Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Vania Shock


__ADS_3

Nando yang melihat Vania tiba-tiba pingsan mendadak kaget dan cemas.


Dia jadi agak menyesal telah mengatakan yang sebenarnya pada Vania.


"Sandra!" panggil Nando.


Sandra datang dengan tergopoh-gopoh.


"Vania! Apa yang terjadi Do? Kenapa Vania bisa pingsan?" tanya Sandra.


"Tadi aku mengatakan, kalau Mamanya adalah dalang dari penculikan Kia, mungkin Sandra shock dan langsung pingsan!" sahut Nando.


"Kau ini sih Do! Kalau mau bicara pikir dulu dong! Jangan main hantam kromo saja! Lihat akibatnya!" sengit Sandra.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Nando.


"Nando, aku tau Tante Rina sangat tidak menyukaiku, dia akan melakukan berbagai macam cara untuk menyingkirkan aku, yang di lakukan Tante Rina semata-mata karena dia sangat menyayangi Vania, dia tau Vania menderita karena di poligami olehmu!" ungkap Sandra.


"Lalu, apa maksud ucapanmu?" tanya Nando.


"Demi Vania, aku mohon maafkanlah Tante Rina, dan jangan menuntut nya lagi!" ucap Sandra.


"Apa? San, kau lupa apa yang telah di perbuat oleh Mama Rina? Kita bahkan hampir kehilangan Kia, ini bukan kasus main-main! Dia harus di penjara supaya jera! Tidak perduli dia Mamanya Vania atau bukan!" cetus Nando.


"Nando, mendengar Mamanya seperti itu saja sudah membuat Vania pingsan begini, apalagi dia melihat Mamanya di penjara? Selama ini, hanya Mamanya yang Vania punya, selain dirimu!" ujar Sandra.


Nando terdiam mendengar ucapan Sandra, selama ini, Tante Rina mang tidak pernah melakukan kejahatan apapun, kecuali menculik Kia, tapi apa yang di perbuatnya itu sudah tidak bisa di tolerir lagi, apalagi kini Tante Rina masih bebas berkeliaran.


"Sandra, kita serahkan kasus Tante Rina ini pada yang berwajib, lagi pula sekarang Tante Rina juga sudah jadi buronan polisi, Pak Wiryo pasti sudah memberitahukan pada polisi soal kejahatan Tante Rina!" ujar Nando.


"Do, Vania adalah istrimu, dia pasti akan sangat merasa bersalah padamu, aku mohon Do, perlakukan Vania dengan baik, walaupun kau tidak bisa sepenuhnya mencintai dia!" ucap Sandra.


"Tapi San ..."


"Kau tau saat ini Vania pasti sangat terpuruk, orang yang di sayangi nya, satu-satunya sandarannya kini mengecewakannya, dia lebih membutuhkanmu dari pada aku, aku ikhlas do!" lanjut Sandra.


Tak lama kemudian Vania mengerjapkan matanya, dia sudah sadarkan diri.


"Van!" Sandra mengusap keringat yang membasahi dahi Vania.


"Jangan sentuh aku!" Vania langsung duduk dari posisi berbaringnya.


"Vania, dengarkan aku dulu!" ucap Sandra.


"San, aku malu padamu, juga Nando, Mama benar-benar keterlaluan, aku sungguh tidak menyangka, Mama akan berbuat sekeji itu, maafkan Mamaku San, Do!" Vania mulai terisak.


"Vania, kami tidak menyalahkan mu atas situasi ini, kau jangan merasa bersalah!" ucap Nando.

__ADS_1


"Tidak! Kesalahan Mamaku adalah kesalahanku, karena aku Mama bisa berbuat serendah itu!" sahut Vania.


Tiba-tiba Kia menangis, Sandra langsung bergegas mengambil Kia dari dalam kamarnya, kemudian dia kembali lagi ke ruangan itu.


"Vania, aku antar kau ke kamar ya!" ajak Nando.


Saat Nando akan menuntun tangan Vania, Vania menepiskannya.


Kemudian Vania menghentikan langkahnya.


"Nando, kalau kau mau menceraikan aku, kau boleh menceraikan aku!" ucap Vania.


Ucapan Vania bagaikan petir yang menggelegar di siang bolong, Sandra dan Nando terkesiap mendengarnya.


"Tidak Van, kau sedang emosi, aku tidak pernah berniat menceraikanmu!" tukas Nando.


"Vania, kau tenang dulu, kita bisa bicara baik-baik, kami tidak penah menyalahkan mu atas apa yang di perbuat oleh Tante Rina!" tambah Sandra.


