Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Surat Cerai


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang sekian lama tertunda, juga memperbaiki kembali sistem perusahaannya yang sempat kacau, Nando pulang dengan perasaan tenang.


Dia langsung menuju ke rumah sakit, tempat Sandra di rawat.


Walaupun Sandra sudah sadar dan bisa bicara, namun kakinya masih belum bisa digerakkan, diagnosa sementara Sandra terkena syaraf kejepit.


Sementara Sandra tidak bisa melakukan aktifitas secara normal.


Nando masuk ke dalam ruangan Sandra di rawat, Sandra nampak sedang di suapi oleh seorang suster.


"Biar saya saja yang menyuapi istri saya Sus!" ujar Nando.


Sandra menoleh terkejut ke arah Nando.


"Nando? Kau dari mana? Rapi sekali, pakai jas dan dasi lagi, tumben! tanya Sandra.


"Dari kantor San, kenapa? Aku kelihatan tampan ya?" ujar Nando sambil tersenyum, lalu duduk di sisi pembaringan Sandra.


"Iya Do, aku jarang melihatmu memakai pakaian formal seperti ini, kau bukan hanya tampan, tapi dewasa!" ucap Sandra.


"Berarti selama ini aku seperti bocah? Gini-gini aku sudah menghasilan Kia tau!" cetus Nando cemberut.


"Eh jangan marah dong, kan aku cuma bercanda, ayo katanya mau suapi aku!" kata Sandra.


Nando lalu tersenyum kemudian mulai menyuapi Sandra setelah Suster meletakan piring makanan Sandra di atas nakas.


"Nando, apa kau sudah menemukan Vania?" tanya Sandra. Nando menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kau tidak cari Vania Do? Kasihan dia, Vania kan masih istri kamu Do!" lanjut Sandra.


"Vania sudah berada di tempat yang aman San!" sahut Nando.


"Tempat aman gimana maksudnya?" tanya Sandra bingung.


"Ada seorang laki-laki yang tulus melindungi dan menjaga Vania, jadi kita tidak perlu khawatir lagi!" ucap Nando.


"Laki-laki tulus? Siapa dia?"


"Dia Adi, seorang pengacara muda, tadi siang dia datang ke kantorku, menceritakan segala sesuatu tentang Vania, dan dia memintaku untuk menceraikan Vania!" jawab Nando.


"Apa?? Berani sekali dia bilang begitu padamu! Apa dia tidak menganggapmu sebagai suaminya Vania??" tanya Sandra.


"Dia sudah tau kalau aku punya istri lebih dari satu, dan dia juga tau kalau aku lebih mencintai istri keduaku, yaitu kamu!" sahut Nando.

__ADS_1


"Do, kau pasti tau, aku juga tau, sejak dulu Vania hanya mencintaimu seorang, hanya dirimu Do, apakah dia bisa dengan mudahnya melepaskanmu begitu saja, setelah dia berhasil mendapatkanmu?" Sandra memandang lekat pada Nando.


"Aku tidak tau San, ayo habiskan makananmu! Setelah itu aku bantu kau minum obatmu!" ujar Nando.


Nando kembali menyuapi Vania sampai suapan yang terakhir, setelah itu dia membantu Vania untuk meminum obatnya.


"Nando, aku ingin pulang, aku kangen Kia Do!" ucap Sandra tiba-tiba, wajahnya berubah sendu.


"Kia baik-baik saja bersama ibu San, kau pulihkan saja kesehatanmu, aku akan menjagamu!" bisik Nando.


Sandra lalu merebahkan kepalanya di dada Nando, air matanya mulai menetes.


"Aku kangen Kia Do, aku sampai bermimpi tentangnya, aku kangen Kia!" Isak Sandra.


"Iya sayang, Kia masih terlalu kecil untuk di ajak ke rumah sakit, kau bersabar dulu ya, sebentar lagi juga kau akan di ijinkan pulang ke rumah!" hibur Nando.


"Tapi kapan Do? Aku benar-benar kangen!" rajuk Sandra.


"Sebentar lagi, sebentar lagi kita akan kembali berkumpul, aku, kamu dan Kia!" ucap Nando.


"Bagaimana dengan Vania?" tanya Sandra.


