
Allea Gita Madaharsa, putri kedua dari pasangan Arjuna Madaharsa dan Beby Ayazma.
Sosok tuan putri yang biasa saja, dan tidak ada yang istimewa. Tapi, kali ini sudah menciptakan hal manis dengan perasaan luar biasa. Seperti memakan permen kapas, menarik warnanya, unik bentuknya, bila telah sampai ke mulut akan manis rasanya.
"Mama, Papa. Aku membawakan jodoh untuk Mbak Nada." Dengan suaranya yang begitu lantang dan masih tampak memegang sisi lengan tangan seorang pria menawan.
Kedua orang tuanya menatap ke arah mereka berdua, hanya tampak terdiam dan tidak ada respon apapun.
"Kenapa diam saja?" Wajah itu, seolah tidak terima akan apa respon kedua orang tuanya.
"Ini, disini. Jodoh Mbak Nada dari dulu sudah ada di depan mata. Tapi kalian tidak menghiraukannya."
"Pastinya sudah sangat jelas, bibit, bebet dan bobotnya." Lugasnya manis.
Perlahan, kedua orang tua sudah terlihat tersenyum. Sang Kakak yang berada di ruang lukis, secepat kilat ia menarik sang Kakak dan di sandingkan dengan seorang pria yang dia bawa pulang ke rumah.
"Lihat mereka berdua. Sangat serasi." Tepukan manis dari dirinya sendiri dan kedua orang tuanya masih diam tanpa berkata apapun.
"Bang Varell, aku titipkan Mbak Nada kepadamu. Aku percaya, kalau Bang Varell bisa menjaga Mbak Nada dengan sebaik mungkin."
Kedua orang tuanya, saling menatap dengan perasaan terheran.
Nada Gista Madaharsa, putri pertama dari Arjuna Madaharsa dan Beby Ayazma.
Di usia Nada ke-30, belum kunjung menikah. Boro-boro ada yang berani melamarnya, mengenal dunia luar saja rasanya tidak pernah. Hidup dalam penjagaan dan sudah tersusun rapat jadwal hariannya.
Bukan karena seorang tuan putri yang tinggal di istana, tetapi Nada sendiri juga sosok yang tidak pandai bergaul dan menganggap hidupnya sudah sempurna, jadi tidak butuh hal lainnya. Perempuan yang anggun, dengan segala pesona yang melengkapi kecantikan dirinya.
Arjuna Madaharsa, sang Papa tampan dan mantan aktor film. Dia salah satu orang terkaya di negeri ini. Meskipun hidupnya begitu santai, tidak gila kerja dan hanya mementingkan istri serta kedua putrinya. Duitnya bisa datang sendiri dari semua bisnis yang sudah di dirikannya.
Sedangkan sang istri tercinta, Beby Ayazma, ia adalah seorang pewaris tunggal dari sang Nenek konglomerat. Hartanya yang berlimpah ruah dan hanya di wariskan kepada Beby Ayazma.
Begitulah kehidupan keluarga ini, sayangnya sang tuan putri pertamannya, selalu menolak jodoh yang telah dipilihkan oleh kedua orang tua untuknya. Semoga saja, yang kali ini tidak lagi ditolaknya.
"Varell, kamu?"
"Mbak Nada, aku juga bingung."
Ekspresi aneh dari mereka berdua dan malah menatap pada adik perempuan itu.
Varell Eka Radika, putra pertama Daniel Radika dan Elisa Rahma. Kedua orang tua Varell itu, adalah pimpinan perusahaan milik kedua orang tua Nada.
Varell sendiri juga baru menempati posisi CEO, setelah kembali ke negeri ini sekitar tiga tahun yang lalu. Pendidikan S2 di luar negeri telah selesai dan mengharuskannya terjun ke perusahaan yang dipimpin oleh sang Ayah .
Ayah Daniel sang penggila kerja. Telah di tetapkan menjadi Presdir, karena sang pemilik perusahan itu tidak mau terlibat dalam urusan jabatan.
"Untuk apa aku punya jabatan. Aku sudah punya jabatan resmi. Jabatan terbaikku tetaplah Papa keren." Ucap Arjuna Madaharsa kala bisnisnya kian berkembang. Bahkan, bukan hanya satu atau dua perusahaan yang ada dalam genggamannya.
__ADS_1
Seperti sang Ayah, Varell juga workaholic dan tidak mengerti dunia luar, apalagi soal pacar. Bertemu perempuan saja, sepertinya sangat jarang.
Varell yang baru menginjak usia 28 tahun, dia sosok tampan nan rupawan. Begitu berkharisma dan penuh pesona. Meskipun dia bukan pria penebar pesona, setidaknya Lea sangat yakin, kalau Varell bisa menebarkan cinta kepada Nada, sang Kakak tercinta.
"Mbak Nada dan Bang Varell, cocok sekali. Aku akan siapkan pesta yang meriah untuk kalian berdua."
Gadis satu ini, tidak pantang menyerah. Dia lalu pergi meninggalkan masalah, di hadapan kedua orang tuanya.
Nada yang masih terdiam, Varell juga bingung dan merasa sungkan. Sang Mama dan Papa hanya bisa memberikan senyuman mereka.
Setelah persatuan hari itu, tibalah acara pernikahan yang digelar dengan meriah.
Gadis yang sering di panggil Lea, telah hadir dan menatap ke arah pelaminan.
