
Nando hanya tertegun mendengar telepon dari Tante Rina. Dia jadi bingung dan gundah gulana.
"Ada apa Nando?" tanya Sandra.
"Kata Mama Rina, Vania sejak pagi pergi ke mall dan belum kembali ke rumah sampai sekarang!" jawab Nando.
"Ya Tuhan, kemana Vania ya? Kasihan sekali, bukankah dia dalam keadaan tidak sehat?" tanya Sandra lagi.
"Pak Tejo sudah mencari kemanapun di setiap sudut mall, tapi belum menemukan Vania!" lanjut Nando.
"Do, tunggu apa lagi?? cepatlah kau pulang dan cari Vania!" cetus Sandra.
"Tapi San ..."
"Sudah sana! Aku tidak mau Nando ku punya sifat jahat karena tidak perduli, perlakukan Vania seperti istrimu Nando, sama seperti kau memperlakukan aku!" ucap Sandra sambil menangkup wajah Nando di kedua telapak tangannya.
Mau tidak mau Nando menganggukan kepalanya.
Kemudian Nando segera bersiap diri untuk kembali pulang ke rumahnya.
"Kia mana? Aku ingin pamit dulu sama Kia!" tanya Nando.
"Kia sedang jalan-jalan sama Mbok Narti, sudah kau pergi saja Nando, nanti kan juga bisa lihat Kia!" sahut Sandra.
Dengan langkah gontai Nando berjalan keluar dari rumah itu.
"Kita pulang Roy!" ajak Nando saat melihat Roy sedang bersiul sambil mencuci mobil.
"Lho, tumben ingat pulang, kirain Tuan nginep, padahal saya sudah janjian nanti malam mau main catur sama Pak Jono!" sahut Roy.
"Kita pulang Roy!" titah Nando sekali lagi.
"Iya iya! Dasar Tuan ini tidak sabaran sekali!" sungut Roy sambil mulai masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.
Mereka kemudian mulai meninggalkan rumah besar itu.
"Aku capek Roy, harus bolak balik ke sana sini, nanti ke sini nanti ke sana!" keluh Nando.
"Tapi enak kan Tuan, bisa bermain dengan dua perahu, puas di sini puas di sana!' goda Roy terkekeh.
"Kau pikir aku suka melakukannya, kalau bukan karena terpaksa dan kewajiban!" sahut Nando.
"Halah Tuan ini, kucing di kasih ikan gratis mana ada yang menolak?? Dan ikan itu sudah siap di santap kapanpun!" ujar Roy.
"Tapi aku bukan ikan Roy!" sahut Nando kesal.
"Tuan ini kaku sekali, saya juga tau kalau Tuan bukan ikan, itu kan hanya perumpamaan!" sungut Roy.
__ADS_1
Nando tidak lagi menanggapi celotehan Roy, dia kini sedang merasa bingung atas dua orang istri yang sama-sama membutuhkannya.
Tak lama kemudian Nando sudah sampai di rumah nya itu, Tante Rina nampak duduk di ruang tamu sambil menangis.
"Ma, Vania belum kembali?" tanya Nando.
"Ya belum lah, kalau sudah kembali ya kali Mama masih menangis di sini! Sana kau cepat cari Vania! Ini sudah mau magrib tau!" sahut Tante Rina.
Akhirnya Nando kembali lagi keluar dari rumah itu.
"Kita jalan lagi Roy! Cari Vania!" ujar Nando yang kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Lah, baru juga sampe Tuan, minum saja saya belum!" sahut Roy.
"Nanti saja kita minum di jalan, sekarang ayo naik dan jalankan mobilnya!" titah Nando.
"Oke oke lah!" sahut Roy sambil bergegas masuk ke dalam mobil itu.
Kemudian mobil itu kembali melaju meninggalkan rumah besar Nando.
"Kita mau cari kemana Tuan? Jakarta itu kan luas sekali!" tanya Roy.
"Aku juga tidak tau mau cari dia kemana, kata Pak Tejo tadi pagi dia ke mall, tapi sudah tidak ada lagi di mall!" sahut Nando.
