
Satu bulan berlalu dan semuanya telah baik-baik saja. Eyang Arjuna yang sudah kembali pulih, meski sempat kritis sewaktu operasi.
Eyang duduk di sofa melihat anak cucunya bahagia. Hari ini, acara akad nikah Elmeera dan Leo (Singa).
El terlihat cantik dengan balutan gaun tile berwarna putih tulang. Gaun yang indah dengan gaya classic dan tampak mutiara putih menghiasi renda. Singa terlihat menawan, dengan setelan jas hitam keren.
Sepasang pengantin sudah duduk di atas pelaminan. Acara terlihat begitu sederhana dan bertempat di kediaman Eyang Arjuna.
Semenjak kejadian itu, Raja melakukan aktifitas di rumah. Bukannya karena takut, namun ia menurut akan ucapan sang Eyang padanya. Raja menuruti semua permintaan sang Eyang.
"Raja, cepat berikan aku buyut."
"Iya Eyang. Aku sudah membuatnya."
"Lalu, bagaimana hasilnya?"
"Eyang harus sabar. Aku menikah belum lama, baru juga sebulan." Jawabnya Raja.
Wajah Raja, jadi terlihat menggemaskan.
Tangan kanan Eyang, mengelus kepala belakang cucu kesayangannya ini. Eyang berkata "Kamu harus jadi Papa yang hebat. Eyang akan melihat keberhasilanmu."
Eyang Arjuna, pernah berkata tidak ingin mati cepat dan masih ingin menjaga anak cucunya, Eyang Arjuna telah membuktikan ucapannya.
Semangat terus berjuang melawan rasa sakitnya. Berdo'a dan terus meminta kepada yang Maha Kuasa. Setidaknya, Eyang hanya ingin terbangun dan melihat Raja baik-baik saja.
"Eyang, Ratu hamil." Bisik Raja kepada sang Eyang.
"Hamil?"
"Eyang, aku bisik-bisik biar orang tidak tahu. Suara Eyang malah kencang."
"Kamu serius?"
"Iya Eyang."
Raja memang menyembunyikan kabar bahagia ini. Agar tidak terjadi hal buruk, yang membuat Ratunya jadi terluka.
Di kediaman Eyang Arjuna, hanya ada keluarga besar Eyang Arjuna. Hanya ada anak dan cucunya saja. Lalu, dari pihak Singa. Juga hanya ada Papa dan Mama saja, tidak ada sanak saudara lain. Demi kenyamanan Eyang Arjuna dan keluarganya.
Musim penghujan tiba, dan hari ini hujan turun dengan lebatnya. Pengantin baru seolah mendapatkan berkahnya. El dan Singa tampak bahagia, saat mereka berfoto dengan Raja.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua."
"Terima kasih. Berkat kamu, aku jadi pengantin." Ucap El, senang.
Raja beralih kepada Singa. " Aku titip saudara perempuanku. Jaga dia dan cintailah dengan segenap cinta. Aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua."
"Terima kasih." Balas Singa dan Raja memeluknya.
Singa bertanya "Bagaimana selanjutnya? Apa kamu akan terus tinggal disini?"
"Tidak. Aku harus kembali dengan aktifitas harianku. Besok, aku juga kembali menyelesaikan kuliahku."
"Jaga dirimu. Selalu waspada dengan orang di sekitarmu." Singa mewanti-wanti.
"Kamu tidak perlu cemas. Aku akan baik-baik saja."
Raja mengajak Ratu pergi lebih dulu, dan mereka bersama Jin Jun. Pulang ke rumah Bunda Lea. Raja tidak mau pulang ke rumah pribadinya. Rumah itu, saksi peristiwa di pagi jam 9. Masih terasa menyakitkan.
Raja yang lahir di tanggal 9, bulan 9 dan jam 9. Sewaktu jam penembakan, juga jam 9. Bedanya, waktu lahir jam 9 malam dan kematian mendekat di jam 9 pagi.
Dia, orang suruhan Madam Helena. Dia salah satu orang di masa lalu. Ingat, kejadian Mammi Yuna dan Pappi Zio.
