
Ting ... Tong ...
Terdengar suara bel dari pintu rumah Nando, Mbok Karsih langsung membukakan pintunya.
"Eh, ada Tuan besar dan Nyonya besar! Silahkan masuk Tuan, Nyonya!" seru Mbok Karsih.
Nando sangat senang Papa dan Ibunya berkunjung ke rumahnya.
"Bagaimana Nando? Kau senang kan tinggal di rumah ini?" tanya Ricky.
Mereka kemudian duduk di ruang tamu itu.
"Senang Pa, sekali lagi terimakasih untuk segala perhatian dan pemberian Papa dan Ibu!" ucap Nando.
Vania terlihat berjalan menuruni tangga, wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Halo Vania ... sini duduk dekat Ibu, Ibu dengar kau sudah lulus kuliah dengan nilai terbaik ya, selamat ya ... menantu ibu memang hebat dan pintar, cantik lagi!" puji Lika.
Vania hanya tersenyum menanggapi pujian dari Ibu mertuanya itu, memang Vania baru saja menyelesaikan studinya, dan telah diwisuda beberapa waktu yang lalu.
"Kalau kalian memuji Vania, sama saja kalian menyindirku yang belum lulus-lulus!" keluh Nando.
"Nando sayang, jangan sedih dong, kan ada Vania yang selalu siap membantumu, Oya, di mana Jeng Rina? Bukankah dia tinggal bersama kalian?" tanya Lika.
"Mama pergi ke Butik Bu!" sahut Vania.
"Oala Jeng Rina ini masih saja produktif, aku jadi iri!" gumam Lika.
"Oya Nando, bekas tempat prostitusi yang terbakar itu kini jadi milik pemerintah setempat karena tidak ada sertifikat hak miliknya, Papa rencana ingin membayar lahan itu, sesuai dengan keinginanmu dulu!" ujar Ricky.
Nando terdiam dan tiba-tiba teringat pada Sandra, dulu dia memang ingin sekali membeli tempat itu untuk menyelamatkan Sandra, tapi sekarang, tempat itu sudah tak berarti lagi, dan Sandra juga sudah pergi dan menghilang entah kemana.
"Kenapa kau malah bengong??" tanya Ricky membuyarkan lamunan Nando.
"Eh, itu Pa, sepertinya aku sudah tidak lagi berminat akan lahan itu, Papa tidak perlu repot-repot mengurus nya!" sahut Nando.
"Baiklah kalau begitu, Oya Do, kapan kalian akan memberi Papa dan Ibu cucu? Kalian sudah menikah lebih dari tiga bulan!" tanya Ricky.
Nando dan Vania saling berpandangan.
__ADS_1
"Papa sabar saja dulu, Tuhan belum kasih!" sahut Nando.
"Tapi tidak ada salahnya lho, kalau kalian memeriksakan diri ke dokter kandungan, mereka biasanya punya tips untuk bisa cepat hamil!" usul Lika.
"Iya Bu!" singkat Nando.
"Vania, Ibu sangat ingin kalian segera punya momongan, supaya rumah ini lebih ramai, dan si Thomas ada temannya!" lanjut Lika.
"Suruh saja Kak Kezia hamil lagi, biar Thomas ada temannya!" cetus Nando.
"Kezia tak mungkin hamil lagi dalam waktu dekat, si Jo sangat takut kalau Kezia melahirkan lagi!" timpal Ricky.
Setelah mereka berbincang hampir setengah harian, Ricky dan Lika pamit untuk menjemput adik-adik Nando pulang sekolah.
Vania masih nampak duduk di sofa ruangan itu, setelah orang tuanya pulang, Nando ikut duduk di samping Vania.
"Nando, benar kata Ibu, mungkin sudah saatnya kita memeriksakan diri kita ke dokter, sebenarnya aku sangat ingin sekali memberikanmu seorang bayi!" ungkap Vania dengan wajah sedih.
"Kita belum lama menikah Van, wajar saja kalau kau tak langsung hamil, banyak orang di luar sana yang menikah bertahun-tahun tapi belum di karuniai anak!" hibur Nando.
"Nando, nanti malam kita ke dokter ya, aku juga sekalian mau memeriksakan diriku yang selalu tidak teratur datang bulan, kadang perutku juga sering sakit tiba-tiba!" pinta Vania.
