
Tuan putri biasa dengan perlahan merelakan kesayangannya
Pelukan hangat dengan segenap kasih diberikan untuknya
Menumpahkan perasaan dengan mengecup kedua pipinya
Rona wajah dengan senyuman manis melepas kepergiaannya
Saat ini, Lea dan Setya berada di mobil alphard, duduk berdua di belakang sopir dan pengawal.
Setya memegang tangan istrinya, pelahan ia bertanya, "Sayang, kamu baik-baik saja?"
"Iya Mas." Jawabnya terdengar sendu.
Setelah 1 minggu bersama, mereka pergi dengan jalan terpisah. Yuna dan Zio ke arah selatan.
Sedangkan Lea dan Setya kembali ke Jakarta. Lea yang tidak ingin menangis lagi, saat berpisah dari kesayangannya. Lea sepanjang perjalanan hanya terdiam saja, tanpa berkata ini dan itu.
Satu minggu tidur seranjang dan Lea sangat memperhatikan kesayangannya. Dari menyiapkan baju untuk Yuna, merias wajah Yuna, memakaikan kutek dan menyiapkan makannya. Lea juga menyuapi Yuna di hadapan Zio.
Hal itu, Lea lakukan setiap hari, selama seminggu itu. Zio sampai menghafal, kebiasaan mereka berdua dan mulai belajar tentang keseharian Yuna dari Lea.
"Mas Setya, aku minta maaf. Sudah mengabaikanmu." Ucap Lea, manis.
Setya mengecup punggung tangan kanannya, sang suami berkata "Aku mengerti. Aku hanya tidak mau, kamu terlalu memikirkan masalah Yuna dan Zio. Mereka sudah dewasa, Zio pasti akan menjaga kesayangan kamu."
"Iya Mas. Aku terlalu egois. Aku tidak ingin seperti itu lagi. Aku ingin, Yuna juga punya kehidupan sendiri, tanpa harus berada di samping aku lagi."
"Kamu benar. Yuna harus bisa memulai hidup barunya dengan adikku."
"Mas Setya, aku juga ingin tinggal di rumahmu. Aku akan menjadi istri yang patuh Mas."
"Benarkah, kamu mau kesana?" Tatapan Setya begitu manis, tapi dia juga tidak tega dengan istrinya.
"Mas Setya, aku beneran. Lagian, aku sudah terlanjur cuti kuliah."
"Siapa bilang kuliahmu cuti? Mama malah sudah mengatur kuliahmu, agar cepat lulus." Ujar sang suami.
"Hah? Mana nggak ada Yuna. Tugasku bertambah berat." Suara itu terdengar sebal, tapi dia bahagia.
Setidaknya, Yuna tetap bisa menimba ilmu lagi, dan meneruskan kuliahnya. Lea tidak masalah, bila dirinya harus mendapatkan tugas berlipat ganda.
"Sayang, aku juga sudah mulai menyusun tesis. Papa juga meminta aku memimpin perusahaannya. Aku harap, kamu bisa mengurus diri kamu sendiri. Jangan sampai, terlibat masalah." Ucap sang suami yang kewalahan.
"Iya Mas. Aku janji, aku akan bisa hidup mandiri." Ucapnya begitu meyakinkan. Padahal, selama di desa sejuk, semua pekerjaan rumahnya, yang mengerjakan sang suami tampannya.
"Bener loh, bisa sendiri." Setya yang mulai menggoda istri gemasnya.
"Iya, iya Mas Bojoku. Aku akan berusaha menjadi istri yang hebat." Ucap Lea terdengar manja.
Yuna dan Zio, sampai lebih dulu. Mereka akan tinggal di kediamannya. Begitu memasuki rumah bak istana. Mereka berdua juga terkaget, saat beberapa pelayan sudah menyambutnya.
__ADS_1
Zio terdiam dan Yuna berkata "Terima kasih atas sambutan kalian."
"Nyonya, Tuan, saya Ijah. Pelayan utama di kediaman ini. Nyonya bisa memanggil saya, Bi' Ijah."
"Baik. Bi' Ijah." Balas Yuna.
Bi' Ijah berkata "Nyonya. Tolong, biarkan para pelayan yang membawa koper anda ke ruang ganti."
"Bi' Ijah tidak perlu sungkan. Saya bisa sendiri." Ucap Yuna.
Zio memegang tangan Yuna dan ia berkata "Berikan pekerjaan untuk mereka. Kamu jangan menghalangi pekerjaan mereka. Kamu, Nyonya bagi mereka."
Yuna mengerti, ia juga mengingat akan dulu dirinya yang bekerja untuk Lea. Ia selalu berkata "Sudah jadi pekerjaan aku. Kamu cukup memikmati semua pelayanan dariku."
Yuna tersenyum, meski dalam hatinya, ia masih berharap, agar bisa selalu ada disisi Nona pilihannya.
"Silakan bawa koperku. Tolong letakan di kamar saya." Ucap Yuna.
"Baik Nyonya." Ucap dua pelayan yang hampir seusia dirinya.
Dua gadis kecil yang baru lulus SMK. Mereka berdua, pelayan pilihan dari yayasan. Mama Beby yang memilihnya.
Sedangkan, Bibi Ijah adalah pelayan dari kediaman orang tua Papa Arjuna. Sayangnya, Yuna belum kenal dan Lea hanya bertemu beberapa kali, setiap berkunjung kesana.
Zio berjalan lebih dulu, mengenal beberapa ruangan yang ada di rumah barunya. Yuna masih merasa aneh.
"Nyonya, saya sudah mendapat surat dari Madam Beby. Beliau memberitahu saya, kalau Nyonya sedang hamil muda. Madam Beby meminta saya, untuk selalu menjaga Nyonya."
