
Dilema hati antara suami atau kesayanganya.
Menatap dua orang yang mengulurkan tangannya.
Sebelah kanan ada suami yang membutuhkannya.
Sebelah kiri ada kesayangan yang ingin bersamanya
Lea cemberut manis manja, dia tidak bisa memilih, malam ini tidur dengan siapa.
Yuna merasa gelisah, setiap malam dirinya susah tidur, bila tiada Lea disampingnya.
Sedangkan sang suami, habis digigit semut rang-rang, sampai jatuh dari pohon mangga. Sempat di urut sama tukang urut langganan Pak RT. Lea juga tidak tega. Disisi lain, bumil kesayangannya, juga selalu ingin bersama dirinya.
"Tidur bertiga saja ya." Ucap Lea ringan sekali dan tanpa mikir dulu. Yang penting tidak menyakiti kedua orang kesayangannya ini.
Gubraaak!
Setya memalingkan wajahnya dan Yuna juga membalikan badan. Mereka berdua sama-sama enggan.
"Anggap saja mudik. Kayak di kampung, kalau kumpul sama keluarga besar. Kita tidurnya di depan TV. Gelar kasur disitu. Gimana?" Ucapnya Lea.
Gampang banget bilang begitu, sang suami semakin hareudang. Saat ini, bisa diam dihadapan rivalnya, coba saja di hotel, Lea pasti kena semburan dari mulut suaminya.
Yuna berkata "Aku sih bisa saja. Lagian, kita berdua sering tidur di asrama cowok."
Lea menatap Yuna dengan kode mata cantiknya dan Lea merasa kalau sang suami sudah kesal padanya.
Ditambah Yuna bilang begitu. Wah, sudah kayak kompor yang menyala, siap untuk membakar wajan.
Sekalian saja bilang, kalau pernah tidur bertiga dengan Zio. Setya pasti langsung menyeret Lea untuk tidur bersamanya dan tidak akan membiarkan tidur bersama Yuna.
"Lea, aku mau tidur di depan TV. Tapi, kasurnya mana??" Yuna meliriknya dan berucap gemas.
Jawaban dari Lea, terdengar polos "Angkat dari kamar."
"Siapa yang angkat, tangan suamimu sakit, aku juga hamil." Balas Yuna, yang begitu adanya.
"Seandainya aku bisa membelah diri." Keluh Lea dengan wajah muram.
Setya berkata "Tidurlah sama Yuna. Aku tidak masalah." Setya lantas pergi lebih dulu ke kamarnya.
"Yunaku sayang. Pergilah ke kamarmu. Nanti aku kesana." Ucap Lea.
Yuna belum sampai berkata, Lea sudah pergi. Yuna jadi kesal sendiri, dia malah kembali ke ruang TV dan menonton siaran malam.
Kalau di kamar hening, apalagi terasa asing baginya. Matanya susah untuk terpejam dan merasa seolah-olah ada yang mengawasinya.
"Mas." Lea yang mendekati suaminya.
"Kamu mau tidur bersamaku?" Tanya sang suami dengan perasaan berharap.
"Mas, aku tidak tega sama Yuna." Jawab Lea dengan lembut.
"Terus, ngapain kemari?" Suaminya kesal. Semakin hari, rasa batinnya tersiksa.
Lea semakin mendekat dan menciumi wajah suaminya "Aku bobo-boboin kamu dulu, sampai kamu tidur."
Lea duduk di atas ranjang dan Setya merebahkan kepalanya di atas pangkuan istrinya. Lea mengelus rambutnya, Lea juga pandai membelainya.
"Mas Setyaku sayang." Ucapnya Lea dengan suara lembut. Membelai rambut sang suami tercinta.
__ADS_1
Setya beneran ngambek dong, bersuara "Hemms."
"Suamiku sayang." Lea yang berusaha merayu suaminya.
Setya tetap pada pikirannya sendiri. "Emmh."
"Ayolah Mas, jangan marah. Aku sayang kamu. Tapi, Yunaku juga membutuhkan aku." Keluhnya. Lea semakin bingung akan situasinya.
Yuna meski sudah menonton acara dari televisi, ia merasa takut. Matanya jadi susah terpejam. Melihat ke arah kamar Lea.
"Setya kejam. Lea punyaku." Yuna kesal, rengekannya sudah seperti anak kecil.
Yang di dalam kamar, masih minta di elus-elus. Setya tampak mendengarkan cerita istrinya, saat dulu sewaktu Lea SMP, pernah mudik bersama rombongan keluarga besarnya.
"Aku pikir, Jojo itu keluarga dari Papa." Ucap Setya.
"Iih, Mas Setya ini. Bang Jojo memang keponakan dari Papa. Ya, ceritanya ribet. Aku saja bingung."
"Tapi, aku sedikit paham, kalau Bang Arzen dari keluarga Papa yang dari Semarang. Terus, kalau Jojo keluarga Papa yang dari Jogja." Ucap sang suami.
"Nah, benar begitu. Makanya, pas pulang aku jadi rebutan. Mau ikut yang ke Jogja apa ke Semarang. Ya sama, kayak Mas Setya sama Yuna. Aku jadi bingung."
"Terus, kamu pilih ke rombongan Bus yang mana waktu itu?" Tanya sang suami penasaran juga jadinya, apalagi Lea memang dekat dengan semua sepupunya.
"Aku pilih yang ada Papa. Coba tebak, Papa di bus mana?" Malah main tebak-tebakan segala, dan suaminya disuruh mikir.
"Pasti yang ke Semarang." Jawab sang suami, setelah tahu dari detail cerita awal tentang silsilah keluarga besarnya."
"Hems, salah." Balasnya tengil dan pakai mellet lagi.
