
Baru jam 20.30 WIB. Lea yang berjalan dan tampak berdampingan dengan Setya. Saat ini, mereka berjalan menuju ke sebuah taman yang tidak jauh dari The Queen's Hotel.
Taman dimana, Lea pergi meninggalkan acara pesta pernikahan Nada. Malah akhirnya, melihat Setya yang duduk di kursi taman dengan raut wajahnya yang sendu.
Setya sekilas menoleh ke wajah Lea. Bertanya "Kenapa kamu mencari aku?"
Tampak berpakaian rapi dengan kaos putih yang dibalut kemeja kotak hitam dan dipadukan dengan celana jeans warna hitam.
Lea yang memegang ponsel, jari-jarinya menandakan kalau dirinya gelisah. "Aku, mau meminta maaf sama Mas Setya."
"Kamu kemarin sudah bilang begitu."
Keduanya masih terus berjalan, jalan utama yang sangat ramai di malam hari dan Setya bersamanya disisi kanan.
Setelah terlihat taman itu, dan mereka hendak menyebrang jalan raya.
Lea menoleh ke wajah Setya. Meski tampak dingin dan kaku. Setya saat ini menggandeng tangannya.
Setelah menyebrang jalan raya itu, tangan Setya melepaskan tangan Lea. Perasaan yang cukup menyentuh batin Lea, sampai Lea masih menatap ke sisi tangan Setya yang tadi menggandeng tangannya itu.
Senyuman tipis telah tampak tersirat dari wajah Lea, lalu berkata "Mas Setya terima kasih."
Setya membalas dengan senyuman tipis dan mereka kembali berjalan.
"Mas Setya."
"Iya."
"Apa Mas Setya sudah dapat pekerjaan baru?"
Setya menjawab dengan anggukan, yang menandakan bahwa dia sudah mendapatkan pekerjaan baru.
"Aku sudah bersalah. Kalau Mas Setya butuh sesuatu, bilang saja sama aku."
Mendengar hal itu, Setya berkata "Aku memang butuh bantuan kamu."
Keduanya saling menatap dan Lea merasa ada hal aneh. Tatapan Setya sudah membuatnya patuh, dan tidak kuat bila menatapnya terlalu lama.
"Mas Setya butuh bantuan aku?"
"Iya."
Lea masih saja menatap Setya.
"Kalau nanti bertemu Zio. Mintakan sama dia, untuk ambilkan ijazahku."
"Owh, soal Ijazahnya Mas Setya."
"Kenapa Mas Setya tidak pulang saja?"
"Untuk apa aku pulang. Mereka tidak suka aku tinggal disana."
"Tidak suka?"
"Zio pasti sudah cerita sama kamu."
"Tidak. Zio tidak cerita apapun." Lea hanya ingin mendengarkan dari kedua pihak. Bukannya Lea tidak mempercayai ucapan Zio tadi sore. Tapi, dengan mendengar penjelasan dari Setya sendiri, Lea akan bisa mengerti keadaan keluarga mereka.
"Aku bukan lagi keluarga mereka."
"Apa maksud Mas Setya?"
Tetapi, melihat raut wajah Setya. Lea tidak ingin lagi mengorek tentang keluarga Zio dan Setya.
"Mas Setya. Kalau soal Ijazah Mas Setya. Aku nggak bisa bantuin. Soalnya, aku nggak berani bilang sama Zio. Tapi kalau soal pekerjaan. Aku akan usahakan. Mas Setya mau pekerjaan seperti apa? Nanti aku akan bantu mencarikan pekerjaan untuk Mas Setya."
Setya tersenyum tipis dan belum sampai ada perkataan lagi.
Seett!
Tubuh Lea telah di raih Zio, saat ada orang yang bermain sepatu roda dengan cepat. Hampir saja, menabrak Lea. Karena Lea dari tadi hanya fokus menatap Setya. Bahkan, sampai detik ini. Lea masih menatap wajah itu.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Iya Mas." Lea yang bangkit dari dekapan dan menjauhi Setya.
60 detik yang sangat berarti, mungkin serasa permen kapas bentuk hati.
"Terima kasih."
__ADS_1
"Lebih baik, kita cari tempat duduk."
"Iya."
Mereka berjalan pergi dan ada yang sudah menatap mereka berdua.
Lea kembali menoleh ke wajah itu dan Setya tidak ada rona apapun di wajahnya. Meski terkadang, hanya sedikit senyuman tipis yang diberikan kepada Lea. Tetap saja, wajah Setya itu terlihat dingin.
"Duduklah."
"Iya." Balas Lea dengan lembut.
Sang Papa yang mengawasinya dari jauh sampai terheran. Bagaimana bisa, Lea jadi bersikap manis begitu. Apalagi dengan seorang pria yang baru dikenalnya.
"Lea, kamu tahu nomor ponselku dari siapa?"
"Dari pelayan yang bekerja di dapur." Jawab Lea dan benar memang begitu. Biodata itu dari pelayan dapur yang diberikan kepada pimpinan hotel yaitu Kakek Shin.
"Aku tidak tahu. Kalau kamu pemilik hotel itu." Ucap Setya.
"Bukan aku pemiliknya. Aku hanya tinggal disitu." Balasnya dan keduanya duduk di kursi taman yang sama.
Sesaat jadi terdiam, lalu Lea berkata "Mas Setya, soal kemarin. Aku memang mengikuti Mas Setya. Tapi, aku nggak berniat melihat Mas Setya sama Micheel."
"Tidak apa-apa. Aku sama Micheel, memang sudah putus."
