
Pagi yang sama di tempat yang berbeda. Sosok tuan putri telah siap untuk belajar dari aplikasi online.
"Sayang, ayah pulang dulu." Ucap Ayah Setya kepada anak ke-3.
Memegang pipi gemoy tuan putri ini dan mengecup keningnya dengan hangat.
"Ayah pulang, Bunda pulang. Mbak Aull juga. Semuanya pulang, nggak ada yang mau nemenin aku disini." Keluh Kai dan bibir itu sudah tampak cemberut gemas.
"Emh, nanti kalau urusan Masmu dan Mbakmu sudah selesai. Ayah janji, akan mengajak kamu liburan." Tatapan sang Ayah menunjukan keseriusan.
"Oke, janji harus ditepati."
"Ayah janji. Kamu juga harus janji sama Ayah. Be-la-jar yaaaang rajin." Ucap Ayahnya gemas.
"Siap laksanakan. Pasti aku giat belajar." Balasnya dan tampak hormat.
Ayahnya mencubit gemas pipi kanan putrinya dan kembali mencium keningnya. Setelah itu, Ayahnya pergi meninggalkan ruangan itu.
Kailee Ghaitsa Urvi, putri ketiga Lea dan Setya, baru berusia 16 tahun. Sosok gemoy nan gemesin, dengan segala pola tingkahnya. Raja, juga tidak suka padanya.
Gimana Raja bisa senang. Masa kecilnya kembali bersama Bunda. Bundanya, tetap sibuk dengan tuan putri yang satu ini.
Akhirnya, Eyang Beby membawa Kai bersamanya dan sampai sekarang menjadikan Kai sosok tuan putri di istananya.
Tingkah lakunya mirip sekali dengan sang Bunda. Eyangnya semakin susah memberinya kebebasan. Hidup layaknya tuan putri di istana. Meski menurut dengan Eyangnya, Kai juga suka bertingkah konyol.
Kailee yang sering menyebut namanya dengan panggilan Kai ini, masih duduk dibangku SMA.
Kai memilih home schooling dan belajar di lingkungan rumah Eyangnya saja. Meskipun begitu, Kai selalu berpakaian rapi dengan seragam sekolah ala Kai. Setiap jam belajarnya, berganti mode dan gaya. Kai, juga selalu ditemani dua pengawal.
"Aku dengar, Mas Raja mau menikahi Kak Ratu. Ini berita penting. Aku harus kasih tahu Kak Ratu." Gumam Kai.
Kai dan Raja sudah bagaikan tom and jerry yang banyak ulah nakalnya.
Sekalinya bertemu, yang ada ribut dan kejar-kejaran. Kai usil dan Raja juga membalasnya, tidak mau mengalah dengan adik perempuan yang ini.
Raja bisa berlindung di belakang Eyang Arjuna, sedangkan Kai akan mengadu kepada Eyang Beby.
"Kak Ratu harus menolak dia. Biarin saja nangis. Sekalian, jadi bujang lapuk." Ucap Kai, tangannya dengan cepat mengetik sesuatu dan mengirim kepada Ratu.
"Kai." Suara Eyang yang sudah memanggil.
"Iya Eyang." Suara Kai, terdengar manis.
Kai sudah meletakan ponselnya dan sang Eyang mendekatinya.
"Sayang, kamu sudah cantik."
"Iya Eyang. Ini aku sudah siap belajar."
"Cantiknya Eyang makin rajin belajarnya. Eyang semakin bangga sama kamu." Ucap Eyang putri begitu halus dan mengelus rambut Kai dengan lembut.
"Iya Eyang. Berkat do'a Eyang juga. Aku bisa mengerjakan tugas sekolahku dengan baik." Balasnya manis, membuat perasaan Eyang senang.
Kai selalu bisa mengambil hati Eyang putrinya. Siapa yang mengajarinya bersikap manis, kalau bukan pengasuhnya.
