
Pagi itu Vania sudah bangun dan bersiap-siap, pakaiannya sudah rapi.
Dia kemudian beranjak ke meja makan, Tante Rina sudah duduk terlebih dahulu di sana.
"Selamat Pagi sayang, kau sudah rapi sekali mau kemana?" tanya Tante Rina.
"Aku mau ke rumah sakit Ma!" sahut Vania yang langsung duduk di depan Mamanya.
"Rumah sakit? Untuk apa?" tanya Tante Rina.
"Menjenguk Kia Ma!" jawab Vania.
"Kia ... dia itu bukan anakmu, kau jangan terlalu memperhatikan dia, makin besar kepala nanti Sandra!" cetus Tante Rina.
"Tapi Kia anak Nando Ma, anak suamiku! Apalagi sekarang Kia sedang di rawat, kasihan Nando, pasti saat ini dia sedang sedih!" ungkap Vania.
"Van, kau ini bodoh atau apa sih? Apa kau mau sakit hati melihat mereka berdua? Mama tidak rela kalau anak Mama sakit hati! Lebih baik kau tak usah datang!" kata Tante Rina.
"Ma, mungkin benar Nando memang tidak mencintai aku, tapi, bukan berarti aku membenci mereka, mereka tidak salah Ma, kenapa Mama selalu sentimen pada mereka?!" seru Vania.
"Van, kau adalah istri pertama Nando, sebagai suami, seharusnya dia memperhatikanmu, menyayangimu, dan bersikap adil padamu! Pokoknya Mama tidak rela kalau kau sakit hati hanya karena si wanita malam yang pelakor itu!" sengit Tante Rina.
"Mama!! Kenapa Mama bicara begitu?? Walau Sandra bekas wanita malam, tapi Nando sangat mencintainya! Dia bukan pelakor, aku yang selalu tutup mata, hanya karena takut kehilangan Nando!" Vania mulai menangis.
"Maafkan Mama Van, Kau anak Mama satu-satunya, seharusnya kau bahagia, bukan selalu makan hati terus setiap hari, Mama tidak rela!" Tante Rina lalu memeluk Vania erat.
"Mungkin ini adalah takdirku Ma, mencintai orang yang tidak mencintai kita adalah hal yang menyakitkan, tapi bisa melihat orang yang kita cintai bahagia itu sudah cukup!" Isak Vania.
"Kenapa kau tidak minta cerai saja pada Nando? Supaya kau jangan terus-terusan menderita begini!" ucap Tante Rina.
"Tidak Ma, Mama tau aku bukan wanita normal, aku sakit, dan aku tidak tau berapa lama lagi aku akan bertahan, berada di sisi Nando, sudah cukup membuatku bahagia!" ucap Vania.
"Cintamu pada Nando itu buta Nak, sangat buta! Mama kasihan padamu!" kata Tante Rina.
"Setidaknya ijinkan aku bisa mencintainya sebanyak yang aku bisa, aku pergi ya Ma!" pamit Vania.
"Baiklah kalau memang itu sudah jadi kemauanmu, kau pergi sama siapa?" tanya Tante Rina.
"Paling aku minta di antar Pak Tejo Ma, Mama ikut ya?" ajak Vania.
"Tidak sayang, Mama takut tidak bisa mengontrol emosi kalau melihat air matamu!" tukas Tante Rina.
Vania kemudian berjalan ke arah depan, Pak Tejo sudah menunggunya.
Kemudian Vania mulai naik ke dalam mobil yang di kemudikan oleh Pak Tejo.
Sepanjang jalan Vania banyak merenung, perkataan Makanya mengusik hatinya, mungkin benar apa yang di katakan Mamanya, kalau cinta Vania itu buta.
Setelah tiba di rumah sakit, Vania berjalan dengan sedikit melamun, hingga dia menabrak sesuatu.
__ADS_1
"Ups! Maaf!" seru Vania saat dia menabrak orang yang berjalan di depannya.
"Vania? Kau Vania kan? Kenapa bisa ada di sini??" tanya Orang itu.
Vania terperangah, dia menatap orang yang dia tabrak tadi, ternyata dia adalah Adi, teman baru yang belum lama di kenalnya.
"Adi? Kau sendiri kenapa ada di sini?" tanya Vania.
