
Nando selalu tidak tahan melihat atau mendengar wanita menangis. Saat ini dia baru saja mendengar Vania menangis di sebrang teleponnya.
Vania tidak berkata apapun, hanya terdengar suara isakan tangisnya yang nampak begitu sedih.
"Vania, maaf kan aku, tapi ku mohon kau jangan menangis lagi!" ucap Nando.
"Nando, pulanglah, aku sangat membutuhkanmu!" Isak Vania.
"Iya, aku akan pulang, tapi ... boleh ya aku membawa serta anakku dan Mamanya?" tanya Nando.
Kembali terdengar suara Vania menangis.
Terserah kau saja Nando, yang penting kau pulang!" jawab Vania.
Tak lama kemudian terdengar telepon di matikan dari seberang. Nando menghela nafas panjang.
Sementara Sandra nampak tertidur di sofa itu sambil memangku Kia yang juga tertidur.
Nando memandang Ibu dan anak itu, dia membayangkan betapa bahagianya jika dua wanita di hadapannya adalah istri dan anaknya dalam suatu keluarga kecil, pasti sangat bahagia sekali.
Tapi sayang mereka terpisahkan oleh karena sebuah status dan takdir.
Perlahan Nando mengambil Kia dari gendongan Sandra, lalu memindahkan bayi mungilnya itu ke box bayinya.
Sementara Sandra dia angkat dalam gendongannya dan di pindahkan ke kamarnya lalu menyelimutinya.
Kemudian Nando kembali ke ruang tamu dan berbaring di sofa itu sambil mulai memejamkan matanya.
Ketika pagi menjelang, Sandra terkejut melihat Nando yang masih tertidur di sofa ruang tamu itu, wajahnya kelihatan lelah.
Sandra lalu mengambil selimut dan menyelimuti Nando karena udara semakin dingin pagi itu.
"Perasaan malam tadi aku yang tidur di sofa, kenapa jadi dia yang tidur, kapan aku pindah ke kamar ya?" gumam Sandra.
Tiba-tiba Tante Tatik datang sambil menggendong Kia.
"San, bayimu haus, kau susui dulu, Tante mau buat sarapan dulu untuk kalian!" ujar Tante Tatik.
"Iya Tante, tadi malam Kia tidur nyenyak sekali, padahal sebelumnya pasti aku begadang karena Kia bangun!" ujar Sandra heran.
"Yah kan ada Papanya, Kia jadi lebih anteng!" sahut Tante Tatik.
"Mungkin juga ya Tante, tapi kalau Papanya pulang ke Jakarta, masa Kia akan rewel lagi!" gumam Sandra sambil mulai menyusui Kia.
Sementara Tante Tatik langsung berjalan menuju ke dapur menyiapkan sarapan pagi.
__ADS_1
Mirna terlihat habis mandi, hari ini hari libur nasional, jadi Tante Tatik dan Mirna juga libur ke pabrik.
"San, itu Nando masih tidur ya, memangnya dia tidur jam berapa?" tanya Mirna sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Entahlah Mir, aku ketiduran semalam di sofa, karena Nando menerima telepon dari Vania, tapi paginya aku sudah di kamar!" sahut Sandra.
"Itu pasti Nando yang menggendongmu!" cetus Mirna.
"Masa sih? Kok aku tidak merasa?" tukas Sandra.
"Ya tidak merasa lah, kan kamu tidur!' sahut Mirna.
Sandra nampak berpikir.
"Sudah tidak usah di ingat-ingat, aku tau dalam hatimu pasti kau senang kan, ada Papanya Kia di sini! Ayo ngaku!" goda Mirna.
"Siapa bilang?? Dasar sok tau!" cetus Sandra.
Mirna tertawa geli sambil masuk ke dalam kamarnya. Sementara Sandra hanya senyum-senyum sendiri.
Mungkin benar apa yang di katakan Mirna, ada rasa bahagia saat Papanya Kia ada di dekatnya, Sandra merasa aman dan nyaman.
Namun sekali lagi Sandra menepiskan pikirannya itu, walau bagaimana Papanya Kia adalah suami orang, bukan miliknya, tapi milik orang lain, wajah Sandra kembali mendung.
