Permen Kapas

Permen Kapas
Tarik Ulur


__ADS_3

Kampus tua yang berlogo internasional, terletak di pusat kota dan berada jauh dari Ibukota.


Keduanya insan berbeda jenis kelamin, serta berbeda angan. Saling menatap dengan tanda tanya.


"Apa dia mencintai aku?!" Pikiran konyol Raja dengan senyuman manisnya, tapi terasa pahit di dalam hati Ratu.


"Ada dengannya? Apa dia masih ingin memanasiku? Sampai ingin mencium Marla?"


Ratu Bianca Kaiswaran, yang artinya pendamping Raja yang akan bersinar di istana. Itulah, nama dari Eyangnya Raja, yang diberikan kepada anak pertama Kevin dan Micheel.


Artian kata sinar sendiri, agar dapat menerangi kehidupan cucu tampannya yang bernama Raja. Itulah, harapan Eyang Arjuna, saat memberikan nama kepada bayi perempuan mungil nan jelita.


Permainan tarik ulur, seperti sedang bermain layangan, dari semasa SMA sampai ke jenjang perkuliahan.


Gadis yang dinobatnya, Ratu cupu nan oneng itu memang sengaja menutupi dirinya, dari orang-orang luar, agar tidak terlihat keaslian rupa dan paras eloknya.


"Raja." Suara itu, terdengar lembut dan menatapnya dengan segala pikiran, yang ada dalam benaknya.


Raja yang bertanya dengan lembut, "Ratu sampai kapan kamu akan selalu mengawasi aku?"


Sayangnya, kelembutan suara Raja membuat hati Ratu berdecak kesal.


"Kalau kamu nekat mencium Marla, aku juga bisa mencium pria selain kamu." Balasnya dengan tatapan penuh perasaan.


Raja yang berdiri dihadapannya dan gadis itu tetap menatap dengan penuh keberanian. Mungkin di karenakan, kunci kehidupan Raja secara tidak langsung sudah berpindah ke tangan Ratu, setelah mereka bertunangan.


"Sayang." Raja yang pandai merayu. Ditelinga Ratu, ini bagaikan rayuan gombal untuk para gadis yang menjadi mainan Raja.


"Katakan lagi." Ucapnya Ratu lebih menantang.


"Saayyaaaang." Begitu lembut nan manis, senyumannya juga semakin manis. Bagi Ratu, itu sudah bagaikan senyuman iblis yang berbau amis.


"Bagus. Teruslah bermain-main. Selama kita masih bertunangan. Aku akan tetap mengawasi kamu." Ucap Ratu dengan sekuat keberanian yang ada dalam pikirannya. Meski, sebenarnya dia juga gelisah akan sosok Raja, yang bisa saja membuatnya terbawa arus.


Hanya sekedar pertunangan. Sudah sangat biasa bagi seorang Raja, apalagi kalau sudah mendapatkan kepuasan. Bisa saja nantinya, Raja mengatakan sudah bosen dan ingin sosok perempuan yang lainnya.


Pastinya, kedua orang tuanya akan menurutinya. Meski, harus melawan Eyang Arjuna.


Raja yang mengunci badannya, tetap memandanginya, dan bertanya "Kamu kenapa sensi begini? Kamu sepertinya kangen ciuman aku?"


"Minggirlah. Aku mau pergi." Ucap Ratu dan berusaha pergi dari hadapan Raja.


"Aku tidak menghalangi jalanmu." Balas Raja yang begitu adanya. Padahal, kedua tangannya sudah mengunci Ratu yang bersandar tembok tua nan kusam.


Kedua tangan Raja sudah menjempit badannya. Mereka berdua saling menatap dengan pikirannya masing-masing.


"Raja, aku bukan mainanmu seperti yang lainnya." Ucap Ratu dengan tatapan manis.


Raja masih menatap Ratu, "Kita bisa mencobanya."


"Apa kamu berani??"


Tatapan Ratu lebih menggoda, membuat sosok Raja salah tingkah, perlahan memalingkan wajah tampannya.


