Permen Kapas

Permen Kapas
Bib Bib Bib Calon Mantu


__ADS_3

Masih di waktu yang sama, Zyan yang masuk sekolah. Sudah tampak duduk anteng di sebelah gadis pujaan hati.


Cassandra, gadis cantik nan jelita, tampak menggemaskan. Cassandra Velovia Wijaya putrinya Rainer, mantan kekasih Bunda Lea.


Rainer menikahi Cherry. Gadis kecil yang dulu ngebet banget, ingin dinikahi Rainer, dan akhirnya kesampaian.


Di usia belia menikah dengan Rainer sang Cassanova. Setelah mereka menikah kemudian, Mommy Cherry hamil Cassandra.


Gadis belia yang berusia 11 tahun dan tampak menjalin hubungan cinta monyet dengan Zyan. Meskipun, Zyan baru berusia 11 tahun, tapi dia sosok yang menawan dan sangat perhatian kepadanya.


Mereka duduk bersebelahan dan Zyan sangat menyukai Cassandra.


"Cassandra, nanti kita pulang bareng ya." Tulisan Zyan di secarik kertas yang diberikan pada Cassandra.


Setelah membaca tulisan Zyan, Cassandra menoleh dengan senyuman dan mengangguk.


Ciee.


Seakan menari di atas awan dan memeluk permen kapas yang mengembang lembut, rasanya manis sekali.


Cassandra begitu manis dan wajahnya itu tampak campuran. Karena, Mommy Cherry sendiri juga berwajah blasteran seperti Kakeknya Cassandra, mirip Oppa Korea.


Bocil dua ini malah bikin baper gurunya, yang tidak lain adalah Adiknya Mommy Cherry.


"Cassandra. Zyan." Panggilan dari guru tampan ini dan terdengar tegas.


"Iya Pak guru tampanku. Ada apa?" Tanya Zyan.


Cassandra hanya tersenyum, saat menatap guru tampannya ini.


"Zyan, Cassandra. Apa kalian berdua sudah menyelesaikan soal-soal halaman 45?" Tanya Pak guru tampan ini, yang tidak lain adalah Omnya Cassandra.



Calvin Ramansyah Putra Hermawan. Hissh, namanya sama panjanganya dengan nama Mommy Cherry. Ya jelas saja. Mereka itu, satu cetakan dari Nenek Sindi dan Kakek Hermawan.


Adiknya Cherry berusia 26 tahun. Sampai sekarang masih memjomblo dan tidak ada masa romansa manis dalam kesehariannya itu.


Yang ada hanya mengajar, bekerja di perusahaan Papanya dan menjaga Cassandra.


"Pak Guru, saya sudah selesai." Ucap Cassandra. Kemudian berjalan ke depan, untuk menunjukan jawaban dari soal-soal matematika halaman 45.


Pak guru tampan ini, menatap ke tulisan Cassandra. Begitu rapi dan indah tulisan bocil yang beranjak remaja ini. Pak guru tampan ini, juga selalu memberikan jam belajar tambahan setiap di rumah dan Cassandra juga mematuhinya.


"Lanjutkan halaman berikutnya."


"Baik Pak guru." Ucap Cassandra dan ia membawa kembali bukunya. Zyan juga sudah genit pada Cassandra, ia tadi tampak mengedipkan mata kanannya.


"Dasar. Anak nakal." Batin Pak guru tampan ini, yang melihat kenakalan Zyan pada keponakan cantiknya.


Pak guru tampan ini, juga guru bimbingan belajar Kakaknya Zyan.


Kai sama genitnya dengan Zyan. Tahu saja kalau Pak guru tampan ini jomblowan.

__ADS_1


Jomblo menawan nan rupawan.


Pak guru tampan yang tidak punya tambatan hati, malah sibuk mengurusi keponakannya.


Sebab, Daddy Rainer dan Mommy Cherry tinggal di negeri singa, karena pekerjaan Daddy Rainer yang mengharuskan mereka tinggal disana. Mommy Cherry paham, kalau suaminya itu buaya darat, kemanapun perginya, Mommy Cherry selalu mengikuti suaminya tercinta.


Cassandra dari bayi, sudah bersama Kakek dan Neneknya. Lalu, setelah SD malah ikut Om bujang tampan ini dan tinggal bersamanya di Jakarta.


Om tampan, tidak mau kejadian Cherry terulang lagi, yang ingin menikah muda dengan Rainer. Cherry mengejar cowok yang berusia matang, sampai hamidun dan keguguran. Lantas, Rainer akhirnya bertanggung jawab. Kemudian, ada si bayi cantik yang bernama Cassandra ini.


Siapa yang menyatukan mereka, kalau bukan Bunda Lea. Daddy Rainer awalnya menolak dengan alasan, si imut Cherry yang mengejarnya. Sampai akhirnya, ribut besar dengan Bunda Lea.


Saat itu Cherry belia, tiba-tiba muncul dihadapan pria mateng yang hobby ke hotel. Pria mana yang bertahan, kalau dibuntuti dan ditantang hasrat sexxualnya.


"Cassandra. Aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan Zyan." Batin Pak guru ini, hareudang sendiri melihat keponakannya yang beranjak remaja.


Pada akhirnya, Om ini harus menjaga ekstra keponakannya. Apalagi, Zyan juga nekatan. Pak guru ini selalu merasa bersyukur, setiap Zyan tidak masuk sekolah.


Cassandra lebih fokus belajarnya. Bila Zyan tidak masuk sekolah. Yups, begitulah mereka.


Cassandra juga menuruti ajakan Zyan. Bahkan, nanti ke kantin juga makan bareng. Om ini, jadi kelabakan sendiri.


