Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Melindungi


__ADS_3

Roy masuk ke kamar Nando dengan wajah memar dan babak belur, dia langsung duduk di bangku yang ada di dalam kamar itu.


"Kapok saya! Pokoknya kapok saya!" sungut Roy.


"Roy, kenapa bisa anak buah si germo melihat dan mengenalimu??" tanya Nando.


"Waktu itu kan mereka pernah melihat saya Tuan, waktu kita ke rumah itu lagi!" sahut Roy.


"Posisi kita makin bahaya Roy! Lain kali jangan keluyuran kemana-mana! Dan mulai sekarang berhentilah merokok!" ujar Nando.


"Apa?? Berhenti merokok? Tuan tidak tau sih, mulut terasa asam kalau tidak merokok!" sahut Roy.


"Asam? Teori dari mana tuh??"


"Huh! Tentu saja Tuan tidak tau, Tuan kan tidak merokok, kalau tidak merokok, kurang macho saya Tuan!" kata Roy.


"Kurang macho kepalamu! Sejak duku aku tidak merokok, banyak wanita bilang aku macho! Sudah, sekarang kau boleh keluar! Nanti siap-siap jam 12 malam antar aku dan Sandra ke rumah Vania!" titah Nando.


"Apa Tuan? Ke rumah Vania? Dasar Tuan, sekali main dua wanita sekaligus, bagi kek saya satu!" cetus Roy.


"Diam kau, siapa juga yang main dengan dua wanita, satu saja aku belum pernah!" gumam Nando.


Dengan wajah kesal Roy segera keluar dari kamar Nando.


Ketika Roy melewati ruang keluarga, Lika dan Ricky menatapnya dengan heran.


"Lho Roy, sekarang kenapa jadi wajahmu yang bonyok?!" tanya Ricky.


"Biasalah Tuan besar, di kejar anjing!!" sahut Roy cuek sambil melangkah keluar dari rumah itu.


Lika dan Ricky saling berpandangan.


"Sejak kapan Anjing bisa membuat muka orang babak belur?" gumam Lika.


****


Waktu sudah menunjukan pukul 11.30 malam, Nando bersiap-siap hendak mengeluarkan Sandra dari kamarnya.


Semua penghuni rumah sudah tidur, hanya terdengar suara tangisan bayi kakaknya yang masih terdengar dari arah kamar Kezia.


Sementara Roy nampak sudah menunggu dalam mobil yang terparkir di halaman depan rumah.


"Ssst, Sandra, ayo cepat keluar! Keburu ada yang memergoki kita!" seru Nando setengah berbisik.


"Oke, aku sudah siap!" sahut Sandra.


Mereka kemudian berjalan mengendap-endap keluar dari kamar Nando, persis seperti maling.


Mereka terus berjalan melewati ruang keluarga, lalu mulai turun ke lantai satu.

__ADS_1


Temaram lampu ruangan yang remang-remang memudahkan mereka untuk bergerak.


Hingga mereka sampai di lantai satu, kemudian mereka melewati ruang makan. Nando melotot saat melihat Mbok Narti yang masih terlihat sibuk membereskan dapur.


Nando menggandeng tangan Sandra berjalan pelan menempel tembok, namun tanpa sengaja Nando menyenggol guci yang ada di dekat tembok.


Praaang!!!


Suara guci terjatuh terdengar menekankan telinga di kesunyian malam itu.


Mbok Narti nampak keluar dari dapur untuk mencari sumber suara.


Sementara Nando dan Sandra tetap berdiri di balik tembok dengan menahan nafasnya.


"Siapa di sana??" seru Mbok Narti.


Tidak ada jawaban. Namun matanya melihat ke lantai yang penuh dengan pecahan guci.


"Jangan-jangan ada maling!" gumam Mbok Narti.


Mbok Narti kemudian bergegas pergi ke lantai atas bermaksud memberitahu Ricky dan Lika.


Kesempatan itu di pergunakan Nando dan Sandra untuk secepatnya keluar dari rumah itu.


Setelah mereka berhasil keluar, mereka langsung masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir itu.


"Jalan Roy!" titah Nando.


