
Permen kapas yang kempes dan terasa kaku saat di colek. Tetap saja rasa manis itu ada, meski tak selembut permen kapas, yang masih mengembang sempurna.
"Mas Setya. Aku siap memasak." Lea yang sudah tampil cantik dan tidak lupa memakai celemek.
Yuna sepertinya sengaja, dia menyusun pakaian dalam dengan warna senada baju luarnya dan pakaian luar itu tak berlengan.
Lea saat ini memakai pakaian terbuka dan menampilkan dirinya yang apa adanya. Tampak nuansa merah merona.
"Aaoo, Daging. Kamu harus dicincang kasar." Tatapan itu sudah tertuju, pada daging bagian has dalam. Karena, Mbok Yum sangat tahu, kalau Tuan Muda Setya menyukai bistik buatannya.
Sayangnya, Setya meminta mereka berdua, pulang ke rumah Mama Jenny. Setya tadi mengatakan, kalau dia bisa mengerjakan semuanya sendiri.
Kedua tangan memegang pisau besar.
Tak. Tak. Tak. Tak.
Gerakan cepat dan entah apa jadinya daging itu di tangan Lea. Yang jelas, daging di atas talenan itu, sudah tercincang.
Daging sapi 1 kg, sudah hancur di tangan Lea.
"Daging cincang siap-siap." Lea juga melihat ke layar ponsel, tentang panduan memasak daging sapi.
"Gini-gini, aku juga bisa masak." Gumamnya.
"Apa ini yang namanya garam?" Lea menjumput dan mencicip lebih dulu.
"Yuuh, asin banget." Gimana nggak asin, orang nyicipnya di jumput dan langsung masukin ke ujung lidah lancipnya.
Namanya juga garam, ya asin neng Geulis.
"Ini bawang India, gimana potongnya??" Lea kembali mencari di layar pintarnya, cara memotong bawang bombay.
"Waktu lomba masak. Yuna yang siapin bahan dan bumbu. Aku tinggal masukin ke wajan. Ini tanganku, jadi bau bawang begini. Aaaa, Yunaku sayang. Aku ingin kamu kemari. Aku tidak sanggup."
Bibir imutnya sudah membulat unyu, dan ia tidak henti menggerutu.
"Di kasih ini aja kali ya. Apa ini mereknya?" Ia memegang bungkus kaldu jamur.
Satu bungkus besar, ia tuang begitu saja dan mengaduk rata keseluruh bagian daging cincang tadi, beserta bawang bombay.
"Bulat-bulat. Apa nantinya, jadi meat ball?" Dia tidak henti berkata ini dan itu. Meat ball bukannya bakso ya neng, itu anggap saja bola-bola daging, yang siap menggelinding di dalam wajan.
"Gimana nyalain kompornya? Apa aku harus panggil Mas Setya."
Lea yang masih anti, meminta bantuan suaminya, ia juga berusaha mencari dari panduan. Ia bahkan menulis merek kompor itu dan tidak lama, kompor sudah dinyalakan.
Wajan sudah diberi air banyak, dan belum sampai mendidih, masukin saja itu bola-bola daging.
"Lah, kok pada lepas itu bentuknya. Perasaan aku tekan-tekan padat."
"Biarlah, nanti suamiku yang makan." Dia tertawa sendiri.
Melihat sayuran, yang hendak di capcay tadi. Dia bingung harus memasaknya jadi apa. Wortel itu yang sudah diiris tipis sedikit memanjang, ada jamur kuping dan kembang kol juga.
"Sop?? Gimana caranya bikin sup?" Lea dengan cepat mencari tahu.
Tidak lama, panci ia siapkan dan dapur itu sudah sangat berantakan.
Setya yang sudah selesai mandi dan tampil menawan. Aroma parfum, telah tercium oleh hidung unyu Lea.
Lea menoleh ke sisi pintu. Sang suami yang bersedekap dan tampak menggeleng.
"Eh, Mas Setya."
"Kamu sedang masak atau sedang bela diri?"
Setya melihat dapurnya sudah tidak karuan. Bahkan tepung maizena, yang digunakan untuk membuat saos daging tadi, sampai melumuri kitchen set.
__ADS_1
Setya mendekat dan sedikit senyuman, ia berikan untuk istrinya, yang bersusah payah di dapur.
Tangan Setya membersihkan noda tepung, dibagian pipi kanan sang istri.
"Sebaiknya, kita makan di restoran."
"Ini, aku sudah masak."
"Bukannya, aku meragukan keahlian memasakmu. Aku tidak mau, kamu jadi kucel begini." Ucap suaminya, dengan nada bercanda.
Lea berkata "Tadi, Mas Setya menyuruh aku memasak."
"Aku hanya ingin tahu. Kamu istri yang patuh atau hanya pandai melawan perkataan suamimu." Balas Setya dengan manis.
Dalam hati Lea, sudah berbunga-bunga. Padahal, hanya ucapan biasa saja. Belum sampai kecupan mesra, Lea sudah merasa, kalau dia disayang oleh sang suami tercinta.
"Baik, aku tidak akan lanjut memasak." Lea dengan cepat mematikan kompornya.
Sang suami berkata "Cepatlah bersiap. Aku tunggu di luar."
"Oke, suamiku." Begitu senang hatinya.
Sesaat dalam perlajanan.
Pasangan baru ini sudah berada di dalam mobil. Saat ini, pukul 12 siang. Setya tampak bingung sendiri, harus mengajak Lea makan dimana.
