Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Hampir Terciduk


__ADS_3

Setelah menjenguk Kia, Vania berniat akan kembali pulang ke rumah, sebenarnya dalam hati dia juga tidak tahan melihat kebersamaan Sandra dan Nando, ada rasa cemburu yang menyelimutinya.


"Kenapa kau buru-buru sih Van?" tanya Kezia saat Vania pamit pulang.


"Kasihan Mama sendirian Zia, salam ya buat Ibu Lika dan Papa Ricky!" jawab Vania.


Kemudian Vania berjalan ke arah Nando yang masih duduk di depan ruangan itu, sementara Sandra sudah kembali masuk ke dalam.


"Aku pulang dulu ya Do!" pamit Vania.


"Iya Van, maafkan aku, tidak bisa mengantarmu, Kia masih membutuhkan aku!" ucap Nando.


"Iya, aku paham, semoga Kia cepat sembuh, dan kau segera kembali pulang ke rumah!" ujar Vania.


"Iya Van, trimakasih!" sahut Nando.


Kemudian Vania mengecup pipi Nando dan segera melangkah meninggalkan tempat itu.


Adi yang sejak tadi menunggunya, langsung mengikutinya dari belakang, setelah pamit pada semua yang ada di situ.


"Van! Aku antar ya!" tawar Adi yang berjalan cepat mengikuti Vania berjalan di belakangnya.


"Aku pikir kau sudah pulang di!" sahut Vania.


"Aku sengaja menunggu mu Van! Ayo aku antar pulang!" tawar Adi lagi.


"Aku telepon Pak Tejo saja deh!" tukas Vania.


"Dari pada kau telepon menunggu lama, lebih baik aku antar pulang, jadi aku tau rumah mu!" kata Adi.


Akhirnya Vania menganggukan kepalanya.


Mereka kemudian berjalan ke parkiran dan Adi langsung membukakan pintu mobil pada Vania.


Mereka langsung meluncur menuju ke rumah Vania.


"Ehm, maaf Vania, suamimu itu ... punya lebih dari satu istri ya?" tanya Adi.


"Iya!" sahut Vania.


"Pantas saja!" gumam Adi.


"Pantas kenapa?"


"Ada wanita lain yang kelihatannya lebih di cintai suamimu, dan aku heran kenapa kau bisa menikah dengan suamimu ini!" ujar Adi.


"Pertama karena aku sangat mencintai suamiku, yang kedua karena dulu kami di jodohkan!" sahut Vania singkat.


"Aku baru sadar ternyata benar kata orang, kalau cinta itu buta!" ujar Adi.

__ADS_1


"Maksudmu? Aku itu buta?!" cetus Vania.


"Maaf Van, maksudku, apakah dulu suamimu itu mencintaimu atau kau yang menganggap kalau dia mencintaimu?" tanya Adi.


Vania terdiam, dia sadar kalau dari dulu Nando memang tidak pernah mencintai dia, tapi Vania selalu mengabaikannya.


"Kau sudah terlalu jauh kepo sama urusanku Di!" sahut Vania.


"Aku hanya kasihan padamu Van, kenapa kau tidak cari pria lain saja yang benar-benar mencintaimu dengan tulus?" ucap Adi.


"Tidak akan ada yang benar-benar tulus mencintaiku, hanya Nando yang bisa menerimaku dengan segala kekuranganku!" jawab Vania.


"Oya, tadi kau bilang, suamimu tidak mencintaimu, dari mana kau yakin dia bisa menerima kekuranganmu?" tanya Adi lagi.


"Karena aku yang tidak sempurna ini tidak pernah di ceraikan olehnya, walaupun dia sangat bisa melakukan itu!" jawab Vania.


"Apa maksudmu?"


"Aku sakit Di, rahimku bahkan sudah di angkat, tapi Nando tidak sedikitpun berniat menceraikan aku!" jelas Vania.


"Tapi dia punya istri lagi kan, itu sama saja dia menyakitimu Van, mana ada wanita yang mau di madu, siapapun orangnya!" kata Adi.


"Bukan mereka yang salah, aku yang salah!" sahut Vania.


"Kenapa bisa begitu?"