Helena dengan nama asli Soniya. Dia terpuruk saat kejadian itu. Apalagi, Abangnya sudah menutus hubungan saudara. Tidak berselang lama, dirinya bertemu pria tua kaya raya. Soniya dijadikan kekasihnya. Sampai akhirnya, operasi plastik, agar wajahnya tidak dikenali orang lain. Bunda Lea saja, tidak bisa mengenalinya.
"Sayang, kamu tidak takut??" Tanya Raja dan memegang kedua tangannya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak takut. Kita malah bisa kumpul bersama Bunda dan Kai. Aku jadi ada teman." Jawab Ratu.
Raja memboyong istrinya ke rumah orang tuanya. Mereka pindah kuliah ke kampus Glory, agar istrinya juga bisa kuliah secara online. Apalagi, Ratu sudah hamil. Raja ingin menjaga istri dan anaknya.
"Kai kadang-kadang usil. Kamu jangan ambil hati." Ucap Raja.
"Iya, aku tahu. Meski dia begitu, dia juga sayang sama aku." Balas Ratu.
Tangan Raja mengelus rambut istrinya dengan gemas. Dia berkata "Istriku sangat baik. Eyang telah memberikan jodoh yang keren, untuk cucu tengilnya ini."
"Emh, aku keren?"
"Iya. Kamu keren. Kamu selalu ada disaat aku sedang terluka. Meski aku sendiri terkadang kasar sama kamu. Kamu bisa sabar menghadapi aku."
Sewaktu pikirannya masih kalut, Raja tidak mau diganggu siapapun. Bahkan, istrinya juga sempat di cuekin. Raja perlahan sadar, kalau dirinya juga salah. Raja hanya memikirkan kondisi sang Eyang, tapi dia tidak memikirkan kondisi istrinya. Setelah tahu istrinya hamil, Raja menyesali akan sikap cueknya waktu itu.
Bunda Lea dan Ayah Setya, juga telah berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Meski rasanya berat, namun Bunda juga masih harus menjalani kesehariannya. Ada tanggung jawab, yang harus beliau kerjanya. Ada putra-putri yang masih harus dijaga dan mereka juga harus sekolah.
"Papa. Kalau merasa jenuh. Segeralah hubungi aku. Aku akan segera kemari."
Eyang Arjuna tersenyum, mengelus rambut putrinya. Bunda Lea tampak duduk di sebelahnya, dengan tatapan manis, namun berlinang air mata cinta.
"Iya sayang. Papa sama Mama kamu, juga ingin tinggal bersama kamu di rumah kalian. Nada akan membawa kembali Ibu mertuanya dan pulang kemari. Lebih baik, Papa sama Mama kamu, tinggal di rumah kalian."
"Dengan senang hati Papa. Aku akan menyambut kedatangan Papa sama Mama."
Eyang Beby berkata "Mama juga tidak betah pisah sama Kai. Baru beberapa hari tidak bertemu, rasanya kangen banget."
"Mama. Kai juga sering ngomong. Kalau yang paling menyayanginya, cuma Eyang Beby. Katanya, Bunda pilih kasih."
Mereka tersenyum, dan Ayah Setya tampak terharu melihat kehangatan keluarganya ini.
Elmeera dan Singa, memilih tinggal bersama Mama Nada di rumah Eyang Arjuna. Papa Varrel sudah tiba lebih dulu, sebelum acara lamaran putrinya. Dua minggu lagi, Omnya El yang sudah selesai kemoterapi, akan segera kembali.
Lalu, si tuan putri Kai, memilih tinggal di rumah, bersama tawanannya.
Pak guru tampannya jadi tawanan Kai. Sampai sekarang, dan sudah sebulan berlalu, Kai tidak mengijinkannya pergi. Malahan menakuti-nakuti soal peristiwa tembak menembak itu dan akhirnya Cassandra dirawat oleh Kakek Neneknya.
Yuk, ke tempat Kai berada bersama Calvin.
Sebenarnya, Calvin tidak takut sama sekali. Namun, dia hanya ingin bertemu Raja dan berpamitan langsung padanya.
"Huh, ngapain Mas Raja malah mau tinggal disini?"
Kai yang sudah mendapat kabar dari para pengawal. Calvin, juga tinggal di rumah para pengawal.
"Kalau Pak Calvin pergi. Aku jadi kesepian. Nggak ada yang bisa aku kerjai."