Ratu menarik kerah kemeja Raja dan mengecup leher Raja. Kiss lembut mengenai lehernya. Raja tak bergerak sedikitpun.


"Aku harus pergi." Bisik Ratu.


Raja yang tidak menghiraukannya, perlahan memegang tangannya. Meski terkesan lembut, tangan Raja begitu kuat saat memegang lengannya Ratu.


"Apa yang kamu lalukan?" Tanya Ratu, tidak senang.

__ADS_1


"Kamu sudah berani menggoda aku." Bisiknya, membuat bulu halus Ratu bergetar. Ratu tetap berani menatapnya lebih lekat. Raja menyentuh lembut bibirnya, berkata "Kita harus bersabar."


Raja melepaskan kedua tangannya dan pergi begitu saja dan Ratu merasa ada yang salah dengan pikiran Raja.


"Kita? Apa maksudnya Kita? Aku tidak takut denganmu." Desisnya Ratu dan masih menatap ke arah Raja berjalan pergi.


Di sebuah gudang dan tidak ada yang melihat mereka. Meskipun ada sosok yang melihat Raja menarik tangan Ratu dengan kasar. Para mahasiswa di kampus ini, menganggap kalau Raja sedang membully Ratu.


Tidak ada yang berfikiran dalam benak para mahasiswa, kalau Raja dan Ratu memiliki sebuah ikatan khusus. Bukan hanya pacaran, melainkan sudah siap untuk menikah.



"Raja semakin menyebalkan." Keluh Ratu.


Sesungguhnya, Ratu sudah mulai bosan. Awalnya, dirinya yakin akan perjodohan itu dan berharap membawa kebahagiaan. Namun, hari-harinya tidak seindah dalam bayangannya. Yang ada makan hati, dan jauh dari rasa manis.


Sedangkan Raja, dia semakin senang. Apalagi setiap membuat Ratu takut padanya.


"Jadi perempuan memang harus menurut. Terserah aku mau kencan dengan siapa. Salah sendiri, mau dijodohin sama Papamu. Hemms, Papamu sendiri sudah menyerahkan padaku. Aku tidak berniat menyakitimu. Hanya saja, aku senang membuat kamu takut dan berdebar." Batin Raja saat menatap ke seberang jauh. Melihat Ratu yang terduduk di bawah pepohonan dan sepertinya menangis.



Ratu mulai berdiri dan mengibaskan rok mini yang dikenakannya. Raja sudah pernah memperingatkan, agar terus menutup parasnya. Sayangnya, Ratu semakin membuat Raja tidak senang.


"Aku tidak akan menyerah." Gumam Ratu, berjalan ke kelas perkuliahan siangnya.


Siang hari yang cerah, setelah pagi hujan mengguyur sebagian kota. Ratu yang berjalan seorang diri. Memang, seperti itu kesehariannya, sendirian. Tidak seperti Raja yang pandai bergaul dengan para mahasiswa lain. Baik perempuan, maupun laki-laki.


"Lihat ini, kamu sudah diberi tanda kehangatan sama Ratumu."


"Tanda?" Tangannya bergerak menyusap leher dan Raja tersenyum, setelah melihat lipstik Ratu menempel dilehernya.


"Jangan bermain-main terus. Kamu sudah mau menikah. Kalau tidak cinta, lepaskan dia dan batalkan perjodohan itu."


"Lionel, aku dari sisi perempuan, aku akan tetap berpihak sama Ratu." El yang sensi memilih pergi, meninggalkan kedua cowok itu.


Lionel juga bingung, dari beberapa hari lalu, sahabatnya ini semakin sensi dan kasar.


"Mas, Kakakmu kenapa? Apa dia punya kekasih?"


"Kalau dia punya kekasih. Pasti berubah manis, dia semakin garang."


Rintik hujan kembali membasahi rerumputan. Ratu menoleh ke kaca jendela ruangannya. Air yang mengalir lembut dan kaca bening sudah berembun.


