
Sore itu, sebelum Nando, Ricky dan Jonathan pergi ke kantor polisi untuk melaporkan hilangnya Kia, mereka berkumpul di ruang tamu rumah itu, Vania masih ada di antara mereka.
"Kalian doakan polisi bisa cepat menangkap pelaku penculikan Kia, supaya dia bisa di hukum setimpal dengan perbuatannya!" ucap Ricky.
Semua yang ada di ruangan itu menganggukan kepalanya.
"Ayo kita berangkat Pa! Tunggu apa lagi!" ajak Nando tak sabar.
"Sabar sebentar Do! Kita kan sedang berkumpul, kita bicarakan langkah apa lagi yan akan kita lakukan selain lapor polisi!" sergah Ricky.
"Masing-masing kita kan punya akun media sosial, kita bergerak gerilya saja menyebarkan foto Kia, satu negara juga akan bisa untuk melihatnya!" usul Vania.
"Usul yang Bagus, Ibu setuju Van!" timpal Lika.
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang!" ajak Ricky.
Mereka kemudian beranjak dari tempatnya dan segera keluar dari rumah itu.
"Kalau begitu, aku juga pamit pulang ya Bu, kasihan Mama sendirian!" ujar Vania.
"Lho, kau tidak menginap di sini saja Van? Nando kan nanti juga pulang ke sini!" sahut Lika.
"Tapi ..."
"Ibu benar Van, kau menginap saja sesekali di sini, Nando itu kan suamimu, suami kita!" kata Sandra lirih.
"Tapi kasihan Mama, dia sendirian di rumah!" kata Vania.
"Ajak Mamanya menginap di sini juga tidak masalah, banyak kamar tamu yang kosong!" ujar Lika.
"Iya Van, kita saling membutuhkan satu sama lain, saat ini aku juga hampa, apa arti hidupku kalau aku kehilangan Kia!" ucap Sandra yang kembali berkaca-kaca.
Vania kemudian merengkuh bahu Sandra.
"Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan San, Nando pergi lama sedikit saja aku sudah tak karuan, apalagi kamu yang kehilangan anak!" ucap Vania.
"Terimakasih Vania, makanya kau menginap saja di sini, aku butuh juga teman mengobrol!" pinta Sandra.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya San, aku mau pamit sama Mama dan membawa pakaianku dulu!" ujar vania. Sandra menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Kemudian dengan di antar Pak Tejo, Vania pulang kerumah.
Sekitar 30 menit perjalanan, Vania akhirnya sampai di rumah.
Vania nampak bingung melihat rumah besar yang nampak sepi itu.
"Ma! Mama!" panggil Vania, tidak ada jawaban dari Mamanya.
Vania kemudian bergegas menuju kamar Tante Rina, tanpa mengetuk pintu dahulu Vania langsung masuk ke dalam kamar Mamanya itu.
Tante Rina terlihat berdiri di balkon sambil menelepon seseorang.
Perlahan Vania mendekati Mamanya itu.
"Pokoknya kalau butuh apa-apa bilang sama tetanggamu itu, jangan keluar dari rumah! Biar aku yang membelikan semua perlengkapan bayi itu!" ujar Tante Rina yang Vania dengar.
Ketika Tante Rina membalikan tubuhnya, dia terkejut melihat Vania sudah berdiri di belakangnya.
Cepat-cepat Tante Rina mematikan ponselnya.
"Va-Vania? Kau sudah lama masuk kamar Mama?" tanya Tante Rina dengan wajah cemas.
Tante Rina menarik nafas panjang sambil mengelus dadanya.
"Ah syukurlah, kamu dari mana saja Van? ayo sini duduk samping Mama!" ujar Tante Rina sambil duduk di tepi ranjangnya kemudian menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Aku dari rumah Papa Ibunya Nando Ma!" jawab Vania sambil susuk di sebelah Mamanya.
"Untuk apa kau ke sana Van? Hanya menambah sakit hatimu saja melihat madu mu itu!" tanya Tante Rina.