"Mau kemana malam-malam Roy?" tanya Pak Jono, security.


"Biasa Pak, jari jodoh!" sahut Roy.


"Awas nanti malah dapat kuntilanak lagi!" ujar Pak Jono sambil membukakan pintu gerbang.


Nando dan Sandra menarik nafas lega saat mereka berhasil keluar dari rumah itu.


Sekitar 20 menit kemudian mereka sampai di rumah Vania.


Seorang security membukakan gerbang rumah yang cukup besar itu.


"Vania ada?" tanya Nando dari balik kaca mobilnya.


"Ada, sudah menunggu di teras!" jawab security itu.


Nando kemudian mengantar Sandra menemui Vania yang nampak duduk di teras depan rumahnya.


"Hai Nando! Akhirnya kalian datang juga!" sapa Vania.


"Van, kenalin ini Sandra, sambil menunggu dia dapat tempat tinggal, tidak apa-apa kan sementara dia di rumahmu?" ujar Nando.

__ADS_1


"Santai aja Do, apa sih yang tidak buat Nando, ayo masuk yuk!" ajak Vania.


"Maaf Van, aku balik ke rumah dulu deh, sudah malam juga, salam ya buat Tante Rina!" kata Nando yang langsung kembali naik ke dalam mobilnya.


"Sandra, ayo masuk, kata Nando kamu saudara jauhnya ya, aku senang bisa punya teman ngobrol, aku anak tunggal, tidak punya saudara kandung!" kata Vania sambil menarik tangan Sandra masuk ke rumahnya, lalu mereka langsung masuk ke kamar Vania yang luas itu.


"Kamarmu luas!" ujar Sandra kagum.


"Ya, tapi aku sendirian, Papaku sudah lama meninggal, aku hanya berdua dengan Mama!" ungkap Vania sambil mulai duduk di atas tempat tidurnya.


"Kau jangan sungkan di sini ya San, Mamaku pasti senang aku dapat teman!" kata Vania.


"Kau sudah lama kenal Nando?" tanya Sandra.


"Ya, aku kan teman kampusnya, kebetulan Ibunya Nando langganan butik Mamaku, walaupun mereka tidak terlalu mengenalku karena aku jarang banget ke rumah Nando!" jawab Vania.


"Jarang??"


"Asal kau tau San, Nando itu cuek bebek, dari sejak aku kenal dia, mana pernah dia mengajakku main ke rumahnya, dasar cowok tidak peka!" sungut Vania.


Mereka lalu mulai membaringkan tubuh mereka di tempat tidur besar itu.


Sementara Nando dan Roy langsung pulang ke rumah.


Mereka terkejut saat di rumah nampak ramai, semua anggota keluarganya berkumpul di ruang makan rumah itu.


"Ada apa ini?" tanya Nando.


"Kata Mbok Narti ada maling, kami sedang menyelidiki, di mana maling itu bersembunyi, ini guci ibumu sampai pecah tersenggol maling!" sahut Ricky.


"Paling juga itu kerjaan si Bubu, kucing kesayanganku!" ujar Nando.


"Bubu? Bubu kan tidur di kandangnya, lagi pula mana pernah Bubu tidur di dalam rumah!" sergah Lika.


"Pak Jono! Apa Pak Jono melihat sesuatu yang mencurigakan??" tanya Ricky.


"Ada Pak! Si Roy tadi keluar, katanya beli rokok, pas pergi sendiri, eh tiba-tiba pulangnya sama Den Nando!" jawab Jono yang juga ada di situ.


"Nando? Kau habis dari mana Do?" cecar Ricky.


"Cari angin Pa!" sahut Nando.


"Lho, tadi kata si Roy cari jodoh!" cetus Pak Jono.


"Oke, sekarang kita ke pos, kita lihat dulu monitor cctv, siapa yang menyenggol guci istriku!" titah Ricky sambil berjalan duluan ke arah pos.


Nando dan Roy saling berpandangan.


"Mati kau Tuan!" bisik Roy.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Kenapa aku bisa lupa ya kalau di rumah ini ada cctv, celaka aku!!" ujar Nando dengan wajah yang berubah pucat dan cemas.


****


__ADS_2