Permen Kapas

Permen Kapas
Menolak Perjodohan


__ADS_3

Di malam yang bersamaan. Sebuah acara makan malam dan pertemuan sedang berlangsung.


Lea yang berdiri di antara kedua orang tuanya, dan menatap kedua orang tua Zio.


"Jadi, ini yang namanya Lea?"


"Iya Om Hendri. Saya Lea." Lea yang menjabat tangan dan sangat berdebar.


Lea sama sekali tidak tahu, tentang acara makan malam ini. Kedua orang tuanya memang mengajaknya untuk makan malam di sebuah restoran. Tetapi, Lea tidak berfikir kalau akan ada pertemuan, dengan orang tuanya Zio.


"Lea, kita bertemu lagi." Mama Jenny yang sudah akrab padanya.


"Iya, Tante Jenny." Jawab Lea dengan bibir tersenyum.


Kedua orang tua Lea dan Zio, ternyata sudah saling mengenal. Kalau Papa Arjuna, memang orang penting dalam dunia bisnisnya Presdir Hendri.


Ada satu bisnis besar yang sedang mereka jalin, dan itu sudah sepuluh tahun.


Mama Beby juga mengenal Jenny, setiap acara arisan sosialita. Apalagi, Mama Jenny sempat menjadi lawan main Papa Arjuna, ketika dulu masih menjadi seorang aktor.


Papa Arjuna yang kala itu sudah naik daun dan Mama Jenny seorang artis baru, mereka membintangi acara show. Berkat Mama Beby, Mama Jenny banyak belajar tentang fashion.


"Madam Beby. Selalu menarik dimata saya." Ucap Jenny, yang tidak basa basi.


"Kamu juga, selalu terlihat muda." Balasnya dan keduanya tersenyum.


"Putra tampanku, sedang menuju kemari. Mari silakan, kita duduk dulu." Ucap Presdir Hendri.


Lea tiba-tiba merasa aneh, siapa yang dimaksud oleh Papanya Zio. "Zio masih berpesta dengan Yuan. Apa dia, Mas Setya?"


Saat itu juga, Lea menoleh ke arah pintu. Sosok tampan nan menawan, senyuman tipis sudah tersirat di wajah tampannya.


"Mas Setya." Gumam Lea dan masih tertuju, pada sosok tampan yang berjalan mendekat.


"Nah, itu dia. Putra tampanku."


Jenny menoleh ke arah Setya dan ia merasa baik-baik saja.


Mama Beby jadi melihat sendiri, sosok Setya yang sudah berada di hadapannya.


"Arjuna, ini putra yang aku ceritakan sama kamu."


"Iya, dia sangat menawan. Seperti kamu."


"Arjuna, bagaimana kalau kita percepat pertunangan mereka."


"Pertunangan??" Lea yang syok saat mendengarnya.


Mama Jenny menatap wajah suaminya dengan rasa berdebar. Bagaimana bisa, suaminya menjodohkan Setya dan Lea. Apa yang akan terjadi dengan putra kandungnya.


"Papa." Panggilan suara Jenny dan ia merasa gelisah.


"Mama, aku lupa cerita sama kamu. Kalau aku berniat menjodohkan Setya dengan putrinya Arjuna."


"Papa, tapi Zio??"


"Zio hanya bermain-main. Lea sudah mengenal dekat Setya."


Setya hanya tampak diam dan Lea menoleh ke wajah Setya, dengan rasa tidak karuan.


"Papa?" Lea menarik-narik sisi jas yang dikenakan oleh sang Papa.


"Iya sayang, ada apa?" Tatapan sang Papa begitu tenang.


Raut wajah Lea sudah gelisah, "Papa bilang kita cuma makan malam."


"Iya, kita memang makan malam." Balas Papa dan masih santai.


"Itu tadi, apa maksudnya dengan perjodohan?" Tanya Lea dengan tatapan sendu.


"Sayang. Papa ingin kamu bahagia."


Lea menatap ke semua orang. Ada rasa yang susah diungkapkan olehnya. Saat ini, Lea memang menyukai Setya, tapi untuk rasa yang lain. Lea memilih untuk tetap bersama Zio. Bagi Lea, Setya hanya pemanis sesaat saja.


