Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Harga Seorang Wanita


__ADS_3

Vania berlari kecil menuju ke kamarnya, tidak sabar dia ingin bercerita dengan Sandra mengenai pertemuannya dengan keluarga Nando malam tadi.


Sandra nampak duduk termenung di kursi balkon kamar Vania, matanya menatap jauh ke depan, sesekali memandang ke langit, bintang-bintang yang bertaburan menghiasi gelapnya malam itu.


"San! Kau sedang apa?" tanya Vania yang berjalan mendekati Sandra.


Sandra menoleh sambil tersenyum.


"Sedang memandang bintang di langit, rasanya aku ingin menjadi seperti bintang itu!" ucap Sandra.


"Kau puitis sekali San, Oya, kau tau tadi saat kami makan malam di rumah keluarganya Nando, orang tuanya sangat mendukung aku dan Nando, bahkan kami akan di jodohkan, aku bahagia sekali San! Sangat bahagia!" ungkap Vania dengan wajah berbinar.


"Syukurlah Van, aku juga ikut senang! Semoga kalian benar-benar berjodoh!" sahut Sandra.


Mereka kemudian saling berpelukan.


"San, aku juga mendoakan mu agar kau bisa menemukan kebahagiaanmu, akan ada laki-laki yang mencintaimu dengan tulus dan sungguh-sungguh!" ucap Vania.


"Vania, aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi di rumahmu, aku harus bekerja!" ujar Sandra.


"San, Mamaku sedang membutuhkan seorang asisten di butiknya, aku rasa kau cocok jadi asisten Mama, tenang saja, butik Mamaku adem dan sejuk, tidak terkena sinar matahari!" jelas Vania.


"Aku mau Van, mana Tante Rina, aku mau jadi asistennya!" sahut Sandra.


Vania lalu menarik tangan Sandra keluar dari kamarnya.


Tante Rina nampak sedang duduk di tuang keluarga sambil menonton televisi. Vania dan Sandra lalu duduk di samping Tante Rina.


"Ma, Sandra mau jadi asistennya Mama, Sandra ingin ada pekerjaan Ma!" kata Vania.


"Oya? Tante sih oke saja, mulai kapan Sandra siap kerja sama Tante?" tanya Tante Rina.


"Besok saya siap Tante, terimakasih atas kesempatannya!" jawab Sandra.


"San, di butik Tante ada kamar kosong, selama ini tidak ada yang tinggal, kalau mau kau bisa tinggal di sana, tapi kalau kau mau tetap di sini tidak apa-apa, bagaimana?" tanya Tante Rina.


"Mau Tante, saya tinggal di butik saja, sekalian menjaga di sana, saya tidak enak numpang di kamar Vania terus!" sahut Sandra.

__ADS_1


"Jangan sungkan Sandra, Vania juga senang kok sejak kehadiranmu, dia jadi lebih semangat!" kata Tante Rina.


"Tuh kan San, kita tuh senang tau kamu ada di rumah ini, jadi lebih ramai!" timpal Vania.


"Oke oke, sekarang sudah malam, ayo pada tidur! Besok kan Sandra sudah mulai ikut ke butik, Vania juga besok ada kuliah kan?" Tante Rina mulai mematikan televisinya, merekapun beranjak ke kamar untuk beristirahat.


****


Pagi datang menjelang, Nando bersiap akan berangkat ke kantornya, dia dengan cepat melahap sarapannya yang sudah tersedia di meja makan.


Ibu dan Papanya juga terlihat sedang menikmati sarapan di meja makan itu.


"Pa, bagaimana kabar proyek propertinya?" tanya Nando.


"Baik, sekarang Papa sudah mulai menyerahkan perusahaan papa pada Jo, kakak ipar mu, kau tau usia Papa tak lagi muda, Papa butuh orang yang meneruskan usaha Papa ini!" jawab Ricky.


"Dulu Papa pernah membeli lahan prostitusi di pinggir bantaran kali, lalu menjadikannya rumah susun kan?" tanya Nando.


"Yah, itu juga papa di demo habis-habisan dengan yang punya lahan, tidak mudah Nando!" sahut Ricky.


