Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Curahan Hati


__ADS_3

Setelah olah raga Pagi, Vania mulai mandi dan membersihkan tubuhnya, demikian juga Sandra.


Dalam waktu singkat, Vania dan Sandra sudah sangat akrab, mereka bahkan sudah seperti saudara.


"Sandra, kau tinggal di sini saja terus, Mamaku juga pasti senang kok!" ujar Vania.


"Aku tidak enak Van, aku juga butuh kerja untuk dapat penghasilan!" sahut Sandra.


"Kerja? Kau kerja di butik Mamaku saja San, Mamaku pasti akan dengan senang hati menerimamu!" tawar Vania.


"Nanti coba aku pikirkan, aku juga tidak mau gratis numpang di rumahmu, coba nanti aku tanya Nando!" kata Sandra.


Drrt ... Drrt ... Drrt


Ponsel Sandra yang di berikan oleh Nando bergetar, Sandra langsung cepat-cepat mengusap layar ponselnya itu.


"Halo, Nando? Ada kabar apa?" tanya Sandra.


"San, kau baik-baik saja kan? Aku mohon, kau jangan keluar rumah dulu, anak buah Mami Vero masih gencar mencarimu!" sahut Nando.


"Tadi aku batu saja olah raga keluar, Vania yang mengajakku, aku senang di sini Do, paling tidak aku tidak ngumpet-ngumpet lagi!" ujar Sandra.


"Oke, aku ke rumah Vania sekarang, kalian sudah makan belum?" tanya Nando.


"Sudah, kau tak usah repot memikirkanku Do!" sahut Sandra.


Setelah itu Sandra memutuskan sambungan teleponnya.


"Siapa San, Nando ya?" tebak Vania.


"Iya!" sahut Sandra.


"Curang! kalau sama aku dia jarang meneleponku, mungkin karena kalian masih saudara jauh kali ya!" kata Vania. Sandra hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


Mereka lalu menghempaskan tubuh mereka di tempat tidur besar Vania.


"Van, sejak kapan kau suka dengan Nando?" tanya Sandra.


"Sejak dulu San, sejak pertama kali aku melihat dia, aku jatuh cinta pada pandangan pertama!" ungkap Vania.


"Kenapa kau tak mengatakannya pada Nando?" tanya Sandra lagi.


"Kau ini lucu San, mana mungkin aku mengatakan pada Nando, malu lah aku sebagai perempuan, selama ini aku selalu mengungkapkan perasaanku pada ini!" Vania lalu mengeluarkan sebuah buku harian yang ada di atas mejanya.


"Kau menulis buku harian Van? Hebat!" puji Sandra.

__ADS_1


"Ya, aku hanya bisa mengungkapkan seluruh perasaanku pada buku ini, tidak yang lain! Di buku harianku, banyak cerita tentang Nando, dan banyak fotonya juga, diam-diam aku sering mengambil foto Nando dari ponselku, tapi kau jangan bilang-bilang ya!" ujar Vania.


"Hmm, ternyata kau memendam cinta yang cukup besar juga buat Nando, aku doakan kau berhasil mendapatkan hati Nando, dan kau pantas mendapatkan hatinya Nando, Vania!" ucap Sandra.


Vania langsung memeluk Sandra dengan erat.


"Terimakasih San, baru kali ini aku menemukan sosok seorang sahabat!" ucap Vania.


"Apa yang membuatmu begitu jatuh cinta pada Nando Van?" tanya Sandra.


"Nando itu cool, tidak murahan, walau otaknya kurang pintar, sering mengulang ujian kuliah, tapi dia berhasil memimpin perusahaannya sendiri dan kini maju, aku kagum padanya!" ungkap Vania.


Dalam hati diam-diam Sandra juga mulai mengagumi sosok Nando. Tapi tiba-tiba terbersit rasa tidak layak untuk memiliki rasa itu, Sandra menyadari dirinya yang sudah ternoda dan hidup dalam lembah kelam.


Ting ... Tong ...


Terdengar suara bell gerbang rumah Vania. Tak lama kemudian Nando sudah muncul di dalam rumah itu, Vania dan Sandra sudah duduk di ruang tamu menunggunya.


"Hai Do, ayo duduk, mau minum apa?" tawar Vania.