"Putus?"
"Micheel tidak suka aku yang begini."
"Apa maksudnya Mas Setya?"
Lea berkata "Aku tidak tahu apa masalah kalian berdua. Tapi, aku melihat Micheel sepertinya peduli dengan Mas Setya."
"Tidak juga. Dia sama miripnya dengan Mama."
"Mama?"
"Iya, Tante Jenny memang dari kalangan bintang. Aku dulu juga pernah menonton filmnya."
"Kamu pastinya membela Zio. Bila aku berantem dengannya."
Setya berdiri, lalu berkata "Kalau kamu tidak bisa membantu aku. Sebaiknya, aku antar kamu ke hotel. Ini sudah malam."
"Mas Setya. Tunggu. Aku cuma nggak enak sama Zio. Apalagi, aku tidak mau terlibat urusan keluarga kalian. Aku akan carikan pekerjaan yang cocok buat Mas Setya. Aku yang bersalah, aku sudah salah. Aku nggak berniat menyusahkan Mas Setya."
"Kamu tidak perlu begitu."
"Iya Mas Setya."
Keduanya kembali berjalan dan Lea juga merasa nyaman ketika bersamanya.
"Mas Setya sudah makan belum?"
"Sudah."
"Kalau belum. Kita bisa makan bareng."
"Memangnya, kamu belum makan?"
Lea tampak menggeleng dan Setya jadi tersenyum tipis. Cukup lama keduanya saling menatap wajah.
Kembali berjalan dan sang Papa tampan itu juga mengikuti mereka berdua.
"Mas Setya, kita mau kemana?"
"Kita bisa makan bareng."
"Iya." Lea tanpa sadar, mengikuti ajakan Setya. Rasanya, saat ini ingin sekali berselingkuh dari Zio.
"Zio, maafin aku." Batin Lea.
Setya mengajaknya ke sebuah penjual bakso. Di taman ini, banyak pedagang kaki lima yang mendirikan stand di pinggiran area taman.
"Bang, bakso dua porsi." Ucap Setya dan si abang bakso mengode dengan jempolnya.
Setya mengambilkan bangku plastik, dan berkata "Duduklah disini. Aku mau beli minuman."
Lea seperti putri solo, yang duduk sopan dan sangat manis. Melihat ke arah Setya yang berjalan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Ada mini market yang tidak jauh dari situ dan Setya seraya berlari menuju kesana. Lea yang masih menatapnya dan berharap Setya lekas kembali.
"Lea."
"Papa." Lea yang terkaget saat melihat sang Papa sudah berdiri dihadapannya.
Sang Papa bertanya "Siapa dia?"
"Dia, Kakaknya Zio." Jawaban Lea.
Tatapan Lea yang berubah seperti anak kecil. Tampak cemberut gemas dan sang Papa jadi tidak tega melihatnya.
"Kamu harus jelasin sama Papa. Papa tunggu kamu di hotel."
"Iya Papa."
Setelah itu, sang Papa pergi. Sayangnya sang Papa juga tidak tega meninggalkan putrinya.
Sang Papa tampan itu malah segera mengambil bangku dan ikut memesan bakso. Duduk tidak jauh dari putrinya.
"Papa ngeselin. Bilangnya pergi, malah ikutan nongki disini."
Setya yang telah kembali dan Lea juga sudah menerima pesanan bakso tadi.
Keduanya duduk berhadapan, tampak manis. Setya membuka tutup botol minuman itu dan memberikan kepada Lea.
Sang Papa yang sebagai piguran tampak bergumam, "Hampir seperti masa mudaku."
Lea tidak banyak berkata, dia hanya menerima perhatian dari Setya.
Setya sendiri, hanya mengenal sosok Lea dari mulut Zio. Pria imut itu, selalu memamerkan sang pacar. Terkadang, Setya jadi malas mendengar ceritanya. Meski, hanya dari telephone saja.
Menikmati bakso di malam hari dan sang Papa tampan masih mengawasi putrinya. Sampai-sampai, tersedak dan Lea mendekatinya.
"Papa, pelan-pelan dong makannya."
Setya yang masih duduk, melihat dengan senyuman tipis.
"Papa minum dulu." Ucap Lea yang memberikan botol minumnya. Lea juga menepuk-nepuk pelan punggung sang Papa.
Setelah kejadian itu dan masih di tempat yang sama. Setya berkenalan dengan Papanya Lea.
"Jadi kamu, putranya Hendri?"
"Iya Om."
"Aku jadi mengerti."
"Papa, ayo kita pulang saja."
"Sebentar. Bakso Papa belum habis. Kamu juga harus makan lagi. Kalau perlu nambah baksonya."
"Papa." Lea merasa harus menjaga imeg di depan Setya. Meski dirinya kalau makan begitu lahap dan sampai nambah. Tapi, kalau di depan Setya, Lea tidak berani bersikap begitu. Yang ada malah sungkan dan canggung.
"Setya. Tolong pesankan lagi. Lea makannya banyak."
"Baik Om."
Lea jadi cemberut.
"Biar dia tahu aslinya kamu."
"Huh!"
Lea jadi duduk di sebelah sang Papa. Memegang lengan tangan sang Papa.
"Papa bisa ada disini? Ngikutin aku?" Bisik Lea kepada sang Papa.
"Iya. Papa ngikutin kamu."
"Papa nggak asyik."
"Apa dia orangnya, yang merubah sikap dan penampilan kamu?"
"Papa."
Lea menyandarkan kepalanya.
__ADS_1