Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Kegelisahan Sandra


__ADS_3

Nando perlahan masuk ke ruangan yang terasa dingin itu.


Vania nampak berbaring di ranjang pasien, dengan beberapa alat medis yang melekat di tubuhnya.


Suasana di ruang itu begitu sunyi dan sepi, tidak ada satu orang pun yang menemani Vania, wanita itu sakit dalam kesendirian.


Timbul belas kasihan pada diri Nando, wanita itu, yang sempat mengisi hari-harinya walaupun hanya sebentar, tidak pernah melakukan kesalahan atau menyakiti hati Nando.


Satu-satunya kesalahan Vania hanyalah dia terlalu mencintai Nando dengan amat dalam.


Nando duduk di sisi pembaringan Vania, menatap wajah pucat nya dengan matanya yang terpejam, juga tubuh kurus yang terlihat lemah dan tak berdaya.


Sunyi dan sepi, hanya terdengar suara alat monitor detak jantung.


Vania mulai mengerjapkan matanya, saat di sadarinya ada seseorang yang berada dekat dengannya.


Ada senyum yang terulas, saat Vania melihat siapa orang yang ada di sampingnya.


"Nando? Kau ada di sini?" tanya Vania lirih.


"I-Iya Van, Adi sedang ada kasus dari kliennya, sehingga terpaksa dia harus pergi!" jawab Nando.


"Adi ... dia terlalu banyak menghabiskan waktu nya di sini, kasihan dia, karena aku dia bahkan mengabaikan pekerjaannya!" gumam Vania.


"Adi melakukan itu karena dia tulus padamu, dengan kau bisa menerima dia dengan sepenuh hatimu, itu akan membuat dia senang!" kata Nando.


"Ya, kalau aku boleh jujur, aku tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan siapapun, saat ini tidak ada lagi yang bisa di harapkan dari aku, wanita pesakitan ini!" ucap Vania.


"Jangan putus asa, paling tidak masih banyak orang yang perduli padamu!" sahut Nando.


Hening


Vania dan Nando saling diam dengan pikiran mereka masing-masing.


"Nando, bagaimana kabar Sandra? Sudah lama aku tidak mengobrol dengannya!" tanya Vania.


"Sandra baik-baik saja, saat ini dia sedang bersama Kia!" jawab Nando.


"Kalian pasangan yang ideal, harmonis dan bahagia!" ucap Vania.


Kembali mata Vania memerah dan berkaca-kaca, ada genangan air yang siap tumpah dari mata itu.


Nando lalu mengambil tissue dari atas nakas, kemudian mengusap mata Vania.


"Jangan menangis, aku tidak tahan melihat perempuan menangis!" ucap Nando.

__ADS_1


Ceklek!


Seorang perawat datang hendak memeriksa kondisi Vania dan mengganti infus yang hampir habis.


"Bu Vania, apakah perut anda masih terasa nyeri? Kalau masih saya akan suntikan ke dalam infus obat anti nyeri, hanya saja dalam dosis rendah, karena ada efek sampingnya!" tanya Suster itu.


"Masih Sus, tapi sekarang nyerinya mendadak hilang, nanti saja di kasih obat saat nyeri itu datang!" jawab Vania.


"Baik, kalau ada apa-apa tolong tekan bel yang ada di dekat kepala Ibu ya, di sini ada suster yang menjaga selama 24 jam kok!" kata Suster itu sambil mengambil kantong air seni yang telah penuh dan menggantinya dengan yang baru.


"Terimakasih suster!" ucap Vania.


"Sama-sama Bu, Oya, itu kalau suaminya mau istirahat, ada bed di bawah ya, tinggal tarik saja!" kata suster sambil menunjuk sebuah bed Sorong di bawah ranjang.


"Tapi dia itu bukan ..."


"Kalau begitu saya permisi, selamat malam!" suster itu langsung beranjak meninggalkan ruangan itu.


Nando mulai merogoh saku celananya, untuk mengambil ponselnya, namun ponselnya tidak di temukan di dalam saku celananya itu.


"Kau sedang mencari apa Do?" tanya Vania.


"Ponselku, aku ingin menelepon Sandra!" jawab Nando.