Di waktu yang sama. Saat Kai memulai sekolah online. Di kantor sang Ayah, sudah ada bos kecil yang terlihat menawan.
Leano Guinandra Alfy, anak ke-5 Lea dan Setya. Suka duduk di kursi kantor sang Ayah. Lalu, berkeliling ke ruang para staff, tentunya dengan wajah menggemaskan.
Bukan bermain petak umpet, melainkan melihat kinerja para staff dan di gandeng sekretaris cantik, yang bernama Grizella.
__ADS_1
"Nona Griz, aku haus." Ucap Lean, dengan wajah berbinar.
"Baik Tuan Lean, mari silakan ke cafetaria."
Sekretaris cantik nan sexy yang berusia 30 tahun ini, sudah bagaikan ibu pengasuh Tuan Muda kecil ini.
Senyuman Lean selalu membuatnya lelah, soalnya dia juga harus tersenyum manis padanya. Padahal, Grizell sendiri sosok perempuan yang dingin dan kaku.
"Aku mau susu vanila." Ucapnya dengan suara jelas.
"Baik Tuan Lean. Tunggu sebentar." Balasan sekretarisnya.
Kecil-kecil memilih wanita cantik dan sexy. Kemana kakinya melangkah, sang sekretaris juga harus mengikutinya.
"Ayah, kenapa lama sekali?"
Dalam hitungan menit, sang Bunda datang lebih dulu dan menutup matanya.
"Pasti, ini tangan Bunda." Ucapnya manis dan kedua tangan sang Bunda jadi mendekapnya dari belakang.
"Kamu nggak sekolah?" Tanya sang Bunda.
"Aku sudah ke sekolah. Cuma satu jam disana. Sekarang, aku sibuk bekerja." Jawabnya jelas.
"Owh, kamu menggantikan Ayah." Sang Bunda juga jadi duduk di kursi seberang meja. Menatap wajah putra bungsunya ini.
"Bunda kenapa pulang? Katanya lama disana?" Tanya Lean dan melihat ke wajah sang Bunda.
"Bunda kangen sama kamu. Makanya Bunda pulang. Apa kamu nggak kangen sama Bunda?"
Suara sang Bunda, sama-sama menggemaskan ketika mengobrol bersama Lean.
"Emh, aku senang bersama Ayah."
"Senang bersama Ayah?" Tatapan Bunda menyelidik dan kembali bertanya "Kamu diajak Ayah kemana? Hayo ngaku."
"Jalan-jalan kemana?" Tanya sang Bunda.
"Ada deh. Bunda sudah mirip pengacara. Banyak bertanya." Jawabnya gemas.
Griz yang sudah membawakan segelas susu, menatap Big Bosnya "Madam."
"Griz, memangnya kemarin Lean pergi kemana?"
"Seperti biasa Madam. Bersama Tuan Besar ke tempat golf, meeting dengan klien dan pertemuan dengan para presdir di hotel Krystall. Itu saja Madam." Jawabnya dan menutupi sesuatu.
Sang Bunda melihat ke sorot mata Lean dan Bunda menebak "Lean, lain kali tidak boleh berbohong."
"Aku tidak berbohong. Kata Ayah, jangan cerita sama Bunda." Balasnya jelas.
"Ya sudah. Yang penting, kamu tidak kenapa-napa." Sang Bunda jadi gemas dan Lean sudah menikmati susu vanila hangat di sebuah gelas dengan sedotan unik.
Lean punya riwayat alergi bawaan. Dia harus terjaga dan dijauhkan dari benda berbulu halus, yang membuat dia tiba-tiba sesak nafas. Apalagi, ke tempat ramai dan berdebu. Karena itu, kantor ini sangat bersih dan rapi.
"Mau ikut Bunda pulang, atau masih ingin disini?" Tanya sang Bunda, kepada putra kecilnya ini.
Lean yang memegang gelas susunya, malah bertanya balik kepada Bundanya "Apa Mbak Aull di rumah??"
