
Kondisi Vania semakin lemah, kini dia bahkan sudah kesulitan untuk berbicara, selang oksigen kini menempel di wajahnya.
Tubuhnya semakin kurus dan rapuh, rambutnya juga banyak yang berguguran akibat kemoterapi. Wajahnya sudah terlihat menghitam dan cekung, kecantikannya seolah memudar.
Lika dan Ricky , juga Nandi dan Sandra nampak berjalan menuju ke ruangan Vania.
Akhirnya Kia di titipkan pada Kezia, karena Lika dan Ricky juga ingin menjenguk Vania.
Mereka prihatin dan empati, karena Vania baru saja kehilangan Ibunya. Satu-satunya yang berharga yang di milikinya kini telah tiada.
Adi nampak duduk termenung di bangku depan ruangan Vania, tubuhnya juga ikut menjadi kurus karena banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit.
Melihat kedatangan keluarga Nando, Adi bangkit dan menyalami mereka semua.
Lika menyodorkan satu kotak makanan kepada Adi.
"Adi, ini ada makanan untukmu, kau makanlah, jaga kesehatanmu, jangan kau jadi ikutan sakit!" ujar Lika.
"Trimaksih Tante!" ucap Adi sambil menerima kotak makanan itu.
"Adi, di sini aku dan istriku berdiri sebagai wali Vania, menggantikan orang tuanya yang telah tiada!" kata Ricky yang kini duduk di sebelah Adi.
"Iya Om!"
"Aku dengar dari Nando, kau ingin menikahi Vania? Kau tau kan Vania belum lama bercerai dari Nando?" tanya Ricky.
Adi menganggukan kepalanya.
"Apa kau serius ingin menikahi Vania? Lalu apa motivasimu menikahinya?" tanya Lika.
"Saya ingin merawat Vania Tante, juga menemaninya di sisa hidupnya, yang entah sampai berapa lama lagi! Walaupun mungkin Vania tidak pernah mencintai saya!" ucap Adi.
Ricky dan Lika terdiam, dalam hati mereka mengagumi sikap Adi, juga ketulusan Adi.
"Kami merestui mu Adi, kapan kau akan melangsungkan pernikahanmu itu?" tanya Ricky.
"Lebih cepat lebih baik Om, mungkin di hari Sabtu Minggu ini, aku juga sedang menunggu kedatangan Ibu asuhku dari panti!" jawab Adi.
"Bagus! Semoga niat baikmu ini di berikan kelancaran, kalau kau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku, Vania itu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri!" ucap Ricky sambil menepuk bahu Adi.
"Terimakasih Om!" kata Adi.
Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan tempat Vania di rawat, Sandra sedikit memalingkan wajahnya karena ngeri melihat kondisi Vania.
Tubuh kurus dan pucat, yang terpasang banyak sekali alat-alat medis di tubuhnya, kini nampak tak berdaya. Sandra menangis melihat Vania yang kini terbaring di hadapannya.
__ADS_1
"Van, ini aku Sandra, kau pasti kuat Van, kau wanita yang hebat!" bisik Sandra sambil terus meneteskan air matanya.
Vania tidak merespon, namun dari sudut matanya, keluar setetes air matanya, yang menandakan Vania mendengar ucapan Sandra.
Buru-buru Adi menghapus air mata Vania dengan tissue.
Tiba-tiba Vania membuka matanya, pandangannya mengarah kepada Nando yang masih berdiri mematung di samping Sandra.Mulutnya megap-megap seperti ingin berbicara.
Seorang perawat kemudian melepaskan selang oksigen, memberi kesempatan Vania untuk berbicara.
"Aku bermimpi ... Mama mengajak aku ke suatu tempat, tapi setelah itu, dia pergi begitu saja meninggalkan aku, padahal aku mau ikut!" lirih Vania lemah.
"Vania, itu hanya mimpi, kau lihatlah siapa yang datang menjenguk mu?? Mereka semua sangat menyayangimu Vania!" bisik Adi.
Vania mengedarkan pandangannya ke arah orang-orang yang berdiri mengelilinginya.
"Nak, kau tidak sendiri sayang, ada Ibu, juga ada Papa, terlebih ada Adi yang selalu setia menemanimu!" ucap Lika sambil menggenggam tangan Vania.
"Terimakasih, kalian semua orang-orang yang baik, biar Tuhan yang akan membalasnya!" lirih Vania.
