Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Ucapan Seorang Papa


__ADS_3

Matahari sudah mulai tenggelam saat Mirna dan Tante Tatik membawa Sandra ke rumah sakit.


Sekitar 40 menit mereka sudah sampai di rumah sakit, Sandra lalu segera di larikan ke ruang bersalin di rumah sakit itu.


"Air ketubannya sudah pecah, bayinya harus di lahirkan Hari ini juga!" ujar seorang dokter kandungan.


"Lakukan yang terbaik untuk Sandra Dok, ini masa terberatnya!" ucap Tante Tatik.


"Baik, kami akan menginduksi bayi ini, supaya ada rangsangan untuk segera berkontraksi, namun jikalau tidak ada kemajuan yang berarti, kami terpaksa harus melakukan operasi Caesar!" jelas Dokter.


"Lakukan apapun asalkan Ibu dan Bayinya selamat!" ujar Mirna.


Dua orang perawat mulai membantu memasangkan infus dan induksi terhadap Sandra.


Sementara air ketuban Sandra masih terus mengalir namun belum ada tanda-tanda kontraksi.


"San, apakah kau sudah merasa mules?" tanya Tante Tatik.


"Iya Tante, setelah di lakukan induksi, perutku jadi mulas!" jawab Sandra.


"Sandra kau yang kuat ya, kau pasti bisa melahirkan bayimu, kau jangan memikirkan apapun, ada aku dan Tante Tatik di sini!" ucap Mirna sambil menggenggam tangan Sandra.


Seorang perawat kemudian masuk ke dalam ruangan itu.


"Maaf, hanya boleh satu orang yang menunggui pasien!" kata sang suster.


"Mirna, tolong kau temani Sandra, Tante mau pulang ke rumah dulu sebentar, dompet Tante ketinggalan, sekalian Tante mau cari makanan untuk kalian!" ujar Tante Tatik.


"Iya Tante!" sahut Mirna.


Tante Tatik kemudian segera keluar dari ruangan itu.


Semakin lama rasa mulas di perut Sandra mulai terasa, semakin cepat dan konstan. Sandra mulai meringis menahan rasa sakit di perutnya itu.


"Sakit Mir, sakit sekali!" keluh Sandra pada Mirna.


"Sabar San, sebentar lagi kau akan melahirkan bayimu, kau yang kuat ya!" ujar Mirna sambil memegangi tangan Sandra.


"Memangnya suaminya kemana sih Mbak?? Istri mau melahirkan kok tidak di dampingi!" tanya Seorang Suster.


"Suaminya jauh Sus! Ada tugas penting!" bohong Mirna.


"Aneh, biasanya kan suami akan melakukan apa saja untuk menemani istrinya yang sedang berjuang, kenapa lebih mementingkan tugas?" gumam Suster itu.


Tiba-tiba Sandra teringat akan Nando, saat ini Nando tidak tau dia sedang berjuang melahirkan bayinya, mengingat Nando membuat Sandra kembali menangis, sakit di perutnya di tambah juga dengan rasa rindu di hatinya.


"Sudahlah San, kau tidak usah pikirkan perkataan suster itu, dia tidak tau apa-apa!" ujar Mirna menenangkan.


Sandra meringis menahan sakit sambil terus menangis, jujur saja dalam hatinya dia sangat merindukan dan memimpikan Nando ada di sisinya saat ini, namun semua itu hanya angan belaka.


Mirna juga tau dan ikut merasakan apa yang Sandra rasakan, pasti sangat berat bagi seorang wanita yang melahirkan bayi tanpa dampingan dari sang Ayah bayi itu, Mirna pun ikut menangis.

__ADS_1


Dokter datang kembali ke ruangan itu, dia hendak memeriksa kondisi Sandra, mengecek pembukaan rahim Sandra juga detak jantung sang bayi.


"Wah, masih pembukaan empat, sementara air ketuban semakin menipis!" gumam sang Dokter.


"Jadi bagaimana Dok?!" tanya Mirna.


"Berikan motivasi dan semangat buat Bu Sandra, hanya itu yang dia butuhkan saat ini!" ucap sang Dokter.


Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, Sandra masih merintih kesakitan di ranjang itu.


Mirna tidak tahan melihat keadaan Sandra yang berjuang menahan sakit tanpa sentuhan dari orang yang dicintainya, diam-diam dia beringsut keluar dari ruangan itu.


Mirna mulai mengeluarkan ponselnya, kemudian dia mulai memencet nomor Roy.


"Maafkan aku Sandra, aku terpaksa melakukan ini!" gumam Mirna.


Tak lama kemudian teleponpun di angkat oleh Roy.


"Halo Neng Mirna, sudah kangen ya sama aku, tumben telepon duluan?" tanya Roy dari sebrang.


