
Nando membuka pintu ruangan perawatan Vania, Ibu dan Papanya masih nampak ada di ruangan itu.
"Nando, tadi Dokter mengatakan, besok akan segera di laksanakan operasi pengangkatan rahim, karena dikhawatirkan akan terjadi infeksi dari benjolan yang pecah itu!" ucap Lika.
Nando hanya menganggukan kepalanya sambil beringsut duduk di samping Vania yang masih berbaring.
"Nando, besok aku akan di operasi, kau tidak menyesal kan menikah denganku?" tanya Vania dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak Van, kau jangan bicara seperti itu fokus saja pada kesembuhan mu!" jawab Nando sambil menggenggam tangan Vania.
"Terimakasih Nando, kau suami ku yang baik, Nando ku yang sangat aku sayang seumur hidupku!" ucap Vania sambil mengarahkan tangan Nando ke pipinya.
Tiba-tiba Lika dan Ricky mendekati mereka.
"Nando, Vania, Papa dan Ibu pamit ya, mau menjemput adik-adikmu, besok kami akan ke sini lagi!" pamit Ricky.
"Iya Pa, Ibu kakinya sudah benar-bemar pulih? Sudah bisa berjalan normal lagi kan?" tanya Nando.
"Iya sayang, kau lihat sendiri kan ibu sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat, jadi kau jangan cemas!" sahut Lika.
"Terimakasih Pa, Bu, sudah berkenan menengok Vania!" ucap Nando.
"Iya Pa, Bu, aku sangat terharu, Kalian sangat perhatian sekali padaku!" tambah Vania.
"Sudahlah, di sini lah fungsi keluarga itu, saling menopang dan menguatkan, kalian jangan sungkan!" ucap Ricky.
Kemudian Ricky segera menuntun tangan istrinya itu keluar dari ruangan Vania, kini hanya tinggal Nando dan Vania saja yang ada di ruangan itu.
Wajah Vania terlihat pucat, bicara juga tersendat-sendat, namun wajahnya terlihat semangat manakala Nando ada di sampingnya, semua rasa sakit seolah sirna.
"Nando ..."
"Iya Vania?"
"Tadi aku sudah bicara pada Sandra, aku berniat akan mengadopsi bayi yang ada dalam kandungannya, supaya bayi itu punya status dan masa depan, Sandra juga bisa menjalani hidupnya dengan bebas, kau tidak keberatan kan?" tanya Vania.
Nando terdiam sesaat lamanya, tadi Sandra juga mengatakan hal itu, tiba-tiba hatinya begitu galau, dia begitu gundah gulana, tidak tau apa yang harus di katakannya.
"Nando, kenapa kau diam? Kau tidak keberatan kan?" tanya Vania lagi membuyarkan lamunan Nando.
"Eh, tidak Vania, apapun yang kau inginkan, aku setuju saja, asalkan kau tetap semangat dan cepat sembuh!" jawab Nando.
"Ah, syukurlah, aku lega sekarang, aku akan menjadi Ibu, Nando akan menjadi Papa muda yang tampan, kita akan merawat dan membesarkan anak Sandra, seperti anak kita sendiri!" ungkap Vania.
__ADS_1
Tiba-tiba Nando menelungkupkan wajahnya sambil menangis.
Dia ingin sekali berteriak se kencang-kencangnya, memberitahu bahwa dialah ayah dari anak yang di kandung Sandra, ingin sekali dia lepas dari beban di kepalanya.
Namun lagi-lagi dia tidak sanggup, akan banyak hati yang tersakiti, keluarganya, keluarga Vania, bahkan dirinya sendiri terlebih Vania.
Vania membelai rambut Nando di sampingnya.
"Kau kenapa sayang? Kenapa suamiku ini menangis?" tanya Vania.
"Tidak apa-apa, aku hanya terharu!" kilah Nando.
"Maafkan aku ya Nando, maafkan aku, aku tidak bisa memberikan Nando anak dari rahimku sendiri!" lirih Vania yang tidak tahan mendengar isakan Nando.
Nando buru-buru mengusap wajahnya yang basah itu, kalau ibunya tau dia mengeluarkan air mata, habislah dia di marahi.
"Vania, kau tidak salah, kau tidak salah Vania ... waktu dan takdir yang salah!" ucap Nando.
"Waktu dan takdir? Apa maksudmu?" tanya Vania.
"Tidak, tidak usah kau pikirkan, pusatkan pikiranmu pada kesembuhan mu saja, jangan memikirkan hal yang lain!" jawab Nando.
"Nando, aku mau di temani Nando saja sepanjang malam ini, kau tidak keberatan kan?" tanya Vania.
"Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu? Dengan kuliahmu yang belum rampung juga sampai sekarang?" tanya Vania.
"Jangan pikirkan itu, yang penting sekarang adalah kau sembuh Vania, aku tidak perduli yang lain!" ucap Nando.
Vania menganggukan kepalanya, kemudian dia mulai memejamkan matanya, rasa kantuk tiba-tiba saja menyerangnya.
Setelah Vania tertidur, Nando kemudian mulai menyelimuti tubuh Vania.
****
Sementara itu, Sandra terlihat membantu Mbok Karsih menyiapkan makan malam, sedangkan Mirna nampak mengobrol dengan Roy di garasi depan setelah dia membantu mengepel lantai.
"Ini ayamnya di potong semua Mbok?" tanya Sandra.
"Eh, jangan Mbak Sandra, Tuan Nando dan istrinya kan tidak ada, jadi di masak setengah saja, takut mubazir, Nyonya Rina juga jarang makan malam!" sergah Mbok Karsih.
"Baiklah Mbok!" ujar Sandra.
Tiba-tiba Tante Rina masuk ke dalam ruangan dapur itu.
__ADS_1
"Sandra! Ikut Tante sebentar, Tante mau bicara padamu!" kata Tante Rina.
"Baik Tante!" jawab Sandra yang langsung menaruh pekerjaannya.
Dia kemudian berjalan mengikuti Tante Rina sampai ke taman samping dekat kolam renang.
Kemudian Tante Rina berhenti sambil menghadap kolam renang yang berair jernih itu.
"Ada apa Tante memanggil saya?" tanya Sandra.
"Sandra, kau tau Vania adalah putriku satu-satunya, sejak kecil aku selalu menuruti apa yang di inginkannya, Vania adalah hidupku! Saat ini dia menginginkan seorang anak yang tidak mungkin lahir dari rahimnya, dia menginginkan anak yang kau kandung saat ini!" ungkap Tante Rina.
Sandra mengelus perutnya yang membukit itu, dia tau Vania sangat ingin mengadopsi bayinya itu.
"Sekarang aku mohon Sandra, jawab aku dengan jujur, apakah bayi itu adalah benih dari Nando? Mungkin semua orang tidak tau, tapi aku tau latar belakangmu dan kedekatanmu dengan Nando sejak pertama kali dia menitipkan dirimu di rumahku!" lanjut Tante Rina.
Sandra terhenyak mendengar pertanyaan dari Tante Rina, beberapa kali memang Tante Rina menolong Sandra saat Sandra di datangi oleh Mami Vero, dan waktu di buli oleh Windi, Tante Rina tau kalau Sandra dulu bukan wanita baik-baik, Sandra adalah seorang wanita malam yang memiliki hubungan khusus dengan Nando.
Sandra terpojok dan tidak bisa mengelak lagi.
"Kenapa kau diam? Ayo mengaku saja di depanku! Aku tidak akan membeberkan rahasiamu pada orang lain, termasuk Vania!" ujar Tante Rina.
"Maafkan saya Tante ..." lirih Vania menunduk.
"Jadi benar anak yang dalam kandungan mu itu adalah darah daging Nando??" tanya Tante Rina.
Sandra menganggukan kepalanya sambil menangis.
Plakk!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sandra.
"Aku sudah banyak mengeluarkan harga untuk menyelamatkanmu! Kau dan Mirna memang wanita penggoda, lihat saja Mirna, sejak tadi dia mengobrol dengan Roy, wanita penggoda tetaplah wanita penggoda! Menyesal aku dulu telah menampung mu, kalau bukan karena Vania!!" sengit Tante Rina.
"Maafkan saya Tante ... itu terjadi saat Nando mabuk, sebelum dia menikahi Vania, maafkan saya ..." tangis Sandra.
"Aku punya permintaan padamu, Vania menginginkan bayi dalam perutmu itu, kau boleh tinggal di rumah ini sampai kau melahirkan, setelah itu aku akan memberimu sejumlah uang, lalu kau pergilah sejauh mungkin dari kehidupan keluargaku! Anggap saja kau melakukan ini sebagai bayaran hutang budimu pada keluargaku yang telah menampung mu!!" ujar Tante Rina.
"Baik Tante, saya akan turuti semua permintaan Tante!" jawab Sandra.
"Bagus! Vania sangat mencintai Nando, aku hanya ingin putriku bahagia, kau tau saat ini dia sedang sakit, aku harap kau mengerti!" ucap Tante Rina yang langsung berlalu meninggalkan Sandra di tempat itu.
****
__ADS_1