"Vania akan menemukan kebahagiaannya dengan orang lain San, asal kau tau, aku tidak bisa berpijak pada dua kapal, hatiku hanya memilihmu!" jawab Nando.


"Iya San, sekarang kau istirahat saja, pejamkan matamu, aku akan menjagamu, jangan banyak pikiran!" bisik Nando sambil membaringkan Sandra di ranjangnya kemudian dia mengecup keningnya.


Ceklek!


Pintu ruangan itu di buka dari luar, Nando kemudian menoleh ke arah pintu.


Vania datang dan kini berdiri di hadapan mereka, Sandra yang baru saja hendak memejamkan matanya langsung kembali membuka matanya, dia tertegun melihat kedatangan Vania yang tiba-tiba itu.


"Vania??" tanya Nando.


Vania maju dan melangkah mendekati mereka.


"Sandra, maafkan aku ... gara-gara aku kini kau terbaring di sini!" ucap Vania.


"Tidak Van, aku tau kau sedang kacau, ini semua sudah takdir, bukan salah siapa-siapa!" jawab Sandra.


"Vania, kau kemana saja? Pulanglah kerumah Vania!" ucap Nando.


"Tidak Nando, rumah itu kini bukan tempatku lagi, aku tidak layak tinggal di rumah itu, rumah yang hanya penuh dengan kesedihan dan air mata!" ungkap Vania.

__ADS_1


"Maafkan aku Vania, kalau aku belum bisa membahagiakanmu sampai saat ini!" ucap Nando


"Bukan kau yang salah Do, ada hati yang memang tidak akan pernah bisa untuk di paksakan, dan aku sangat memahami itu!" jawab Vania.


Kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu menyodorkannya ke arah Nando.


"Nando, aku mohon kau tandatangani surat itu!" kata Vania.


"Surat apa ini?" tanya Nando.


"Itu surat cerai, pengacara Adi yang membuatnya, aku mohon Do, kau ceraikan aku!" pinta Vania.


Nando hanya tertegun memandang surat yang kini ada di tangannya. Dia sama sekali tidak menyangka, Vania akan melakukan ini, Vania yang sejak dulu selalu mengejar cinta Nando, sekarang bahkan dia melepaskannya begitu saja.


"Vania, kau jangan terburu-buru mengambil keputusan, bukankah kau sangat sayang pada Nando? Mengapa kau begitu saja ingin melepaskannya? Apa semua ini karena aku yang telah merebut suamimu??" tanya Sandra tiba-tiba.


"Sandra, kau benar, aku memang sayang pada Nando, sejak dulu impianku hanyalah bisa menjadi istrinya, tapi aku sadar, bukan Nando yang menjadi jodohku!" sahut Vania.


"Van, sebelum aku tanda tangan ini, kau jawab dulu pertanyaan ku!" sela Nando.


"Kau mau bertanya apa??" tanya Vania.


"Apa kau akan bahagia bersama Adi, Adi yang bahkan kau pun baru mengenalnya!?" tanya Nando.


Vania terdiam mendengar pertanyaan Nando, pertanyaan yang teramat sulit untuk di jawabnya.


Sebenarnya dalam hati Vania tidak ada perasaan apapun pada Adi, boleh di kata, Adi adalah pelampiasannya.


Tapi Vania juga sadar, dia tidak akan mungkin memaksakan takdir yang jelas tidak berpihak padanya.


Bercerai dari Nando, laki-laki yang amat di cintainya adalah sesuatu yang paling menyakitkan dalam hidupnya, tapi itu adalah satu-satunya jalan yang terbaik.


Dia harus melepaskan Nando, mencintai tidak selamanya harus memiliki.


Vania menangis di hadapan Sandra dan Nando.


"Ya, aku bahagia bersama Adi, dia tulus mencintai ku dan menerimaku apa adanya!" bohong Vania sambil berurai air mata.


Sandra juga menangis melihat Vania, dia tau saat ini Vania berbohong, dari sorot matanya jelas kalau Vania masih amat mencintai Nando.


"Baiklah, aku akan tandatangani surat cerai ini!" ucap Nando sambil menandatangani surat yang ada di tangannya itu.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2