"Aku tidak bawa tas Van, dan tidak mungkin ketinggalan di mobil, karena selalu aku taruh di saku celanaku! Atau jangan-jangan jatuh di jalan ya!" sahut Nando.


Nando terus merogoh sakunya berulang kali, namun ponselnya tidak di temukan.


****


Waktu sudah menunjukan jam 11 malam, Sandra masih menyusui Kia karena baru saja Kia terbangun karena haus.


"Kia, Papa Nando kemana ya, kok lama sekali, Mama jadi tidak bisa tidur nih, Kia temani Mama dulu ya!" ucap Sandra pada bayi mungilnya itu.


Seolah mengerti, Kia menatap wajah Sandra tanpa berkedip, mata beningnya seolah memberikan kesejukan untuk Mamanya itu.


Sandra lalu mengambil ponselnya yang ada di sebelahnya.


Tidak ada satupun pesan atau panggilan dari Nando, Sandra mulai cemas dan gelisah.


"Kia, biasanya Papa selalu menghubungi Mama, tapi kenapa ya malam ini Papa tidak kontak Mama, apa Papa lupa ya?" gumam Sandra.


Sandra lalu mulai menelepon Nando, menunggu membuat Sandra gelisah dan tidak tenang.


Sayup-sayup terdengar suara deringan ponsel, Sandra mengerutkan keningnya, suara deringan ponsel itu berasal dari arah ruang tamu depan.

__ADS_1


Sandra berdiri dan mencari sumber suara itu. Di atas sofa, ternyata ponsel Nando ketinggalan, Sandra lalu mengambil ponsel suaminya itu.


"Ternyata, Nando tidak membawa ponsel, lalu bagaimana caraku untuk menghubunginya?" gumam Sandra yang semakin cemas.


Sandra kembali ke tempat tidurnya, lalu mulai menyusui Kia lagi, sekarang kecemasannya bertambah karena Nando tidak bisa di hubungi.


Tiba-tiba rasa takut kehilangan menguasainya, saat ini, dia benar-benar takut kehilangan Nando, lebih takut dari pada saat Nando masih beristrikan Vania.


"Nando, kamu di mana sih? Apa iya kamu menginap di rumah sakit menemani Vania? Katanya mau pulang cepat!" lirih Sandra dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Baru kali ini Sandra merasakan perasaan cemburu yang luar biasa, perasaan takut kehilangan dan kecemasan.


Padahal biasanya Sandra selalu bisa menguasai rasa itu, tapi malam ini, kenapa mendadak ada yang sesak di dalam dadanya.


Sandra lalu mulai menekan tombol nomor Adi dalam ponsel Nando, berharap Adi akan menyuruh Nando pulang cepat.


"Halo, Nando? Sorry Do, malam ini sepertinya aku tidak bisa kembali ke rumah sakit, aku belum selesai menangani kasus klienku ini, aku usahakan besok pagi aku langsung datang ke rumah sakit, aku titip Vania Do!" kata Adi yang langsung berbicara panjang lebar tanpa memberikan kesempatan lawan bicara nya.


Luruh sudah air mata Sandra, jatuh membasahi pipinya yang sedari tadi sudah di tahannya.


"Halo ...!"


"Halo Nando! Kenapa kau diam saja?"


Dengan cepat Sandra memutuskan sambungan telepon itu.


Sandra langsung menangis menumpahkan segala yang di rasakannya sejak tadi.


Tring ... Tring ...


Tiba-tiba ponsel Sandra berbunyi, Sandra lalu menyeka air matanya dan mulai mengusap layar ponsel nya itu.


"Halo! Sayang, ini aku Nando! Aku pinjam ponsel suster, ponselku hilang sayang, untung aku hafal nomor ponselmu, kau dan Kia baik-baik saja kan?" tanya Nando yang ternyata orang yang menelepon itu.


"Nando! Pulang Do! Pulang ... aku mau kau pulang malam ini juga!" ucap Sandra sambil menangis.


"Hei, kau kenapa sayang?" tanya Nando tak mengerti.


"Pokoknya kau pulang sekarang Do! Ayo pulang!" tangis Sandra terisak.


Nando semakin bingung.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2