
Sandra mengambil mantelnya, kemudian dia bersiap berangkat ke Dokter 24 jam yang ada di pinggir jalan raya tak jauh dari kontrakan mereka.
Mirna juga bersiap akan menemani Sandra, mereka kemudian keluar dan berjalan kaki menuju ke jalan raya ke tempat Dokter praktek 24 jam itu.
Tak lama mereka sampai di klinik dokter 24 jam itu, karena pasien sedikit, mereka langsung masuk ke ruang konsultasi.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya sang Dokter.
"Malam Dok, ini teman saya sudah beberapa hari ini pusing-pusing, malah belakangan dia muntah-muntah, padahal sudah minum jamu masuk angin!" jelas Mirna.
"Oh baik, silahkan berbaring sebentar, saya akan memeriksanya!" ujar sang Dokter laki-laki itu.
Kemudian Sandra segera berbaring di ranjang pasien, sementara Dokter memeriksanya, Mirna menunggu di kursi depan meja konsultasi.
Tak berapa lama kemudian Dokter dan Sandra sudah selesai dan mereka kembali duduk di tempat semula.
"Bagaimana Dokter? Sebenarnya saya sakit apa?" tanya Sandra setelah di periksa secara detail oleh Dokter.
"Sebenarnya anda tidak sakit, anda hanya sedang hamil, beritahukan ini pada suami anda, dia pasti senang, selamat ya!" ucap Dokter sambil mengulurkan tangannya.
Sandra dan Mirna terkesiap mendengar ucapan Dokter, mereka nyaris tidak percaya.
"Apa Dok? Saya hamil?" tanya Sandra untuk meyakinkan.
"Benar Mbak, saya akan kasih rujukan ke dokter kandungan yang ada di dekat sini, supaya bisa di lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui usia kehamilan, menurut hemat saya melihat terakhir Anda datang bulan dan ukuran perut, Anda hamil sudah lebih dari 4 Minggu!" jawab Dokter.
"Jadi teman saya beneran hamil Dok?" tanya Mirna lagi.
"Iya Mbak, makanya segera lakukan pemeriksaan ke Dokter kandungan, sementara saya akan berikan resep vitamin saja!" jawab Dokter sambil menulis resep yang di maksud di sebuah kertas kecil.
"Terimakasih Dok, kalau begitu kami mohon diri!' ucap Sandra yang langsung berdiri dan menerima secarik kertas resep dari Dokter.
Kemudian mereka segera keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Setelah menebus vitamin di apotik, mereka langsung beranjak pulang ke kontrakan mereka.
Sepanjang jalan Sandra diam tidak banyak bicara.
"San, kamu hamil anak siapa? Selama ini kau pernah berhubungan dengan siapa saja?" tanya Mirna.
"Anak siapa lagi? Anak ini adalah anak Nando, dari benih Nando, tidak pernah ada laki-laki yang bisa menanamkan benihnya di dalam rahimku kecuali Nando!" ungkap Sandra.
"San, kau harus cari dia, paling tidak anakmu nanti butuh status!" ujar Mirna.
"Tidak Mir, waktu itu aku melakukannya dengan ikhlas, Sebentar lagi Nando akan menikah, aku tidak akan merusak kebahagiaan mereka, aku banyak berhutang dengan mereka!" tegas Sandra.
Mereka kemudian sudah sampai di rumah kontrakan mereka.
Sandra langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.
"Aku akan jaga dan rawat anak ini sendiri, walaupun tanpa seorang ayah!" ucap Sandra.
Mirna hanya bisa menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan prihatin.
mereka kemudian berbaring sambil menatap langit-langit kamar itu.
"Kelak aku akan katakan pada anakku, bahwa ayahnya adalah laki-laki yang baik, sangat tampan dan berwibawa!" ungkap Sandra.
"Sandra ... aku selalu berharap kalau takdir akan mempersatukan dirimu dengan ayah anakmu!" sahut Mirna.
"Tidak Mirna, bisa mengandumg benih orang yang sangat ku cintai dan ku kagumi sudah merupakan kebahagiaan tersendiri buat ku, aku tidak menginginkan yang lain lagi!" jawab Sandra.
****
Malam ini di tempat kediaman Nando, seluruh keluarga besar sudah kumpul, karena besok akan di langsungkan pernikahan Nando dan Vania.
Segala sesuatu sudah di siapkan dengan sangat matang, mereka akan melangsungkan pernikahan mereka di sebuah hotel bintang lima di Jakarta.
__ADS_1
Ricky mengundang banyak sekali koleganya baik dari dalam maupun dari luar negri, bahkan semua rekan bisnisnya, sudah tersebar ribuan undangan untuk pernikahan besok.
Begitu juga dari pihak keluarga Tante Rina, semua tamu terhormat akan hadir dalam pernikahan putrinya besok.
Di ruang keluarga rumah Nando, Papanya memanggil seisi keluarga untuk berkumpul.
"Nando, ini terimalah sertifikat calon rumah kalian hadiah dari Papa dan Ibu!" Ricky menyerahkan sebuah map berisi sertifikat rumah mewah yang ada di kawasan elit di Jakarta.
"Papa, ini terlalu besar dan berlebihan, aku hanya tinggal berdua dengan Vania!" tukas Nando.
"Tidak ada yang berlebihan untuk putra kesayangan kami Nak, terima lah, anggap saja ini sebagai hadiah pernikahan kalian dari Ibu dan Papa!" timpal Lika yang kini kondisinya semakin membaik.
"Lagi pula kau hanya sementara tinggal berdua, tapi setelah kalian memiliki anak-anak, rumah itu pasti akan tambah ramai, seperti rumah ini!" tambah Ricky.
Nando sangat terharu mendengar ucapan dari orang tua yang sangat di hormatinya itu.
"Terimakasih Papa, Ibu!" Nando lalu memeluk kedua orang tuanya itu.
"Rumah itu adalah rumah baru, semua isi rumah sudah tersedia, berikut seorang asisten rumah tangga, jadi kalian tinggal menempatinya saja!" ucap Ricky.
"Nanti kapan-kapan Ibu dan Papa juga akan menginap di rumah kalian, apalagi kalau nanti Vania sudah hamil, kau pasti akan kerepotan mengurusnya, seperti kakakmu dulu!" ujar Lika sambil melirik ke arah Kezia.
"Aku juga akan sering menginap di sini!" cetus Nando.
"Hmm, dasar anak manja!" sahut Kezia.
"Sekarang kalian semua istirahatlah, besok seharian pasti akan lelah, siapkan tenaga kalian!" ujar Ricky yang langsung menuntun istrinya masuk ke dalam kamarnya.
Di susul dengan keluarga yang lain, juga keluarga Kezia yang malam ini menginap di rumah ini.
Nando tidak langsung masuk ke kamarnya, dia menuju ke teras, seekor kucing berbulu abu-abu datang menghampirinya, Nando pun berjongkok sambil mengelus kucing itu.
"Bubu ... kalau aku sudah menikah nanti, kau baik-baik jaga Ibu dan Papa ya, kau tenang saja, di sini banyak yang menyayangimu!" ucap Nando pada kucing kesayangannya itu.
__ADS_1
Kucing itu hanya menatap wajah Nando, seolah tau kalau mereka akan berpisah besok.
****