"Tidak usah repot Van, aku cuma sebentar, setelah ini aku mau kembali ke kantor!" sahut Nando.


"Hmm, ya sudah, jadi maksud kedatanganku ke sini apa? Apa kau cuma mau memastikan kalau Sandra baik-baik saja?" tanya Vania.


"Memangnya kenapa?" tanya Vania.


"Dia ... Dia punya penyakit alergi matahari!" cetus Nando asal.


Sandra yang mendengarnya langsung melotot. Rasanya dia sangat ingin mencubit Nando karena bicara seenaknya tanpa persetujuannya.


"Apa? Alergi sinar matahari?? Kok Sandra tidak bilang padaku?" tanya Vania bingung.


"Yah mungkin Sandra sungkan padamu!" sahut Nando.


Vania lalu menoleh ke arah Sandra.


"Benar begitu San? Kalau benar kenapa tadi kau diam saja saat aku mengajakmu olah raga di luar!" ujar Vania.


"Ehm, itu, karena ... Nando yang berlebihan, aku bisa keluar kalau aku pakai jaket, topi dan masker, jadi tidak terkena langsung sinar matahari!" tambah Sandra.


"Oooo!" Vania membulatkan mulutnya.


"Maafkan aku ya Vania!" ucap Sandra.


"Ya aku paham sekarang, kau tenang saja Sandra, aku akan pinjamkan jaket padamu, kau pasti aman!" sahut Vania.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pamit ke kantor, aku sudah di tunggu meeting oleh klienku!" kata Nando.


"Kau cepat sekali, belum juga kita ngobrol-ngobrol!" ujar Vania.


"Maaf, aku sudah di tunggu soalnya!" sahut Nando.


"Hmm, okelah kalau begitu, Nando hati-hati ya!" ucap Vania sambil menepuk bahu Nando dengan lembut.


Kemudian dia segera bergegas keluar dari rumah itu, dan langsung naik ke dalam mobilnya yang terparkir, Roy sudah menunggunya di dalam mobilnya.


****


Nando mulai mengganti pakaiannya di dalam mobilnya yang melaju perlahan meninggalkan rumah Vania.


"Sekarang Sandra sudah aman Roy!" ujar Nando.


"Saya salut deh sama Tuan, besar sekali pengorbanan Tuan buat Sandra, apa Tuan mulai jatuh cinta dengan Sandra, lalu Vania bagaimana? Dia kelihatan suka sekali lho sama Tuan, pandangan matanya tidak bisa bohong, dan keluarga Tuan juga menyukai Vania!" kata Roy.


"Aku bingung Roy, aku juga tidak tau, mereka itu sama-sama baik, tapi aku selalu tidak tega melihat penderitaan Sandra selama ini!" sahut Nando.


"Begini saja deh Tuan, Tuan pilih salah satu, sisanya kasih ke saya, adil kan??" ujar Roy.


"Enak saja, kau cari lah jodohmu di biro jodoh yang sering kau tawarkan padaku!" cetus Nando.


"Sudah Tuan, tapi tidak ada yang mau dengan saya, kata mereka saya terlalu botak dan gendut, padahal kan itu pertanda kemakmuran, betul tidak Tuan!" kata Roy.


Nando hanya tersenyum melihat omongan asistennya yang terlihat sangat serius itu.


"Sekali-kali kau ke salon, siapa tau ada yang berminat denganmu!" ledek Nando.


"Wah, Tuan meremehkan saya, dulu di kampung saya pernah jadi rebutan para janda!" kata Roy bangga.


"Hahahah, kau ini Roy! Kenapa kau tidak ambil salah satu??" tanya Nando sambil tertawa geli.


"Jandanya bukan janda kembang Tuan, tapi janda yang sudah kepala lima umurnya!" jawab Roy polos.


Nando tertawa mendengar celotehan asistennya itu.


Tak lama mereka sudah sampai di kantor, tanpa menunggu, Nando segera masuk ke dalam ruang meeting, semua staff direksi dan beberapa klien telah menunggunya.


"Selamat Siang Pak Nando!" sapa mereka.


"Siang!" sahut Nando sambil tersenyum dan langsung duduk di kursi yang sudah di sediakan.


****

__ADS_1


__ADS_2