"Mungkin di mall yang lain Tuan!" ujar Roy.
"Kalau begitu, kita lapor polisi saja Tuan, atau posting di medsos!" saran Roy.
"Kita belum bisa lapor polisi karena belum 24 jam, kalau posting di medsos, pasti nanti banyak yang menghujat, di kiranya aku tidak becus menjaga istri!" sahut Nando.
"Lho, memang betul kan kenyataannya!" cetus Roy.
"Tutup mulutmu Roy! Selama ini apa pernah aku berlaku kasar pada Vania?? Tidak pernah Roy! Mencubit saja aku tidak pernah!" sahut Nando.
"Yah, menyakiti itu kan bukan hanya secara fisik, dari perkataan juga bisa menyakiti lho!" ucap Roy bijak.
"Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitinya, aku hanya berusaha jujur dengan kenyataan tanpa ada yang harus di tutupi!" ujar Nando.
"Kayak saya Tuan, saya bilang sama neng Mirna kalau lamaran saya di tunda dulu, karena uangnya belum cukup untuk bikin seserahan niat dia, di tambah biaya pernikahan nanti, eh dia ngambek!" ungkap Roy.
"Itu mah salahmu sendiri! Orang kalau serius itu, tanpa ada seserahan, atau pesta atau cincin, pasti akan tetap berjalan! Emang enak di ambekin!" ledek Nando.
"Eh Tuan, bisa saja meledek saya, Tuan sendiri di tinggal kabur!" balas Roy.
"Itu mah lain ceritanya Roy! Sudah, kita fokus saja mencari Vania, kira-kira dia ada di mana ya, Jakarta begitu luas!" ucap Nando.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt
__ADS_1
Ponsel Nando bergetar, Nando langsung mengambil ponselnya dan mengusap layar ponselnya itu, karena Vania yang meneleponnya.
"Halo! Vania? Kau di mana?" tanya Nando.
"Nando, aku ada di Ancol, bisakah kau menjemputku sekarang?" tanya Vania.
"Ancol? Ngapain kau ada di sana Van? Oke, kau tunggu sebentar ya, aku langsung otw ke sana!" sahut Nando kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Roy! Kita putar arah! Vania ada di Ancol!" ujar Nando.
"Di Ancol? Ngapain dia si Ancol, sama siapa?!" tanya Roy bingung.
"Aku juga tidak tau! Pokoknya kita ke Ancol sekarang!" cetus Nando.
Mereka kemudian mulai menuju ke Ancol.
Sekitar 40 menitan perjalanan, mereka akhirnya sampai di Ancol.
Nando membuka pesan singkat dari Vania, Vania sedang berada di sebuah restoran di tepi laut di Ancol.
Mereka lalu menyusulnya ke sana.
Vania nampak berdiri di depan sebuah restoran dengan seseorang, sepertinya mereka habis makan di restoran itu.
Setelah mobilnya terparkir, Nando turun dan segera menghampiri Vania.
"Vania, ayo kita pulang, Mama terus menangis mencarimu!' ujar Nando tanpa menanyakan siapa orang yang bersama Vania.
"Nando, ini kenalkan teman baruku, Adi!" kata Vania.
Adi langsung maju dan mengulurkan tangannya, Nando membalas menjabat tangan Adi.
"Aku Nando!" ujar Nando.
"Kau suaminya Vania?" tanya Adi. Nando menganggukan kepalanya.
"Hmm, suaminya Vania masih muda sekali, tadi aku hendak mengantar Vania pulang, tapi dia menolaknya, katanya biar suaminya saja yang menjemputnya!" jelas Adi.
"Terimakasih, Vania ayo kita pulang!" ajak Nando. Vania menganggukan kepalanya dan langsung menggandeng tangan Nando.
"Ayo kita pulang do, aku seharian ini sangat lelah di ajak Adi jalan-jalan!" ujar Vania.
Nando segera menggandeng tangan Vania meninggalkan tempat itu, di iringi dengan tatapan Adi.
Bersambung ...
****
__ADS_1