"Hujan lagi." Lirihnya dan kembali fokus akan penjelasan sang dosen.


Akan ada tugas lapangan dan harus membuat kelompok, Ratu yang suka menyendiri, hanya bisa berdiam.


"Siapa yang belum mendapat teman kelompok?"


Ratu mengangkat tangannya, lalu seorang teman pria manis dan berkacamata, berkata "Dia sama saya."


"Oke. Sudah semuanya. Kumpulkan tugas minggu depan. Ingat, kalian harus cari tempat dan membuat laporan yang nyata, bukan rangkuman."


"Siap Pak." Balas mereka kompak.


Ratu tampak malas sekali, merapikan semua alat tulis dan laptop yang dibawanya. Rasanya tak ingin beranjak pergi, tapi ruang kelas ini masih akan terpakai oleh mahasiswa lain, dengan mata kuliah yang sama.


"Hai, namaku Revan."


"Ratu."

__ADS_1


"Bisa kita tuker nomor ponsel. Biar bisa cepat ngerjain tugasnya."


"Oke." Ucap Ratu dan itu sudah terbiasa. Kenal atau tidak, setiap tugas kelompok, Ratu tidak memilih teman. Sekarang, malah angkatan bawahnya yang menjadi teman kelompoknya.


"Aku panggilnya Kakak, atau Ratu saja?" Dia merasa kikuk dan menatap Ratu yang terdiam saja.


Ratu membatin "Apa aku harus berakting lagi??" Merasa capek juga, bila harus berpura-pura oneng.


"Terserah kamu, panggil aku apa?" Suaranya yang seakan cempreng dengan gaya aneh dan cowok itu tampak tersenyum saja.


"Baik. Ratu. Lebih enak begitu saja."


"Revan, aku masih ada urusan. Aku nanti calling." Ucapnya dan pergi dengan melambaikan kedua tangannya.


Terlihat sosok ceria, tapi seperti kekanakan. Sepertinya, cowok itu malah menyukainya.


"Ratu. Baik. Aku simpan nomormu."



"Ikut aku." Raja kembali menarik tangan Ratu, dengan paksa dan itu sudah biasa.


Membawanya ke tempat yang lebih sepi dan jauh dari jangkauan mata memandang.


"Lepasin!"


Tangan Ratu sudah terlepas dan Raja berkata "Aku minta, kamu pulang ke rumah."


"Aku lebih suka tinggal di asrama."


"Eyang datang. Apa kamu akan tetap ingin tinggal di asrama?"


Ratu terdiam sejenak, rasanya begitu kesal bila harus berhadapan dengan Raja. Apalagi, harus berpura-pura bahagia di depan Eyang Arjuna.


"Aku lelah. Aku ingin di asrama. Aku juga ada tugas lapangan." Ucap Ratu kepada Raja.


Raja sudah berkacak pinggang, ia bertanya "Tugas lapangan??"


"Iya, ada tugas kewirausahaan. Aku harus membuat laporan tentang usaha kecil dan tugasnya berkelompok sama teman kuliah." Jawab Ratu dan memang begitu adanya.


"Teman? Cowok?"


"Iya. Cowok."


"Kenapa baru cerita?"


"Ini juga baru keluar kelas. Ponselku mati."


"Alesan."


"Lihat sendiri, ini. Ponselku memang mati."


Melihat ke arah luar, hujan semakin lebat. Ratu yang menatap jauh dan Raja menatap sang Ratu.


"Ayo pulang. Aku janji, tidak akan marah."


"Aku beneran. Aku nggak mau pulang kesana."


"Baik, semoga Eyang tahu kelakuanmu."


"Harusnya aku yang bilang begitu."

__ADS_1


Raja akhirnya pergi.


"Selalu seenaknya sendiri. Main tarik tanganku dan sekarang pergi ninggalin aku." Cerewetnya Ratu kumat, tanpa sadar sudah ada yang mengawasinya.


__ADS_2