"Terimakasih ya Do, kau suami yang baik, dan aku makin sayang padamu!" ucap Vania yang langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Nando.
****
Sementara itu, di kontrakan Sandra dan Mirna, Sandra terkejut saat melihat Mirna pulang lebih cepat dari biasanya, bahkan ini masih siang, biasanya Mirna akan pulang dari salon menjelang sore.
Wajah Mirna nampak mendung, dia langsung menghempaskan tubuhnya di kursi ruangan itu, di samping Sandra yang sedang menjahit pakaian.
"Mirna? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa wajahmu kelihatan sedih?" tanya Sandra.
"San, aku di pecat!" sahut Mirna.
"Apa? Di pecat? Tapi kenapa Mir? Apa kau melakukan kesalahan?" tanya Sandra lagi.
"Tidak, hanya saja, beberapa pelanggan salon tau kalau aku ini mantan wanita malam, jadi pemilik salon terpaksa memecat ku, takut kalau pelanggan pada kabur kalau tau aku ini mantan wanita malam!" ungkap Mirna.
"Ya Tuhan, sabar ya Mir, nanti kita cari pekerjaan halal yang lain, mungkin rejekimu bukan di salon itu lagi!" hibur Sandra.
__ADS_1
"Iya San, sementara aku harus berhemat dulu, karena aku tak lagi ada penghasilan!" ujar Mirna.
"Kau jangan khawatir Mir, hasil dari jualan pakaianku lumayan laris, mereka suka desain yang aku buat, nanti aku mau membuka toko online saja untuk menjangkau lebih banyak oangsa pasar!" kata Sandra.
"Hmm, bayimu memang sepertinya membawa rejeki buatmu San, sejak kau hamil, banyak orang yang memesan pakaian darimu!" ujar Mirna.
"Syukurlah Mir, aku juga merasa begitu, Oya, nanti malam temani aku periksa ke dokter kandungan ya, aku tak sabar ingin melihat perkembangan bayiku!" kata Sandra sambil mengusap perutnya yang kini mulai terlihat membukit.
"Iya San, kau tenang saja, aku siap menemanimu, dan ingin melihat keponakan juga!" sahut Mirna.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kontrakan mereka.
Mirna langsung membuka pintu kontrakannya itu. Bu Susi, sang pemilik kontrakan sudah berdiri di depan pintu.
"Eh, Bu Susi, ayo masuk Bu, silahkan ..." Mirna mempersilahkan Bu Susi masuk dan dia pun masuk lalu duduk di kursi ruang tamu itu.
Sandra juga ikut duduk bergabung bersama mereka.
"Ada apa nih Bu? Tumben main ke sini, sepertinya kami sudah membayar uang kontrakan kan Bu?" tanya Mirna.
"Sbelumnya saya minta maaf ya Mbak Mirna dan Mbak Sandra, mungkin besok kalian sudah harus mengosongkan kontrakan saya ini, dan uang bulan ini akan saya kembalikan seratus persen!" jawab Bu Susi sambil menyodorkan sebuah amplop ke arah Mirna dan Sandra.
Sandra dan Mirna terlihat terkejut.
"Tapi kenapa Bu? Kami kan selalu membayar uang kontrakan tepat waktu?" tanya Sandra.
"Maaf, saya di tegur beberapa warga, katanya kalian ini bekas wanita malam, dan Mbak Sandra kan sedang hamil, tapi tidak ada suaminya, jadi warga pada protes, takut wilayah ini kena sial katanya, sekali lagi saya minta maaf ya Mbak!" ungkap Bu Susi.
Sandra dan Mirna saling berpandangan.
"Jadi, mereka berpikir kalau kami ini bukan wanita baik-baik?" tanya Mirna.
"Betul Mbak Mirna, apalagi Mbak Sandra kan ketahuan hamil di luar nikah, jadi saya mohon, mulai besok carilah tempat lain!" jawab Bu Susi.
"Baik Bu, kalau warga tidak suka kehadiran kami di sini, besok kami akan pindah dari sini, kalian tenang saja!" ucap Sandra.
"Sekali lagi saya minta maaf ya, permisi!" pamit Bu Susi sambil beranjak meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
****