Lea berkata "Aku tidak suka dengan perjodohan ini."


Lea meraih tasnya dan pergi dari ruang makan itu. Ruangan VIP yang dipesan khusus oleh Presdir Hendri, seketika hening.

__ADS_1


Mereka saling menatap dengan gelisah.


Mama Beby segera bangkit dari kursi dan Setya sudah lebih dulu mengejar Lea.


Sang suami memegang tangan istrinya dan menggeleng, menandakan kalau sang istri tidak perlu ikut campur.


"Papa. Mama sudah bilang." Bisik sang Mama yang sensi.


"Mama tidak perlu cemas. Papa yakin, Lea bahagia." Papa dengan raut wajah meyakinkan.


Mama Jenny juga merasa ini sudah salah. Mama Jenny tidak henti memikirkan nasib asmara putra tampannya.


"Papa sudah keterlaluan." Batin Mama Jenny sangat tidak senang. Suaminya telah meruntuhkan perasaan putra kandungnya. Tetap saja, meski Mama Jenny bisa saja membujuk suaminya. Tetapi melihat sorot mata Papanya Lea. Sebagai orang tua, Mama Jenny bisa menebak.


"Papa. Mama mau ke toilet dulu." Ucap Mama Jenny kepada suaminya.


Presdir Hendri membiarkan saja, istrinya pergi sesuka hati.


Papa Arjuna dan Presdir Hendri saling menatap dengan keputusannya. Mama Beby masih mencemaskan putrinya.


Setya yang mengejar Lea, akhirnya bertemu di parkiran. Setya yang telah meraih tangan Lea, "Lea."


"Mas Setya sudah tahu?" Tatapan Lea begitu sendu.


Setya hanya mengangguk.


Lea bertanya dengan suara pelan, "Mas Setya kenapa nggak cerita sama aku?"


Setya menatap teduh sosok gadis yang telah dijodohkan dengannya, ia berkata "Lea. Aku juga baru tahu, saat tadi Ayah memintaku untuk datang.


"Kenapa nggak telfon aku?"


"Lea, aku minta maaf." Setya juga buru-buru datang setelah Ayahnya menghubungi.


"Aku harusnya tidak datang kesini." Ucap Lea dan ia sudah menangis. Air mata itu, telah menjawab penolakan perjodohan mereka.


"Kamu tidak suka?" Tanya Setya.


"Aku hanya tidak suka dengan sikap para orang tua kita." Jawab Lea.


Setya meraih Lea, ke dalam dekapannya.


Ada orang yang telah memotret mereka. Langsung mengirim ke Presdir Hendri.


Presdir Hendri sudah tersenyum manis dan menunjukan kepada kedua orang tua Lea.


"Lihat mereka berdua. Sangat serasi."


Sayangnya, Mama Beby tidak berkenan dengan acara perjodohan ini. Mama Beby sangat gelisah.


"Lea sayang, maafin Papa kamu." Batin Mama.


Mama Beby menoleh ke wajah sang suami. Keputusan tetap ada pada Lea. Tetapi, setelah melihat foto itu, Papa Arjuna dan Presdir Hendri semakin antusias pada perjodohannya .


"Bagaimana? Kita percepat saja pertunangan mereka berdua."


"Nanti aku tanyakan dulu sama Lea. Dia suka nekat."


"Baik, kita harus menjadi keluarga. Bukannya begitu, Madam Beby Ayazma."


Mama Beby hanya tersenyum. Kedua orang tua itu, sudah merencanakan setelah di hari pertama Papa Arjuna bertemu Setya.


Di saat ini, Lea yang masih sendu dan Setya mengajaknya untuk pergi dari restoran mewah ini.


"Kita mau kemana?" Tanya Lea.


"Ke hotel. Aku akan mengantar kamu pulang." Jawab Setya.


Lea merasa tidak suka dengan sikap sang Papa yang menjodohkan dirinya begitu saja. Tanpa mengatakan lebih dulu kepadanya. Meskipun, perasaan asmara itu ada untuk Setya, tetap saja perjodohan ini bermasalah. Apalagi Lea masih sangat menyayangi Zio. Mana bisa secepat ini, mengalihkan perasaannya untuk pria lain.


