
Nando mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak perduli dengan pengendara yang lain, bahkan lampu merah juga di terobosnya.
Pikirannya benar-benar kalut, setelah dia mendengar putri yang amat di sayanginya hilang, semua rasa berbaur menjadi satu.
Beberapa pengendara mengklakson berkali-kali, namun Nando tidak menggubrisnya dia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Hingga pada akhirnya Nando sampai di rumah orang tuanya, tanpa basa basi lagi dia langsung masuk ke dalam rumah yang gerbangnya sudah terbuka itu.
Di ruangan itu sudah berkumpul semua keluarga besar, bahkan Kezia dan Jonathan suaminya juga sudah duduk di sana mendampingi orang tua Nando.
Sandra terlihat menangis tersedu-sedu, matanya terlihat bengkak dan sembab.
"Apa yang terjadi?? Kenapa Kia bisa hilang??" tanya Nandi langsung dengan suara meninggi.
Jonathan langsung berdiri dan menghampiri Nando sambil menepuk lembut bahunya.
"Sabar Do! Jangan dulu terbawa emosi, kejadian ini baru sekitar 4 jam yang lalu!" ujar Jonathan.
"Kenapa Kia bisa hilang??" tanya Nando lagi, kali ini dengan wajah yang memerah.
"Tadi sore sekitar jam lima, Ibu dan Sandra mengajak Kia jalan-jalan ke taman dengan stroller nya, karena kami mengobrol, saat hendak mengambil Kia, tiba-tiba Kia sudah tidak ada!" jelas Lika.
"Kenapa Kia bisa tidak ada? Apakah kalian tidak melihat siapa yang datang mendekati Kia di Taman itu??" tanya Nando lagi.
"Sore itu taman sangat ramai, banyak pedagang keliling dan anak-anak bermain, kami sama sekali tidak memperhatikan siapa yang datang mendekati Kia, selama ini di taman itu tidak pernah ada kasus seperti ini, ini batu pertama kalinya Do!" jawab Lika.
"Maafkan aku Nando! Maafkan aku! Aku lalai menjaga anak kita!" ucap Sandra sambil menangis sesenggukan.
"Lalu, untuk apa kalian semua di sini?? Sudah tau Kia hilang! Kenapa tidak di cari!!" sengit Nando.
Kami di sini juga ingin mencari Kia, kami sedang menunggumu Nando!" sahut Ricky.
"Ya sudah, tunggu apa lagi?? Apa kalian mau Kia semakin jauh dan lama menghilang?!!" Nando kemudian segera berbalik dan kembali ke luar, lalu dia segera masuk ke dalam mobilnya.
"Jo! Cepat kita susul Nando! Anak itu sedang tidak stabil, nanti malah akan membahayakannya!" ajak Ricky pada Jonathan.
"Iya Pa!" sahut Jonathan.
__ADS_1
"Aku ikut Pa!" ujar Kezia.
"Kalian para wanita lebih baik di rumah saja, biar kami laki-laki yang akan mengurus semuanya, doakan Kia akan cepat di temukan!" ucap Ricky.
"Ya sudah Papa jalan saja sana, biar aku yang mengurus rumah!" kata Lika.
Ricky dan Jonathan kemudian langsung keluar dan naik ke dalam mobil untuk menyusul Nando sekalian mencari Kia.
"Nando mungkin sudah jauh Pa, bagaimana kita bisa menyusulnya?" tanya Jonathan.
"Nando memang sulit mengendalikan diri kalau sedang emosi, tapi dia akan berhenti pada satu titik, kau tenang saja!" sahut Ricky.
"Maksud Papa, Nando tidak benar-benar jalan jauh? Tanya Jonathan lagi.
"Ya, dia akan berhenti di suatu tempat untuk berpikir, walaupun Nando begitu, tapi pikiran logisnya tetap selalu jalan!" jawab Ricky.
Mereka terus berjalan hingga sampai ke sebuah bangunan yang kini terlihat hancur dan porak poranda.
Bangunan itu adalah bekas tempat prostitusi yang terbakar itu, Ricky tau, pertama kali Nando bertemu Sandra adalah di tempat ini.
Ricky dan Jonathan lalu segera berhenti dan turun dari mobilnya dan berjalan mendekati mobil Nando.
Nando terlihat sedang menangis di depan kemudi sambil beberapa kali memukul kemudi yang ada di hadapannya.
Ricky kemudian mulai mengetuk mobil Nando.
Nando kemudian membuka kaca mobilnya itu, matanya terlihat merah dan basah.
"Nando, ayo kita mencari Kia, tinggalkan saja mobilmu di sini, kau ikut Papa ya Nak!" ucap Ricky.
"Iya Pa!" sahut Nando patuh, dia lalu mulai turun dari mobilnya yang masih terparkir di pinggir jalan itu.
"Lalu mobilnya Nando bagaimana Pa?" tanya Jonathan.
"Soal mobil gampang, nanti aku suruh Roy mengambilnya pakai kunci duplikat!" sahut Ricky.
"Oh, iya juga ya, ayo kita langsung cari Kia!" ujar Jonathan.
__ADS_1
Mereka lalu mulai naik ke dalam mobil Ricky. Kemudian Jonathan mulai melajukan mobilnya itu.
"Nando, kau posting foto Kia lewat media sosial, Papa juga begitu, Jo juga, dengan begitu pencarian akan semakin meluas, sekarang kita hanya berkeliling kota, siapa tau ada titik terang soal Kia!" kata Ricky.
"Baik Pa!" jawab Jonathan.
Sementara Nando langsung memposting berita kehilangan Kia di akun media sosialnya, tidak perduli lagi mengenai gunjingan orang terhadapnya.
****
Ponsel Tante Rina berdering malam itu, Tante Rina mengerjapkan matanya, Di lihatnya ada nama Pak Wiryo yang meneleponnya, lalu dia mulai mengusap layar ponselnya itu.
"Halo!"
"Halo Bu, misi berhasil! Bayi itu sudah ku amankan di rumah seseorang, pokoknya di jamin beres!" ujar Pak Wiryo.
"Bagus! Tapi kau harus tetap hati-hati, sudah mulai ada berita di media sosial soal bayi yang hilang itu, jaga baik-baik bayi itu, kau mengerti??" tanya Tante Rina.
"Ah, kau tak usah mengajariku! Aku lebih lihai darimu dalam hal kejahatan!" cetus Pak Wiryo.
"Tapi ingat Pak, jangan sesekali kau menyakiti bayi itu, walau aku jahat, tapi Ini semua aku lakukan demi anakku!" kata Tante Rina.
"Siap! Sekarang aku minta pembayaran sisa dp kemarin! Aku sedang butuh!" cetus Pak Wiryo.
"Besok kita janjian di depan butik ya, ingat, kalau sampai ada pihak ke tiga yang tau, aku tak akan sudi lagi memberimu uang!" ujar Tante Rina.
"Kau tenang saja! Aku cukup profesional, asal kau juga tepat waktu, selama ada uang, aku bisa melakukan hal apapun!" sahut pak Wiryo terkekeh.
Tante Rina langsung menutup sambungan teleponnya.
Kemudian wanita paruh baya itu kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya yang sunyi itu.
"Maafkan Mama Nando, Mama terpaksa melakukan hal ini, supaya kau bisa sedikit saja membahagiakan dan berpaling pada Vania!" gumam Tante Rina.
Bersambung ...
****
__ADS_1