Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Tinggal menghitung hari, Nando dan Vania akan melangsungkan pernikahan mereka.


Undangan sudah di sebar, catering sudah di pesan di Rose Cafe, gedung sudah di boking.


Keluarga Ricky dan Tante Rina bahkan sudah mendesain dekorasi dan segala sesuatunya untuk pernikahan putra putri mereka. Semua keluarga besar nampak bahagia dan antusias.


Lika kini mulai terapi berjalan tanpa kursi roda, dia tidak ingin saat putranya menikah dia duduk di kursi roda, kini dia sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit dengan menggunakan tongkat.


Hari ini adalah hari di mana Nando dan Vania mencoba pakaian pengantin mereka.


Gaun pengantin yang sudah di rancang jauh-jauh hari oleh Vania sendiri.


Gaun ini adalah gaun impiannya selama ini, impian untuk bisa bersanding dengan Nando, sang penawan hatinya.


Dengan penuh rasa bangga dan bahagia Vania keluar dari kamar ganti, berjalan ke arah Nando yang masuk duduk di ruangan itu.


"Nando, coba kau lihat ini, sudah cocok belum?" tanya Vania yang kini sudah mengenakan gaun pengantin itu.


"Cantik!" sahut Nando yang memandang dengan mata yang tidak berkedip.


"Ah Nando, selama ini kau bahkan tidak pernah mengatakan aku cantik, aku sangat bahagia Nando!" ucap Vania dengan mata berbinar.


"Tapi kau memang cantik Vania, apalagi dengan memakai gaun itu!" lanjut Nando.


"Kau membuatku tersanjung saja! Sekarang kau coba deh jas putihnya, aku mau melihat ketampanan Nando ku saat memakai jas putih itu!" pinta Vania.


"Oke, tunggu sebentar ya!" Nando kemudian masuk ke ruang ganti dan mulai mencoba jas pengantin nya.


Saat Nando keluar dari ruang ganti itu tak henti-hentinya Vania menatap kagum ke arah Nando.


"Kau sangat tampan Nando! Aku bahkan tak percaya kalau sebentar lagi kau akan menjadi suamiku!" ujar Vania sambil langsung memeluk Nando.


"Panas sekali udaranya, sudah ya coba bajunya, keringatku sudah banjir nih!" kata Nando yang memang sudah sangat berkeringat karena kepanasan itu.

__ADS_1


"Sayang ya Sandra sudah tidak bersama kita lagi, seandainya dia ada, aku pasti akan menanyakan banyak hal padanya, aku pasti akan banyak curhat padanya!" ucap Vania yang tiba-tiba berubah mendung karena teringat akan Sandra sahabatnya.


"Sudahlah Vania, setelah ini kita langsung pulang saja, hari ini kakakku akan menginap, aku mau bermain dengan Thomas keponakanku!" ujar Nando.


"Oke sayang, sebentar ya kita ganti baju dulu, aku juga sudah kangen sama Thomas si Gembul itu!" sahut Vania yang langsung menuju ruang ganti lalu mengganti pakaiannya.


Setelah selesai mencoba baju pengantin mereka, Nando dan Vania lalu kembali ke rumah Nando, Vania bahkan sudah di anggap bagian dari keluarga besar itu, jadi dia tidak sungkan-sungkan lagi di rumah itu.


"Hei ... kalian mau jadi pengantin jangan terlalu sering jalan-jalan!" sergah Kezia yang tiba-tiba muncul sambil menggendong Thomas itu.


"Wah ... Thomas makin besar saja, ayo sini gendong sama Om Nando ya, Thomas mau di kasih hadiah apa ya sama Om, coklat? Es Krim? Atau Bakso!?' ujar Nando sambil menggendong dan menciumi pipi Thomas, bayi yang belum genap berusia dua tahun itu.


"Jangan kasih makan anakku sembarangan Do!" cetus Kezia melotot.