"Mereka sudah lama saling mencintai, namun karena suatu hal, cinta mereka tidak terwujud, hingga orang tua kami menjodohkan kami, tenyata dari cinta mereka ada seorang anak yang tumbuh, mungkin ini yang di namakan takdir!" ungkap Vania.


"Aku ikut merasakan apa yang kau rasakan Van, kau sudah terlanjur masuk dalam lingkaran ini, aku tau itu sulit!" ucap Adi.


Mereka berhenti saat lampu merah di perempatan jalan itu.


Tiba-tiba mata Vania tertuju pada sosok yang sudah sangat dia kenal sedang berada di depan sebuah minimarket.


Orang itu adalah Tante Rina bersama dengan seseorang yang tidak Vania kenal.


"Hah, Mama bicara pada siapa?" gumam Vania.


"Ada apa Van?" tanya Adi.


"Di, bisa berhenti di pinggir sebentar? Ada yang mau aku lakukan!" pinta Vania.


Adi lalu menepikan mobilnya yang saat itu sudah berjalan karena lampu berwarna hijau.


Buru-buru Vania turun dari mobil dan bergegas menghampiri Mamanya itu.


Adi hanya menatapnya dengan tatapan bingung.


Tante Rina agak terkejut saat Vania kini sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


Tante Tina ternyata sedang melakukan transaksi dengan Pak Wiryo yang sedang memerasnya.


"Vania? Apa yang kau lakukan di sini??" tanya Tante Rina kaget.


"Justru aku yang tanya Ma, Mama sedang apa di sini dengan pria itu?" tanya Vania sambil menunjuk ke arah Pak Wiryo.


"Mama ... Mama ... sudahlah Van, sudahlah! Ayo kita pulang!" Tante Rina lalu menarik tangan Vania menjauh dari Pak Wiryo.


Pak Wiryo hanya terkekeh melihat mereka berdua.


"Mama belum jawab pertanyaanku!" cetus Vania sambil menepiskan tangannya.


"Memangnya Mama melakukan apa sih Van? Mama hanya mengobrol dengannya, ehm, tadi dia tanya alamat!" bohong Tante Rina.


"Mama bohong! Jelas aku melihat Mama memberikan dia sejumlah uang, sebenarnya dia siapa sih Ma??" tanya Vania lagi.


"Dia ... langganan butik Mama!" sahut Tante Rina.


"Tadi katanya cari alamat, sekarang langganan butik, sebenarnya Mama ada apa? Belakangan ini Mama kelihatan aneh, sering pergi keluar, padahal dulu Mama tidak pernah seperti itu!" cecar Vania.


"Sudahlah sayang, yuk kita pulang, Mama capek Van!" ajak Tante Rina sambil mencoba menarik kembali tangan Vania.


Pak Wiryo nampak pergi meninggalkan tempat itu.


"Aku pulang bareng teman Ma, kalau mau Mama sekalian saja ikut pulang bersama aku!" kata Vania.


"Mama naik taksi saja deh Van, sudah ya!" Tante Rina pergi begitu saja dan langsung naik ke dalam taksi yang kebetulan lewat di depannya.


Vania hanya menatap kepergian Mamanya itu dengan tatapan heran.


Selama ini, Vania dan Mamanya selalu terbuka dalam setiap hal, bahkan perasaan Vania terhadap Nando dulu juga dengan jujur Vania curahkan pada Mamanya itu.


Sejak Papanya Vania meninggal, hubungan mereka semakin dekat, tidak ada yang tersembunyi di Antara mereka.


Namun belakangan ini, Vania melihat suatu keanehan dan keganjilan pada diri Mamanya itu.


Vania tidak bisa menebak itu apa, tapi perasaannya kuat, ada sesuatu yang Mamanya sembunyikan darinya.


Dengan langkah gontai, Vania kembali berjalan menuju ke mobil Adi yang masih menunggunya.


"Ada apa Vania?" tanya Adi.


"Tidak ada apa-apa Di, kita lanjutkan saja perjalanan kita!" jawab Vania.


Mereka lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka, hingga 20 menit kemudian sampailah Vania di rumah itu.


"Rumahmu besar sekali Van!" ujar Adi saat memarkirkan mobilnya di depan pintu gerbang rumah itu.


"Itu bukan rumahku Di, itu rumah Nando suamiku!" jawab Vania.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2