"Pa, ada rumah prostitusi di sekitar Hotel Berlian, mucikari di rumah itu sangat bengis, mempekerjakan wanita secara Bu paksa, bagaimana cara agar rumah itu di beli atau di alihfungsikan?" tanya Nando.


"Aku tertarik untuk membelinya Pa!" ujar Nando.


"Untuk apa? Kau bisa beli lahan yang lain yang lebih bagus, kenapa harus membeli lahan bekas tempat haram?" tanya Ricky.


"Supaya kegiatan di dalamnya juga berhenti, dan para wanita penghibur bisa hidup bebas dan mendapatkan pekerjaan yang layak dan lebih terhormat!" jawab Nando.


Ricky tiba-tiba tertawa mendengar ucapan putranya yang tak biasa itu.


"Lihat sayang, anak kita sudah mulai dewasa cara pandangnya, sejak kapan kau perduli dengan kehidupan wanita malam Nando?!" ujar Ricky.


"Nando, jangan bilang pada Ibu kalau kau pernah ke tempat itu!" cetus Lika.


"Kau ini bicara apa sayang, mana mungkin putra kita yang lugu dan polos ini ketempat seperti itu, Do, untuk masalah jual beli lahan, nanti papa akan bantu, coba kau konsultasikan dulu pada Jo, Kakak ipar mu!" kata Ricky.


"Baik Pa!" sahut Nando.

__ADS_1


Setelah sarapan, Nando langsung meluncur ke kantornya dengan Roy asisten pribadinya.


"Roy, Kau tau harga rumah besar di pinggir jalan di Jakarta dengan luas kurang lebih 700 meter berapa harganya?" tanya Nando.


"Mana saya Tuan, kenapa tidak tanya sama Tuan besar?".


"Aku ingin membeli rumah itu Roy, lalu aku mau buka panti asuhan saja di lahan itu!" ujar Nando.


"Kenapa Tuan sangat ingin membeli rumah itu? Itu rumah si germo seksi itu kan? Memangnya dia mau melepas asetnya begitu saja? Mikir dong Tuan!' sahut Roy.


"Kalau aku kasih penawaran tinggi, masa dia tidak mau? Supaya Sandra jangan lagi jadi incaran mereka!" kata Nando.


"Sandra? Tuan, sudah berapa banyak uang yang Tuan keluarkan buat Sandra? Dari sejak pertama bertemu, kemudian memberi uang ayah tirinya yang tak tau diri itu, malah sekarang mau membeli tempat itu, mahal sekali si Sandra itu, mending uangnya kasih saya Tuan, biar saya belikan sawah di kampung!" cetus Roy.


"Roy! Kau tidak tau betapa berharganya seorang wanita, sangat mahal untuk membuatnya terhormat, aku juga tidak tau bagaimana cara untuk melepaskan mereka semua dari lembah kelam itu, mungkin jalan satu-satunya ya membeli rumah itu dengan harga yang fantastis!" ungkap Nando.


Roy nampak menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aduuuh, sejak Tuan bertemu dengan Sandra, sifat Tuan jadi berubah begini ... ingat Tuan, ada Vania tuh yang cinta mati sama Tuan, orang tua kalian juga sudah pada setuju kan!" ujar Roy.


"Hmm, kepalaku pusing Roy, jangan bicarakan itu lagi!" kata Nando.


"Saya lebih pusing Tuan, tidak ada satupun wanita yang mau mendekat sama saya!" timpal Roy sambil menggaruk kepalanya yang agak botak itu.


Tring ... Tring ...


Sebuah notifikasi pesan singkat di ponsel Nando berbunyi, Nando lalu membaca pesan singkat itu.


'Nando, aku sudah mulai bekerja hari ini di butik Tante Rina, kau jangan mengkhawatirkan aku lagi, karena aku juga akan tinggal di butik itu!'


Nando tersenyum membaca pesan singkat itu.


Bersambung ...


****


Hai guys ...

__ADS_1


Kira-kira nih, lebih setuju mana, Nando dengan Vania atau Sandra?


__ADS_2