"Mas Setya. Aku ingin bertemu Zio." Pinta Lea dengan suara sendu.


"Baik. Aku akan mengantar kamu bertemu Zio." Balas Setya dan bersikap dewasa.


Lea kembali gelisah dan rasanya sakit hati. Bagaimana bisa, Papanya Zio berkata begitu. Meski Lea dan Zio hanya berpacaran biasa, tapi mereka berdua bukan lagi anak-anak.


Lea dan Setya, akhirnya pergi ke pesta tahunan kampus Glory.

__ADS_1


Zio dan Yuna, saat ini sudah tampil di atas panggung. Sesuai rencana, ia bisa mencium Yuna dihadapan warga kampus Glory.


"Wah, gila. Mereka ciuman beneran."


"Eh, Clarissa gimana itu? Apa hanya permainan?"


"Aneh. Mereka yang ciuman. Aku yang malu."


"Tapi, mereka berdua sangat manis."


"Berarti, Zio tetap sama Lea. Buktinya, menjadikan Yuna sebagai pasangannya bukan Clarissa."


"Sepertinya, Zio tetap milik Lea. Meskipun Primadona kampus itu paket lengkap, ternyata hanya selingan."


Kevin melihat itu, tidak senang. Kedua tangannya sudah mengepal dan rasanya ingin segera menghajar Zio.


"Gimana penampilan aku?" Tanya Yuna kepada Zio.


"Keren." Jawab Zio.


Mereka kembali ke belakang panggung dan Clarissa tampak terdiam sesaat.


Clarissa dan Revan yang didapuk untuk menjadi MC, acara pesta malam ini.


"Apa Zio tidak mengingat ciuman kita?" Batin Clarissa.


Clarissa malahan yang terbawa rasa dan ingin mendekati Zio. Sayangnya, hal itu tidak semudah permainannya.


Setibanya di ruangan khusus, Kevin secepatnya mendekati Yuna dan langsung meraih tangan Yuna.


"Ayo ikut aku."


Zio menatap mereka yang pergi dari hadapannya. Micheel juga sempat melihat ke arah Kevin yang memegang tangan Yuna.


"Yuna, kamu sengaja berciuman dengan Zio untuk memasi aku?" Suara Kevin yang terdengar menggertak sang pacar.


"Kevin, kamu marah sama aku?"


Kevin menghembuskan nafas yang telah mencekiknya, tangannya mengepal dan menghempaskan ke sisi dinding.


Dash!


Yuna yang tidak mengerti keadaan, kalau Kevin ternyata begitu marah padanya.


"Kevin."


"Kamu membalas aku?"


"Aku tidak berniat begitu." Padahal, Yuna memang ingin membalas sikap Kevin yang sangat berlebihan terhadap bintangnya.


Yuna merasa gelisah, ternyata Kevin punya sisi emosional yang tinggi. Yuna menatap Kevin, "Kevin, aku bisa jelasin sama kamu. Aku lakuin semua ini demi Lea."


"Apa selamanya kamu akan tertuju pada kehidupan Lea?" Tatapan Kevin seolah ingin meminta penjelasan.


Yuna yang sudah tampak berkaca-kaca, "Kevin, kalau bukan karena Lea. Mungkin aku tidak akan muncul dihadapan kamu seperti sekarang ini."


"Apa maksud kamu?"


"Aku berhutang nyawa sama Lea." Jawab Yuna dan perlahan ia menangis.


Kevin meredam perasaannya. "Yuna."


"Kevin. Sepertinya, kita memang tidak cocok."


"Yuna, kita baru saja memulai."


"Aku tidak suka, kamu yang mengutamakan Micheel."


"Aku juga sama seperti kamu, yang mengutamakan Lea."


Lea dan Setya datang ke ruangan khusus. Entah, sengaja atau tidak. Clarissa terjatuh dalam pelukan Zio.


"Zio."


"Honey."


Semuanya menatap Lea.

__ADS_1



__ADS_2