"Zyan!!" Tegurnya.


"Iya Pak. Ini tadi ada lalat terbang menganggu Cassandra." Kilah Zyan.


Bilang saja, mau nyamperin Cassandra dan setiap belajar selalu saja ada ulah tengilnya.


"Kakak beradik sama saja!" Batin Pak Guru tampan ini, saat melihat ke layar ponselnya.


[Pak Guru tampanku. Kai berangkat ke Jakarta. Soalnya, nanti malam ada acara keluarga. Lesnya, Kai ajukan di jam siang ya Pak. Sampai bertemu di hotel.]


Hotel Eyangnya, menjadi tempat janjian untuk melakukan sesi bimbingan belajar.


"Aku gurunya. Tapi, dia yang mengatur jam belajarnya." Desisnya pelan.


Kai yang gemas manja dan sang Eyang bisa melihat rona bahagia di wajah cantiknya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya sang Eyang.


"Bukan apa-apa Eyang. Ini baca balasan dari Pak Calvin." Jawabnya dan kembali menatap layar ponselnya.


Sang Eyang putri yang duduk di sebelah kanannya, mengelus rambut Kai dengan sabar dan penuh kasih sayang.


"Kamu sudah gadis. Sebentar lagi ulang tahunmu ke-17. Kamu ingin hadiah apa?" Tanya sang Eyang kepadanya.


Kai menjawab "Terserah Eyang saja. Kai apa saja suka." Batinnya sudah mengoceh, "Pak Calvin juga boleh."


Iihir... Ini remaja genit, dia juga terpesona akan sosok Calvin.


Pandangan Kai terhadap Pak guru tampannya memang berbeda.


Calvin sosok yang cool nan galak. Kai malah tertantang untuk mendekatinya. Meski, dirinya harus bersikap genit.

__ADS_1


"Em, galaknya kebangetan. Tapi aku suka." Kai yang melihat, emoticon garang, dari guru tampannya ini.


Eyang Beby juga mengerti akan sikap Kai yang begitu adanya. Eyang Beby bertanya "Kai sayang, apa kamu menyukai guru bimbelmu?"


"Pak Calvin. Dia sosok yang dingin. Galak banget orangnya. Kai cuma suka menggoda dia saja. Habisnya, sudah umur segitu. Katanya nggak punya pacar."


Eyang Beby tersenyum, dengan lembut berkata "Kamu ini, itu namanya tidak sopan. Biarkan saja, kalau gurumu itu ingin melajang. Mungkin saja, dia hanya menginginkan pernikahan, bukan pacaran."


"Emh, kalau memang ingin menikah. Kenapa tidak menikah saja. Nanti jadi bujang lapuk, malah nggak laku-laku." Kai terkekeh, mengingat Kakak tampanya, "Untungnya saja, Mas Raja bisa menikah. Kalau tidak, pasti malam ini menangis lagi."


"Kai sayang, kamu tidak boleh begitu. Masmu sudah banyak pikiran. Raja sudah berusaha menjadi Kakak yang baik untuk adik-adiknya."


"Iya, tapi aku tidak suka. Mas Raja menikah muda. Harusnya, Mas Raja bisa kasih contoh yang baik buat adik-adiknya." Adik satu ini, bisa saja ngomongnya kalau mau ngejatuhin Kakaknya.


Sang Eyang, jadi terdiam saja dan Kai merasa salah berucap. Ia memegang tangan sang Eyang putrinya. Lalu berkata "Eyang sudah berbuat benar. Tapi, kalau Mas Raja tidak bahagia dengan Ratu, bagaimana kehidupan Mas Raja nantinya?"


Sang Eyang mengelus tangan Kai dengan lembut, lalu berkata "Eyang hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Raja dan cucu Eyang semuanya. Termasuk kamu juga sayang."


"Iya Eyang. Terima kasih." Balasnya dan tampak menggemaskan.


Mobil sedan mewah berwarna hitam. Telah melaju ke arah Jakarta. Eyang dan Kai, berada di mobil yang sama. Lalu, di mobil lain, ada Eyang Arjuna bersama dua cucu kembarnya dan dua mobil pengawal, yang mengawal perjalanan mereka.


Setelah jam 11 siang. Yang di kampus sudah selesai perkuliahan paginya. El keluar lebih dulu. Karena, dia merasa pusing setelah presentasi di hadapan para mahasiswa.



"Singa. Kamu masih disini?" Tanya El dan menatap ke wajah pengawal pribadinya.


"Saya menunggu Nona." Jawabnya dan tampak berdiri tegap.


"Kamu pasti lelah. Mata pandamu sampai terlihat jelas." Ucap El.


"Saya sudah terbiasa begini." Balasnya.


El berjalan melewatinya, berkata pelan "Aku jadi tidak bisa bebas."


"Nona ingin bebas?" Si Singa tahu-tahu sudah berjalan di sebelahnya.


Percuma juga ngambek sama Raja, El malah dikawal lagi. Mana Singa yang mengawal El.


"Apa tidak ada pengawal lain, selain Singa?? Aku heran sama Raja. Bisa-bisanya, menugaskan Singa."


El merasa kalah bila Singa yang mengawalnya. Tenaga Singa juga lebih kuat dan berani menggendongnya begitu saja, sampai dia tidak bisa melawan Singa. Ya, seperti semalam itu, El tidak bisa memberontak.


Sing berjalan di sisi kanan El, agak mundur kebelakang. El masuk ke toilet perempuan.


"Kamu masih mau mengikuti aku?"


"Silakan Nona. Saya akan menunggu disini."


"Bagus kalau begitu."


El sama saja, seperti Bunda Lea muda. Suka kabur begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2