Permen Kapas

Permen Kapas
Sebelum Berpisah


__ADS_3

Setelah sore, Papa Arjuna pergi dan Yuna sudah mengerti akan situasi ini. Papa Arjuna juga sudah menjelaskan semuanya kepada Yuna.


"Lea, aku masih ingin bersamamu." Ucap Yuna. Wajah itu, sudah berubah kekanakan. Sorot mata Yuna, penuh harapan akan Nona kesayangannya.


"Yunaku sayang, aku bersalah. Aku yang meminta kamu, untuk selalu mengawasi Zio, tapi kamu malah berakhir seperti ini. Aku minta maaf, aku sudah bersalah padamu." Ucap Lea dan air mata bening sudah menetes di pipi. Tangannya, masih memegang tangan kesayangannya.


Yuna membalas "Lea. Waktu itu, aku datang terlambat. Setelah, Soniya menawari aku minuman. Aku juga sampai lupa dengan diriku sendiri. Aku bahkan tidak berniat untuk melakukan itu, apalagi dengan si imut. Mantan terindahmu. Aku lupa akan derajatku, kepada Tuan Muda kamu. Mereka semua, juga memandang aku hanya asisten pribadi kamu."


Lea semakin memangis tersedu-sedu, "Yunaku sayang, kamu jangan bilang begitu. Selamanya aku akan menjaga kamu, sebisa mungkin aku akan melindungi bayi kamu. Apapun, akan aku lakukan. Aku yang bersalah. Aku akan bertanggung jawab padamu."


"Lea, aku tidak apa-apa. Bukannya kamu sendiri yang meminta aku untuk menjaga Zio. Aku juga tidak menyesal." Ucap Yuna dan tangan kanannya menyeka air mata Lea, dengan penuh perasaan.


"Yuna, aku sangat menyayangimu." Lea memeluk Yuna dan perlahan Yuna juga turut menangis tersedu-sedu.


Kedua perempuan ini, dalam tangisnya. Kedua laki-laki yang ada di teras rumah. Cukup mendengarkan suara tangisan mereka.


Setya terdiam, dan Zio juga belum sempat bicara dari hati ke hati kepada Yuna. Tadi, Yuna hanya berbicara dengan Papa Arjuna dan Lea.


Lea banyak terdiam, dan Yuna juga mendengarkan dengan seksama. Tidak membalas perkataan Papa Arjuna dan tidak menolak semua perintahnya.


"Lea, kamu benar. Aku akan ke istanaku. Kamu jangan menyalahkan diri kamu lagi." Ucap Yuna.


Lea berkata "Yunaku sayang, aku ingin kamu bahagia. Aku harap, kamu dan Zio selalu akur dan hidup bahagia. Aku ingin kamu menjadi Ibu yang hebat."


"Iya, kamu juga. Aku harap, kamu dan suamimu hidup bahagia."


Mereka kembali berpelukan lagi. Lea juga sudah mengatakan kepada Papa Arjuna, agar memberikan waktu untuk dirinya, sebelum berpisah dengan kesayangannya.


Sementara, Yuna dan Zio akan tinggal di luar kota. Mereka juga akan melanjutkan pendidikannya.


Papa Arjuna juga sudah menyiapkan perusahaan untuk Yuna. Nantinya, setelah kembali ke Ibukota. Yuna bisa langsung menempatkan dirinya, sebagai CEO.


Sedangkan Zio, Mamanya meminta untuk mengambil alih perusahaan presdir Hendri. Meski, kemarin sempat bersitegang dengan Papa Arjuna dan Mama Beby. Tapi Mama Jenny punya permintaan.


Zio harus menduduki kursi Presdir Hendri. Suaminya, sempat menolak. Beliau malah mengatakan kalau Zio tidak pantas menduduki kursinya.


Papa Arjuna mengerti akan situasi yang memanas. Hanya demi keegoisan Mama Jenny, Presdir Hendri akhirnya menyetujui permintaannya. Meskipun, dirinya harus ekstra mengawasi Zio, saat memimpin perusahaannya nanti.


"Sesuai cita-cita kamu. Kamu harus belajar yang giat." Ucap Lea.


Tangan kanan Lea, mengelus rambut Yuna. Senyuman manis sudah tersemat di wajah gemasnya itu.


"Iya, kamu juga. Jangan bersantai-santai." Balasnya Yuna dan gemas. Sampai mencubit pipi gemoy Lea.


"Iya, iya." Balas Lea manja.


1 minggu akan bersama-sama di rumah ini. Setelah itu, Yuna pergi ke luar kota dengan Zio, dan belajar demi impiannya.

__ADS_1


Setelah tidak terdengar suara tangisnya. Setya mengajak Zio masuk ke ruang tamu. Yuna dan Lea, juga keluar dari kamar.


Lea menggandeng kesayangannya dan Zio tampak melihatnya. Mereka berdua, mendekati Zio.


Lea menyerahkan tangan Yuna kepada Zio. Tangan itu, yang menyatukan kesayangannya dengan mantan kekasihnya sendiri.


"Zio, aku serahkan kesayanganku sama kamu. Jaga baik-baik kesayanganku. Aku mohon, jangan sakiti kesayanganku."


Zio yang tanpa ekspresi, ia menatap ke wajah Lea, Zio berkata "Baik, aku akan menjaga kesayangan kamu dengan sebaik mungkin."


"Aku minta maaf, sudah menyusahkan kamu." Ucap Lea dan tersenyum.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku sudah bersalah." Balas Zio.


"Zio. Kita tidak perlu mengingat kepahitan itu lagi. Aku ingin, kamu bisa meraih masa depanmu dengan Yunaku. Jaga Yunaku dan bayinya, aku sangat menyayangi mereka." Ucap Lea, yang terdengar serius.


