Perjaka Tampan & Wanita Malam

Perjaka Tampan & Wanita Malam
Selamat Tinggal Tante Rina


__ADS_3

Di sini, di makam ini, makam yang masih basah, banyak taburan bunga di atas pusaranya.


Tante Rina telah pergi untuk selamanya, pergi dalam kesendirian.


Ricky dan Lika, juga Nando dan Sandra nampak bersimpuh di makam itu.


Mereka seolah masih tidak percaya, Tante Rina akan pergi secepat itu.


"Sayang, ayo kita pulang, hari sudah semakin sore!" ajak Ricky.


"Iya Pa!" sahut Lika yang kemudian langsung berdiri dari posisinya.


Nando dan Sandra masih belum beranjak dari tempatnya. Sandra masih menggendong Kia dalam pelukannya.


"Jikalau Dia pernah punya salah pada kalian, maafkan lah dia, supaya lapang jalannya!" lanjut Lika.


"Iya Bu!" sahut Nando dan Sandra.


"Aku tidak percaya, kalau Mama Rina akan pergi secepat ini!" lanjut Nando. Dia mengusap batu nisan yang ada di hadapannya itu.


"Mungkin sudah waktunya dia pergi, saat ini Vania belum tau soal kepergian Mamanya, sampai kapan kita menyembunyikan terus dari Vania?" tanya Ricky.


"Pa, saat ini Nando bilang Vania sedang sakit parah, apa kau mau dia langsung drop kalau kita beritahukan yang sebenarnya!" sahut Lika.


"Tapi walau bagaimanapun, Vania itu anaknya, cepat atau lambat dia harus tau tentang kematian Mamanya ini!" ujar Ricky.


Tak lama kemudian Ricky menarik tangan Lika untuk segera meninggalkan pemakaman itu.


Nando juga mulai beranjak dari tempatnya, sambil merangkul Sandra mereka berjalan ke arah mobilnya yang terparkir.


Sandra diam saja sedari tadi, tapi matanya merah dan basah, dia menangis kehilangan Tante Rina.


Mobil Ricky dan Lika sudah terlihat melaju meninggalkan makam itu, kemudian Nando juga membuka pintu mobilnya untuk Sandra dan Kia.


Lalu mereka juga meninggalkan makam itu.


"Kau masih menangis San? Sudahlah, dia sudah tenang di sana, sebelum dia meninggal kan dia sudah menulis surat dan meminta maaf pada kita semua!" hibur Nando.


"Sebenarnya aku banyak berhutang pada Tante Rina, dulu dia mau menampungku tanpa pamrih, membela aku di depan Mami Vero yang akan membawaku, bahkan dia membayar harga yang tinggi untuk melindungi ku!" ungkap Sandra, air matanya kembali jatuh.


"Ibu mana yang tidak akan sedih jikalau melihat anaknya sedih, seperti Vania, dan kalaupun dia pernah berbuat salah menculik Kia, itu adalah luapan kasihnya pada Vania, aku paham itu!" lanjut Sandra sambil menyeka air matanya.


"Asal kau tau San, aku juga tidak pernah membenci Mama Rina, dia sangat sayang padaku, walaupun kadang terkesan mengekang!" ujar Nando.


"Nando, aku ingin bertemu dengan Vania, maukah kau membawaku ke sana Do?" tanya Sandra.

__ADS_1


"Kapan kau mau ke sana San? Aku akan menemanimu!" sahut Nando.


"Besok pagi ya, nanti kita mampir dulu ke rumah Ibu, untuk menitipkan Kia, setelah itu baru kita ke rumah sakit!" ujar Sandra.


"Iya!" sahut Nando singkat.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di apartemen, mereka langsung naik ke atas, Kia nampak tertidur di pelukan Sandra.


Perlahan Sandra meletakan Kia di tempat tidur, tubuhnya lumayan pegal menggendong Kia sedari tadi.


Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di samping Kia.


"Sandra, aku baru dapat info dari tukang, rumahku sudah selesai di renovasi, kapan kau mau pindah lagi ke rumah itu?" tanya Nando.


Sandra terdiam mendengar ucapan Nando, sebenarnya dia masih betah tinggal di apartemen ini.


"Do, bisakah kita tunda dulu tinggal di rumah itu, aku jadi ingat Tante Rina deh, kita di sini dulu saja ya!" sahut Sandra.