Ehhem.
Calvin yang sedang berdehem dan tampak berjalan mendekati tuan putri Kai.
"Eh, Pak Calvin ganteng sudah sembuh."
"Aku memang sudah sembuh dari lama."
"Iya, aku tahu. Tapi, aku tidak melihat Pak Calvin yang berpakaian rapi begini."
Calvin yang tampak memakai setelan jas abu-abu. Sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Raja dan nantinya ia juga harus segera pergi.
"Aku mau pulang ke apartemanku. Aku masih menunggu Raja dan memastikan kalau Raja baik-baik saja."
"Untuk apa peduli dengan Masku?"
"Dia banyak membantu aku. Aku juga Omnya Ratu, aku harus memastikan kalau keponakan aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Bener juga." Batin Kai, dan ia hanya memasang wajah yang berseri-seri.
(Bisa jadi visual Kai dan Calvin, akan muncul di cerita barunya othor, dengan karakter yang berbeda. Judulnya ~Tampan, Hamili Aku!~)
Silakan yang berkenan baca tulisan itu. Xixixi, othor memang bosenan. Jadi, ceritanya nggak bisa pajang.
Kembali pada cerita Raja, yang sudah tiba di rumah orang tua. Para pengawal tampak sudah memegang bunga dan permen kapas. Panda yang mendekat, memberikan buket bunga cantik kepada Ratu.
"Selamat datang di rumah. Semoga, menjadi awal kebahagiaan dan keharmonisan kalian berdua."
"Terima kasih." Jawab mereka dan terlihat kompak nan serasi.
Raja yang mengenakan kemeja batik bercorak kemerahan dan Ratu juga mengenakan dress batik yang sama.
Couple yang mengenakan pakaian sarimbit ini, tampak berdebar. Rasanya, sudah seperti disambut dalam acara pernikahan.
"Kalian, ada-ada saja." Ucap Raja, saat menerima permen kapas dari Redi.
"Tuan muda, permen kapas ini rasanya penuh cinta."
"Bukannya rasanya manis. Mana ada rasa cinta." Balas Raja dan membuka cepat mika yang membungkus permen kapas miliknya itu.
Sekotak permen kapas berbentuk pola cinta. Berwarna pelangi dan sangat terlihat cantik, sampai tidak tega untuk memakannya.
Rasanya manis, lembut, dan membuat Raja mengingat masa kecilnya.
Di negeri singa, Aull juga sudah menikmati kebersamaan dengan suaminya.
Yuuhu,, Aull juga menyukai permen kapas.
Tatapan Rangga menjerat perasaan Aull.
"Emh, aku masih ingin memakannya."
"Adik kecilku ini, menggemaskan."
Rangga jadi kegemesan sendiri, meski usia Aull masih terbilang sangat muda. Namun, Aull juga bisa terlihat dewasa, baik penampilan dan sikap dalam kesahariannya. Rangga merasa sangat beruntung, mendapatkan istri idaman.
1 jam kemudian.
Bunda Lea dan Ayah Setya sudah tiba di rumah. Para putra-putri yang berkumpul bersama di ruang keluarga.
Putra putrinya, memberikan permen kapas, terselip tulisan akan cinta dari mereka.
"I Love You, Bunda."
"Sayangnya Bunda."
...TAMAT...
"Terima kasih semuanya. Semoga, kita bisa berjumpa kembali ya. Muuach. Muaacch!" Ucap Lea dan tersenyum. memberikan kiss-kiss dari kedua tengannya.
Ayah Setya yang tersenyum, berkata "Seiring berjalannya waktu, akan ada cinta yang membuat orang bahagia. Semoga, kita semua bisa menjalani setiap proses pahit manisnya dalam menjalani kehidupan. Terima kasih. Sudah menemani perjalanan kisah Setya."
"Tidak ada kata sempurna dalam percintaan. Aku pernah merasa gagal. Namun, bersama kesayanganku, aku merasakan kehidupan. Love you pembaca." Ucap Yuna.
Zio berkata, "Banyak hal manis yang sudah aku lalui bersama kesayanganku. Kesayanganku, terima kasih. Terima kasih juga, untuk para pembaca. Mmuach!"
Terima kasih, pembaca setia.
Pamit 🙏
__ADS_1