"Mas Setya, kenapa dari tadi cuma muter-muter aja?" Lea yang apa adanya, dia bisa melihat dari ekspresi wajah suaminya.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Setya.
"Aku terserah Mas Setya saja." Jawab Lea.
Bilangnya sih terserah dan tidak mau menentukan pilihan. Sepertinya, Lea hanya ingin menikmati kebersamaan, dengan suami tercinta.
"Iya, aku sudah pernah mengajak makan di pinggir jalan. Kamu tidak keberatan. Berarti, kita bisa makan di warung lesehan." Ucapan suami.
"Aku masih kantong mahasiswa, kamu jangan seperti dulu."
"Iya, aku tahu." Balasnya dan masih senang.
"Kemarin, belanja baju?"
"Iya, aku pikir harus nyusul kesana." Jawabnya.
Setya mencari-cari tangan Lea, tidak sampai juga. Ini pria kaku, sepertinya lagi terbawa suasana.
"Mas Setya kenapa?" Tanya Lea.
"Nggak apa-apa." Jawabnya santai.
Tangannya mau di raih dan mau di kecup, ternyata malah sibuk sama ponselnya.
"Mas Setya, jam siang aku ada kuliah penting." Bibir imut itu mengadu.
"Sayang, sehari saja kamu bolos. Kita juga baru ketemu." Balasnya.
Lea jadi senyam-senyum "Mas Setya masih kangen sama aku??"
"Jelas, kamu ini istri aku."
Mendengar perkataan sang suami yang dia cintai, semakin klepek-klepek.
"Mau doi cemburuan nggak apa-apa deh. Aku di kekang selamanya, juga mau." Batin Lea.
Sang suami yang tampak kaku dan dingin itu, bertanya "Sayang, apa kemarin kamu bersama Rainer??"
Baru saja dibatin sama Lea. Setya sudah bertanya padanya.
__ADS_1
Lea dengan sabar, berkata "Iya Mas."
"Apa yang kalian berdua lakukan?"
"Aku nggak ngapa-ngapain dia. Cuma sedikit kejutan. Dia sampai terkejut. Aku juga nggak nyentuh dia. Aku cuma injek gas doang. Sampai mobilnya melayang, begitu."
"Aku tahu." Balasnya dengan lembut.
"Apa, Mas Setya cemburu?" Meski sudah pernah pacaran, tapi malah membuat dirinya seperti oon.
"Aku tidak cemburu." Kilah Setya.
Lea menatap sang suami, ia mencoba untuk berfikir "Kata Zio, Mas Setya itu cemburuan? Apa, dia tidak mencintai aku?"
Lea malah menjadi patah hati. Bibir imut dan unik itu, sudah menukik ke bawah. Tatapan mata Lea sudah seperti anak kecil yang hendak menangis manja.
"Mas Setya."
"Iya sayang, ada apa?"
"Apa Mas Setya, masih mencintai Micheel?" Tanya Lea, yang tidak ingin berfikiran buruk tentang suaminya.
Setya tampak terdiam, dengan raut wajah yang dingin. Dia hanya fokus menyetir mobil.
Lea yang tidak sabar, memegang lengan tangan Setya. Ia masih bertanya "Mas Setya masih cinta sama dia?"
Setya, sepertinya memang sengaja tidak mau menjawab pertanyaan Lea barusan.
"Mas Setya malah diam saja. Jawab dong." Lea yang mengerek.
"Mas Setya. Ngeselin." Lea menyerah. Bibir cemberut manis dan memalingkan wajahnya ke sisi pintu mobil.
Setya melihat kecemburuan dari wajah Lea, dalam hatinya berubah senang. Baru kali ini, ada yang cemburuan tentang dirinya dan Micheel. Padahal, Setya sudah melupakan mantannya.
Setibanya di restoran yang menyejukan mata.
Cuaca cerah di siang hari, duduk di saung, berteman pepohonan rindang dan juga kolam ikan. Lea merasa sedang tamasya.
Mau makan siang saja, harus pergi ke luar kota dan jauh dari hiruk pikuk Ibukota.
Setelah memesan makan siang mereka. Kemudian, Setya mengajak Lea untuk sholat dzuhur di mushola, yang ada di restoran terkenal dengan kehijaun dedaunan.
"Mas Setya. Aku minta maaf." Ucap Lea, setelah mencium tangan suaminya.
"Aku juga salah." Balasnya.
Keduanya saling tersenyum dan Lea merasakan hal manis. Setya sengaja mengajak Lea datang kemari, agar sekalian jalan-jalan berdua.
Ada aneka tanaman hias dan kolam ikan air tawar. Lea sangat senang saat melihat ikan-ikan itu. Setya meraih tangan istrinya, dan menggenggamnya.
"Ayo makan dulu. Nanti bermain lagi." Ucap Setya kepada istrinya. Lea masih gemas saat melihat ikan-ikan.
"Kamu tidak suka?" Tanya Setya.
Saat makan enak, tapi mengingat lagi saat di mobil tadi. Setya belum mau menjawab pertaannya.
"Aku suka. Ayam gorengnya enak."
"Terus, kenapa tidak nafsu makan?"
Tatapan Setya begitu menusuk jantungnya.
Detak jantung berdenyut mesra, dan bibir itu perlahan tersenyum manis.
"Mas Setya. Aku nggak peduli soal perasaan Mas Setya kepada Micheel. Yang jelas, aku mencintamu."
__ADS_1
Batin Setya tersenyum. "Kamu mencintaiku?"