"Ma, Sandra memang maduku, tapi dia itu juga adalah sahabatku, Mama ingatkan dulu Sandra pernah tinggal bersama kita, Sandra juga pernah membantu Mama di butik!" kenang Vania.
"Tapi akhirnya dia menusuk mu dari belakang!" cetus Tante Rina.
"Mereka sebenarnya tidak salah Aku yang terlalu mencintai Nando, seharusnya sejak awal aku mundur saja, aku kurang peka kalau selama ini Nando hanya menganggapku teman baik saja!" sahut Vania.
"Tapi kenyataannya sekarang kau ini istrinya Nando Van, harusnya kau bisa dong menjaga keutuhan rumah tanggamu, kau bisa punya anak kan lewat program bayi tabung? Nanti kita tinggal cari rahim sewaan saja!" kata Tante Rina.
"Tapi Nando tidak ingin punya anak dariku Ma, katanya, fokus saja pada kesehatanku!" ujar Vania.
__ADS_1
"Halah laki-laki ya memang begitu itu tidak mau repot! Pokoknya Mama akan membantumu sebisa Mama untuk membuat Nando kembali berpaling padamu, apalagi sekarang dia sudah kehilangan anaknya!" gumam Tante Rina.
"Mama! Kenapa Mama bilang begitu?? Nando sedang bersedih karena dia kehilangan anaknya, kenapa Mama seolah senang dengan kondisi nya itu?!" tanya Vania sambil menatap lekat pada putrinya itu.
"Bukannya begitu, barangkali itu suatu teguran buat dia, supaya dia bisa bersikap adil! Kalau hanya karena anak di jadikan alasan untuk selalu pergi darimu, kalau anak sudah tidak ada kan tidak ada alasan lagi!" ujar Tante Rina.
"Mama! Kenapa Mama jadi seperti itu? Mengapa Mama selalu negatif pada Nando dan Sandra? Aku memang sedih dan kecewa, tapi aku tidak pernah berpikiran jahat tentang mereka!" cetus Vania sambil beranjak pergi meninggalkan kamar Mamanya itu.
"Vania!!" panggil Tante Rina.
Vania menoleh ke arah Mamanya itu.
"Oya Ma, malam ini aku mau menginap di rumah Papa dan Ibu Nando!" kata Vania.
"Van! Dengar Mama Nak, untuk apa kau menginap di sana? Kau akan sakit hati sayang, kau akan cemburu melihat suamimu dalam pelukan wanita lain!" ujar Tante Rina.
"Yah, aku mungkin akan cemburu, tapi paling tidak di sana aku punya teman untuk saling berbagi, termasuk berbagi suami!" ucap Vania yang kembali melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
Tante Rina mengikutinya dari belakang.
"Vania! Kau serius mau menginap di rumah mertuamu itu?!" tanya Tante Rina.
"Iya Ma, maka nya aku pulang aku mau pamit sama Mama sekalian mengambil pakaian ganti ku!" sahut Vania yang terus berjalan menuju ke kamarnya.
"Van, kau akan meninggalkan Mama belum sendiri di rumah ini?" tanya Tante Rina.
"Kalau Mama mau, Mama ikut saja menginap bersamaku, masih banyak kamar kosong di rumah Ibu Lika!" jawab Vania yang sekarang sedang memasukan beberapa pakaian gantinya ke dalam sebuah tas.
"Nanti kalau Nando tidur dengan si Sandra, kau mau jadi apa Van?? Jadi sapi ompong??!" sengit Tante Rina.
Vania membalikan tubuhnya ke arah Mamanya itu.
"Nando tidak mungkin seperti itu, walaupun dia tidak mencintaiku tapi dia menghormati aku dan sangat menghargai perasaanku!" ungkap Vania.
"Apa kau yakin?? Selama ini Mama selalu melihatmu menangis karena Nando, apalagi nanti di depan matamu Nando akan bermesraan dengan madu mu??" tanya Tante Rina.
"Mudah-mudahan aku ikhlas Ma!" ucap Vania yang kembali memasukan beberapa bajunya ke dalam tas, kemudian dia mengunci tas itu dan membawanya keluar dari kamarnya.
Bersambung ...
__ADS_1
****