Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Ayam Bakar


__ADS_3

Sementara menunggu rumahnya yang di renovasi, untuk menghilangkan jejak masa lalu, Nando mengajak Sandra dan Kia tinggal di apartemen lama milik Nando.


Apartemen itu cukup mewah, namun jarang di tempati, itu adalah apartemen pertama Nando saat pindah dari Malaysia.


Semua isi di apartemen itu sudah lengkap, jadi mereka tidak perlu repot membeli perabot, semuanya sudah tersedia, dan hanya tinggal menempatinya saja.


"Bagaimana? Apa kau senang sementara kita tinggal di sini?" tanya Nando saat mereka mulai masuk ke dalam apartemen itu.


"Wah, apartemennya bagus, aku tidak menyangka kau punya apartemen sebagus ini, kenapa kita tidak terus tinggal di sini saja Do?" tanya Sandra balik.


"Sayang, apartemen ini terlalu sempit untuk anak-anak kita nanti, walaupun mewah tapi kan kamarnya hanya dua, kita butuh pekarangan dan halaman yang luas, taman yang indah dan suasana yang asri!" jawab Nando.


"Hmm, anak-anak, memangnya Nando mau punya anak berapa? Kok kesannya banyak gitu lho!" tanya Sandra.


"Yang pasti lebih dari satu lah, masa Kia tidak ada temannya, aku janji, kalau kau hamil lagi nanti, aku akan terus mendampingimu, tidak seperti saat kau hamil Kia ... maafkan aku ya San!" ucap Nando.


"Sudahlah Do, jangan pernah menyesali masa lalu, kalau tidak ada masa lalu mungkin tidak akan ada masa kini, aku juga sedih kalau ingat Vania, hmm ... bagaimana ya kabarnya sekarang!" gumam Sandra.


"Tuh, Vania lagi Vania lagi, katanya jangan ingat masa lalu ..." cebik Nando.


"Yah tapi jangan di lupakan juga, walau bagaimana, Vania itu kan sahabatku Do, kesusahannya adalah kesusahan ku, kesedihannya juga kesedihanku, kalau bukan karena Vania, dulu aku tidak ada tempat untuk bernaung!" kenanga Sandra.


Tiba-tiba Kia menangis, dengan cepat Sandra langsung menyusuinya, seperti biasa, Nando akan terus menempel pada Sandra saat Sandra sedang menyusui, selalu meminta bagiannya.


"Nando, dari pada di sini liatin orang lagi menyusu, lebih baik kau keluar beli makanan, aku lapar!" ujar Sandra.


"Oh, Mamanya Kia lapar? Kau mau makan apa sayang?" tanya Nando.


"Aku sedang ingin makan ayam bakar Kalasan yang ada di dekat rumah lamamu itu Do, waktu itu Vania pernah membelikan aku ayam bakar itu, rasanya enak dan aku suka!" jawab Sandra.


"Ayam bakar Kalasan yang besar itu ya, yang ada di pinggir jalan raya dan selalu ramai?" tanya Nando meyakinkan.


"Iya betul, yang itu Do, belikan ya, aku lagi pengen banget nih!" rajuk Sandra.


"Baiklah Nyonya Nando, pesanan akan segera tiba, tapi itu tempatnya agak jauh lho, nanti bagaimana kalau kau menunggu lama?" tanya Nando lagi.


"Tidak apa-apa menunggu lama, sekalian aku juga mau menidurkan Kia, aku juga mau istirahat dulu, cepek!" jawab Sandra.


"Oke sayang, kalau kau mau cemilan, di lemari dapur banyak biskuit ya, di kulkas juga banyak minuman dingin, pokoknya terserah deh, yang penting istriku enjoy di sini!" sahut Nando.

__ADS_1


"Iya, ya sudah berangkat sana!" ujar Sandra yang mendorong lembut bahu Nando yang menempel padanya itu.


"Hmm, cium dulu dong!" Nando menunjuk pipinya.


Sandra lalu mencium pipi dan Bibir Nando sekalian, membuat mata Nando berbinar cerah.


"Gitu dong, tau apa keinginan suaminya!" sahut Nando sambil mencubit lembut dagu Sandra.


