
Sandra terhenyak mendengar permohonan Nando untuk tinggal di rumahnya demi Vania.
Dadanya bergemuruh, ingin sekali dia berlari sejauh mungkin, kalau perlu dia ingin hilang di telan bumi.
Namun kenyataan yang ada di hadapannya justru membuat dia sulit menentukan pilihan, lidahnya kelu, tanpa bisa untuk berbicara apapun.
Tiba-tiba Vania berlutut di hadapan Sandra, membuat semua orang yang ada di tempat itu terkesima.
"Sandra, aku mohon, di saat seperti ini aku butuh seorang teman, kau tau dari dulu aku hanya sendirian tanpa saudara, apalagi kalau Nando berangkat ke kantor, aku makin kesepian Sandra!" mohon Vania.
Sandra memegang bahu Vania dan membantunya berdiri.
"Jangan seperti ini Vania! Kau membuat aku bingung!" kata Sandra.
"Asal kau tau Sandra, saat ini hatiku sedang sedih, baru saja Dokter memvonis aku kalau aku tak akan bisa punya anak, di tambah ada sesuatu dalam rahimku, entah kista atau kanker, aku takut, aku takut mati Sandra, apalagi mati dalam kesepian!" Vania mulai menangis.
Tiba-tiba Mirna maju mendekati mereka.
"Sandra, tidak ada salahnya jika kau mengabulkan permohonan Vania, lagi pula ... kita juga tidak tau akan tinggal di mana besok, apalagi aku baru di pecat dan tak ada penghasilan!" ucap Mirna.
"Baiklah, sementara ini aku akan menuruti keinginanmu Vania, tapi aku tidak bisa janji akan selalu bersamamu!" ujar Sandra akhirnya.
Wajah Vania berubah sedikit cerah, apalagi selama ini dia sudah kehilangan sosok Sandra, yang menghilang begitu saja dari butik Tante Rina.
Mereka kemudian pulang ke rumah Nando bersama-sama, Roy terheran-heran melihat Sandra dan Mirna yang tiba-tiba ikut pulang ke rumah.
"Van, barang dan pakaian kami masih ada di kontrakan yang lama!" ujar Sandra.
"Nanti biar Roy yang akan mengambilnya di temani Mirna!" sahut Nando.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di rumah besar Nando.
Tante Rina terkesiap melihat Sandra yang kini ada di hadapannya.
"Sandra? Ternyata kau masih hidup?" tanya Tante Rina.
"Iya Tante, kami secara tak sengaja bertemu di rumah sakit, ini Mirna temanku!" jawab Sandra memperkenalkan.
__ADS_1
"Mama, aku meminta Sandra untuk tinggal di sini bersama kita, saat ini mereka sedang kesulitan tempat tinggal, apalagi kini Sandra sedang hamil!" jelas Vania.
Mata Tante Rina langsung tertuju pada perut Sandra.
Roy tiba-tiba muncul di ruangan itu.
"Hei, katanya mau ambil pakaian dan batang-barang? Jadi tidak?" tanya Roy.
"Oh, jadi dong, ayo Roy!" Mirna segera melangkah keluar ruangan bersama Roy.
Tante Rina masih berdiri menatap Sandra dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"Nando, antar istrimu naik ke atas, kalian beristirahatlah!" titah Tante Rina.
"Baik Ma!" sahut Nando.
"Sandra, kau juga istirahat ya di kamar tamu, itu kamarnya yang dekat ruang tamu!" kata Vania sambil menunjuk sebuah kamar sebelum melangkah naik ke atas bersama Nando.
"Iya Van!" sahut Sandra. Kemudian Vania dan Nando pun segera naik ke atas menuju kamar mereka.
"Sandra, katakan pada Tante, bayi siapa yang ada dalam perutmu itu?" tanya Tante Rina dengan mata yang menyorot tajam.
"Ini ba-bayiku Tante!" jawab Sandra gugup.
"Tante tau itu bayimu, maksud Tante adalah, siapa Ayah dari bayi itu??" tegas Tante Rina.
Sandra menunduk, tidak berani membalas tatapan Tante Rina, dia juga membungkam mulutnya sendiri, tidak akan dia membongkar rahasia yang sebenarnya, kalau Nando adalah ayah biologis dari bayi yang di kandungnya.
"Kenapa kau diam? Ayo jawab Tante??" tanya Tante Rina lagi.
Sandra masih tetap dalam posisinya, diam seribu bahasa.
"Oke, kalau kau tidak mau menjawab itu adalah hak mu, tapi asal kau tau, saat ini Vania tidak tau siapa kau sebenarnya, tapi Tante tau ... dari mana kau berasal!" ucap Tante Rina sambil melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Sandra kemudian melangkah masuk ke dalam kamar tamu yang di dalamnya sudah lengkap dengan fasilitas.
Perlahan dia merebahkan di tempat tidur besar itu, ada yang mengalir dari sudut matanya, sambil dia mengelus perutnya.
__ADS_1
"Sabar ya Nak, kau senang kan saat ini kau berada dekat dengan Papamu? Walau hati Mama sakit, asal kau bahagia sayang!" gumam Sandra.
****
Sementara itu, Roy terlihat masih mengemudikan mobilnya melintasi jalanan yang agak macet itu.
Hari sudah larut malam, waktu juga sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Mirna, aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi!" ujar Roy.
"Mungkin itu yang di namakan takdir, padahal besok kami berencana akan mencari tempat tinggal baru!" sahut Mirna.
"Boleh ku tebak? Bayi yang ada dalam kandungan Sandra itu anak Tuan Nando kan?" tanya Roy.
"Hmm, kau sudah tau rupanya, tapi aku yakin kau juga memahami mereka, bisa menjaga mulutmu!" ujar Mirna.
"Aku sudah cukup lama bekerja pada Tuan Nando, sudah mengenal dia luar dalam, dia bahkan seperti sahabat buatku, dan aku tidak mau juga karena mulutku yang ember ini dia jadi hancur, sebisa mungkin aku akan menjaga rahasianya!" ungkap Roy.
"Kau sama denganku, banyak rahasia Sandra yang aku tau, dari mulai perasaannya, impiannya ... kalau aku di posisi dia, mungkin aku tidak tahan!" kata Mirna sambil tertawa.
Tak lama mereka pun sampai di kontrakan lama Mirna dan Sandra.
Dengan cepat Mirna langsung mengemasi pakaian dan barang-barang miliknya dan Sandra. Roy ikut membantunya.
Setelah mereka selesai mengangkat barang-barang, dan rumah kontrakan itu sudah benar-benar kosong, hanya tersisa lemari dan tempat tidur saja.
Mereka kemudian kembali pulang ke rumah Nando.
"Mirna, ternyata kau enak juga di ajak bicara, semua serba kebetulan, apa mungkin ini yang di sebut jodoh?" tanya Roy.
"Jodoh? Selama ini aku bahkan tidak pernah berpikir tentang jodoh, kau tau kan Roy, aku ini bekas wanita malam, untuk bermimpi memiliki jodoh saja aku tidak berani!" ungkap Sandra.
"Tuan Nando yang punya segalanya saja tidak pernah memandang latar belakang orang, apalagi aku!" bisik Roy.
Entah mengapa hati Mirna berdesir mendengar ucapan dari Roy.
****
__ADS_1