Permen Kapas

Permen Kapas
Sayang Kesayangan


__ADS_3

Kasih sayang yang sudah tercipta untuk selamanya.


Dua perempuan manis sedang bercerita keluh kesahnya.


Sapu tangan merah muda menyeka air mata beningnya.


Pelukan hangat nan mesra mendekap jiwa dan raganya.


Tak banyak berkata, tentang masalah yang menimpanya. Sebuah pelukan hangat, yang kini diberikan oleh sahabatnya.


"Yunaku sayang. Aku merasa senang, kamu putus dari Bang Kevin." Ucap Lea. Yang seakan kegirangan. Temannya menangis baper karena putus. Mulut Lea malah membuka kejujurannya.


Yuna menatap Lea, yang memberikan respon bahagia kepadanya. Yuna jadi berkata "Lea, kamu malah bahagia, dia atas luka bantinku ini."


"Banyak pria lain yang akan mengantri untukmu." Balasnya, tanpa basa basi.


Yuna mendorongnya, agar Lea tidak memeluknya. Keduanya memasang wajah cemberut gemas.


"Lagian, Bang Kevin bukan satu-satunya pria di dunia ini. Yunaku sayang."


"Aku tahu." Ketusnya Yuna.


Lea berkata pelan. "Yunaku sayang. Bang Kevin hanya fokus sama para bintangnya, dan dia tidak bisa fokus sama kamu."


"Kamu senang, melihat aku sedih begini?" Yuna semkin cemberut gemas.


"Bukan begitu Yunaku sayang. Aku maunya, kamu itu di sayang, bukan diabaikan, begitu." Pungkasnya dan menunjukan perhatian sayangnya.


Saat ini, sudah jam 9 malam. Lea yang baru kembali ke hotel, dan langsung Mencari kesayangannya.


Lea juga tahunya, dari Zio. Saat tadi makan malam bersama, di rumah Ayah mertuanya.


Setelah kembali ke hotel, Lea tidak basa basi, ia memeluk erat sahabatnya dan memberikan ucapan, selamat menjomblo.


Memang keterlaluan, tapi Yuna juga merasa lega. Setidaknya, ia akan bisa berkencan dan mengenal dekat pria lainnya.


Yuna berkata, "Si imut memang eemberr."


"Emh, tadi Zio bilang, kamu nangis di mobil. Makanya, aku buru-buru ke kamar kamu."


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya menyesal. Sudah membuang waktuku dengan percuma."


"Berkat masalah ini, kamu jadi bisa memilah, pria mana yang akan selalu ada untukmu dan membuat kamu bahagia."


"Tumben! Ucapan kamu bener." Yuna merasa, sikap Lea sudah dewasa.


"Sayang, aku merasakan perhatian Mas Setya. Jauh dari apa yang aku duga. Apalagi, tadi kita bertemu Micheel. Aku jadi, bisa bersikap apa adanya. Aku tidak ingin mematahkan perasaanku sendiri. Aku mencintai suamiku." Ucapnya begitu gemas dan membuat Yuna mengerti.


Yuna seolah menelan ludah, ia berkata "Owh, pantas saja. Micheel langsung ke apartemen Kevin dan mengadu padanya."


"Apa kamu nyesel, putus dari Bang Kevin?" Tanya Lea


Jawaban Yuna, "Aku tidak menyesal."


Perasaannya sekita menjadi aneh, waktu putus dari Kevin. Yang seolah tidak bisa bersikap dewasa. Setidaknya, bisa putus baik-baik. Semisal dirinya bertemu lagi, tidak akan canggung. Pastinya, akan tetap bertemu.

__ADS_1


Lea kembali memeluk Yuna, ia berkata "Pergilah sesuka hatimu. Aku tidak akan melarangmu. Carilah pria tampan, yang peka dan sayang sama kesayanganku ini."