Ruang tamu dengan nuansa putih dan terkesan gaya klasik. Dari ornamen dan hiasan sekitar ruangan itu, semua seperti impian Yuna. Bisa jadi, Lea yang memilihkan rumah ini.
"Apa Nyonya ingin makan rujak?" Tanya Bi' Ijah, ingin menyenangkan sang Nyonya, yang telihat lebih muda darinya.
Bibi Ijah sendiri, berusia 40 tahun. Janda, karena suaminya meninggal dan tidak mau menikah lagi, meninggalkan dua putra di kampung halamannya. Hanya setiap lebaran, Bibi Ijah pulang kampung.
"Bi' Ijah, saya hanya suka mangga harum manis yang mengkel dan saya tidak suka makan rujak, itu saja." Ucap Yuna.
"Baik Nyonya, saya akan mengingatnya."
"Bibi, saya memang orangnya begini. Tolong mengerti keadaan saya. Bila sewaktu saya bad mood. Lebih baik, tinggalkan saya sendirian." Ucapnya.
Bi' Ijah berkata "Baik Nyonya. Saya mengerti. Saya permisi dulu."
Yuna jadi terduduk di sofa dan berusaha menata perasaannya. Ada rasa yang tidak bisa dia terima. Tapi, dia sudah berusaha untuk menerima keadaan saat ini. Apalagi, dirinya memang sedang hamil muda. Pikirannya belum tenang, tapi harus terpisah dari Nona pilihannya.
"Lea, aku harus bagaimana? Mereka memanggil aku Nyonya. Aku bingung." Batin Yuna yang gegana sendiri.
Dari lantai dua, Zio menatap ke bawah dan melihat eskpresi istrinya. Yuna perlahan mendongakan kepalanya ke lantai dua. Zio dengan wajah tersenyum, melambaikan tangan kanannya.
"Huh, imut selalu menggoda aku."
"Yuna, Yuna, sampai kapan kamu akan terus saja menuruti kemauan Lea?" Batin Zio berubah sesat.
__ADS_1
Kembali pada Lea dan Setya. Mereka juga sudah tiba di hotel. Selagi, baru kembali dari luar kota. Lebih baik istirahat di The Queen's Hotel.
"Mas mau kemana?" Lea melihat sang suami, yang bersiap dengan setelan jas warna abu tua.
"Sayang, barusan Papa telephone. Meminta aku, menyusulnya ke tempat meeting."
"Dimana?" Tanya Lea yang tampak bersantai di sofa, sambil memandangi bingkai foto dirinya dengan Yuna.
"Di Hotel seberang sana." Ucap Setya, yang menujuk ke sebuah bangunan hotel berbintang dari jendela kaca.
"Aku gimana? Mas, tidak mau mengajak aku?" Tanya Lea. Wajah itu, sudah tampak gemas manja dan berharap Setya mengajaknya.
"Aku pikir, kamu masih bad mood. Aku tidak berniat mengajakmu. Papa juga tidak menyuruh aku, membawamu pergi bersamaku" Jawaban suaminya.
"Aku curiga, apa Papa mau mengajak Mas Setya bertemu klien? Para wanita cantik? Apa Micheel?" Tatapan Lea begitu mencurigai suaminya.
"Ya sudah, terserah Mas Setya." Bibir itu jadi cemberut manja.
Setya mendekat dan mencium keningnya, "Aku hanya menemani Papa mertua."
"Aku juga bisa cemburu buta. Apa Mas Setya nggak takut? Kalau, aku tiba-tiba datang dan mengacaukan pertemuan kalian?" Suaranya gemas.
Setya membalas istrinya, "Iya, sana kacaukan pertemuan Papa. Aku tidak masalah. Lagian, Papa mertuaku yang akan malu, bukan aku."
"Kenapa bisa begitu? Aku istrimu Mas Setya?" Semakin gemas manja.
"Aku tahu, lagian aku juga tidak tahu soal pekerjaan Papa. Aku juga tidak kenal sama orang-orang itu. Terus, kenapa aku harus malu, kalau kamu datang mengacaukannya. Aku hanya tinggal diam, pastinya orang itu akan bertanya-tanya, siapa anak perempuan ini, sampai berani mengacau. Pastinya, Papa mertuaku juga akan berpura-pura tidak mengenal kamu." Balasan suaminya memang kejam, tapi Lea pernah begitu. Papa Arjuna cuek dan berpura tidak mengenal putrinya.
"Suamiku lebih kejam dari Papaku sendiri. Aku harus cari ide."
Lea merapikan jas suaminya. Lalu berkata "Benar, suamiku harus bisa menafkahi aku. Silakan bekerja dengan giat. Aku tinggal menantikan hasilnya."
Tangan Setya mencubit gemas pipi Lea, ia berkata "Istriku sudah berubah manis. Nanti, setelah selesai kerja. Aku bawain permen kapas."
"Iya, harus. Wajib. Jangan sampai lupa." Begitu gemas suara Lea.
Setya berkata "Sini, cun-cun sayang. Aku mau berangkat sekarang."
Setelah mengecup pipi kanan kiri dan kening istrinya. Setya masih memegang wajah istrinya dengan gemas.
"Aku tidak akan membuat kamu cemburu. Semisal kamu cemburu karena wanita yang ada di sekitarku nanti. Aku merasa beruntung sekali, ternyata istriku sangat mencintai aku."
"Iya, aku mencintai kamu Mas."
"Aku pergi dulu. Kamu istirahat saja. Aku akan segera kembali."
"Iya Mas, aku mengerti."
Setya pergi meninggalkan istrinya seorang diri.
"Yunaku sayang, aku kesepian." Rengeknya.
__ADS_1