"Iya, Mbak Aull sudah di rumah."
"Aku kangen Mas Raja. Apa Mas Raja juga pulang ke rumah?" Tanya Lean.
Sang Bunda menjawab "Mas Raja, masih sibuk belajar. Belum bisa pulang."
"Kalau begitu, nanti aku mau ke bertemu Mas Raja."
__ADS_1
"Jangan, Mas Raja sekarang tinggal di asrama."
"Asrama? Apa itu?" Bocil ini malah jadi penasaran.
Sang Bunda jadi was-was dan malah merasa salah bicara. Kalau dilarang, Lean bisa nekat pergi bersama Grizz dan pengawal pribadinya.
"Asrama, tempat tidur orang dewasa."
"Seperti hotel?" Tanya Lean.
"Bukan sayang. Itu tempat sekolah, jadinya Lean nggak boleh datang kesana."
"Kalau aku sudah besar. Apa aku boleh kesana?"
Bunda menjawab, "Iya. Boleh." Lean jadi tersenyum.
Beralih ke rumah pribadi. Ada putra tampan Lea dan Setya. Sepertinya, sedang ngambek dengan asistennya.
Zyandru Daviandra Satya, biasa dipanggil Zyan. Sudah biasa ngambek, apalagi di setiap paginya. Sulit bangun pagi, giliran terlambat ke sekolah jadi ngambek.
Ayahnya sudah menyarankan untuk home schooling, Zyan tidak mau. Dengan alasan, ingin punya banyak teman. Tetapi, bangun pagi saja susah banget.
"Tuan Muda, maafkan saya." Ucap asisten pribadinya.
"Pergilah ke sekolah. Ambilkan tugasku."
"Baik Tuan Muda."
Seorang wanita yang menjaga dia, terlihat usia 26 tahun dan Zyan sendiri yang memilih pengawal perempuan itu, menjadi asisten pribadinya.
"Nesha."
"Iya Tuan Muda."
"Sampaikan salamku untuk Cassandra."
Ciee.. Zyan, kecil-kecil sudah kirimkan salam.
"Baik Tuan Muda."
Zyan murid SD kelas 6 dan nantinya kelulusan. Padahal, sudah harus latihan soal-soal ujian. Eh, malah sering bolos karena bangunnya kesiangan.
Subuh bangun, tapi tidur lagi di sofa dan susah dibangunkan. Matanya selalu saja merem.
Setiap ada Ayahnya saja. Zyan baru bisa bangun pagi, soalnya diangkat ke kamar mandi dan diguyur air hangat. Tidak ada yang berani begitu, selain Ayahnya sendiri.
"Zyan sayang."
"Mbak Aull. Ini beneran Mbak Aull?" Zyan jadi berlari ke arah pintu dan memeluk Kakak cantiknya.
"Aku kangen banget sama kamu." Aull yang memeluknya gemas dan Zyan juga senang saat bertemu lagi dengan Kakak cantiknya ini.
"Aku juga kangen sama Mbak Aull." Ucap Zyan dengan gemas.
Keduanya saling menatap dan Aull bertanya "Kenapa tidak masuk sekolah?"
Zyan tersenyum, dan menggaruk kepalanya, Zyan berkata "Aku semalam nggak bisa tidur Mbak. Rumah sepi banget, aku jadi takut. Eh, pagi jadi susah bangun, begitu aku bangun, ternyata jam 8."
"Hemm, itu mah sudah jadi kebiasaan kamu." Ucap Aull dan ia melepaskan sepatunya. Zyan mengambilkan sandal lantai yang ada di lemari samping pintu.
Asisten pribadi Aull, datang mendekat. Semalam pergi terpisah. Asistennya kembali ke rumah dan Aull ikut orang tuanya ke tempat Raja.
"Nona, siang nanti ada jadwal pertemuan penting."
__ADS_1
"Iya, aku ingat." Balas Aull.
"Mbak Aull, mau pergi kemana?"