Selesai menyusui Kia, Sandra kembali meletakan Kia di box bayinya, dia hendak menyiapkan air hangat untuk mandi Kia, juga Papanya Kia.
"Nando? Kau sudah bangun?" tanya Sandra.
"Iya San, tadi aku dengar Kia menangis, langsung saja aku ambil dia dari box bayinya, tuh lihat, sekarang dia anteng!" jawab Nando.
"Ya sudah, sekarang kemarikan Kia, aku mau memandikannya dengan air hangat, aku sudah siapkan di bak mandinya!" ujar Sandra.
"Papanya di buatkan tidak??" tanya Nando.
"Papanya mandi saja dengan air dingin!" cetus Sandra.
"Hmm, curang! Hanya ingat anaknya, Papanya di lupakan!" sungut Nando.
"Aku bercanda Nando, air hangat untukmu sudah aku siapkan di kamar mandi yang di sana, silahkan kau mandi, sementara aku memandikan Kia!" ucap Sandra sambil tersenyum.
"Terimakasih San, Mama Kia ternyata perhatian sama Papa tuh, Kia mandi dulu ya sama Mama!" Nando mengecup kening Kia sebelum menyerahkan pada Sandra.
Nando lalu bergegas mengambil handuk dan pakaiannya dari dalam tasnya, kemudian dia segera mandi dengan air hangat yang sudah di siapkan Sandra.
****
__ADS_1
Hidangan sudah siap tersaji di meja makan, mereka bersiapnakan sarapan bersama pagi itu, Kia sudah nampak segar dan wangi khas bayi.
Sejak tadi Kia selalu ada dalam gendongan Nando, kecuali jika Kia haus ingin menyusu, baru Nando akan menyerahkannya pada Sandra.
"Ternyata Nando itu Papa yang baik, bahagia sekali yang jadi anak nya!" ujar Tante Tatik.
Sandra hanya tersenyum kecut mendengarnya.
"Tapi jadi kebiasaan Tante, lihat saja nanti, kalau Papanya sudah pulang ke Jakarta, pasti dia akan rewel karena sudah tidak ada yang memanjakannya lagi!" cetus Sandra.
"Nando, Roy belum datang kesini? Kok aku telepon di ponselnya tidak aktif??" tanya Mirna.
"Dia itu kalau tidur, walau ada petasan di telinganya tetap tidak akan bangun!" sahut Nando.
"Tapi ini sudah siang lho, sudah jam delapan!" ujar Mirna.
"Ya sudah kita sarapan saja duluan, nanti biar Roy menyusul sarapan!" kata Tante Tatik.
"Ya aku setuju, lagi pula aku juga sudah lapar, biasanya Roy selalu makan di luar, karena aku memberinya uang makan setiap hari!" ujar Nando.
Mereka kemudian mulai sarapan bersama, hanya Mirna yang terlihat sedikit murung.
"San, kita jalan-jalan yuk ke taman atau ke mana kek, ajak Kia!" kata Nando.
"Jangan Nando, Kia belum berumur satu bulan, masa sudah di ajak jalan-jalan!" sergah Sandra.
"Mamanya Kia saja yang di ajak jalan-jalan, biar Kia di sini sama Omanya!" cetus Tante Tatik.
"Kalau itu aku juga setuju, bagaimana San?" tanya Nando yang langsung menoleh ke arah Sandra.
Sandra belum menjawab tiba-tiba ponsel Nando berbunyi. Nando lalu mengusap layar ponselnya itu, ada panggilan masuk dari telepon rumahnya.
"Halo!"
"Halo Tuan, Ini Mbok Karsih, Tuan Muda kapan pulang? Nyonya muda Vania pagi tadi oleh Pak Tejo di bawa ke rumah sakit Tuan!" kata Mbok Karsih.
"Memangnya kenapa? Apa yang terjadi Mbok?" tanya Nando.
"Subuh tadi Nyonya kembali drop, tubuhnya lemah dan dia tak sadarkan diri, sekarang ada di UGD!" jelas Mbok Karsih.
Nando terhenyak tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Bersambung ...
****
__ADS_1
Yuk dukung Author yuk ...