Lea melangkah pergi mendekati sang suami, Lea berbisik "Mas, ayok kita pergi jalan-jalan."


"Baik." Setya mengerti akan situasinya.


Lea ingin memberikan kesempatan untuk Zio, agar bisa meraih hatinya Yuna.


Entah apa, yang akan mereka obrolkan nantinya.


Namun, selama 30 menit setelah Setya dan Lea meninggalkan mereka berduaan di rumah. Mereka berdua hanya terdiam.


Yuna yang malah fokus ke layar ponselnya dan Zio tidak tahu harus memulai dari mana. Padahal, beberapa waktu lalu, mereka sudah tampak dekat. Setelah menjadi suami istri, malah keduanya berubah canggung.


"Apa kamu sudah tahu tentang mantan kekasihmu?" Tanya Clarissa yang telah memberanikan diri kepada Kevin.


Kevin menoleh ke arah Clarissa, ia bertanya "Kamu berbicara padaku?"


"Iya, aku hanya ingin melihat reaksi kamu saja." Jawab Clarissa.


Kevin tersenyum licik, dan ia berkata "Kalian semua, tidak pantas hidup bahagia, di atas penderitaan orang lain."


Clarissa tidak mau kalah, senyumannya lebih mengerikan lagi, ia berkata "Yuna malah hidup mewah berkat temanku. Lalu aku, malah di dorong semakin ke bawah. Apakah itu adil? Aku sudah mau skripsi, tapi tidak ada kampus yang mau menerimaku."


Kevin menyunggingkan bibirnya ke kanan, menekan tombol naik ke atas. Clarissa mundur, saat melihat tindakan Kevin barusan. Kevin mendekatinya, sorot matanya sudah berubah garang. Berjalan semakin mendekat dan Clarissa merasa gelisah dibuatnya, ia jadi menunduk dan memundurkan langkahnya.


Saat sudah terpojokan, Kevin seakan mengunci dirinya. Kedua tangan Kevin telah menjebaknya dan Clarissa perlahan mengangkat wajahnya, menatap Kevin.


"Apa maumu?" Tatapan Clarissa yang tidak senang.


Kevin tersenyum "Kamu, seperti jallang. Aku akan memperlakukan kamu sebagai jallangku."


Kevin mendekatkan wajahnya, Clarissa mendorongnya, "Hentikan!!"

__ADS_1


Pintu lift terbuka dan Clarissa lari dengan rasa takutnya.


"Baru begitu saja, sudah ketakutan. Emh, semoga kamu tidak bertemu aku lagi. Bye bye." Kevin tersenyum dan ia menekan tombol kembali lift, untuk menuju lantai dasar.


"Yuna, aku harap kamu bahagia." Batin Kevin.


Kevin sudah mendengar kabar itu dari Mama Beby. Kevin, begitu menjaga Yuna, sayangnya mereka memang tidak berjodoh.


Meski Kevin terlihat garang dan seolah pria buaya, tapi dia tidak pernah minum dan menyentuh perempuan begitu saja. Yang ada dalam otaknya, hanya kerja dan kerja, semua para bintang cantiknya sama saja. Tidak penting baginya.


"Hampir saja. Aku tidak boleh bertemu dengannya lagi." Gumam Clarissa yang bersandar dinding. Ia memegang dada, yang terasa berdebar kencang.


Sampai saat ini, Clarissa masih mencari kampus, untuk bisa meneruskan kuliahnya.


Apalagi, Clarissa menyembunyikan masalah ini dari kedua orang tuanya, yang tinggal di luar kota.


Kembali pada Lea dan Setya, mereka menikmati siangnya di area pemancingan.


Diam, sabar dan menunggu. Sudah 30 menit lebih, umpan yang dilemparkan Lea, belum juga dimakan ikan.


"Mas, apa di dalam sana tidak ada ikannya? Kenapa, tidak ada satupun yang mau memakan umpanku." Lea menoleh ke ember sang suami, sudah ada 4 ekor ikan nila.


Sang suami berkata "Aku pikir, kamu jago dalam segala hal. Ternyata, tidak bisa memancing ikan."


"Mas Setya meledek aku. Ini aku pertama kali, coba kalau sudah terbiasa. Aku pasti lebih jago darimu." Balasnya terdengar sensi.


"Aku juga baru pertama kali. Aku mana pernah memancing. Lebih asyik main PS di kamar." Ucapan Setya begitu santai.


Lea menatap suaminya dan melihat ikan-ikan nilanya Setya, yang menurut mata Lea, ikan itu sudah genit kepada suaminya.


"Iya, mungkin hari ini keberuntungan Mas Setya. Itu ikannya pada ganjen. Ikannya paham, pilihnya pria ganteng." Ucap Lea, tergemas-gemas.


Setya membalas "Iya, aku sangat beruntung. Sampai bisa mendapatkan tuan putri Allea."


Setya tersenyum manis, tapi Lea tidak suka dengan senyuman suaminya. Lea berkata "Aku mohon, jangan tersenyum begitu. Aku tidak suka."


"Kenapa??"


"Aku suka Mas Setya yang kaku dan berwajah dingin tanpa ekspresi. Kalau tersenyum begini, rasanya aneh. Aku jadi tidak suka."


Setya mencium pipi gemas istrinya, Lea salting, "Mas, malu."


"Biarin, lagian aku cium istriku."


Lea melihat ke sekitar kolam ikan. Ada beberapa pria muda dan tua, yang anteng saja. Tampak menikmati sorenya, dengan alat pancingnya.


Suaminya, kembali mendekat.

__ADS_1


Mmuuach!!



__ADS_2