"San, tapi di sini sempit, dan kau sendirian, kalau di rumah itu kan ada Pak Tejo, Mbok Karsih dan Roy, mereka akan membantumu, jadi kau tidak capek sendirian!" tukas Nando.


"Tapi ..."


"Lagi pula rumah itu sekarang sudah berubah, semua kamar bahkan sudah di rombak, kau tak perlu khawatir lagi!" lanjut Nando.


"Nah begitu dong, aku hanya ingin kau ada yang membantu sayang, mencuci baju, memasak, jangan melakukannya sendirian, aku tidak rela!" kata Nando.


"Iya, asalkan suamiku tetap di sisiku dan makin sayang padaku, aku pasti akan menurutimu!" ucap Sandra.


"Tentu saja aku sayang padamu, memangnya kau tidak tau!" cetus Nando dia mulai merebahkan tubuhnya di samping Kia.


"Aku tau!" sahut Sandra.


"Kia, bilang sama Mama, Papa sangat sayaaaang sama Mama, tapi seperti nya Mama pura-pura tidak tau!" ucap Nando pada bayinya itu.


"Dih Nando! Tidak lucu!" ketus Sandra.


"Biarin, mulai sekarang kau harus panggil aku sayang, ganteng, atau apalah yang romantis!" pinta Nando.


"Memangnya kau mau di panggil apa? Jangan kayak anak muda, maunya romantis terus!" tanya Sandra sambil mencubit dagu Nando.


"Panggil sayang aja, seperti aku memanggilmu!" jawab Nando.


"Hmm, iya sayang!" sahut Sandra akhirnya, Nando tersenyum senang.


****

__ADS_1


Pagi itu selesai sarapan, Nando dan Sandra mulai keluar dari apartemennya, semua perlengkapan Kia sudah di bawa, mereka akan menitipkan Kia di rumah Ricky.


Kebetulan hari ini tanggal merah, jadi kebetulan di rumah Ricky sedang ramai, anak-anak libur sekolah, kantor juga libur, Jonathan dan Kezia juga sedang main ke rumah Ricky.


Nando memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah Ricky, Thomas anaknya Kezia yang berusia kira-kira tiga tahunan nampak sedang bermain mobil-mobilan di teras rumah besar itu.


"Halo Thomas, lagi main apa?" sapa Nando.


"Main mobil-mobilan Om!" jawab Thomas yang sudah lancar bicara itu.


"Dedek Kia ikutan dong!" ujar Nando yang terlihat sedang menggendong Kia.


"Jangan! Dedek Kia kan cewek, ini mainan cowok!" sergah Thomas dengan ekspresi lucunya.


Nando mencubit pipi Thomas gemas.


Kemudian dia langsung masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Sandra.


"Wah, kalian sudah datang, jadi ramai deh rumah ini, Ibu sangat senang!" seru Lika semangat.


"Iya Bu, Kia mau main sama Nenek dan Kakeknya, juga Tante dan omnya!" sahut Nando.


"Memangnya kau mau kemana Do? Aku dengar kau mau menitipkan Kia?" tanya Kezia yang terlihat duduk di sofa ruang keluarga itu.


"Aku dan Sandra mau ke rumah sakit Kak, menjenguk Vania!" jawab Nando.


"Oooh, kasihan juga ya Vania, baru bercerai dengan suaminya, Mamanya meninggal, di tambah dia sakit parah!" gumam Kezia.


"Kak Kezia jangan nyindir aku gitu dong!" sergah Nando.


"Lho kok jadi kamu yang tersinggung, kan memang benar kondisi Vania seperti itu, kasihan kan!" tukas Kezia.


"Nando sayang, sudah sudah, jangan di perpanjang lagi, bikin aku merasa bersalah saja!" ucap Sandra sambil menggenggam tangan suaminya itu.


"Kak Kezia nih! Kalau bicara ceplas ceplos saja, aku kan memang harus bercerai sama Vania, lagi pula sebentar lagi akan ada Adi kok yang menikahi Vania!" lanjut Nando.


"Apa? Vania mau menikah?!" tanya Lika dari arah meja makan.


"Iya Bu! Adi sendiri yang bilang padaku!" sahut Nando.


Lika yang sibuk menata makanan di meja itu nampak menghentikan aktifitasnya. Dahinya berkerut seperti sedang berpikir sesuatu.


Bersambung ....


*****

__ADS_1


__ADS_2