
Pagi itu Nando buru-buru menyelesaikan sarapannya karena dia ada ujian susulan pagi di kampusnya.
"Kemarin itu Papa dan Abang mu sudah ke tempat yang di maksud, untuk menawar rumah itu, tapi mereka menolak untuk menjual rumah itu!" ujar Ricky di meja makan.
"Jadi, Papa dan Bang Jo datang ke tempat prostitusi itu??" tanya Nando.
"Iya lah, sekalian survei, tidak menyangka kalau tempat itu ternyata tempat menjajakan wanita malam, kami datang banyak wanita yang menggoda!" jawab Ricky.
"Papa tergoda tidak?? Jangan-jangan Papa ingin datang lagi ke tempat itu, karena melihat wanita cantik-cantik!" goda Lika.
"Enak saja! Biar di sodorkan juga Papa jijik dan tidak mau, wanita yang bahkan tidak punya moral dan harga diri, tubuhnya di obral begitu saja!" cetus Ricky.
"Papa! Asal Papa tau, mereka melakukan itu tidak sesuai dengan hati nurani mereka, kalau mereka punya pilihan lain yang lebih baik, tidak akan ada yang namanya wanita malam, jadi jangan pernah Papa menghina dan merendahkan mereka!" seru Nando tiba-tiba.
Ricky dan Lika saling berpandangan melihat sikap Nando yang berbeda dari biasanya.
"Hei Nando, kenapa kau jadi membela para wanita malam itu??" tanya Ricky sambil mengerutkan keningnya.
"Aku bukan membela pekerjaan mereka, aku hanya tidak mau orang selalu memandang rendah pada status wanita malam, padahal kenyataannya belum tentu sama dengan yang kalian lihat!" jawab Nando.
"Tapi tetap saja, mereka bukan wanita baik-baik, mereka melakukan pekerjaan kotor dan berdosa!" tambah Lika.
"Yah, kotor dan berdosa, tapi banyak di luar sana, orang-orang yang melakukan hubungan terlarang secara diam-diam, apakah itu bukan kotor dan berdosa? Apakah saat mereka hidup normal mereka masih layak di katakan kotor?" ujar Nando.
"Nando, ada apa denganmu? Mengapa kau jadi se emosi ini? Hanya karena wanita malam?" tanya Lika.
Nando menarik nafas panjang, seolah menyadari sikapnya yang berlebihan.
"Maafkan aku Pa, Bu, tadi aku hanya spontanitas saja!" ucap Nando lirih.
"Sudahlah Do, makanya kau cepat lamar Vania, supaya kau tidak jomblo terus, supaya ada yang mendampingimu!" kata Ricky.
"Iya Nando, kau tunggu apa lagi sih, jodoh sudah di depan mata begitu, Ibu ingin sekali melihatmu menikah setelah Kezia, adikmu masih kecil-kecil, perjalanan masih panjang, Ibu ingin masa tua Ibu bisa melihat cucu-cucu Ibu yang lucu, iya kan Pa?" ucap Lika sambil menoleh ke arah Ricky.
"Betul kata Ibumu, lebih cepat lebih baik, supaya ada juga yang membantumu, mengerjakan tugas, mengingatkanmu, sejak kecil kau sering lupa dan ceroboh!" lanjut Ricky.
__ADS_1
"Walaupun Nando bukan anak pintar di sekolah, tapi selalu jadi nomor satu di hati Ibu, sudah sekarang kau berangkat sana, nanti telat ujian!" ujar Lika sambil mengelus kepala Nando.
Kemudian Nando segera beranjak dari tempatnya dan keluar dari rumah itu, Roy sudah menunggunya di dalam mobil.
"Ada apa Tuan? Wajah Tuan kelihatan kusut seperti baju yang baru diangkat dari jemuran!" tanya Roy sambil mengemudikan mobilnya.
"Jangan banyak tanya Roy! Kepalaku sedang pusing!" sahut Nando.
"Pusing kenapa lagi sih Tuan? Gara-gara mengulang ujian? Minta bocoran saja sama Vania!" cetus Roy.
"Enak saja! Biar otak pas-pasan tapi aku anti nyontek!" sahut Nando.
