
Dokter langsung meletakan bayi mungil Sandra yang batu lahir itu ke atas dadanya.
Tangis haru memenuhi ruangan itu, terlebih lagi Nando yang melihat langsung proses kelahiran buah hatinya walaupun hanya lewat video.
Sandra menangis sambil mencium dan memeluk bayinya yang ada dalam dekapan hangat dadanya itu.
Mirna yang sejak tadi memegangi ponselnya juga menangis.
"Selamat ya Bu Sandra, bayinya cantik sekali, sehat dan sempurna!" ucap Sang Dokter.
"Terimakasih Dokter!" lirih Sandra.
"Sandra, itukah bayi kita? Dia cantik sekali San, aku bahagia bisa melihatnya lahir ke dunia ini, Sandra aku ingin sekali ke sana, menjumpaimu dan anak kita, katakan padaku, di mana keberadaanmu!" tanya Nando.
"Tidak Nando, aku sedang tidak ingin membahas itu, sekarang berilah nama pada bayi ini, biar Papanya saja yang memberikan nama!" jawab Sandra.
"Namanya ... Kianandra artinya Kia putrinya Nando dan Sandra!" ucap Nando spontan.
"Kianandra? Nama yang unik!" gumam Sandra.
"Supaya anak itu tau kalau dia putrinya Nando dan Sandra!" sahut Nando yang terlihat berbinar.
"Kia, lihatlah sayang, itu wajah Papamu, kau harus ingat kalau Papamu melihatmu saat kau lahir ke dunia ini!" ucap Sandra.
Tiba-tiba ponsel Mirna mati karena kehabisan baterai.
"Aduh, pakai segala low bath lagi, maaf ya San, aku cash dulu ponselku, nanti aku sambungkan lagi!" ujar Mirna.
"Tidak usah di sambungkan lagi Mir, aku sudah cukup senang hanya seperti ini, Trimakasih ya!" ucap Sandra.
Dia mulai belajar menyusui bayinya itu.
Sementara itu Nando terlihat kesal saat sambungan teleponnya tiba-tiba terputus.
"Ah sial! Kenapa bisa putus begini sih!" sungut Nando.
"Mungkin sudah waktunya Tuan, ini sudah hampir subuh, sebaiknya Tuan kembali ke kamar, nanti Nyonya Vania akan mencari anda Tuan!" ujar Roy.
"Roy, aku sudah jadi Papa Roy! Aku sudah punya anak!! Anakku cantik Roy!! Kau lihat kan tadi??" seru Nando senang.
__ADS_1
"Sudah jangan pamer Tuan, kayak di dunia ini Tuan saja yang bisa punya anak!" cetus Roy.
"Aku akan merayakan ini Roy, besok aku mau ke rumah Papa, aku ingin bertemu ibu, besok antar aku Roy!" ujar Nando.
"Iya Tuan! Tenang saja sih, sudah sana!" sahut Roy sambil berlalu dari hadapan Nando.
Nando segera kembali ke kamarnya. Vania masih nampak berbaring di tempat tidurnya, namun matanya belum terpejam, dia masih terjaga sejak tadi.
"Vania? Kau belum tidur juga dari tadi??" tanya Nando.
"Belum! Aku menunggumu Nando!" sahut Vania.
"Tidurlah Van, nanti kau kurang tidur, pikirkan kesehatanmu Van!" ujar Nando.
"Nando, semakin lama aku merasa ... aku memiliki tubuh mu dan ragamu, tapi tidak hatimu ... aku merasa bahwa hatimu menjauh dariku!" ucap Vania.
Pandangannya lurus menatap langit-langit kamarnya.
"Tidurlah Van!" ujar Nando.
"Aku sangat takut kehilanganmu Nando, sangat takut ... sampai aku tidak berani menduga, tidak berani menebak apa yang terjadi, karena aku sangat takut!" ungkap Vania.
"Cukup Nando! Jangan di teruskan lagi! Aku takut tidak kuat, tidak kuat menghadapi kenyataan, lebih baik seolah aku tidak tau apa-apa!" Vania mulai menangis, tubuhnya berguncang menahan setiap rasa yang di alaminya.
"Maafkan aku Vania, maafkan aku!" hanya itu yang bisa Nando ucapkan saat ini, dia memeluk dan menepuk lembut bahu Vania untuk mencoba menenangkan nya.
****
Sandra menatap bayinya yang kini terbaring di sebuah box bayi kaca yang ada di samping ranjangnya.
Rasanya masih tidak percaya dia bisa melahirkan bayi secantik ini.
"Wajahnya mirip sekali dengan Nando, benar kata Dokter dulu, anak perempuan mewarisi wajah Papanya!" ucap Sandra sambil memandang Kia, bayinya itu dengan tak berkedip.
"Iya kau benar San, dia sangat mirip dengan Nando, untung saja Papanya sempat melihat saat kelahirannya!" tambah Mirna.
"Nando, kalau Tante bertemu dengannya, Tante mau tonjok dia sepuasnya! Enak saja sudah membuat keponakanku menderita!" geram Tante Tatik.
"Nando tidak salah Tante, takdir yang tidak berpihak pada kami, tapi aku yakin, semuanya akan indah pada waktunya, Kia akan menjadi anak yang cantik, pintar dan terhormat, tidak seperti Mamanya ..." Sandra menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Sudahlah Sandra, seharusnya hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk kita, kita akan rawat anak ini bersama-sama!" ucap Tante Tatik.
"Iya San, kau jangan cemas, kau tidak sendirian!" tambah Mirna.
****
Pagi itu, setelah sarapan, Nando telah bersiap pergi ke rumah Orangtuanya, hari ini hari Sabtu, Nando libur tidak ke kantor.
"Nando kau mau kemana?" tanya Vania.
"Aku mau ke rumah Papa dan Ibu!" sahut Nando singkat.
"Kau pergi sendirian?" tanya Vania lagi.
"Iya Van, aku pergi bersama Roy!" jawab Nando.
"Nando, kenapa kau tidak mengajakku? Aku juga ingin pergi ke rumah Papa dan Ibu, aku kangen sama mereka!" ujar Vania.
"Lain waktu saja Van, aku saat ini hanya ingin pergi sendiri, lagi pula kan ada Mama di sini, aku tidak akan lama kok!" sergah Nando.
"Tidak! Pokoknya aku mau ikut!" sahut Vania.
"Vania, selama ini aku selalu bersamamu, kemanapun dan di manapun, sekarang aku hanya ingin ke rumah orang tuaku, masakan kau mau ikut juga? Tolong mengertilah Vania!" pinta Nando.
"Nando! Ajak Vania bersamamu, dia itu istrimu!! Kau harus ingat itu!" seru Tante Rina yang tiba-tiba muncul dari kamarnya.
"Tapi Ma, aku hanya sebentar ke sana, aku hanya ingin mengobrol dengan Ibuku!" tukas Sandra.
"Pokoknya Kau harus mengajak Vania! Atau kau jangan pergi kemanapun!" cetus Tante Rina.
"Maafkan aku Ma, selama ini aku selalu menuruti keinginan Mama, saat ini aku hanya ingin mengobrol pribadi dengan ibuku, bukan ke tempat lain, maafkan aku!" Nando segera beranjak meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
"Tunggu Nando!!" teriak Tante Rina.
"Stop Mama!! Biarkan Nando pergi! Percuma kita tetap menahannya di sini, Toh hatinya sudah tidak ada di sini lagi!' ucap Vania.
Bersambung ...
****
__ADS_1