"Benarkah? Aku boleh pergi sesuka hatiku?" Yuna yang mulai berbinar manis manja.


"Iya, Yunaku sayang." Jawab Lea.


"Aku! jadi ingin pulang kampung." Ucap Yuna dengan gemas manis.


"Owh, kamu kangen Ayahmu?? Tadi, aku melewati rumahmu. Sepi banget." Ujar Lea.


Tadi sewaktu Lea pergi ke acara pesta, ia melewati rumah Yuna, yang berada di sebuah kota pinggiran Ibukota.


"Kamu lewat sana? Jauh bener acara pestanya?" Yuna merasa heran.


"Ternyata, pesta itu, ulang tahunnya Cherry. Tahu begitu, aku ajak kamu kesana. Pastinya, kamu tidak akan menangis manja." Nyerocosnya dengan gaya tengil.


"Hemms, kalau aku ikut sama kamu. Aku juga nggak bakalan putus dari Kevin." Balasan Yuna.


"Kamu masih ingin balikan sama dia?" Tanya Lea.


"Tidak. Mana bisa aku begitu. Dulu aku sama Jerry, putus juga nggak mau balikan lagi."


"Itu masih SMA. Anggap aja cinta monyet. Aku tahu, kamu masih suka sama Bang Kevin dan mengharapkan cintanya. Iya-kan, Yunaku sayang?" Ledekan Lea.


Yuna jadi tersenyum manis.


"Sepertinya begitu. Aku bakalan susah tidur, kalau dia tidak telephone aku. Tapi, kalau tidak begini, mana aku tahu, kalau Kevin mempedulikan Micheel. Sampai Micheel bawa kunci apartemennya." Ungkap Yuna memikirkan Kevin.


"Hissh, bilangnya nggak mau balikan. Tapi, susah move on. Sudah, jangan menangis lagi. Aku akan geprek Bang Kevin buat kamu."


Lea bisa bilang begitu, padahal mantan kekasih suaminya juga belum bisa lupa. Bilangnya putus, tidak mau diganggu, tapi susah melupakan Setya.


"Hah??" Tatapan Lea gemas, kaget dan merasa aneh.


"Kamu yang bilang, aku harus menjaga dia untuk kamu. Kamu bilang akan merestui aku. Ya sekalian, itung-itung aku bekerja." Yuna yang memasang wajah anehnya.


"Iya juga, terserah kamu saja. Tapi ingat! Jangan sentuh imut sebelum waktunya. Aku cemas. Akhir-akhir ini, dia jadi berubah."


"Kalau dia sudah berubah jantan. Dia dong yang menyentuh aku duluan." Balasan Yuna semakin aneh.


"Eh, kebalik ya. Aku pikir, kamu lebih dewasa. Aku takut, kamu ngajarin Zio mainnya dewasa."


"Idih, kamu gila. Aku mana pernah begituan."


"Hayo, ngaku deh. Sama Bang Kevin ngapain aja? Aku nggak percaya kalau kamu cuma ciuman."


"Lea, kalau aku udah begituan, aku jadi bunting dan pastinya bakal di gorok sama Ayahku. Kamu tahu sendiri, gimana Ayahku, kalau dia marah."


"Bener juga. Apa nantinya, aku juga bisa hamil??" Lea bingung.


Yuna dengan wajah curiga, memegang kedua bahu Lea. Menatap dengan serius, wajah sosok yang ada dihadapannya ini.


"Lea sayang, kamu beneran sudah MP??"


Lea mengangguk, ia berkata "Aku hanya mengikuti ajaran kamu. Tapi, aku masih salah."

__ADS_1


"Ajaran aku?" Yuna bingung.


"Waktu di chat. Kamu bilang, aku harus bisa memuaskan suamiku, sampai dia berpaling dan melupakan mantannya. Ya, aku bawa ke ranjang panas. Tapi, suamiku tidak merespon, lama-lama, dia ngajarin aku."