"Vania, kau dengarkan aku, hari Sabtu ini, aku akan menikahi mu, kau tau kenapa? Agar aku bisa bebas merawatmu, memandikanmu, mengantikan bajumu, menyisir rambutmu, juga memberikan dadaku untuk kau jadikan sandaran!" ucap Adi.
Semua orang yang ada di ruangan itu terharu mendengar ucapan Adi yang terdengar begitu tulus.
"Ssst, tidak usah kau memberikan aku cinta seperti aku mencintaimu, cukup kau mengijinkan aku untuk menemani hari-harimu, itu saja!" ucap Adi sambil menempelkan telunjuknya di bibir Vania.
"Jadi bagaimana Vania? Apakah kau bersedia di nikahi oleh Adi?" tanya Ricky.
Vania menganggukan kepalanya. Semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum senang.
"Syukurlah, kalau begini kan Ibu jadi tenang, tidak masalah pernikahannya di langsungkan di rumah sakit, ini kan kondisi tidak biasa, pasti akan banyak yang memakluminya!' kata Lika.
"Vania, aku berharap keajaiban akan terjadi padamu, kita bisa bersahabat dan saling mengobrol lagi bersama seperti dulu!" ucap Sandra.
"Sandra, maukah kau membantuku?" tanya Vania sambil menoleh ke arah Sandra.
"Tentu saja, katakan saja apa yang kau inginkan?" tanya Sandra.
"Di dalam tasku itu, ada skripsi terakhir Nando, aku sudah bilang ke dosen, agar Nando langsung ujian saja supaya bisa cepat lulus, setelah itu dia akan diwisuda, aku baru tenang!" ucap Vania sambil menunjuk sebuah tas besar yang ada di atas nakas.
"Vania, seharusnya kau tidak perlu melakukan itu! Aku bisa mengurusnya sendiri!" ujar Nando.
"Ini yang terakhir Do, aku hanya ingin membantumu, supaya kau bisa cepat lulus, itu saja!" jawab Vania.
"Terimakasih, aku akan mengurusnya segera, dan aku jamin bulan ini aku akan lulus dan diwisuda!" ujar Nando.
__ADS_1
"Aku janji akan mengingatkan Nando untuk cepat ujian dan segera lulus!" tambah Sandra.
"Kalau begini, aku jadi tenang!" ucap Vania.
Nando kemudian mengambil skripsi yang sudah di buatkan Vania, lalu dia menyerahkannya pada Sandra.
Setelah itu Vania beralih pandang kepada Adi yang sejak tadi duduk di sampingnya.
"Adi, aku siap di nikahi olehmu, berikan aku kebahagiaan seperti yang kau janjikan padaku!" ucap Vania.
Adi lalu memeluk Vania dengan hangat.
"Terimakasih Vania!" bisik Adi sambil mengecup kening Vania.
Tak lama kemudian mereka pamit dari ruangan itu, karena waktu jam besuk sudah habis.
Mereka berjalan menyusuri lorong menuju ke tempat parkiran.
"Aku kagum pada Adi, dia benar-benar laki-laki sejati, betapa beruntungnya Vania bisa mengenal Adi dan berjodoh dengannya!" ucap Sandra.
"Hmm, iya!" sahut Nando.
"Tidak banyak laki-laki yang bisa melakukan seperti apa yang Adi lakukan, dia benar-benar hebat!" lanjut Sandra.
"Terus saja kau puji dia di depanku! Bagus! Lanjutkan terus pujiannya, dia hebat, dia luar biasa, dia keren, lalu apa lagi??!" sungut Nando kesal.
"Ehm, Papanya Kia mulai cemburu rupanya!" goda Sandra tersenyum.
"Pikir saja sendiri!" cetus Nando.
Sandra lalu berhenti dan menarik tangan Nando, hingga Nando juga menghentikan langkahnya.
Dia menangkup wajah Nando di kedua telapak tangannya dan menatapnya dalam.
"Suamiku yang tampan ini jauh lebih hebat, bisa menerima seorang mantan wanita malam seperti aku, menerima aku apa adanya, dan bahkan bisa memberikan keperjakaannya untuk seorang wanita malam seperti aku!" ucap Sandra.
Ada semburat merah di pipi Nando mendengar pujian Sandra.
Bersambung ...
****
Ini si Nando yang selalu menggemaskan wkwkwk 😁
__ADS_1