Kemudian Nando langsung keluar dari apartemen nya dan segera melajukan mobilnya menuju tempat yang di tuju.


Sekitar 20 menit, Nando sudah sampai di lokasi, dia lalu memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang ada di depan kedai ayam bakar itu.


Kedai itu terlihat begitu ramai, banyak yang mengantri membeli ayam bakar, Nando lalu mulai memesan Ayam bakar dua ekor untuk Sandra dan juga dirinya.


"Wah, lagi banyak orang di rumah ya Mas, belinya dua ekor!" kata sang penjual.


"Ah tidak juga, hanya ada istriku dan bayiku!" sahut Nando.


"Wah, istrinya pasti lebih dari satu ya Mas, pesannya banyak juga!" ujar si penjual.


"Enak saja, istriku satu tau!" cetus Nando kesal.


Nando tak lagi menanggapi si penjual yang terlalu ramah itu, dia hanya diam saja sambil menunggu pesanannya selesai.


Sekitar 15 menitan menunggu antrian, akhirnya pesanan ayam bakarnya selesai juga.


Nando dengan cepat kembali ke dalam mobil, namun jalanan tiba-tiba menjadi macet parah, Nando akhirnya keluar lagi dari dalam mobil ya dan menghampiri salah satu tukang parkir yang berdiri di situ.


"Ini kok tiba-tiba macet begini sih Mas? Ada apa sih?" tanya Nando.


"Ada kecelakaan di jalan tuh, seorang wanita pingsan tiba-tiba di pinggir jalan, eh malah keserempet mobil!" jelas si tukang parkir.


Nando mendekati kerumunan yang tidak jauh dari kedai itu.


Memang benar ada wanita ya g tergeletak di jalan itu, orang-orang bukannya membantu tapi malah menonton saja, Nando menyeruak dalam kerumunan itu.


Matanya membulat saat melihat siapa wanita itu.


"Vania??" pekik Nando kaget.

__ADS_1


Dengan cepat Nando mengangkat Vania dalam gendongannya dan langsung memasukannya ke dalam mobil, lalu dia bergegas menuju ke rumah sakit terdekat.


"Vania, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau ada di jalanan sendirian? Di mana Adi?" gumam Nando cemas.


Nando harus bersabar karena jalanan begitu macet.


"Orang-orang itu, sudah tidak punya lagi rasa empati, melihat orang lain kesusahan, mereka hanya bisa menonton tanpa berbuat apapun! Miris!" dengus Nando.


Tiba-tiba Vania sadar dari pingsannya, dia heran dan bingung berada dalam mobil Nando.


"Van? Kau sudah sadar? Apa yang terjadi padamu Van?" tanya Nando.


"Nando? Kenapa aku ada di sini?" tanya Vania bingung.


"Tadi kau pingsan di jalan, di depan kedai ayam bakar itu, saat kau pingsan ada mobil yang menyerempet, tuh kakimu berdarah, aku mau bawa kamu ke klinik!" jawab Nando.


"Do, kau tidak perlu mengantarku ke klinik, aku tidak apa-apa, cuma tadi kepalaku agak pusing, antarkan saja kau pulang ke rumah!" pinta Vania.


"Tapi Van!"


"Biar lukaku di obati si Mumun saja, antar aku pulang ke rumah Do, ke rumah lamaku, sungguh, aku tidak apa-apa!" ujar Vania meyakinkan.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang ke rumah!" sahut Nando yang langsung memutar arah mobilnya menuju ke rumah Vania.


"Apa perlu aku hubungi Adi?" tanya Nando.


"Tidak usah Do, Trimakasih!" sahut Vania.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah Vania, Vania langsung turun dari dalam mobilnya saat berhenti di depan rumahnya.


"Terimakasih Nando!" ucap Vania.


"Iya Van, kalau kau ada masalah, jangan sungkan menghubungiku atau Sandra!' sahut Nando.


Vania hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya, saat mobil Nando sudah kembali meninggalkan dirinya di depan rumahnya.


Vania meringis menahan sakit di perutnya.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2