"Tapi untuk apa lagi semua ini dipertahankan?? Nando sudah jelas tidak mencintai aku, sekarang Mamaku berbuat jahat pada kalian, apa yang bisa di pertahankan dari aku?? Wanita mandul yang bahkan tidak tau sampai kapan bisa bertahan hidup!!"


Vania menangis pilu, air matanya begitu deras mengalir dari pipinya, dia bersimpuh di lantai, punggungnya berguncang hebat.


Sandra ikut menangis melihat Vania, dia lalu mendekati Vania dan memeluknya, walaupun dia sedang menggendong Kia.


Nando berdiri terpaku, dia merasa saat ini dia begitu bodoh, tidak tau apa yang harus di perbuatnya.


Vania lalu segera berdiri dari posisinya. Dia kemudian berjalan menuju ke kamarnya.


"Nando, kau cepat susul Vania!" pinta Sandra.


Nando lalu dengan cepat menyusul Vania masuk ke dalam kamarnya.


Vania sambil menangis mengambil sebuah koper, lalu dia mulai memasukan beberapa pakaiannya ke dalam koper tersebut.


"Vania! Apa yang kau lakukan??" tanya Nando.


"Aku ingin pergi Do, aku tidak pantas berada di sini!" sahut Vania.


"Siapa yang bilang begitu Van, kau sedang emosi dan tertekan, aku mohon kau tetaplah di sini!" ujar Nando.


"Tidak Nando! Aku malu atas perbuatan Mamaku! Biarkan aku pergi!" sahut Vania.


"Tidak! Kau tidak boleh pergi!" sergah Nando sambil memegang koper Vania untuk menyingkirkannya.


Namun kembali Vania menarik koper itu. kemudian Vania menatap dalam wajah Nando.


"Untuk menebus rasa bersalahku, aku mohon Do, kau ceraikan aku!" Isak Vania.

__ADS_1


Terdengar suara petir yang menggelegar pertanda akan segera Turun hujan.


"Vania, maafkan aku, selama ini mungkin kau selalu jadi nomor dua, aku telah banyak menyakiti perasaanmu karena hatiku hanya terpaut pada Sandra, tapi sedikitpun aku tidak pernah berniat untuk menceraikanmu, aku sudah berjanji akan menjaga dan merawat mu, ijinkan aku untuk menunaikan janjiku!" ucap Nando.


Vania tidak menjawab ucapan Nando, dia lalu melangkah keluar dari kamar itu sambil membawa kopernya, Nando mengikutinya dari belakang.


"Nyonya Vania mau kemana?" tanya Mbok Karsih yang kaget saat melihat Vania turun membawa kopernya.


Vania terus berjalan ke arah depan tanpa menjawab pertanyaan Mbok Karsih.


Sandra yang sejak tadi menggendong Kia terkejut melihat Vania yang sudah berdiri di depan sambil membawa kopernya.


Sandra lalu berjalan ke arah Mbok Karsih. Gerimis mulai turun perlahan, Vania terus berjalan ke arah depan gerbang.


"Mbok, aku titip anakku sebentar ya!" pinta Sandra. Mbok Karsih hanya menganggukkan kepalanya sambil mengambil Kia dalam gendongannya.


"Vania! Tunggu Vania!" panggil Nando sambil mengejar Vania.


Sandra kemudian berlari ke arah Nando.


"Nando, kau jaga Kia saja, biar aku yang membujuk Vania, biar ini menjadi urusan sesama wanita saja!" pinta Sandra.


"Tapi ..."


"Aku dan Vania bersahabat Do, bahkan sebelum kita terikat dalam pernikahan ini, percayalah padaku!" ucap Sandra. Nando lalu menganggukan kepalanya.


Sementara Vania terus berjalan menyusuri jalanan yang mulai basah itu, rambut dan pakaiannya juga mulai basah, namun dia terus saja berjalan.


Sandra berlari mengejarnya.


"Vania! Tunggu!" panggil Sandra.


Vania tidak menoleh, dia malah menyebrang jalan sambil membawa kopernya, tanpa sadar ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melintasi jalan itu.


"Vania awaaass!!" seru Sandra sambil berlari kencang untuk mendorong tubuh Vania.


Brakkk!!!


Kecelakaanpun tak terelakan lagi.


Bersambung ...


****


Jangan lupa dukungannya guys ..


Terimakasih 🙏😘

__ADS_1


__ADS_2