Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Takut Kehilangan


__ADS_3

Malam itu Nando benar-benar galau, dia menjambak rambutnya frustasi.


Dia bisa saja langsung pulang ke apartemen saat ini juga, tapi dia tipe lelaki sejati yang bertanggung jawab.


Beberapa perawat dan seorang Dokter nampak setengah berlari ke ruang rawat Vania, Nando membulatkan matanya dan ikut berlari masuk ke dalam ruangan itu.


"Pasien mulai demam Dokter! Sepertinya dia menahan rasa sakit sejak tadi!" seru seorang suster.


"Berikan obat demam sekarang! Tolong di cek tensinya sekali lagi!" titah sang Dokter.


Nando hanya termangu memandang sandra dari ambang pintu, wanita itu nampak kesakitan dan menderita.


Seorang suster memberikan suntikan padanya, Nando meringis membayangkan sesakit apa yang di alami Vania.


"Maaf Pak, di sini apa tidak ada keluarga Bu Vania? Bapak ini suaminya kan?" tanya Dokter yang menoleh ke arah Nando yang masih berdiri.


"Saya ... saya ..."


"Ginjal pasien sudah terkena sel kanker, saya juga bingung kenapa bisa begitu cepat menyebar? Sepertinya besok akan di lakukan kemoterapi, mohon dampingannya dari pihak keluarga!" jelas sang Dokter.


"Mamanya sedang tidak ada di sini Dok!" ujar Nando.


"Siapapun boleh, termasuk anda, sekarang dia baru di beri obat penenang, mungkin dia akan tertidur sebentar lagi!" jelas Dokter.


Setelah Vania mulai tenang, Dokter dan perawat segera meninggalkan kamar itu, suasana kembali sunyi dan sepi.


Perlahan Nando mendekati ranjang Vania, lalu duduk di sisi ranjang itu.


"Vania ..."


"Nando, kalau aku tidak bisa bertahan nanti ... sampaikan ucapan maaf ku pada Mama!" lirih Vania. Butiran bening mulai menetes dari bola mata Vania.


"Jangan menangis Vania, kau juga jangan berkata seperti itu, kau pasti akan sembuh!" ucap Nando sambil menyeka air mata Vania.


"Aku sakit Nando, aku tidak tahan lagi, sakit ..." lirih Vania sambil mulai memejamkan matanya.


"Vania ..."


"Pulanglah Nando ... Sandra pasti menunggumu!" ucap Vania.


Tiba-tiba Nando teringat akan Sandra yang merengek memintanya pulang.


Waktu sudah menunjukan jam 1 dinihari, suasana semakin sunyi dan dingin.


Nando sebenarnya sangat ingin beranjak dan pulang ke apartemennya, namun dia sangat tidak tega meninggalkan Vania dalam kesendiriannya, di tambah penyakit yang di deritanya.

__ADS_1


"Maafkan aku Sandra, maafkan aku! Aku belum bisa pulang sekarang sayang!" gumam Nando.


Nando duduk terpekur di sofa ruangan itu, menunggu pagi segera datang, Adi yang sejak tadi di tunggunya juga tak kunjung datang.


Sejak malam hingga menjelang subuh, Nando hanya mondar-mandir di ruangan itu.


"Kurang ajar Adi! Mulutnya tidak bisa di pegang! Janjinya mau cepat datang, mana mungkin aku biarkan dia bersama Vania!! Banci!!" geram Nando.


Ketika waktu sudah menunjukan pukul 4 subuh, Nando langsung beranjak akan pulang kembali ke apartemennya, dia sudah tidak bisa menunggu lama lagi.


"Vania, aku pulang ya, maafkan aku, Sandra dan Kia sudah menungguku, semoga kau cepat segera pulih!" ucap Nando di hadapan Vania.


Namun Vania masih nampak memejamkan matanya dan tak bergeming sedikitpun saat Nando bicara padanya.


Perlahan Nando beranjak keluar dar ruangan itu, pada saat Nando berjalan cepat menyusuri koridor dari arah yang berlawanan, Adi nampak setengah berlari menuju ke ruangan Vania.


mereka berpapasan di tengah koridor itu.


"Adi? Dari mana saja kau!! Enak saja kau melemparkan tanggung jawabmu padaku! Mana katanya kau tulus mencintai Vania!" sungut Nando kesal.


