Permen Kapas

Permen Kapas
Romantika Baru


__ADS_3

Kebucinan membawa api cemburu sampai membakarnya.


Hembusan angin malam menerpa badan gerahnya


Perasaan melegakan saat amarah sudah diluapkannya


Kembali dalam kehangatan saat mendekap kesayangannya


Sesampainya di hotel.


Lea hanya terdiam, ketika suaminya tampak memarahinya. Nasehat Setya, dari A sampai Z didengarkannya.


Lea dari tadi hanya diam dan duduk di sofa setelahnya membatin. 'Kenapa bisa dirinya menikah dengan Setya, yang menurutnya kalem, lembut dan baik hati. Tapi ternyata, guallak.'


Setelah selesai, memeluk istrinya dan mencium keningnya.


"Aku minta maaf." Ucap Setya.


Lea menatap suaminya, ia bertanya "Sudah marah-marahnya?"


"Aku tidak marah. Aku hanya menasehati kamu." Jawaban suami yang menurutnya begitu.


Baru kali ini, seorang Lea dimarahi dan hanya bisa terdiam. Tanpa membantah dan tidak ada satu kata yang sudah ia ucapkan, untuk membalas perkataan suaminya.


Tangan kanannya mengelus rambut istrinya dengan tatapan manis, Setya berkata "Aku menikahimu dengan niat baik. Aku bersungguh-sungguh. Apa yang kamu ragukanku?? Aku mencintai kamu."


"Iya Mas. Aku mengerti." Jawab Lea, dan perlahan memeluk suaminya, menyandarkan kepala di dada suaminya.


Setya mengecup ubun-ubun istrinya dan memeluknya erat. Setya dalam pikiran yang sudah tenang, ia berkata "Aku suamimu, aku mencintaimu, aku tidak suka melihat pria lain berlaku begitu padamu. Meskipun, kalian saudara."


"Aku paham." Balasnya dan Lea merasa kalau Setya memang sangat cemburuan.


Lea tadinya mengira, kalau suaminya ini hanya ingin menunjukkan cintanya yang baru, di hadapan Micheel dan para temannya.


Tidak tahunya, Setya memang tidak suka melihat istrinya, dirangkul pria lainnya, meski sepupunya sendiri.


"Kenapa Mas Setya cemburuan? Terus aku gimana? Semua sepupuku juga sering memeluk aku dan aku suka bersandar di dada abang gantengku." Batin Lea yang mengeluh.


Lea berkata "Apa hanya bang Jojo saja? Kenapa waktu aku ketemu Bang Arzen di rumah sakit. Dia memeluk aku, Mas Setya tidak keberatan?" Tanya Lea.


Abang dokter, si Kakak sepupu tertuanya dan beberapa hari lalu bertemu di rumah sakit. Sewaktu mengecek kesehatan rahimnya.


Setya bingung sendiri, Lea bisa melihat gelagat yang aneh dari wajah suaminya.


Lea bertanya "Gimana dengan sepupuku yang lain? Apa karena Bang Jojo seusia Mas Setya dan Bang Arzen pria beristri, jadinya Mas Setya membedakan mereka? Iya?"


"Lea sayang, sudah. Jangan pelukan sama siapapun. Kecuali Papa Arjuna. Titik." Ucap Setya dengan cepat.


Setya menghempaskan badannya ke atas kasur, dia merasa pusing sekali. Seharian pergi dengan mengendarai motor, ia lakukan demi menyenangkan istrinya.


Gara-gara, Lea melihat ada couple manis mengendarai motor, ia jadinya kepingin dan meminta suaminya untuk membelikan motor baru untuknya.


Lea sendiri yang memilih motor dan helmnya, dia juga tidak lupa pamer kepada sepupu tampannya, alhasil mendapatkan pesan-pesan manis.


[Kalau jalan hati-hati😙]


[Asyik, motor baru. Bisa pelukan, ihhirr😜]


[Dek, bilang sama suami. Jangan ngebut👍.]


[Wah, senangnya masa pengantin baru. Bawaannya peluk terus🤗.]


[Haish, kenapa cuma minta motor. Pesawat Jet dong😊.]