"Nando sepertinya sangat penyayang sekali sama anak kecil!" ucap Vania yang kini duduk di samping Kezia.


"Ya iya lah Van, jangankan si Thomas, si Bubu saja yang kucing di sayang sama dia, Nando memang penyayang, makanya beruntunglah wanita yang bisa memikat hatinya!" jelas Kezia.


Vania tersenyum senang, semakin besar rasa cinta dan kagumnya pada sosok Nando yang terlihat dingin dan cuek tapi sangat penyayang itu.


****


Mereka bahkan tidak memiliki identitas apapun, karena semua KTP dan barang mereka habis di makan api.


Mirna bekerja di salon yang tidak jauh dari kontrakan mereka, sedangkan Sandra belum bekerja di manapun, dia masih takut dan trauma bertemu dengan Pak Wiryo ayah tirinya itu.


Sore itu sepulang dari salon, Mirna langsung menyodorkan sebungkus nasi goreng ke arah Sandra yang masih duduk sambil menjahit sesuatu.


"Kau pulang cepat hari ini Mir?" tanya Sandra.


"Iya, salon sedang sepi, makanya aku pulang cepat, bagaimana kepalamu? Apakah masih pusing?" tanya Mirna balik.


"Sedikit Mir, tadi aku sudah minum jahe hangat, perutku agak enakan sekarang!" sahut Sandra.

__ADS_1


"Periksa ke dokter saja lah San, aku tau kau trauma ke luar, tapi kau harus pikirkan kesehatanmu juga!" sergah Mirna.


"Nanti malam kalau aku masih pusing, baru kita ke Dokter!" sahut Sandra yang langsung membuka bungkusan nasi goreng dan menyantapnya.


"Kau seperti orang yang kelaparan!" cetus Mirna.


"Aku memang lapar! Entah kenapa belakangan ini aku sering merasa lapar!' sahut Sandra.


"San, Mami Vero kan meninggalkan kita sertifikat rumah yang terbakar itu, lalu kau punya rencana apa?" tanya Mirna.


Sandra terdiam beberapa saat lamanya, sebelum meninggal Mami Vero memeluk sebuah bungkusan yang isinya sertifikat rumah dan beberapa perhiasan.


Sebagian perhiasan sudah mereka jual untuk mengontrak sebuah rumah petak, kemudian di belikan beberapa bahan untuk Sandra menjahit dan beraktifitas.


"Aku ingin buka usaha Mir, aku ingin menjahit pakaian lalu menjualnya!" ucap Sandra.


"Tapi bagaimana cara kita menjual sertifikat rumah itu? Sedangkan sekarang tempat itu malah jadi tanah sengketa karena tidak diketahui di mana sertifikatnya!" sergah Mirna.


"Aku juga bingung Mir, bagaimana kita bisa menjual tempat itu dengan sertifikat milik Mami Vero!?" gumam Sandra.


"Ngomong-ngomong, aku baru tau kalau kau ternyata pintar menjahit pakaian, kau belajar di mana San?" tanya Mirna.


"Waktu aku membantu Tante Rina di butik, diam-diam aku mempelajari cara membuat desain dan pakaian wanita, setelah aku ikuti ternyata aku berhasil, paling tidak aku punya dasar unyuk menjahit pakaian!" jawab Sandra.


"Ternyata kau sangat berbakat San, aku yakin kau akan sukses suatu saat nanti, kita sama-sama maju dan melupakan masa lalu kita sebagai wanita malam, semoga masyarakat di sini bisa menerima kita apa adanya!" ungkap Mirna.


Howeeek! Howeeek!!


Tiba-tiba Sandra berdiri dan menutup mulutnya, lalu segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan nasi goreng yang baru saja di lahapnya habis.


"Sandra!! Malam ini sepertinya kau memang harus ke Dokter!!" teriak Mirna sambil beranjak dari duduknya.


Lalu Mirna mengambil minyak angin dan membantu mengoleskannya di tengkuk Sandra.

__ADS_1


****


__ADS_2