"Wah, kamu gila. Aku tidak menulisnya begitu. Katamu, kamu mau masak, ya aku bilang kamu harus bisa memuaskan perutnya dari kelaparan. Begitu maksud aku." Yuna seolah tidak mau disalahkan, padahal ya memang begitu adanya.


"Sama saja, intinya ya memuaskan."


"Terus, dia ngajarin apa?? Apa Setya udah pernah begituan sama Micheel?"


"Dia yang nuntun permain. Rasanya manis banget, sampai aku melayang ke udara sambil memeluk permen kapas yang besar." Jawaban polosnya dan Yuna berfikir kalau sosok Setya diam-diam mengahanyutkan.


"Baguslah, kalau kamu sudah MP. Tapi kalau hamil, kamu urus dirimu sendiri. Jangan panggil aku. Kalian berdua yang berbuat, aku tidak mau bertanggung jawab." Ulasnya.


"Loh, kenapa? Bukannya kamu masih ingin bersamaku?" Lea jadi cemberut manis manja.


"Ogah. Lebih baik, aku cari pacar baru, dari pada ngurusin Bumil." Jawabnya yang berusaha menolak.


"Aaa. Yunaku sayang. Aku tetap butuh kamu." Rengekan Lea dan wajah itu menggemasakan.


"Suamimu yang berbuat, dia yang harus menjaga kamu." Ucapan Yuna ini, memang alot.


"Mana kemarin nggak pakai pengaman. Batin Lea.


Lea memegang tangan Yuna, ekspresinya yang berubah gemas manis. Ia bertanya "Yunaku sayang. Gimana kalau aku sampai beneran hamil? Aku nanti harus gimana?"


Tidak ada balasan, Lea semakin berubah panik dan beranjak dari sofa.


Lea yang loncat-loncat dan tidak bisa dimengerti, apa maksudnya dengan tindakan begitu itu. Melihat hal itu, Yuna geleng-geleng.


"Hei dodol, mana bisa keluar lagi. Itunya, sudah mulai proses. Nanti bisa jadi adek bayi."


"Aaaa." Lea merengek dan kembali duduk di sofa, semakin merasa gelisah.


Yuna memegang tangan Lea, ia berkata "Aku harap, kamu bisa jadi Mommy yang hebat. Oke."


"Aaaa. Jangan bilang begitu."


"Tetap saja. Seorang istri nantinya bisa menjadi Ibu. Yang mengandung, melahirkan dan mengasuh anaknya." Yuna mengelus tangan Lea, tampak begitu sabar.


"Yunaku sayang. Aku jadi berdebar. Aku nggak mau lagi tidur sama Mas Setya."


Yuna berkata, "Lea sayang, kamu sudah terlanjur bersamanya. Lagian, sudah tahu rasanya, pasti bakal ketagihan. Kamu bilangnya begitu, kalau dia menggoda dalam belaiannya. Kamu tidak akan bisa menahan diri."


"Ya siapa tahu, bulan depan aku M dan tidak bisa jadi dedek bayi. Aku akan selalu cek ke dokter dan minta KB." Bahasa Lea yang memang begitu adanya.


Setelah itu, kedua orang itu tidur bersama di satu ranjang. Suaminya tidak mau mengganggu mereka berdua.


Setya jugaa di hotel dan tidur sendirian tanpa istrinya. Rasanya susah tidur ketika Lea jauh darinya. Meski baru beberapa hari tidur bersama, Setya merasakan hal yang luar biasa.


"Baru sebentar. Aku kangen."


Malam ini, Setya hanya bisa memeluk boneka kesayangan Lea.


Ketika, tidak bisa memegang kesayangannya, "Oh...My Sweetie". Pinky imut gemas manis, seakan ingin segera menggigit lembut kesayangannya.

__ADS_1



Kuda saja menjadi kesayangan Lea, apalagi Yuna, Zio dan Setya.


__ADS_2