"Bukankah aku sudah meneleponmu memberitahukan bahwa aku akan pulang subuh! Ini saja aku tinggal duluan, walau urusanku belum selesai!" sahut Adi.


Menelepon? Kapan kau meneleponku? Aku juga tidak tau ponselku ada di mana!" ujar Nando.


"Kau yakin aku mengangkat teleponmu?" tanya Nando.


"Yakinlah, walaupun kau tak bicara apapun!" sahut Adi.


"Kau yakin itu aku??" tanya Nando lagi. Adi kemudian mengerutkan keningnya.


"Kalau bukan kau, siapa lagi yang mengangkat teleponku??" sahut Adi.


Nando diam tak lagi melanjutkan perdebatan itu, dia langsung berjalan cepat ke arah parkiran.


Adi hanya memandangnya penuh tanda tanya.


Dengan cepat Nando segera melajukan mobilnya langsung meninggalkan rumah akut itu menuju ke apartemennya.


Nando mengendarai mobilnya dnegan kecepatan tinggi, hingga dia sampai ke apartemennya hanya dengan waktu 15 menit saja.


Nando lalu berjalan cepat menuju ke lantai atas, hatinya tidak sabar ingin menemui istri dan anaknya, matahari mulai menyongsong di ufuk timur.


Tanpa menunggu lama, Nando langsung masuk ke dalam apartemennya itu, dia langsung membuka pintu kamar.


Sandra terlihat sedang duduk di sudut ranjangnya sambil menangis. Sementara Kia tertidur di sebelahnya.

__ADS_1


Cepat-cepat Nando masuk dan langsung memeluk Sandra.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku, kau pasti tidak tidur menungguku kan?" ucap Nando sambil memeluk dan menciumi wajah Sandra yang basah.


"Kau kemana saja! Aku cemas tau! Aku cemas! Kau kemana saja!" Sembur Sandra sambil memukulkan tangannya di dada Nando.


"Sssst, tenangkan dirimu sayang, nanti Kia terbangun, tadi aku menjaga Vania menggantikan Adi, aku tidak ada ponsel, entah hilang di mana, makanya aku tadi meminjam ponsel suster, Adi ternyata tidak balik-balik, meninggalkan Vania begitu saja!" jelas Nando.


Sandra memeluk Nando dengan sangat erat, seolah tak mau melepaskannya lagi.


"Berjanjilah kau tak akan pergi lagi meninggalkan aku dan Kia, aku sangat takut kehilanganmu Nando, aku ... aku sangat mencintaimu!" ucap Sandra sambil terisak.


Nando membenamkan kepala Sandra di dadanya, selama ini, baru pertama kali pengakuan kata Cinta terdengar jelas di mulut Sandra.


"Aku juga sangat mencintai mu sayang, sangat dan sangat ...!" bisik Nando.


Perlahan Nando mulai membaringkan Sandra di pembaringan itu, menatap dalam wajahnya, lalu mencium lembut bibirnya.


Ciuman itu kian dalam dan panas, mereka berdua diam tanpa bicara, namun gerakan tubuh mereka saling merespon.


"Bolehkan aku minta ... jatah hari ini?" tanya Nando. Sandra menganggukan kepalanya.


Mereka kemudian mulai bergumul di pagi buta itu, melepaskan segenap rasa dan hasrat yang terpendam.


"Nando ..."


"Iya sayang!"


"Kau tau, aku ini mantan wanita malam, aku sudah pernah merasakan banyak pria dalam hidupku, walaupun tidak ada benih yang masuk ... di antara mereka semua, hanya milik Nando yang paling besar dan kuat!" bisik Sandra mulai nakal.


"Masa?"


"Benar, dulu pertama kali saat kau mabuk, aku begitu terkesima melihat milikmu, sangat kokoh dan kemerahan, bagus dan luar biasa, kau memang perkasa Do!" puji Sandra.


"Hmm, waktu itu kau wanita pertama yang mengambil keperjakaanku! Kau juga luar biasa!" balas Nando.


Mereka mulai menyatukan tubuh mereka, Sandra merasa penyatuan tubuh mereka begitu hangat dan dalam, membawa mereka ke dalam kenikmatan surga cinta yang sesungguhnya.


Oweeek!! Oweeek!


Kia tiba-tiba terbangun dan menangis, membuat Sandra dan Nando terpaksa harus menghentikan aktifitas mereka.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2