"Kebetulan aku sedang menjenguk salah seorang kawanku yang di rawat di sini, Oya, kau sendiri apakah ingin menjenguk seseorang?" tanya Adi.
"Aku ... ingin menjenguk anak dari temanku!" sahut Vania.
"Bolehkah aku mengantarmu?" tanya Adi.
"Jangan!" sergah Vania. Adi mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Adi bingung.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Vania dari belakang.
"Hai Van! Kau mau menjenguk Kia juga? Langsung yuk!" Ajak Kezia yang ternyata si Penepuk bahu Vania itu.
"Iya Kak, Oya, ini kenalkan Adi, temanku!" kata Vania memperkenalkan.
Adi dan Kezia lalu saling berjabat tangan.
Mereka kemudian mulai berjalan beriringan menuju ruang di mana Kia di rawat.
"Hei, Vania! Bukankah itu suamimu? Kenapa dia bisa ada di sana?" tanya Adi.
"karena ... dia sedang menunggu anaknya!" sahut Vania.
"Anaknya? Anakmu maksudnya? Jadi anakmu yang sakit Van?" tanya Adi tambah bingung.
"Ehm, bukan, anak suamiku!" jawab Vania sambil menggaruk kepalanya.
"Apakah ... itu adalah istri dari suamimu?" tanya Adi setengah berbisik.
Vania menganggukan kepalanya.
"Oohh!" Adi mengangguk-angguk kan kepalanya.
Vania lalu beranjak mendekati Nando.
"Kia bagaimana Do?" tanya Vania yang kini sudah duduk di samping Nando.
"Sandra lagi menyusuinya di dalam, kondisinya sudah lebih baik!" jawab Nando.
"Kau ini Do, wajahmu kusut sekali, pasti kau kurang tidur!" Vania langsung mengusap wajah dan rambut Nando dengan penuh sayang.
__ADS_1
Adi hanya terpaku menatap Vania yang begitu sayang pada Nando, sedangkan Nando kelihatan cuek.
Tak lama kemudian, Sandra keluar dari dalam ruangan itu.
"Bagaimana Kia San?" tanya Nando.
"Kia baru tidur, hati ini dia menyusu lebih banyak dari biasanya!" jawab Sandra.
"Syukurlah!" ucap Nando dan Vania bersamaan.
"Van, kita masuk yuk lihat Kia!" ajak Kezia. Vania menganggukan kepalanya.
"Adi, aku kau masuk ke dalam sebentar ya!" pamit Vania pada Adi. Adi menganggukan kepalanya.
Vania dan Kezia akhirnya masuk ke dalam ruangan itu.
Sandra terlihat duduk di samping Nando, sedangkan Adi masih berdiri tak jauh dari mereka.
"Silahkan duduk!" ujar Nando sambil menggeser posisi duduknya.
"Terimakasih, tidak masalah aku berdiri, sejak tadi duduk terus!" tukas Adi.
"Do, dia siapa?" tanya Sandra.
"Dia Adi, teman Vania!" jawab Nando.
"Teman Vania? Kau membiarkan Vania jalan dengan pria lain Do?" bisik Sandra lagi.
"Iya San, mereka hanya berteman!" sahut Nando singkat.
****
Tring ... Tring ... Tring
Ponsel Tante Rina berdering, dengan kesal Tante Rina mengusap layar ponselnya, setelah tau siapa yang meneleponnya.
"Halo! Mau apa lagi kau meneleponku! Urusan kita sudah selesai!" sengit Tante Rina pada Pak Wiryo yan menelponnya.
"Hei, siapa bilang urusan kita sudah selesai, berikan aku sejumlah uang, atau ku bongkar rahasiamu yang sudah menyuruhku menculik bayi itu!' ancam Pak Wiryo.
"Kau memang bajingan!! Menyesal aku bekerja sama dengan mu!!" cetus Tante Rina. Pak Wiryo nampak terkekeh.
"Aku tau misi mu untuk menculik bayi itu gagal, tapi bukan berarti misi ku untuk terus memerasmu juga gagal!" ujar Pak Wiryo.
"Kurang ajar kau!!" sengit Tante Rina sambil menutup layar ponselnya.
Tante Rina langsung menghempaskan tubuhnya di sofa dengan wajah yang memucat.
Bersambung ...
__ADS_1
****