[Tak ada kereta kencana, motor maticpun bisa membawa tuan putri dari istana. 🤣]


[Besok boncengin Abang ya🤗.]


[Belum juga ngindam, mintanya aneh-aneh saja.😉]

__ADS_1


[Hari ini motor, besok apa?? Aah, aku jadi lemot mikir.🤔]


[Tuk tik taak tik tikuk. Suara sepatu kuda. Eh,,,. Mana ada, pangeran bawanya motor matic?✌😋]


Itulah, deretan pesan singkat dari para sepupu manisnya seperti gulali. Lea waktu pesannya sampai cekikikan. Alhasil, suaminya juga nimbrung membacanya.


Kemudian, malam ini. Lea membuka grup, dan Jojo mempublikasikan bekas tonjokan Setya, kepada semua sepupunya.


Tak ada yang komentar, telah senyap. Lea berfikir, kalau mereka mengobrolkan Setya di grup buatan baru tanpa Lea.


Lea menatap ke ranjang. Rasanya ada perasaan pahit dalam benaknya. "Dia suamiku."


Meski mencintai suaminya, tapi semua kebiasaanya tidak ingin berubah sedikitpun.


Semuanya sudah paham, tapi memilih diam dan tidak ada pembelaan untuk keduanya.


Sepupu tertua, telah mengubungi Jojo, kalau Lea sudah bersuami, jangan sampai membuatnya renggang.


Lea berjalan mendekati sang suami dan mengelus rambutnya, mengecup pipi suaminya.


"Jangan marah lagi. Aku akan menurut." Ucap Lea padanya.


Sang suami yang tadinya memejamkan matanya, tangannya bergerak menarik Lea ke dalam dekapannya.


"Ayo tidur." Ucap Setya dan masih memeluk istrinya.


"Aku belum ganti baju." Balas Lea dengan suara pelan.


"Aku juga belum ganti baju. Aku pusing, jadi malas ke ruang ganti." Ucap Setya lembut.


"Aku akan ambilkan piyama kamu."


"Nanti saja. Aku masih nyaman begini. Kamu jangan bergerak kemanapun."


Lea merasakan debaran jantung suaminya, dan ia tersenyum dalam ketenangan.


"Aku mencintai kamu. Jangan sakiti aku." Ucap Setya terdengar lembut.


Keduanya, perlahan terpejam dan tanpa ganti pakaian. Mereka malah tertidur. Lea merasa nyaman saat berada dalam dekapan suaminya. Begitu pula dengan Setya, semakin hari tidak mau jauh dari istrinya.


Setelah pagi bersambut dengan rintikan air hujan yang membasahi Ibukota.


"Yaaah, hujan. Nggak bisa bawa motor dong."


Setya merangkul istrinya, ia berkata "Lain kali bisa. Ayo, aku antar kalian berdua."


Yuna menyela, "Aku sudah di jemput."


Setya dan Lea menoleh ke arahnya, menaruh perasaan curiga. Mengingat Yuna, yang sudah menjomblo.


"Nah, itu dia datang." Ucap Yuna dan ia berubah gemas.


Setya yang seakan menelan saliva dan tenggorokannya seketika kering. Masih menatap mobil yang menuju ke arah mereka di parkiran hotel.


"Zio." Ucap Setya begitu aneh.


Lea berkata "Sepertinya memang ada hal lain, yang Yuna sembunyikan."


"Ini nggak bisa dibiarin." Ucap Setya yang bedecak kesal sendiri.


Lea memegang lengan tangan suaminya "Mas Setya. Itu Yuna dan Zio, biarkan saja mereka jadian."


"Tapi, Zio jadi sering bertemu kamu lagi." Ucapnya begitu kesal.


Lea bertanya "Mas Setya cemburu, kalau Zio bakalan dekat aku?"


"Iya, aku cemas. Aku sudah pernah bilang, meski dia adikku, aku juga bisa cemburu berat."


Lea jadi semakin gemas, "Mas Setya, sudah dong cemburunya. Coba di tahan. Yang penting aku padamu. Jangan menghiraukan yang lainnya."