"Kamu ikutan yang ke Jogja, ngapain ikut yang ke Jogja? Bukannya Opa Al keluarga Semarang??" Setya bingung sendiri.
"Iya, tapi waktu itu Opa ingin menemani Oma ke makam Alm. Mbah Buyut yang di Jogja. Otomatis, Papa ngikut yang ke Jogja dong. Terus, yang langsung ke Semarang itu keluarga Eyang, budhe pakde, sama anak cucunya."
"Aku hari kedua ke Semarang. Malahan nggak pada nginep di hotel. Nginepnya di rumah pendopo punya Alm. Mbah Buyutku. Disana pada gelar kasur lantai, aku boboknya sama Budhe kembarku."
"Aku pikir, kamu tidurnya di kelilingi sama sepupu kamu." Resahnya.
"Kenapa? Mas Setya cemburu lagi?" Lea yang merasa kalau suaminya ini. Semakin hari, semakin cemburuan.
"Iya. Ternyata kamu selalu dikelilingi cowok-cowok." Ucap Setya, seperti anak kecil yang mengeluh kepada Ibunya.
"Apa karena Mas Setya cemburuan, makanya melarang Micheel syuting?"
Deegh!
Istrinya nggak mau dipojokin sendirian. Eh..malah bawa-bawa sang mantan segala.
"Sayang, udah dong. Aku lagi gelisah begini. Malah kamu ungkit dia lagi." Suara Setya terdengar begitu kesal.
Lea berkata dengan suara lembut, tangannya masih bergerak, mengelus rambut sang suami tercinta, "Mas Setya bobok yuk. Aku peluk kamu sampai bobok."
"Nanti, ninggalin aku, buat Yuna lagi??" Tatapan sang suami membuat Lea sudah kalah.
"Ya sudah, aku mau bilang dulu sama Yuna." Jawab Lea.
"Cepat balik kesini. Kalau nggak nurut, aku telephone Papa." Ancamnya.
"Iya, iya, Mas Bojoku. Tenang. Sebentar saja." Lea turun dari ranjangnya dan keluar dari kamar.
Saat membuka pintu dan melihat Yuna yang bersandar di sofa. Televisi juga masih nyala. Lea berjalan mendekatinya dan melihat Yuna yang mengantuk, tapi belum memejamkan matanya.
__ADS_1
Lea memanggilnya "Yunaku sayang."
"Lea. Aku ngantuk." Ucap Yuna.
"Ayo ke kamar. Aku temani." Ucap Lea, lalu mematikan TV.
Lea menuntun Yuna ke kamar. Setelah di kamar, Yuna juga lekas naik ke ranjang. Tidur menyamping memeluk guling.
"Tidurlah." Ucap Lea. Ia mengelus rambut Yuna.
Yuna sudah mengantuk berat, tak banyak berkata lagi. Ia hanya menikmati sentuhan tangan Lea yang mengelus rambutnya.
Suara Lea saat menyanyikan lagu tidur untuk Yuna begitu lembut. "Selamat tidur sayangku, selamat tidur sayangku, mimpi yang indah di malam ini."
Muuach!
Lea mengecup pipi kanannya, setelah Yuna tertidur pulas. Akhirnya, tugas pertamanya selesai.
Mengatur suhu AC ruangan dan menarik selimut Yuna sampai ke dada. Kembali mengusap rambutnya.
"Tidurlah. Jangan takut. Ada aku disini." Ucap Lea dan memandangi wajah itu.
Lea membatin "Zio sudah menikahi kamu sayang. Tapi, aku belum siap untuk kehilangan kamu."
Lea menatapnya. Tak terasa olehnya. Air mata bening, dengan lembut sudah membasahi pipinya.
Lea masih mendapat informasi dari orangnya sendiri. Meski orang itu adalah pengawal Mamanya, tapi dia sangat setia dengan Lea. Bahkan, orang ini pula yang memberikan tempat tinggal ini.
Saat ini dan jam ini, orang itu juga telah di interogasi oleh Madam Beby Ayazma.
"Katakan, dimana Lea?" Senyuman Madam Beby begitu penuh arti. Pria itu bisa melihat, hal yang mengerikan di balik senyuman Madam Beby Ayazma.
"Saya tidak tahu." Jawabnya. Dia terlihat santai dan tidak gugup sama sekali.
"Di tangan kiriku, ada surat dari Lea. Apa kamu masih ingin menutup mulutmu?"
Dia terdiam, tatapannya tetap sama. Madam Beby Ayazma, beranjak dari kursi agungnya, ia berjalan mendekat.
Madam Beby menepuk bahunya, ia berkata "Aku tahu, kamu yang mengatur jalan mereka. Aku hanya ingin tahu. Apa putriku baik-baik saja?"
Yang tadinya tidak menatapnya, pria itu menoleh ke wajah Madam Beby Ayazma.
"Pergilah, jangan sampai Tuanmu tahu."
"Madam."
"Aku akan melindungimu, selama kamu bisa menjaga putriku." Ucapnya pelan.
Pria itu tetap tegar dan berkata "Permisi Madam."
Madam Beby, kembali membaca surat itu, "Lea, kamu dimana? Daerah sejuk?"
"Serahkan Yuna kepada Mama. Mama yang akan melindunginya. Kamu harus percaya sama Mama." Batinnya masih gelisah.
Di tempat Lea berada. Lea berfikir kalau Yuna kembali pulang, Mamanya Zio juga tidak akan semudah itu menerima Yuna. Lea tetap ingin menjaga kandungan Yuna.
"Selamat tidur kesayanganku. Mimpilah yang indah." Ucapnya dan mengecup pipinya.
Lea mengatur lampu kamar, agar tidak terlalu terang benderang. Lea masih terus menatap kesayangannya.
"Aku harus beralih tugas, melayani suamiku."
__ADS_1