"Saya heran deh Tuan, otak Tuan kan pas-pasan, tapi kok bisa punya perusahaan besar sih, dan bisa jadi orang kaya lagi!" tanya Roy.
"Menjadi pemimpin itu bakat, tidak harus pintar, dulu walaupun aku baru lancar membaca di kelas 3 SD, tapi aku selalu terpilih kalau ada lomba 17 an!" sahut Nando.
"Untung Tuan ganteng, walaupun otak pas-pasan tidak masalah dong, kalau saya otak lumayan pintar tapi wajah pas-pasan, gimana dong Tuan?!" sungut Roy.
****
Dia mulai merasa nyaman bekerja di butik, selain keluarga Tante Rina yang sangat baik menerimanya, di sini dia dapat perlakuan terhormat, yang datang biasanya orang-orang elegan dan berpendidikan dengan bahasa yang sopan dan berkelas.
Sandra seperti menemukan dunia nya yang baru, walaupun dia masih bersembunyi dari kejaran anak buah Mami Vero, dengan memakai masker setiap harinya, agar wajahnya tidak di kenali.
"Kau istirahat dulu San, jangan terlalu lelah bekerja!" ujar Tante Rina memperingatkan.
"Iya Tante!" sahut Sandra.
"Kenapa kau selalu pakai masker kalau bekerja, memangnya kau sedang flu?" tanya Tante Rina.
"Saya ada alergi Tante, alergi AC dan debu!" jawab Sandra beralasan.
"Ya ampun, kasihan sekali, pasti kau kurang nyaman ya?" tanya Tante Rina.
"Nyaman kok Tante, Tante tenang saja, sudah bisa bekerja membantu Tante di sini saya sangat bersyukur!" ucap Sandra.
__ADS_1
"Baiklah, kau lanjutkan pekerjaanmu, Tante mau mengecek pembukuan dulu!" ujar Tante Rina sambil mulai membuka laptopnya.
Dari balik pintu kaca butik, mata Sandra melotot melihat seorang laki-laki paruh baya yang tersenyum ke arahnya, wajah Sandra langsung pucat, Pak Wiryo ayah tirinya menemukannya.
Tangan Pak Wiryo melambai memanggil Sandra keluar.
Sandra yang kaget dan takut langsung beranjak keluar dari butik itu.
"Dari mana Ayah tau aku ada di sini??" tanya Sandra.
Pak Wiryo tertawa terkekeh.
"Tentu saja aku tau, aku selalu mengikuti anak muda bodoh itu, ayo ikut ayah kembali ke rumah itu! Gara-gara kau Ayah di minta ganti rugi oleh mereka!" cetus Pak Wiryo.
"Tidak ayah! Aku mohon biarkan aku di sini, aku tidak mau kembali lagi ke tempat nista itu!" mohon Sandra.
"Enak saja! Beri Ayah uang kalau begitu! Waktu itu Ayah sudah minta uang sama laki-laki bodoh yang membawamu, tapi sudah lama aku tidak bertemu dengannya, ayo sini berikan uangmu!' Pak Wiryo menadahkan tangannya.
Sandra lalu merogoh saku bajunya, lalu di keluarkan uang dari dalam saku bajunya itu, kemudian memberikannya pada Pak Wiryo.
"Aku hanya ada segini Ayah, please jangan ganggu aku lagi!" ucap Sandra.
"Hmm, sedikit sekali uangmu, tapi lumayan lah buat beli rokok, ingat Sandra! Aku akan datang lagi, kalau kau tidak memberikan aku uang, tepaksa aku akan membawamu ke germo tua itu lagi!" ancam Pak Wiryo.
Kemudian Pak Wiryo segera pergi dari tempat itu.
Sandra masih berdiri termangu sambil menatap kepergian Ayah tirinya yang selalu memerasnya itu.
"Kau bicara dengan siapa San??" tanya Tante Rina yang tiba-tiba sudah keluar dari dalam butiknya itu.
"Eh, itu Tante, tadi ada orang tanya alamat, tapi aku tidak tau!" jawab Sandra gugup.
"Oh, ya sudah, Ayo masuk, di luar banyak debu, katanya kau alergi debu!" kata Tante Rina.
"Iya Tante!" ucap Sandra sambil mengikuti Tante Rina masuk kembali ke dalam butiknya.
__ADS_1
****