__ADS_1


"Sayang, aku sudah mencobanya. Hiks!" Kasian juga ini suami jadi cemburuan begitu, entah kenapa ia merasa kalau semakin banyak mengenal cowok yang dekat dengan istrinya, dirinya seperti mendapat buah durian. Setiap hari, ingin memakan duriannya.


"Ya, sudah ayo berangkat. Nanti kamu terlambat. Aku jadi ingin, bawa kamu pulang ke rumah."


Setya berjalan lebih dulu, mendengar hal itu, Lea jadi mematung. "Pulang ke rumah? Rumah lama? Owh, tidak. Aku nggak mau."


Lea dengan wajah tidak senang, dan sudah tampak cemberut manis berjalan ke arah mobil suaminya.


Yuna yang sudah duduk di sebelah si imut. Mobil Zio berjalan dibelakang mobil Kakak gantengnya.


"Kenapa mereka malah jalan dibelakang kita?" Gumam Setya, saat ia menoleh ke arah spion mobilnya.


"Biarkan saja Mas. Apa salahnya? Lea yang gemas dengan sikap suaminya dan tidak masuk akal.


"Aku hanya ingin kita berduaan."


Lea membalas, "Ini, kita berduaan."


"Tetap saja, mereka bisa mengawasi kita." Setya merasa risih kalau Zio bakal ikut ngintilin mereka. Seperti Yuna yang selalu mengikutinya.


"Mas Setya kenapa jadi begini? Makin nggak jelas cemburunya?" Batinya.


Setya menoleh ke arah istrinya "Kapan bisa tinggal berduaan saja?"


Lea menatap wajah sang suami "Mas Setya kenapa? Cemburu lagi?


"Tidak. Sekarang, aku tidak cemburu. Disini, hanya ada kita berdua." Ucap Setya dan salah tingkah.


Lea berkata dengan gemas "Mas Setya, nggak perlu cemburu begitu. Aku cuma milikmu. Sudah cukup cemburunya, jangan tonjokin orang lagi."


"Kalau orangnya salah, ya aku tonjok. Kamu sendiri juga begitu." Balas Setya, tidak mau mengalah.


"Iya, iya. Aku juga begitu. Tapi ya lihat sikon. Masa iya. Sepupuku yang dihajar. Mana sahabat Mas Setya sendiri."


"Ya, karena sahabat. Aku malah nggak suka. Kalau yang lainnya, aku masih bisa nahan emosi, kalau Jojo aku sudah kenal lama. Aku jadi kesal sama dia."


Lea jadi terdiam, dan ia mengingat kalau dirinya sama Yuna begitu. Semisal dulu, tanpa Lea perintah, tapi Yuna malah memperhatikan Zio. Lea juga kesal dan cemburu buta. Bawaannya kesal, tapi susah meluapkannya, karena Yuna kesayangannya.


"Oke, kali ini aku mengerti." Ucap Lea dengan suara manis.


Setya berkata dengan lembut "Sayang, itu Yuna sudah dekat sama adikku. Kamu harus kasih waktu, buat mereka kencan atau ngemol."


"Emh, ide bagus. Nanti pulang kuliah, kita bisa double date." Ucap Lea dengan perasaan gemas.


Setya menahan diri sesaat, mengatur nafas yang terasa sesak. Lalu, Setya pelan-pelan berkata "Sayang, aku maunya. Kita hanya berduaan."



Sesampainya di kampus, Setya dengan manis memayungi istrinya. Yuna masih terjebak di dalam mobil Zio.


Yuna berkata "Kamu bisa melihat sendiri. Apa kekurangan kamu?!"


"Biasa saja." Zio tersenyum, melepaskan jaketnya.


"Aku akan memayungi kita berdua."


"Kamu gila? Kita di kampus, bukan di depan Kevin."


"Kenapa? Kamu malu?"


"Bukan begitu."


Zio mematikan mesin mobilnya dan keluar lebih dulu. Yuna membuka pintu mobil, saat keluar disambut Zio, yang siap memayungi dengan jaket sporty.


"Ayo, aku antar kamu ke kelas." Ucap Zio.


Yuna merasa kalau si imut juga bisa romantis manis, hatinya berdendang mesra.


"Romantis." Ucap Lea, saat melihat mereka.

__ADS_1


Setya menatap istrinya.


__ADS_2