"Roy, maaf, aku ingin bicara dengan Nando, bisakah kau sampaikan?" tanya Mirna balik.


"Apa?? Kenapa tiba-tiba kau ingin bicara dengan Tuan Nando?" tanya Roy.


"Ada hal yang penting yang ingin aku sampaikan, saat ini Sandra sedang melahirkan, dia hampir putus asa, saat ini hanya Nando yang bisa menenangkannya, tolonglah Roy!" pinta Mirna.


"Tuan Nando sudah beristirahat di kamarnya, biasanya jam segini dia sudah tidur!" tukas Roy.


"Okelah demi Neng Mirna, aku coba ya!" sahut Roy.


Sementara di dalam kamarnya, Nando belum dapat memejamkan matanya, entah mengapa rasa kantuk seolah hilang dari dirinya.


"Kau belum tidur Nando? Ada apa dengan mu? Kau kelihatan gelisah malam ini?" tanya Vania yang juga belum memejamkan matanya.


"Tidak apa-apa, kau tidurlah Van, sudah minum obat kan buat malam ini?" jawab Nando.


"Sudah Nando, tapi boleh ya aku tidur sambil memeluk Nando, mana tau aku akan cepat tidur!" ucap Vania.


Nando menganggukan kepalanya, Vania langsung beringsut mendekati Nando, lalu mulai memeluk Nando dan memejamkan matanya.


Tok ... Tok ... Tok


Terdengar ketukan pintu di kamar Nando.


"Siapa sih malam-malam mengganggu saja!" sungut Vania.


"Kau tunggu sebentar Van, mana tau ada yang penting!" Nando kemudian mengurai pelukan Vania, kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Roy sudah berdiri di depan pintu.


"Ada apa Roy?? Kau tau ini sudah jam berapa??" tanya Nando setengah berbisik.

__ADS_1


"Sssst, ini penting Tuan, bisakah ikut saya sebentar? Ayo!" dengan cepat Roy segera menarik tangan Nando menuju ke bawah ke taman samping.


"Ada apa??" tanya Nando tak sabar.


"Kata Mirna, malam ini Sandra hendak melahirkan, dia sangat kesakitan, sambil menangis katanya, barangkali Tuan bisa meringankan rasa sakit Sandra!" jawab Roy.


"Berikan ponselnya padaku Roy!!" Nando langsung mengambil ponsel yang di pegang Roy sedari tadi.


Sementara itu Sandra terlihat makin lemah, tenaganya sudah habis dan kini dia menggunakan selang oksigen untuk membantu pernafasannya.


"Siapkan untuk operasi Suster! Ini kondisi darurat!" titah Dokter.


"Baik Dok!" Suster lalu segera beranjak dari tempat itu.


Mirna kemudian masuk ke ruangan, terkesiap melihat Sandra yang semakin lemah, sementara waktu sudah menunjukan jam 2 dinihari.


"Pembukaannya lambat, dengan terpaksa dia harus di operasi!" ujar dokter.


Mirna lalu mendekati Sandra.


"San bertahanlah, bertahanlah demi anakmu San!" bisik Mirna.


Dia kemudian menyodorkan ponselnya itu dengan pengeras suara ke arah Sandra, dengan video call.


Sandra membuka matanya saat di lihatnya Nando tersenyum padanya di ponsel itu.


"Sandra, kau wanita hebat dan kuat yang aku kenal, aku akan menemanimu San, berjuanglah, lahirkan lah bayi kita, kau pasti bisa San!" ucap Nando.


"Nando ... Nando ... perutku sakit sekali, sakiit ...!" lirih Sandra.


"Curahkanlah apa yang mau kau curahkan padaku San, ayo! Kau boleh teriak, panggil namaku sekerasnya, jangan kau simpan dalam hatimu, aku sangat sangat mencintaimu ... sangat mencintaimu, mencintaimu dan anak kita ... selamanya!' ucap Nando sambil berurai air mata.


"Nando, aku juga sangat mencintaimu ...sangat ... Aaakh!"


"Dokter! Kepala bayi nya sudah keluar!!" seru seorang perawat yang memegangi Sandra.


"Wah, sepertinya dia akan lahir! Ayo Bu Sandra, tarik nafas yang dalam! Setelah itu hembuskan yang kuat!!" pandu Dokter.


"Ayo Sandra sayang, kau pasti bisa, kau wanita hebat dan kuat! Ibu dari anakku!!" ucap Nando.


Mirna terus memegangi ponselnya itu di hadapan Sandra.


"Ayo Bu Sandra sedikit lagi!!" seru Sang Dokter.


Sandra menarik nafas panjang, kemudian dengan sisa-sisa tenaganya dia mengejan kuat.


"Oweeek!! Oweeekk!!"


Seorang bayi mungil kemudian keluar dari rahim Sandra.


****

__ADS_1


__ADS_2