Malam pesta dengan suasana manis dan penuh cinta. Gaun putih serta sepatu mewah ala cinderella telah melengkapi kesempurnaan pengantin wanita.
Begitu cantik bak bidadari yang turun dari kayangan, bergandengan mesra dengan seorang pria menawan nan manis senyumannya. Terlihat kharisma pria kaya dengan penuh pesona, apalagi saat mengenakan setelan jas warna hitam.
"Wow keren!" Othor yang terpesona padanya, hanya bisa menatap visualnya.
Lea yang masih berdiri dan menatap ke arah pelaminan, tampak berkata "Kalian berdua memang sempurna."
Sepasang pengantin bahagia ini, juga sedang menatap ke arah gadis ini, dengan senyuman manis mereka.
"Selamat untuk kalian berdua." Ucapnya dan entah pengantin itu mendengarnya atau tidak akan ucapan gadis ini.
"Bisa jadi, dia jodohnya." Haluan othor memang ada-ada saja.
Gadis ini sudah duduk di kursi khusus untuknya dan kembali menoleh ke arah pelaminan.
"Aku sangat bahagia." Ujar Lea dengan senang.
Aula hotel mewah yang telah di sulap menjadi ruangan romantis bertabur bunga. Perjamuan pesta pernikahan sudah dimulai dan gadis ini masih terus saja menatap ke arah pengantin, ia tidak menghiraukan ke sekitarnya.
Visualnya othor comot dari pinterest, dan kalian bebas berimajinasi sesuai bayangan kalian sendiri.
Anggap saja itu Varell dan Nada yang sedang melangsungkan acara resepsi pernikahan.
Sang Papa yang malah tertuju pada putri keduanya, lalu berbisik kapada istrinya tercinta "Mama, kenapa Lea berpakaian seperti itu?"
Sang istri dengan wajah tersenyum, memegang tangan suaminya, berkata dengan lembut "Kamu sangat mengenal putri kita. Dia sama seperti kita berdua."
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Lea yang ingin hidup bebas tanpa aturan dan pandai membantah perkataan orang yang lebih tua.
"Setidaknya, aku masih mengerti keadaan."
__ADS_1
"Tapi, putri kita masih labil. Biarkan saja seperti itu, dari pada dia akan membuat keributan di resepsi pernikahan Nada."
Padahal ada beberapa gaun mewah yang sudah disiapkan untuknya. Tetap saja, Lea bertindak semaunya sendiri. Memakai pakaian seperti hendak pergi ke club malam dan sang Papa merasa geram dibuatnya. Itu, sudah sering terjadi dan tidak bisa dinasehati.
"Papa." Melambaikan tangannya dengan imut dan tatapannya seolah Lea sangat terpesona dengan Papanya yang tampak mengenakan setelan jas warna hitam.
"Lea, Papa menyerah." Batin sang Papa dan sang istri yang berdiri di sebelahnnya telah kembali meredam perasaannya.
"Papa sendiri yang menginginkan anak kedua hadir ke dalam hidup kita. Papa, kita harus sabar menghadapinya."
Seorang asisten pribadi telah mendekat dan berkata "Lea, kamu sepertinya sudah gila."
"Kenapa memangnya?"
"Ini acara pesta pernikahan. Bukan acara pesta kampus."
"Yunaku sayang, kamu hari ini tidak perlu menggurui aku. Sana, kamu nikmati pestanya. Waktunya kamu mengenal para pria muda, jangan membututi aku terus."
Yuna, asisten pribadi yang seusia dengan tuan putri kedua ini. Dia juga teman ketika di rumah. Anak dari penjaga kebun dan sudah dipilih Lea untuk terus mengikutinya. Bahkan, satu jurusan yang sama di masa kuliahnya.
Lea, gadis berusia 20 tahun dan telah berkuliah di kampus swasta milik kedua orang tuanya.
Dari playgroup sampai SMA, Lea juga sekolah di yayasan pendidikan swasta milik sang Mama.
Tetap saja, Yuna sudah bagiakan ekor yang selalu ada di belakang Lea.
Akankah, ekornya ini akan terputus nantinya? Akan sampai kapan Yuna terus saja membuntuti Lea? Apakah akan ada perselisihan antara mereka berdua? Atau Yuna akan terus saja mendukung Lea?
"Yuna sayang, silakan nikmati pesta pernikahan Mbak Nada. Aku pergi duluan." Lea langsung kabur begitu mendapat kesempatan.
Pesta resepsi ini sudah banyak tamu dan Yuna juga mengenakan highheels serta gaun yang tampak mengekor, pastinya juga akan kesulitan untuk mengejar gadis ini.
"Ups, sorry." Dia yang bertabrakan dengan pelayan pengantar kue pengantin.
Lea yang dengan sengaja mencolek kue pengantin itu dan seorang pelayan tampak terkaget dibuatnya, tapi Lea tidak merasa bersalah sedikitpun, bahkan berjalan pergi dengan begitu santai.
3 jam kemudian
"Aku tidak membutuhkan ini."
Sorot mata itu, suara itu telah membuatnya terdiam.
Mungkinkah ini pesona akan pandangan pertama, bahkan dengan kekasihnya saja tidak muncul perasaan manis.
Seperti permen kapas yang Lea makan saat ini, rasanya begitu manis.
__ADS_1