok! Cek kamarnya sana kalau tidak percaya!" sahut Pak Tejo.
"Alamak!! Gawat ini! Gawat!!" seru Roy sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Nando, Vania dan Tante Rina nampak duduk di ruang makan bersiap untuk sarapan pagi.
Hari ini Nando terlihat rapi, dia akan berangkat ke kantor setelah sekian lama tidak masuk kantor.
Mereka terkesiap melihat Roy yang tiba-tiba masuk ke ruang makan itu.
"Sandra dan Mirna, pergi dari rumah Tuan, mereka sejak subuh sudah meninggalkan rumah ini!" sahut Roy.
"Apa?? Kau jangan bercanda Roy!" seru Vania.
"Pak Tejo yang bilang, katanya mereka akan ke stasiun, entah mau kemana!" sahut Roy.
"Akhirnya ... mungkin mereka sudah tau di mana seharusnya mereka tinggal!" kata Tante Rina.
Tiba-tiba Nando berdiri dari tempatnya, tanpa menoleh lagi, dia segera berjalan cepat ke arah parkiran.
"Nando!!" panggil Vania.
Nando terus berjalan cepat tanpa menoleh kebelakang.
Roy yang baru sadar langsung berlari menyusul Nando.
"Tuan mau kemana??" tanya Roy ngos-ngosan.
"Roy! Berikan padaku kunci mobilnya, cepat!!" titah Nando.
"Biar saya yang antar Tuan!" sahut Roy.
"Berikan kuncinya sekarang Roy!!" sengit Nando.
Akhirnya Roy merogoh sakunya dan memberikan kunci mobil itu ke arah Nando.
Dengan cepat Nando mengambil kunci mobil itu dan dia langsung melajukan mobilnya melesat meninggalkan rumahnya itu.
__ADS_1
Roy hanya melongo menatap kepergian Nando. Biasanya Nando selalu kemanapun dengan Roy.
"Roy!! Kemana Nando??" tanya Tante Rina yang tiba-tiba sudah berada di belakang Roy.
"Eh, Tuan Nando sudah pergi Nyonya Rina!" sahut Roy gugup.
"Bodoh!! Kenapa kau tidak mencegahnya?" tanya Tante Rina gusar.
"Mana bisa dicegah Nyonya! Saya malah di bentak sama Tuan Nando!" sahut Roy.
Wajah Tante Rina terlihat merah padam menahan emosi.
Sementara Sandra dan Mirna mulai naik ke dalam kereta, sebentar lagi mereka akan berangkat ke Surabaya.
Ada mendung yang melingkupi wajah keduanya.
"Kita pergi Nak, kita mulai hidup baru kita, kita belajar melupakan Papa Nando, dia bukan milik kita, Kita harus ikhlas!" batin Sandra.
Tanpa terasa setetes air mata jatuh dari bola mata indahnya.
Mirna menggenggam hangat tangan Sandra sahabatnya itu.
"Sabar ya San, akan ada pelangi sehabis hujan!" ucap Mirna.
Terdengar suara pemberitahuan bahwa kereta akan berangkat sebentar lagi.
Semua penumpang nampak sudah duduk di bangkunya masing-masing.
Tiba-tiba Mirna melihat Nando yang berlari kian kemari sambil berteriak memanggil nama Sandra.
"San ... Nando datang!" bisik Mirna.
Sandra menoleh. Nando nampak berlarian dari satu gerbong ke gerbong lain, Nando tidak tau kemana Sandra dan Mirna akan pergi, dia hanya memanggil dan terus memanggil.
"Sandra!!! Di mana Kau!! Jangan tinggalkan aku!!" teriak Nando.
Semua mata menatap heran kearah laki-laki itu.
"Sandra!! Aku sangat mencintaimu Sandra!! Aku ingin semua orang tau kalau aku sangat mencintaimu!!" Teriak Nando.
Sandra hanya diam sambil berlinang air mata, teriris hatinya melihat laki-laki yang dia cintai seperti itu.
"Temuilah Nando San!" ucap Mirna.
Namun Sandra menggelengkan kepalanya.
Hingga pintu kereta api itu sudah tertutup dan kereta yang di tumpangi Sandra dan Mirna mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun itu.
Namun Sandra masih dapat melihat Nando yang terus berlari mencari dan memanggilnya.
Bersambung ...
****
Jangan lupa dukung Author ya guys ...
Terimakasih 🙏😁
__ADS_1